
"Dimana Wu Li Mei?" tanya Yang Jia Li pada sang dayang saat tak sengaja melewati paviliun selir agung yang tampak sepi. Tujuan awalnya ingin berkunjung ke departemen kejaksaan, tapi saat dalam perjalanan wanita istana itu heran tak mendapati Wu Li Mei di paviliunnya.
Saat sang selir agung ada di kediamannya, biasanya paviliun itu akan nampak sibuk dan lebih hidup. Wu Li Mei akan melakukan ini dan itu untuk menyibukkan diri, tapi akhir-akhir ini tak lagi.
Dayang Yue mendekat, "Maaf, Yang Mulia, saya tidak tahu."
"Kau tidak tahu Dayang Yue?! Bukankah sudah kuperintahkan untuk memata-matain seluruh istana." kesal sang permaisuri.
Dayang Yue menunduk dalam, "Maaf, Yang Mulia."
"Maaf, maaf, kau selalu saja seperti itu."
"Dasar tidak bisa diandalkan."
"Maafkan saya Yang Mulia."
Yang Jia Li berdecak, "Sudab ribuan kali kau mengatakan kata maaf, aku tidak butuh itu, dayang."
Dayang Yue, wanita itu hanya bisa terdiam. Pekerjaannya di istana sudah sangat sibuk apalagi harus memata-matai sendiri seluruh istana. Sebenarnya, banyak dayang-dayang kecil yang menjadi mata-mata untuk Yang Jia Li, tapi mereka pun juga tidak memberikan laporan.
"Aku harus memasukkan dayang mata-mata di paviliun selir agung." guman Yang Jia Li.
"Tidak bisa, Yang Mulia."
"Mengapa tidak?"
"Emm... sayangnya selir agung telah memperketat seleksi dayang yang masuk ke paviliunnya, kabarnya dayang untuk putra mahkota dan putri Fang Yin juga diseleksi langsung oleh Selir Agung Wu."
"Menyeleksi dayang?"
"Ya, Yang Mulia."
"Bukankah itu adalah tugasku? Apa maksud selir licik itu merebut tugasku, oh, harus ku beri pelajaran agar ia tidak terus menerus mencampuri urusan. Tidakkah cukup anak tersayangnya ku buat meregang nyawa, harukah ku buat yang lainnya ikut sengsara." guman Yang Jia Li, wanita itu masih duduk dengan manis di tandunya.
Yang Jia Li memberikan kode kepada para pengangkut tandu untuk meneruskan perjalanan, sembari ia berpikir cara untuk memasukkan dayang ke dalam paviliun selir agung. Ia butuh mata-mata agar lebih mudah mengetahui rencana Wu Li Mei kedepannya.
Kalau begini, ia harus meminta bantuan sang ayah, atau petinggi Klan Yang Hong Hui. Pasti semuanya akan mudah jika ada campur tangan mereka. Mengapa tidak meminta bantuan Yang Jian Zhu? Ah, kakak laki-lakinya itu sama sekali tidak bisa diandalkan.
Begitu pun kehadirannya hari ini ke departemen kejaksaan, Yang Jia Li ingin memastikan sesuatu. Sang permaisuri berjalan dengan hanfu hijaunya memasuki ruang kerja khusus untuk sang kakak. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Yang Jian Zhu ketus.
"Hei, tunjukkan rasa hormatmu, aku permaisuri negeri ini!"
"Ck, terserah."
Yang Jian Zhu kembali fokus pada gulingan surat yang tengah ia baca. "Tidakkah kau merasa penasaran mengapa aku menemuimu?"
"Tidak."
__ADS_1
"Oh, ayolah kakak, aku sangat jarang menemuimu." ujar sang permaisuri, ia melangkahkan kaki untuk berkeliling di ruangan kecil itu.
Yang Jian Zhu menoleh, "Pergilah, aku sedang sibuk."
"Apa kau pikir hanya dirimu yang sibuk disini? Aku juga sibuk, hargai aku yang sudah meluangkan waktu berharga untuk menemuimu."
Pria itu memutar bola matanya malas, sibuk katanya? Oh, apakah duduk-duduk santai itu termasuk kesibukan, kalau iya, wah membuat iri sekali. Keseharian Yang Jia Li itu hanya bermalas-malasan, menikmati duduk di pondok teratai atau di aula danau setiap hari tanpa melakukan hal-hal yang berarti.
"Katakan!"
"Apa?" pancing Yang Jia Li.
"Rencana licik apalagi yang kau rencanakan?"
"Aku? Apakah wajah tak bersama ini terlihat licik di matamu kakak?"
Yang Jian Zhu menghela napas kasar, kedatangan adiknya ini selalu saja membuat darahnya mendidih. Ada saja tingkahnya untuk mengganggu hari-hari penuh ketenangan. Yang Jian Zhu sudah menegaskan sendiri bahwa ia tidak akan lagi ikut campur dengan permainan licik Jia Li.
"Pergi saja, atau aku akan menyeretmu!" desis pria itu.
"Oh, hahahah, lakukan saja jika kau bisa menyeretku dari sini." tantang Yang Jia Li. "Justru aku yang bisa menyeretmu keluar dari istana ini, kau hanya akan menjadi gelandangan jika aku tidak mengangkatmu menjadi kepala departemen ini."
"Sepertinya itu akan lebih baik, daripada harus bekerja dengan iblis sepertimu."
Yang Jia Li membulatkan matanya, kedua telapak tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. "Aku berani padaku?!"
"Ada, aku punya hal penting untuk dikatakan."
"Kalau begitu, apa itu?"
"Zhou Xing Huan." Sang permaisuri memberi jeda pada kalimat selanjutnya, ia menunggu reaksi sang kakak yang sayangnya nihil. "Apakah dia benar-benar sudah mati?"
Yang Jian Zhu mengangguk kaku, "Y-ya, tentu saja ia sudah mati."
"Apa buktinya? Mengapa kau tidak membawa kepalanya ke hadapanku?"
"Apa itu perlu."
"Berikan aku buktinya."
"Tidak ada."
"Mengapa tidak?" Yang Jia Li mengerutkan keningnya, ia berjalan menuju ke depan meja sang kakak lalu menggebraknya kuat. "Katakan kau telah benar-benar membunuhnya?!" perintanya.
"Jaga sikapmu, ini ruanganku!" Sang kakak bangkit, ikut meninggikan suaranya.
"Aku bertanya apa kau benar-benar membunuhnya, Kepala Departemen!?"
__ADS_1
"Ya, aku membunuhnya."
"Apa buktinya?!"
"Tentu saja tidak ada! Bukankah kau selalu licik dan penuh akal bulus. Bagaimana kau bisa tidak tahu jika bukti hanya akan menyulitkanmu di kemudian hari, aku menggorok leher sang pangeran hari itu, lalu menenggelamkan jasadnya di danau."
"Kau yakin?!"
Pria itu berdecak sebal, "Kau meragukanku?!" Yang Jian Zhu menaikkan alis kanannya.
Sang permaisuri terdiam untuk beberapa saat, benar juga apa yang dikatakan Jian Zhu. Sebuah rencana jahat haruslah bersih, jika itu meninggalkan bekas maka akan menyulitkan di kemudian hari.
Yang Jia Li menarik diri dengan anggun, "Aku punya sebuah perintah untukmu."
"Aku tidak tertarik."
"Kau sudah bersumpah untuk setia kepadaku!"
"Sudah ku bilang aku tidak akan ikut lagi pada rencana bodohmu."
"Mengapa tidak?"
"Tidak akan."
"Bahkan jika aku memberimu jabatan yang lebih tinggi dari ini? Atau kau inginkan sebaliknya juga mudah bagiku."
"Pergilah!"
"Atau kau menginginkan sentuhan?!" pertanyaan dengan nada rendah itu berhasil mengambil perhatian Jian Zhu.
Yang Jia Li tersenyum miring, sebuah ide terlintas di kepalanya saat ini. Wanita istana itu menuju ke arah pintu dan menguncinya, ia juga menutup jendela di ruangan itu.
Masih mencoba bersabar, Yang Jian Zhu meletakkan gulungan surat yang ia baca guna memusatkan perhatian pada adiknya itu. "Apa lagi sekarang? Apa yang ingin kau lakukan?!"
Gerakan itu pun tak lepas dari pengamatan sang kepala departemen, gerakan Yang Jia Li membuka hanfunya. Entah ide gila apa lagi kali ini, rasanya kepala Jian Zhu mau meledak saja. Wanita itu memanglah adik kandungnya, tidak akan pernah ada hasrat untuknya.
Tapi, jangan lupakan bahwa Jian Zhu juga seorang pria dewasa. Ia mengalihkan tatapannya saat bagian atas tubuh sang adik telah terbuka sepenuhnya.
"Ck, hentikan atau kau akan menyesal!" ancam pria itu.
"Ouhh," Yang Jia Li semakin menjadi, ia duduk di meja tepat di hadapan sang kakak sambil meremas miliknya sendiri. "Aku tidak akan menyesal asal kau bersedia menuruti kemauanku setelah ini. Aku tahu kakak, kau pasti membutuhkan sentuhan seorang wanita bukan? Apa kau masih mencintai Wu Li Mei?"
"Jaga ucapanmu!"
"Kalau begitu mari bermain denganku."
"Hentikan, kau tak ubahnya para pelacur di rumah bordil."
__ADS_1
"Baiklah jika kau menginginkan aku menjadi seperti pelacur itu." Yang Jia membuat gerakan yang sangat tiba-tiba, bahkan belum sempat menghindar pun Jian Zhu sudah lebih dulu dibuat kelimpungan. Akal sehatnya terus berusaha melawan gejolak aneh yang muncul kala tangan kekarnya dipaksa meremas benda kenyal itu. Dan, sialnya, Yang Jia Li seolah menikmati hal itu.