Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kisah dua remaja


__ADS_3

Hari ini ibu tidak akan pergi ke toko obat.


Masih jelas terngiang dalam ingatan kelimat Wu Li Mei pagi tadi saat ditanya apakah mereka akan pergi ke toko obat atau tidak, karena di penghujung minggu biasanya Wu Li Mei akan pergi. Tapi mendadak kali ini tidak dengan alasan Zhou Jiang Wu tiba-tiba demam.


Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin menjadi sedih, pada awalnya, hingga mereka memutuskan untuk pergi diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Seperti halnya sang putra mahkota yang sedang menunggu seseorang di tepi sungai, melihat daun-daun mulai berguguran membuatnya damai, tapi akan lebih damai lagi jika dia bisa bertemu dengan orang itu.


“Salam, tuan!”


Zhou Ming Hao menoleh dengan senyuman tipis yang terpatri di wajah tampannya, dia tidak mau terlihat sangat mendambakan kehadiran si gadis sekalipun memang benar adanya. “Ku pikir nona muda akan mengingkari janji yang tidak dibuat dengan benar ini, aku merasa bodoh dengan janji temu kita ini.”


“Ah, jangan berkata seperti itu tuan. Saya senang bisa bertemu dan membayar hutang budi pada anda tempo hari.”


“Hutang budi?” Zhou Ming Hao mengerutkan keningnya, “Ini bukan tentang hutang budi, nona.”


“Lalu apa?” tanya gadis muda anggun nan lugu dengan hanfu sutra berwarna jingga, siapa lagi jika bukan Xu Ling Xi. “Saya harus tetap membayar hutang budi saya kepada tuan, barangkali jika kita tidak bertemu maka saya sudah pasti menjadi aib untuk keluarga.”


“Nona, kau salah.”


“A-a-apa?” tanya Xu Ling Xi lagi.


Sang putra mahkota duduk di sebuah batu besar tepi sungai, dia menatap si gadis sekilas dan kembali menatap aliran air yang damai dan menyejukkan. Meskipun cuaca sering berubah-ubah tapi tetap saja tidak ada yang mengganggu aliran sungai tenang itu. Rasanya damai disini, menatap alam, menikmati hembusan angin, dan ditemani seorang gadis cantik.


Xu Ling Xi sangat cantik dan manis, sebagai putri bangsawan dia dididik dengan sangat baik. Anggun dan rendah hati, tapi masih belum tahu pasti akan sifat itu alami darinya. Keluarga Xu punya sejarah panjang sebagai salah satu keluarga terpandang dan kaya raya di Negeri Ming, mereka adalah saudagar yang menjual hasil alam dari ribuan hektar tanah yang mereka miliki. Perannya dalam pemerintahan juga besar sekali, salah satunya adalah gubernur kota ini adalah ayah dari Xu Ling Xi.


“Baik, kalau kau menganggap ini adalah sebuah balas budi.”


Xu Ling Xi mendongak, dia menatap sang tuan muda yang tampan dan belum pernah dia dengar namanya itu takut-takut. “Apa yang bisa saya lakukan?” tanyanya.


“Mudah saja.”


“Apa itu?”


“Temani aku berkeliling kota ini.”

__ADS_1


Berkeliling kota? Perasaan sang nona didera rasa ragu. Sebenarnya dia ingin menolak tapi ini adalah balas budi untuknya, lalu bagaimana? Mustahil rasanya bagi seorang nona muda keluarga bangsawan terpandang untuk menemani laki-laki berkeliling tanpa seorang pendamping pun. Bukan bermaksud sombong atau merasa tinggi derajat, tapi Xu Ling Xi paham jika tingkah laku dan sikap buruknya bisa menjadi masalah bagi sang ayah.


Zhou Ming Hao mengerutkan keningnya, “Mengapa nona? Kau keberatan?”


“Ah, tidak, tidak sama sekali, hanya saja … “


“Hanya saja apa?”


“Bolehkan ada seorang pendamping berjalan bersama kita nantinya?”


Menunggu jawaban dari sang tuan muda dengan gelisah, Xu Ling Xi menatap pendampingnya yang menemani mereka tapi dari jauh karena takut mengganggu pertemuan penting di pinggir sungai itu. Yang dikabarkan sang tuan muda lewat pesan rahasia yang sangat indah tulisannya. “Bagaimana tuan?”


“Kenapa harus ada pendamping?”


“Maaf, tidak bermaksud lancang tapi saya tidak bisa berjalan bersama seorang laki-laki dengan mudahnya. Saya seorang … “


“Putri bangsawan?” tebak Zhou Ming Hao.


Xu Ling Xi terdiam.


Tapi strata memang ada di masyarakat dan tidak mungkin terhapus begitu saja, meskipun Zhou Ming Hao membencinya.


Sang tuan muda bangkit, tatapannya kembali dingin dengan wajah kaku yang sangat terlihat. “Tidak masalah jika memang harus begitu, nona bangsawan. Silahkan ajak pendampingmu jika kita masih diberi waktu untuk bertemu.” Ujarnya.


“Kenapa begitu?”


Xu Ling Xi menahan lengan sang tuan muda yang hendak beranjak pergi, saat tersadar, ia segera melepaskannya. “Saya benar ingin membalas budi, bukan bermaksud untuk menyinggung sama sekali.”


“Sudahlah, nona, putri bangsawan seperti anda memang pantasnya tinggal di rumah saja.”


“Tuan, jangan begitu … “ pintu Xu Ling Xi, kali ini dia dengan berani menyentuh lengan Zhou Ming Hao dengan kedua tangannya. “Saya minta maaf, tapi izinkan saya untuk membalas budi. Katakan apa saja, maka saya akan penuhi itu.”


Senyum puas terbit di wajah tampan putra mahkota yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa, dia menoleh, “Sungguh, apa saja?”

__ADS_1


“I-iya.” Jawab Xu Ling Xi sedikit ragu, seharusnya dia berpikir bahwa tuan muda ini hanya akan memanfaatkannya, tapi hati kecilnya justru tenang dan tidak ada firasat buruk.


***


“Xiao Yin?”


“Ya?”


“Apa yang kau sukai dari negeri ini?” tanya Jing Xuan pada gadis muda cantik jelita itu. Duduk bersama di padang rumput atas bukit sambil menatap hamparan negeri yang menjadi rumah bagi mereka, sungguh menyenangkan.


Berulang kali sang tuan muda Heng menatap Xiao Yin, perasaan damai dan candu selalu datang tiap kali ia coba menatap lebih jauh. Sayangnya, dia masih belum tahu pasti siapa dan darimana gadis muda ini sebenarnya berasal.


“Aku suka semua tentang negeri ini.” Jawab Zhou Fang Yin, dia menoleh dan tersenyum manis kepada Jing Xuan. “Termasuk semua orang yang pernah kutemui, mereka mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan dan selalu memberikan goresan warna baru dalam kisah hidupku. Meskipun tidak semua warna menyenangkan, tapi semua itu harus diterima dengan tabah.”


“Aku jadi penasaran, siapa kau sebenarnya?”


“Jangan penasaran, Jing Xuan.” Ujar Xiao Yin.


“Kenapa?”


Terdiam sejenak mencari jawaban yang tepat, Zhou Fang Yin mengendikkan bahunya. “Mungkin kita tidak akan sedekat ini jika kau tahu siapa aku sebenarnya.” Jawabnya lirih.


“Jadi, sebaiknya aku tetap tidak tahu?”


“Ya, begitulah.”


Heng Jing Xuan menganggukkan kepalanya, dia tidak akan memaksa lagi untuk mengetahui siapa Xiao Yin. Karena bisa bertemu saja sudah sangat mengobati rasa rindu yang tiba-tiba hadir itu, pertanyaan apakah dia benar sudah dewasa hingga bisa merasakan cinta, terus terngiang di kepala.


Jing Xuan menatap bunga-bunga yang tumbuh dari rumput liar di depannya, “Bunga ini indah ya, bagaimana kalau kupetik satu untukmu?”


“Jangan!” tolak sang putri kekaisaran.


Jing Xuan langsung menoleh dengan bingung, biasanya seorang gadis akan suka dengan bunga lalu kenapa tidak boleh. “Kenapa?”

__ADS_1


“Sayang jika kau memetiknya, bunga itu sangat indah dan seharusnya tetap hidup dalam keindahan. Jika kau menyukainya, jangan merusaknya, maka bunga itu akan memberikan seharuman dan keindahan yang tidak akan terganti.”


__ADS_2