
Pesta itu tak akan berhenti hingga tujuh hari tujuh malam lamanya, kekaisaran tengah bersuka cita menyambut pemimpin yang baru dan masa pemerintahan yang baru juga. Musik pengiring masih nyaring terdengar padahal hari sudah semakin larut, Wu Li Mei ingin segera kembali dan beristirahat. Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah dan butuh tidur, belum lagi hanfu berat dan tusuk konde bertingkat yang menyiksa kepalanya. Wu Li Mei masih menahan kesal bukan main setelah pertemuan mendadak yang melibatkan dirinya, seharusnya ia sudah kembali bersama dengan kaisar, tapi sang ibu malah memintanya bergabung dalam sebuah jamuan minum teh yang hanya dihadiri keluarga inti saja.
Sialnya, beberapa menit setelah mereka berkumpula tanpa bicara, kedua orang tuanya pamit untuk kembali dan beristirahat. Wu Li Mei hanya bisa terdiam dalam pertemuan yang tidak sama sekali menggambarkan kehangatan keluarga itu, di sampingnya Wu Xien Li duduk dengan wajah kaku penuh dendam, semuanya memasang wajah lelah kecuali Wu Zhen dan permaisurinya. Senyum bahagia itu seolah tidak luntur dari wajah mereka, “Ku dengar adik Mei-mei mengalami hal buruk, tenggelam di danau dan hilang ingatan, benarkah itu?” tanya Yu Xie Yang penuh empati, tapi Wu Li Mei sama sekali tidak merasakan ketulusan darinya.
“Kau pasti menjalani hari-hari yang berat bukan, aku turut bersedih untuk itu. Aku sampai tidak mau menyantap makananku dua hari setelah mendengar kabar itu, sungguh Mei-mei, aku ikut bersedih untukmu. Aku selalu berdoa pada dewa agar kau selalu diberkati.” Lanjutnya dengan ramah, keramahan yang terdengar cukup menjengkelkan. Permaisuri agaknya terlalu berlebihan dalam menyampaikan bela sungkawanya.
“Kali waktu, pulanglah ke Negeri Hang, istana ini juga rumahmu Mei-mei, kau tidak perlu merasa sungkan hanya karena kakakmu saat ini sudah menjadi kaisar.”
Wu Li Mei tersenyum simpul, mencoba membuka hati untuk keluarganya itu. “Terima kasih kakak, tapi aku pun punya kehidupan sendiri disan---”
“Kehidupan tidak bahagia itu untuk apa, Mei-mei?” sela sang permaisuri berapi-api, “Kau hanya seorang selir padahal kau adalah putri kekaisaran, sedangkan Kakak Wu Xien Li… diperistri oleh kaisar yang keji dan tamak. Oh, nasib kalian sungguh malang. Bukankah sebaiknya kalian mencari kehidupan yang jauh lebih bahagia daripada menerima takdir pahit itu, jika saja aku bisa berbagi keberuntungan, pasti sudah ku lakukan.”
“Memuakkan.” Desis Wu Xien Li.
“Kakak, apa yang kau bicarakan?!” sang permaisuri langsung menegurnya, tapi justru Wu Xien Li sama sekali tidak merasa gentar. Pandangannya tajam dan dingin menatap sang adik yang sekarang bertahta, Wu Zhen, pria itu pun tak kalah tajam membalas tatapan itu. Wu Li Mei bisa menyimpulkan bagaimana keadaan keluarga ini dulunya penuh persaingan dan sama sekali tidak ada kehangatan. Dua pasang mata itu telah menjawab segalanya, dendam dan amarah itu merasuk hingga ke urat nadi terdalam.
Wu Xien Li mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya tercetak dengan jelas, “Urusi saja urusanmu sendiri, dan jangan pernah ikut campur tentang hidupku. Kalian semua, terutama kau dan ibumu adalah pembunuh, jadi jangan pernah merasa bangga dengan hidup menyedihkan itu.”
“Hahahaha…” suara tawa itu datang sesaat setelah Wu Xien Li menyelesaikan kalimatnya, Wu Li Mei hanya diam dan menyaksikan mereka tertawa sumbang dan hambar. Tawa itu seolah tawa kemenangan, tapi justru lebih terdengar sebagai tawa kehampaan. "Semua hal membutuhkan pengorbanan, hanya dia yang terkuat yang akan bertahan."
“Kau benar, Wu Xien Li. Hidup ini memang sangat menyedihkan, terlebih hidupmu itu. Kau masih sangat beruntung karena aku dan ibuku tidak membunuhmu juga, atau, seharusnya kau ikut mati saja.” Wu Zhen berucap keji, menentukan hidup dan mati seseorang tanpa beban dan rasa malu. Ini seolah membenarkan apa yang diceritakan oleh Kaisar Zhou saat penobatan tadi, beberapa fakta yang belum ia yakini kini justru membenarkan kisahnya sendiri.
__ADS_1
“Aku sungguh menyesal telah kembali ke tanah ini, tanah kelahiran yang menjadi kisah kelam hidupku. Dibandingkan dengan tepat terkutuk ini, aku lebih memilih hidup bersama kaisar yang keji dan tamak seumur hidupku.”
“Dan kau memilih pilihan yang tepat Xien Li, jika kau masih tinggal disini maka kau akan mati cepat atau lambat.” Balas Wu Zhen, “Aku dengan senang hati memisahkan kepalamu dari tubuhnya.”
“Cih! Dasar pembunuh, tak tahu malu, hiduplah di tempat terkutuk ini.” Wu Xien Li bangkit dengan wajah memerah padam, napasnya tersengal dan ia menghentakkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Meninggalkan tiga orang yang menatap kepergiannya dengan ekspresi berbeda.
Sungguh, Wu Li Mei sama sekali tidak ingin terlibat dalam masalah apapun, terlebih sang ibu dan kakaknya sendiri, Wu Zhen. Telah banyak berperan dalam kehancuran keluarga itu, pembunuhan putra mahkota Wu Zhang dan penyakit gila yang diderita Wu Yang Hao. Pasti banyak lagi korban yang tak tercatat untuk sampai dititik tertinggi itu, sebuah puncak kekuasaan yang menjadi simbol paling disegani. Kaisar bak seorang dewa, titahnya adalah hal mutlak yang harus dilakukan, bahkan rakyat juga menyembah kaisar mereka karena percaya bahwa para pemimpin itu adalah titisan dewa. Tapi pada kenyataannya tidak demikian, semua sangat jauh dari damainya perilaku seorang dewa.
“Yang Mulia, kita sudah sampai di depan paviliun.” Kusir kereta kuda yang sedang ditumpangi Wu Li Mei berhasil menarik wanita itu dari lamunannya, ia melihat dari jendela kecil dan benar bahwa tujuannya telah sampai.
Wu Li Mei segera turun, kehadirannya disambut oleh Dayang Yi dan Lu Yan, disana juga ada Yang Zhe Yan dan kaisar yang tengah berbincang sesuatu yang serius. Setelah mengangguk, Yang Zhe Yan bergegas pergi untuk melaksanakan perintah dari kaisar. Wu Li Mei tidak mau ambil pusing dengan panglima kesayangan Yang Jia Li itu, selama dia tidak mengganggunya, maka dia pun tidak akan melakukan sesuatu padanya. Sang selir agung langsung menghampiri kaisar, “Salam, Yang Mulia!”
“Kapan kita akan kembali ke Negeri Ming, Yang Mulia? Bukankah penobatan itu telah usai, apakah kita juga harus menunggu sampai pesta selesai dilaksanakan?”
“Aku dan beberapa kaisar lain telah sepakat untuk kembali tiga hari lagi, jika harus menunggu tujuh hari lamanya itu akan memakan waktu. Aku tidak datang untuk berlibur disini, jadi jika kau mau tinggal lebih lama, tak apa Mei’er.” Jawab kaisar.
“Tidak, aku akan ikut pulang. Aku ingin segera kembali ke istana saja, aku merindukan paviliunku dan anak-anakku. Entah seperti apa kabar mereka saat ini, semoga Yang Jia Li tidak melakukan sesuatu yang buruk selama aku pergi.” Wu Li Mei terus saja mengkhawatirkan mereka yang menunggu kepulangannya di istana, terlebih waktu-waktu ini pasti akan jadi waktu yang baik untuk Yang Jia Li melancarkan rencananya.
Kaisar Zhou meraih bahu Wu Li Mei dan merangkulnya erat, mereka berjalan bersama memasuki taman kecil di tengah paviliun itu. Ada banyak bunga-bunga indah dan sebuah kolam kecil dengan air yang sangat jernih. “Tenanglah, istriku. Ada Panglima Hao dan ibu suri yang akan menjaga mereka.”
“Entahlah, aku hanya merasa khawatir.” Balas Wu Li Mei sendu. “Oh iya, aku berencana membawa beberapa koleksi buku di paviliunku, apa tidak masalah? Karena buku itu mungkin akan sangat banyak.” tanya Wu Li Mei.
__ADS_1
“Tidak masalah, Mei’er. Bawa semuanya sesukamu, kau juga boleh membawa apapun untuk cenderamata. Suatu saat kau akan merindukan negeri ini.”
“Iya, Yang Mulia. Emm… dan ada satu lagi.”
Kaisar Zhou ikut menghentikan langkahnya, menatap wajah cantik sang selir yang memantulkan indah cahaya bulan. Helaian rambut yang terbang mengikuti arah angin itu ia selipkan ke belakang telinga Wu Li Mei. “Katakan!”
“Aku ingin mengunjungi kota bersamamu, apa itu bisa?”
“Ya, itu mudah, aku akan memerintahkan kasim dan Yang Zhe Yan untuk mempersiapkan kunjungan kita. Kau ingin naik kereta kuda atau tandu?”
“Bukan, bukan itu, Yang Mulia.” Wu Li Mei menggeleng tegas, “Tidak dengan kereta kuda atau pun tandu, bahkan tidak dengan dayang atau pengawal. Aku ingin kau menemaniku berkeliling sebagai rakyat biasa, bukan sebagai kaisar.”
“Maksudmu menyamar?”
“Ya, itu dia, menyamar.”
Sang kaisar tampak meragu, memikirkan resiko yang akan terjadi saat mereka menyamar nanti. Terlebih negeri ini bukan negerinya, dan mereka tidak tahu bahaya apa yang mungkin terjadi. Menyamar memang bukan hal yang sulit karena mereka hanya perlu berpakaian seperti rakyat biasa dan melakukan hal-hal yang umum dilakukan oleh orang-orang. Kaisar Zhou ingin menolak, tapi ia tidak sampai hati dengan Wu Li Mei yang begitu antusias.
Sang kaisar mengangguk, “Baiklah, tapi---”
“Yeayy! Terima kasih, Yang Mulia.” Ujar Wu Li Mei senang, wanita itu segera menundukkan kepalanya dan kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus membersihkan diri dan mempersiapkan penyamarannya esok hari.
__ADS_1