
Berita tentang Wu Li Mei ditangkap departemen kejaksaan menyebar luas di lingkungan istana, termasuk sampai ke telinga Yang Jia Li. Sang permaisuri yang sedang merayakan kemenangannya, tapi belum, ia belum sepenuhnya menang.
Yang Jia Li memainkan cangkir porselen di tangannya, pandangannya lurus ke kolam teratai. Ternyata para dewa di langit tengah memihak padanya, buktinya, Wu Li Mei ditangkap dengan cepat. Tak sia-sia ia memperjuangkan posisi kepala departemen kejaksaan untuk sang kakak, ternyata laki-laki itu cukup berguna. Semua sudah sesuai dengan rencana, ia hanya tinggal duduk manis dan menunggu cara kerja takdir.
"Kau senang?"
Sang permaisuri hanya melirik lewat ekor matanya, ia lalu meletakkan kembali cangkir berisi teh yang belum tersentuh. "Aku? Tentu saja."
"Tapi ini belum berakhir, ini masih permulaan." lanjut wanita itu.
"Akan seperti apa akhirnya nanti?"
"Mengapa kau tidak menunggu saja dan melihat, biarkan takdir bekerja." jawab Yang Jia Li.
Yang Jia Li tersenyum miring saat orang di sampingnya itu menghela napas berat dengan tatapan kosong, sungguh memilukan. Pilu dan lucu, melihat bagaimana orang yang dulu sangat memuja Wu Li Mei, kini beralih membencinya. "Menyerahlah jika kau tak sanggup melihat semua ini hingga akhir, Xing Huan!"
"Aku masih sanggup, aku juga yang memulai semua ini." ujar Zhou Xing Huan.
"Kau yakin sanggup melihat Wu Li Mei menderita?"
Zhou Xing Huan mengangguk pelan, "Tentu saja."
"Dasar pembohong." guman Yang Jia Li, wanita itu tidak bodoh untuk melihat kilatan bersalah di sorot mata Zhou Xing Huan. Sang pangeran bahkan tidak sanggup melihat Wu Li Mei dipersalahkan, ia selalu bersembunyi dan melihat dari bayang-bayang. Pengecut memang, tapi Yang Jia Li akui pangeran itu cukup berani dengan mengajaknya bekerja sama.
Sang permaisuri menyapu pandangannya pada kolam teratai, ada banyak ikan koi berenang kesana-kemari. Sebuah ide licik muncul di kepalanya. "Kau sudah cukup baik, Xing Huan." ujarnya.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah melakukan hal yang benar dengan membalas dendam pada Wu Li Mei, dia memang pantas menerima semua ini." hasut sang permaisuri.
Yang Jia Li bangkit, menepuk pelan bahu sang pangeran, ia harus meyakinkan Xing Huan yang sedang goyah. "Apa kau lupa apa yang dilakukan Wu Li Mei padamu? Tentu tidak, kan?"
"Tidak mungkin kau lupa bagaimana sombong dan congkaknya dia tidak menerima cintamu, cinta dari seorang pangeran yang baik hata sepertimu."
"Biarkan dia menerima semua ini. Toh, kita hanya memberinya peringatan, bukan membunuhnya."
"Benar, kan, Zhou Xing Huan?"
Sang pangeran terdiam sejenak lalu mengangguk pelan, "Benar."
__ADS_1
...****************...
Wu Li Mei dibawa ke sebuah ruangan gelap dan dingin di departemen kejaksaan, itu adalah penjara kejaksaan.
"Kau sudah terbukti sebagai dalang dari racun merkuri yang melukai Putri Zhou Fang Yin, kau sudah dianggap pengkhianat!" ujar Yang Jian Zhu.
"Apa? Pengkhianat katamu? Yang benar saja, aku tidak bersalah." sanggah Wu Li Mei.
"Apa kau bisa menjelaskan mengapa racun itu ada di paviliunmu, selir agung?"
"Aku tidak tahu mengapa ada merkuri di paviliunku."
Yang Jian Zhu tersenyum miring pada wanita di hadapannya itu, "Sayangnya bukti-bukti sudah di depan mata."
"Kau tidak bisa mengelak lagi, Wu Li Mei! Kurung dia di dalam penjara!" titah Yang Jian Zhu pada para bawahannya.
Prajurit kejaksaan segera mencekal kedua tangan Wu Li Mei, mereka menyeret paksa sang selir agung agar masuk ke dalam penjara.
Wu Li Mei meronta, "Lepaskan! Hentikan semua omong kosong ini!"
"Aku tidak bersalah!"
"Hei!! Lepaskan aku."
Wu Li Mei terus meronta, tapi tenaganya kalah kuat dengan para prajurit. Wanita itu pun berakhir terjerembab ke ubin dingin yang hanya ditutupi jerami. Sang selir bangkit sekuat tenaga saat pintu penjaranya hendak ditutup, sialnya, kaki kirinya terkilir karena didorong kuat oleh para prajurit.
"Keluarkan aku dari sini, aku tidak bersalah!"
"Apa kau gila, Xiao Ling membutuhkanku!"
"Keluarkan aku dari sini!!"
Yang Jian Zhu hanya menatap Wu Li Mei datar dari balik jeruji besi yang kini mengurung wanita itu. Kehidupan istana ini memang kejam, seperti hukum rimba karena yang kuatlah yang berkuasa.
Pria itu menerawang kembali pada malam setelah dayang paviliun putri bernama Yang Li itu tertangkap, Yang Zuo langsung datang padanya bersama permaisuri.
"Ada apa kalian kemari? Aku tidak punya urusan dengan kalian." ketus Yang Jian Zhu kala itu, hubungannya baik dengan sang ayah atau permaisuri memang tidak bisa dikatakan baik.
"Kami datang untuk menawarkan sebuah kesepakatan." ujar Yang Jia Li.
__ADS_1
Sang kepala kejaksaan hanya tersenyum miring, ia kembali fokus pada lembaran kertas laporan kejahatan di mejanya. Tidak ada waktu untuk mendengar omong kosong dua orang di hadapannya itu. "Pergilah, aku tidak punya urusan."
"Ayolah, kakak, kesepakatan ini akan menguntungkan semua pihak."
"Aku tidak tertarik!"
"Bantulah aku, kali ini saja!" pinta Yang Jia Li."
"Tidak!"
"Oh, rupanya kepala departemen kejaksaan sudah lupa dengan derajatnya." ujar Yang Jia Li marah, wanita itu mendekat dan dengan sengaja menumpahkan tinta di meja sang kakak. Tinta itu tumpah mengenai lengan hanfu Jian Zhu.
Yang Jian Zhu menatapnya tajam, "Apa yang kau lakukan?!"
"Mari buat kesepakatan!"
Jian Zhu masih tetap pada pendiriannya, apapun yang mengenai perebutan kekuasaan ia tidak ingin ikut campur. "Aku tidak tertarik."
"Apa yang membuatmu tidak tertarik, kau bahkan belum mendengar isinya."
"Untuk apa aku mendengarnya saat aku bahkan sudah tahu maksudnya." Yang Jian Zhu menatap tajam sang adik, "Kau dan ayah pasti merencanakan sesuatu, kan? Apa lagi kali ini? Kalian sangat memuakkan, selalu haus akan harta dan kekuasaan."
"Sialan!" Yang Jia Li memekik, "Jangan jadi tidak tahu diri kakak, ingatlah bahwa kau duduk disini karena aku yang membantumu! Jika tidak, mungkin kau hanya akan berakhir menjadi pelukis jalanan rendahan!" hardik sang permaisuri.
"Apa katamu!" Yang Jian Zhu bangkit, tangan kekarnya mencekik leher sang permaisuri. Satu hal yang sejak dulu sangat ingin ia lakukan. "Tutup mulutmu, kau tidak mengerti apapun."
"Jian Zhu!" seru sang ayah. "Lepaskan!"
Yang Zuo segera berlari menghampiri kedua anaknya, ia menahan tangan Jian Zhu yang terus mencekik sang permaisuri. "Hentikan, Jian Zhu!"
Buughhh.......
Bogeman mentah telak mengenai pipi kirinya, Jian Zhu terdorong dan cekikan tangannya dengan cepat terlepas dari leher Yang Jia Li. Pria itu mengusap darah segar di sudut bibir kirinya. "Sial!" desisnya.
Yang Jia Li langsung mengambil napas dengan rakus, ia bersembunyi di balik tubuh tambun sang ayah. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, baru saja ia hendak dibunuh oleh kakaknya sendiri.
"Aku tidak mau tahu, kau harus membantu adikmu!"
"Cihh! Membantu apa?" tanya Yang Jian Zhu asal-asalan.
__ADS_1
"Membunuh Wu Li Mei."