
“Apa artinya?” tanya sang putri, diletakkannya kembali tusuk konde berbentuk bunga tulip yang indah itu. Dia memakai cadarnya karena merasa takut kalau sampai penyamarannya terbongkar, dan tidak nyaman saat orang-orang menatapnya penasaran.
Kecantikan yang terpancar dari putri kaisar itu berhasil memikat orang-orang di sekitarnya untuk menatap ke arahnya. Mereka menatap penasaran kepada sang nona yang selalu memakai cadar itu, kebanyakan dari orang-orang itu sudah mengenalnya di toko obat. “Wah, anda ternyata sangat cantik, nona.” Ujar si penjual.
“A-aku?”
“Memang, memang dia sangat cantik. Oleh sebab itu dia harus mendapatkan tusuk konde yang sama cantiknya dengan dirinya, berikan aku barang dagangan terbaikmu!” titah Jing Xuan.
“Kalian berdua cocok dan serasi, tuan, nona.” Puji penjual itu lagi, “Kalau begitu akan saya ambilkan yang paling mahal dan indah.”
Si penjual pun mengambil kotak peti yang digunakan untuk menyimpan perhiasan, dan dari sana lah koleksi terbaik yang biasanya hanya dijual kepada para bangsawan tinggi diperlihatkan. Ada tusuk konde bunga camelia yang lebih cantik dari yang sebelumnya, berhiaskan emas murni dan mutiara di tengahnya.
“Cantik sekali, sama seperti kau Xiao Yin!”
“Kau benar tidak tahu apa arti camelia?”
Mencoba keras untuk mengendalikan diri agar sang tuan muda tidak melihat betapa gugupnya ia berdekatan dengannya, padahal sudah mati-matian menghindar tapi tetap saja bertemu. Sudah begini apa yang akan dia lakukan lagi, ini adalah kali kedua mereka bertemu setelah di kedai bakpao itu, sayang sekali dulu dia harus memberitahukan namanya.
Perihal arti sesungguhnya dari bunga camelia, dia tahu tapi ingin mengetahui seberapa pandai putra bangsawan itu memikat hati. “Aku tidak tahu.” Ujarnya berpura-pura.
“Bisakah kau jelaskan kepadaku?”
“Tentu.”
“Apa?”
Jing Xuan tersenyum tipis, “Artinya adalah cinta, kesetiaan, dan keabadian. Melambangkan bentuk sesungguhnya dari perasaan cinta yang diliputi dengan kesetiaan dan pengabadian cinta itu sendiri.”
“Ini sangat cocok denganmu Xiao Yin, ini adalah bentuk dari dirimu.”
Sang tuan muda memberikan tusuk konde itu kepada Zhou Fang Yin dan diterima dengan baik, dia lalu menoleh pada si penjual. “Aku akan membayar untuk tusuk konde ini, berapa harganya?”
“Jangan, biar aku saja.” Cegah Zhou Fang Yin.
“Tak apa, biar ini jadi hadiah dariku untukmu.”
“Tidak tuan, aku akan membelinya sendiri.”
__ADS_1
Jing Xuan menggeleng, dia memberikan lima keping logam untuk menebus tusuk konde indah itu. Sekalipun sang nona terus berusaha untuk mencegah, tapi tuan muda Heng sudah terlanjur tidak bisa dibantah lagi. Dia memberikan kode kepada si penjual untuk tidak menerima uang dari sang putri kaisar.
“Sudah, sebaiknya kita pergi saja dari sini, terlalu banyak orang-orang yang melihat kita.”
“Kemana?” tanya sang nona dengan kening berkerut.
“Ikut saja.”
Sepasang manusia itu pergi meninggalkan toko perhiasan itu, mereka berjalan sedikit menjauhi kerumunan untuk bebas bicara berdua.
Zhou Fang Yin hanya bisa terdiam dan memacu langkahnya untuk mengikuti langkah lebar Jing Xuan pergi. Jadi seperti ini rasanya bersentuhan dengan seorang laki-laki selain keluarganya sendiri, lalu perasaan aneh apa yang terkumpul menjadi satu di dalam dadanya itu. Bahagia dan gembira bercampur jadi satu, seolah bunga-bunga bermekaran mengiringi langkahnya dan kupu-kupu menari mengelilingi mereka.
Pohon persik yang masih rimbun daunnya itu menjadi tempat Jing Xuan menghentikan langkah, dia menatap sekeliling pasar yang masih cukup ramai. Semoga tidak ada Yang Zhen dan dua pendamping mereka datang memergoki.
“Aku mencarimu ke seluruh pasar setiap hari, katakan kepadaku mengapa kau menghilang begitu saja, dan dimana kau tinggal?”
“Mencariku?” tanya Zhou Fang Yin bingung.
“Iya.”
“Kenapa mencariku?”
“Apa yang belum selesai?”
Jing Xuan terdiam, apa yang belum selesai dari mereka karena tidak ada yang dimulai hari itu. Jadi, apa sebenarnya alasan tuan muda Heng untuk mencari Xiao Yin nya. Aneh sekali, Jing Xuan memutar otaknya untuk menyadari ini, sepertinya dia mulai tertarik kepada gadis muda itu.
Kilas balik dalam urusan percintaan yang sangat jarang untuk disentuh kehidupan sempurna Jing Xuan. Selama belasan tahun hidupnya, tidak pernah sekalipun merasakan tertarik kepada wanita, bahkan dengan Xu Ling Mei yang mati-matian mengejarnya. Meskipun Ling Mei tidak kalah cantik dari para gadis di bangsal belajar, tapi belum ada yang sanggup menggetarkan jiwanya.
Berkeliling pasar setiap hari untuk mencari seorang gadis jelas bukan perilaku yang biasa di lakukan Heng Jing Xuan. “Aku … aku hanya ingin berkenalan.”
“Aku sudah memberitahukan namaku.”
“Yang lainnya.”
“Seperti apa?”
“Rumahmu.” Jawab sang tuan muda, “Rumahmu dimana? Berasal dari keluarga apa dan kenapa kau begitu mengindari pertemuan denganku?”
__ADS_1
“Rumahku jauh sekali makanya aku jarang pergi ke pasar, aku hanya pergi untuk membeli kebutuhan mendesak saja.”
Kebohongan itu sepertinya berhasil karena Heng Jing Xuan percaya kepadanya, “Lalu apa nama keluargamu?”
“Aku tidak bisa mengatakan itu.”
“Kenapa?”
“Tidak ingin saja.” Jawab Zhou Fang Yin.
Sang tuan muda mengangguk-anggukkan kepalanya, sesuatu yang umum saat para bangsawan enggan untuk mengatakan nama marga mereka. Boleh jadi jika berasal dari marga yang diyakini membawa sial atau pernah melanggar aturan kekaisaran, maka marga itu harus dikucilkan dari masyarakat.
“Baik kalau begitu, kalau kau tidak mau mengatakan dari keluarga mana kau berasal. Tapi setidaknya beritahu aku kapan kau berkunjung ke pasar, sehingga kita bisa bertemu kembali. Kalau kau bilang rumahmu sangat jauh, itu artinya aku harus menjadi pemandumu untuk berkeliling pemukiman di kota ini.”
Berkeliling itu ide yang bagus, terlebih pemuda bernama Jing Xuan ini nampak begitu tulus. Sejak dulu sang putri sangat ingin pergi menjelajah dunia, karena baginya dunia yang ia miliki hanya ada di rumah, ruang belajar dan paviliun. “Aku sangat ingin berkeliling, apa benar itu bisa?”
“Bisa, aku akan menemanimu.”
“Kemanapun aku ingin pergi?”
“Tentu.”
Zhou Fang Yin tersenyum lebar, “Aku hanya berkunjung ke pasar pada penghujung minggu saja, itu pun terkadang tidak bisa karena praktek ibu terlalu ramai.”
“Praktek?”
Jing Xuan menjentikkan jemarinya, “Pantas saja aku merasa tidak asing denganmu nona, ternyata kau salah satu orang yang ada di toko obat. Kau bertugas membantu Nyonya Wu bukan? Apa kau anaknya?”
Ingin mengangguk tapi bagaimana, dan kalau harus menggeleng pasti tidak mungkin. “Aku hanya membantu Nyonya Wu saja, karena aku memang datang dari jauh dan dia memintaku untuk menjadi pembantu di toko obat saja.”
“Kenapa kau mau?”
“Karena aku suka dengan toko obat dan bagaimana orang-orang membutuhkan toko ibu.”
“Kalau begitu aku hanya harus menemuimu di toko obat Nyonya Wu ya, apakah marga keluargamu Wu?”
“Bu-bukan, bukan itu, aku tidak ingin memberitahukannya, maaf.” Ujar sang putri dengan rendah hati.
__ADS_1
“JING XUAN?!?”
Panggilan itu menginterupsi sepasang anak manusia yang hendak mengenal cinta itu, sang tuan muda menoleh dan ia memutar bola matanya mendapati Yang Zhen bersama kedua pendamping mereka bergopoh-gopoh datang menghampiri. “Jing Xuan, kami mencarimu kemana-mana tapi kau justru ada disi--- ini siapa?”