Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Upaya penyelamatan


__ADS_3

"Ayo, Xiao Ling, aaaaaa...... buka mulutmu!"


"Ayo, aaaaaaaa!"


Zhou Fang Yin berusaha keras membujuk sang adik untuk membuka mulutnya, semangkuk bubur di tangannya belum berkurang sedikit pun.


Zhou Fang Yin menahan sendoknya di udara saat sang adik tak kunjung membuka mulutnya. "Ayolah, Xiao Ling, kau harus makan agar cepat sembuh."


"Aku sudah sembuh." balas gadis kecil yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang itu, setengah kakinya ditutupi selimu tebal karena cuaca semakin dingin.


"Dimana ibu, kakak?" tanyanya.


"Emm........" Zhou Fang Yin melirik ke kanan dan ke kiri, gadis muda itu bingung harus menjawab apa. "Ada, ibu ada, dia sedang mencarikan obat untukmu." bohongnya.


"Benarkah?"


Sang kakak mengangguk cepat, "Ya, itu benar."


"Tapi, ibu tidak pernah meninggalkanku lebih dari dua hari." ujar Zhou Xie Ling pelan, "Kemana Dayang Hong?"


"Dayang Hong, yaaaa."


"Iya, Dayang Hong."


"Dayang Hong juga pergi mencari obat."


Sang putri kecil membulatkan matanya lucu, "Benarkah? Kenapa semua orang mencari obat untukku, apa aku sakit parah?"


Zhou Fang Yin menggeleng, "Tidak parah, adik. Hanya saja obatnya sangat sulit untuk di dapat, jadi ibu pergi bersama Dayang Hong untuk mencari obat."


"Kenapa bukan Tabib Zhong saja?" Zhou Xie Ling menoleh pada pria paruh baya dengan hanfu putih itu, selama sang putri kecil sakit, Tabib Zhong tidak pernah absen mengunjunginya.


Zhou Xie Ling mengerutkan keningnya, jika mencari obat, mengapa bukan Tabib Zhong saja. Bukankah dia adalah kepala tabib istana.


"Kenapa bukan Tabib Zhong saja, aku butuh ibu, kak." rengek Xie Ling.


"Itu karena Tabib Zhong harus selalu ada di istana untuk mengobati orang lain yang terluka."

__ADS_1


Putri kecil itu menunduk dalam sebelum beralih menatap netra bening sang kakak, netra yang persis sama seperti milik Wu Li Mei. "Aku rindu pada ibu."


"Aku juga." balas Zhou Fang Yin sedih.


Sudah dua hari berlalu, dan belum ada kabar terbaru dari sang ibu, Wu Li Mei. Wanita itu masih ditahan di Departemen Kejaksaan. Entah apa yang terjadi disana, tapi semoga sang selir tetap baik-baik saja.


Departemen Kejaksaan bukan tempat sembarangan, yang bisa keluar masuk keenaknya. Departemen itu berdiri sendiri dan memiliki wewenangnya sendiri, ketika ditangkap, tidak banyak yang bisa keluar lagi.


Rupanya, dalang sebenarnya telah menyusun strategi yang sangat epik. Mereka pandai menyembunyikan kejahatan dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam rencana mereka. Setelah dayang muda bernama Yang Li itu mengatakan bahwa Wu Li Mei pelakunya, departemen kejaksaan langsung melakukan penggeledahan paviliun selir agung tanpa persetujuan baik Kaisar Zhou, maupun Wu Li Mei.


Hasil dari penggeledahan itu adalah ditemukan serbuk merkuri di paviliun selir agung, mereka juga menangkap lima dayang dari paviliun itu orang yang diperintah oleh Wu Li Mei untuk menebar racun pada putri Zhou Xie Ling. Sungguh sebuah ironi, saat orang-orang di istana mulai percaya pada kebaikan hati Wu Li Mei. Masalah ini justru datang dan merusak citra baik yang sudah ada.


...****************...


Wu Li Mei mengerjap saat sorot cahaya datang ke arahnya, ruangan yang biasanya gelap dan dingin itu, kini sedikit terang. Karena penasaran, sang selir pun bangkit dan mendekat pada jeruji besi. Derap langkah terdengar nyaring beriringan, tanpa melihat dua kali pun ia tahu siapa yang datang.


Seorang pria melangkah dengan angkuh mendekatinya, tangan kekarnya membuka pintu jeruji besi Wu Li Mei. "Keluarlah, Yang Mulia." ujar Yang Jian Zhu.


Wu Li Mei tetap diam di tempatnya, "Apa lagi kali ini? Oh aku tahu, kalian pasti salah tangkap orang kan? Memang bukan aku pelakunya."


"Kita lihat saja nanti."


"Kalau begitu keluarlah, kita buktikan saja kesombonganmu." Yang Jian Zhu berucap dengan dingin, kepala departemen kejaksaan itu segera pergi, ia membiarkan anak buahnya melakukan tugas mereka.


"Ayo, Yang Mulia."


"Awhh!!" pekik Wu Li Mei. "Singkirkan tanganmu dariku, aku masih bisa jalan sendiri." ketusnya.


Para prajurit departemen kejaksaan itu segera membentuk formasi lingkaran untuk mengawal Wu Li Mei, wanita itu pun berdecak sambil merotasikan bola matanya. "Oh ayolah, aku tidak akan kabur, jika aku benar kabur pun kalian pasti bisa menangkapku."


Suhu udara di luar ternyata sangat dingin, Wu Li Mei bergidik saat angin dingin menusuk kulitnya. Cukup lama mengikuti para prajurit departemen kejaksaan, sang selir agung tiba di tempat yang dua hari lalu ia kunjungi. Ya, pelataran aula penyiksaan.


"Silahkan duduk disini." ujar salah seorang prajurit.


Wu Li Mei pun duduk di sebuah kursi di tengah-tengah aula penyiksaan. Ia merasa menjadi Yang Li saat ini, sekali pun kursi miliknya jauh lebih bagus, tapi duduk disini terasa menakutkan. Puluhan orang-orang yang sama pada dua hari lalu mulai memasuki pelataran aula, mereka mengambil tempat masing-masing.


"Apa-apaan ini?!" pekik Wu Li Mei, sang selir menatap tajam para prajurit. "Aku tidak mau berada disini.

__ADS_1


Wu Li Mei hendak bangkit, tapi kedua lengannya dicekal dan ia dipaksa duduk kembali. Sang selir kembali meronta saat kedua tangannya di pasung pada sebuah balok kecil, dengan dua lubang di tengahnya. Balok itu dipasang di kursi yang Wu Li Mei duduki tadi.


"Sidang pengadilan akan segera dimulai!" ujar seorang prajurit di sudut aula dengan suara lantang, setelahnya gong besar dibunyikan satu kali.


"Bawa mereka masuk!" titah Yang Jian Zhu.


Para bawahannya segera membawa lima dayang muda ke tengah aula, mereka dipaksa bersimpuh di dekat Wu Li Mei.


"Katakan! Apa anda mengenal mereka?"


Wu Li Mei mengamati satu demi satu dari lima wajah dayang itu, tak satu pun yang ia kenali. Wu Li Mei menggeleng, "Tidak, aku. tidak mengenal mereka."


"Anda yakin?"


"Ya, tentu saja."


Yang Jian Zhu mengangguk-angguk, ia mendekati salah seorang dayang tadi. "Katakan di hadapannya kaisar!" titahnya.


Kelima dayang itu langsung diseret paksa untuk bersimpuh menghadap Kaisar Zhou, ibu suri, dan Yang Jia Li yang hadir untuk menyaksikan pengadilan.


"Sa... saya.... saya dipaksa memberikan racun itu untuk tuan putri." ujar salah satu dari mereka.


"Siapa yang memaksamu?"


"Ya.... ya.. yang mu.. mulia selir agung." jawab dayang itu dengan suara bergetar.


"Tidak!!" sanggah Wu Li Mei, "Itu tidak benar, aku bahkan tidak mengenal mereka!!"


"Ceritakan dengan jelas!" titah Yang Jian Zhu lagi.


Dengan kompak kelima dayang itu mulai bercerita, tentang sebuah rencana rahasia yang tidak Wu Li Mei ketahui, tapi seolah melibatkan dirinya.


"Tutup mulutmu!!" sentak Wu Li Mei marah, "Kalian semua pembohong!! Aku tidak pernah melakukan hal itu."


"I... itu...benar.. Yang Mulia Kaisar."


"Pembohong!!! Tutup mulutmu, hentikan semua kebohongan itu!"

__ADS_1


Kaisar Zhou hanya diam, dengan tatapan yang tak lepas dari wajah penuh ketakutan Wu Li Mei. Masih belum saatnya untuk menyelamatkan wanita itu, karena sang kaisar harus mempelajari strategi musuh terlebih dahulu dan mencari kelemahan.


Di sisi lain, Yang Jia Li tersenyum puas. Saat netranya tak sengaja bertabrakan dengan Wu Li Mei, wanita itu tersenyum licik penuh kemenangan.


__ADS_2