
Mendekati hari dimana dia dan kaisar akan berangkat menuju Negeri Hang di utara, terlalu banyak masalah terjadi hingga membuat Wu Li Mei enggan pergi. Jika saja Yang Jia Li yang pergi, pasti ia bisa memegang kendali dengan baik untuk masalah ini, sayangnya dia yang harus pergi. Apa yang harus ia perbuat untuk menyelesaikan masalah ini, kepala sang selir agung dipenuhi dengan kegusaran dan kebimbangan.
Pencarian dayang pengkhianat itu dilakukan sejak kemarin dan belum juga membuahkan hasil, semalaman juga Wu Li Mei tidak tertidur karena kedua matanya terus terjaga. Bagaimana mau tidur kalau nasibnya diujung tanduk. Jika buku itu jatuh ke tangan Yang Jia Li, sudah pasti ia menang. Tujuan permaisuri licik itu adalah membuat racun untuk membunuhnya, atau bisa saja ia mengincar Zhou Fang Yin atau ibu suri. Zhou Ming Hao tidak akan menjadi sasaran karena Yang Jia Li membutuhkannya untuk naik tahta menjadi ibu suri nantinya.
Sang selir agung menatap matahari yang mulai terbit dari pondok teratai, berteman embun dan kabut pagi yang dingin, Wu Li Mei sudah menghabiskan lebih dari sepuluh teh sejak semalam. “Apa ada laporan dari Panglima Hao?”
“Maaf, Yang Mulia, sepertinya belum ada.” Jawab Dayang Yi. Semalaman sang dayang merenungkan diri dan menangis memanjatkan doa kepada dewa agar ia diampuni, dan baru kembali pagi ini, tapi Wu Li Mei benar-benar terlihat masih menyimpan amarah untuknya.
Tak berselang lama, ada seorang prajurit berpakaian serba hitam datang menghadap kepadanya, Wu Li Mei segera bangkit. Menyambutnya dengan penuh harap bahwa dayang itu sudah ketemu.
“Salam, Yang Mulia Selir Agung!”
“Bangkitlah!” titah Wu Li Mei, “Katakan apa yang ingin kau sampaikan!”
Sang utusan mengangguk kepalanya, ia memberikan sebuah tusuk konde yang Wu Li Mei tahu milik siapa. Tusuk konde dayang paviliun selir agung berbeda dengan dayang lain, dan lagi ada ukiran namanya di bawah tusuk konde itu.
Wu Li Mei memperlihatkan tusuk konde itu kepada Dayang Yi, “Apa tusuk konde ini milik dayang yang berkhianat?”
Dayang Yi mengangguk, sekilas ia bisa membaca nama yang tertera disana. Bertuliskan Yi Jiao, nama dayang muda yang ia perintahkan untuk mengantarkan buku kepada Tabib Zhong tapi ternyata dia telah berkhianat. Dayang Yi mengingatnya dengan pedih, karena dia dan Yi Jiao masih berkerabat dekat. Yi Jiao bisa masuk sebagai dayang paviliun selir agung juga berkat bantuan dati Dayang Yi. Sayangnya kini gadis remaja itu telah berkhianat dan tidak akan bisa diselamatkan, jika ia memohon sambil menangis darah sekalipun, Wu Li Mei tidak akan mengampuninya.
__ADS_1
“Dimana dia berada saat ini?” tanya Wu Li Mei.
“Bersama Panglima Hao, Yang Mulia.” Jawab sang prajurit, “Dia kami tangkap di perbatasan kota selatan saat hendak pergi menyebrangi danau selatan, kami menduga dia hendak kabur tapi tidak bisa karena kapal yang akan ia tumpangi belum sampai di tempat. Panglima Hao segera membawanya ke markas rahasia untuk diinterogasi.”
Wu Li Mei mengangguk, ia ingin sekali melihat wajahnya tapi keberangkatannya tinggal menunggu jam lagi. “Dayang, apa aku masih memiliki waktu sebelum berangkat?”
“Ma-masih, Yang Mulia.”
Mendengar itu, Wu Li Mei tidak menunggu lagi, ia segera mengganti hanfu dan tusuk kondenya lalu mengikuti prajurit itu pergi ke tempat rahasia mereka. Hari masih pagi dan ini adalah waktu yang tepat untuk pergi, tidak akan ada yang tahu tentang kepergiannya terlebih kaisar. Sebenarnya Wu Li Mei dilarang bepergian karena mereka akan berangkat ke Negeri Hang saat tengah hari. Dayang Yi mengikuti sang junjungan dengan setia, ia terus mendampingi Wu Li Mei sekalipun hatinya merasa malu dan takut. Wu Li Mei masih mengampuninya karena sang selir pasti masih membutuhkannya untuk mengurus segala keperluan di Negeri Hang nantinya. Setelah ini, sang dayang tidak mampu memikirkan nasibnya, sepertinya Wu Li Mei akan mengasingkannya.
Pintu kayu itu dibuka, keadaan di dalam sangat gelap, hanya ada remang cahaya dan jeritan kesakitan seorang gadis muda yang sudah berpakaian compang-camping. Keadaannya sangat kacau dan ia duduk di kursi penyiksaan sambil berlinang air mata, saat Wu Li Mei datang, gadis itu berteriak memohon ampun tapi sudah sangat terlambat.
“Diakah orangnya?” tanya Wu Li Mei.
Sang panglima mengangguk, “Ya, Yang Mulia. Dia adalah dayang pengkhianat yang telah memberikan buku itu kepada orang lain.”
“Siapa tuannya?”
“Permaisuri Yang Jia Li, Yang Mulia. Kami sudah memastikan, dan buku itu sudah jelas ada di tangan permaisuri.” Panglima Hao memberikan sebuah kantung, berwarna kuning keemasan dengan beberapa keping emas di dalamnya. Kantung itu sudah jelas milik siapa, disana sudah tergambar dengan jelas jika itu adalah pemberian Yang Jia Li.
__ADS_1
Wu Li Mei menatap sang dayang muda yang terus meronta meminta diampuni, penyiksaan yang ia alami tidak sekalipun terhenti karena kedatangan sang selir agung. Wu Li Mei mendekatinya dengan langkah penuh amarah, dia marah karena merasa kecolongan dengan dayang itu. Sayangnya dia tidak punya waktu lebih lama karena keberangkatannya, setelah pulang nanti, semua dayang di paviliun selir agung akan kembali ia seleksi dan membunuh semua dayang pengkhianat.
“Kau mungkin sudah gila karena berkhianat kepadaku.” Ujar Wu Li Mei.
“Ampuni saya, Yang Mulia, ampuni saya!”
Selir agung tersenyum miring, “Mengampuni pengkhianat? Itu sangat mustahil wahai dayang kecil, hukum di istana sudah jelas bahwa pengkhianat harus dipenggal kepalanya. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk memberimu pengampunan, tapi sayangnya aku bukan Tuhan yang pantas menentukan nasib manusia.”
Tak hanya dayang itu, tapi semua orang di ruangan juga ikut menatap sang selir keheranan. Apakah maksudnya Wu Li Mei memberikan pengampunan secara tidak langsung.
“Apa maksud anda, Yang Mulia? Bukankah hukumannya sudah jelas?” tanya Panglima Hao.
“Iya, Panglima Hao. Tapi ku pikir aku tidak pantas untuk menentukan hidup dan matinya.” Jawab Wu Li Mei. Hukuman memenggal kepala di negeri ini adalah hukuman yang diberikan untuk para pengkhianat, dan sama halnya dengan hukuman di dalam istana yang keras itu. Para dayang atau prajurit yang berkhianat tidak segan untuk dipenggal, seperti yang dilakukan Yang Jia Li tempo hari kepada para dayang paviliun putri Xie Ling. Nyawa tak bersalah itu harus merengang dari tubuhnya karena keserakahan Yang Jia Li, sekalipun dayang ini bersalah, tapi hukuman mati bukan solusi.
Wu Li Mei menarik ibu jari dayang muda itu, kedua tangannya terikat pada kursi dan ia hanya bisa menatap penuh ketakutan pada Wu Li Mei. “Aku akan memenggal kepalamu, itu sumpahku untuk pengkhianat. Tapi bukan di lehermu, melainkan kedua ibu jarimu.” Ujar sang selir dengan seringai iblis.
“Potong kedua ibu jarinya, dan kirimkan itu beserta kantung emas ini ke paviliun ratu tanpa ada yang tahu. Setelahnya jadikan ia budak paling hina di istana ini, jadikan ia pelayan yang akan melayani siapapun yang ada di istana tanpa terkecuali.”
Dayang Yi menatap pedih sekaligus miris, tidak mampu untuk menyelamatkan Yi Jiao dari hukuman yang berat itu. Lebih baik dayang muda itu langsung dipenggal dan mati daripada harus menjalani kehidupan hina itu. Tapi, perintah dari Wu Li Mei justru menerbitkan senyuman dengan berbagai arti dari Panglima Hao dan para parjuritnya, budak paling hina, sudah jelas bahwa mereka boleh melakukan apapun kepadanya dengan sesuka hati.
__ADS_1