Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Sungai dan pertemuan


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut membelah selat itu akhirnya sampai ke tempat tujuan, sebuah pelabuhan megah yang sibuk. Jauh lebih sibuk dibandingkan pelabuhan yang menjadi titik keberangkatan mereka, terdapat gerbang besar menuju pusat kota dan banyak saudagar kapal dengan pakaian bagus berbaur dengan para pedagang dari berbagai daerah. Wu Li Mei menatap itu dengan takjub, angin sejuk namun hangat yang berhembus menerpa wajahnya membuat sang selir memeluk tubuhnya sendiri dengan perasaan yang tak mampu ia gambarkan. Apakah ini rasanya pulang? Atau perasaan apa ini?


“Bagaimana, Mei’er? Melihat negeri ini lagi setelah belasan tahun, apa kau merasa senang?”


Wu Li Mei hanya menanggapi dengan senyuman, sang selir menyambut uluran tangan kaisar untuk turun dari kapal bersama. “Aku senang, tentu saja senang.” Jawabnya.


“Kau akan lebih senang saat melihat kedua orang tuamu, mereka akan menyambut kita secara khusus di dalam istana. Bersama dengan calon kaisar dan anggota keluargamu yang lain.”


“Benarkah?”


“Tentu saja.” Kaisar Zhou mengangguk yakin, “Kau masih menjadi putri bungsu tersayang mereka Mei’er, kau sangat disayangi hingga semua yang kau inginkan akan selalu kau dapatkan dengan mudah.”


Rombongan kereta kuda menyambut mereka setelah turun dari kapal, lalu setelahnya ada wajah-wajah yang sama sekali tidak sang selir kenali. Tidak ada gambaran tentang tempat ini dan orang-orangnya, sekalipun ia sudah mendengarkan cerita panjang Dayang Yi tentang tempat penuh adidaya ini. Negeri Hang konon adalah negeri yang sejahtera dan damai, tidak ada peperangan dan kaisar memimpin dengan baik hingga menjadikan negeri itu sangat makmur dan jauh lebih maju dibandingkan negeri yang lain.


Wu Li Mei patut berbangga hati karena berasal dari keturunan murni kekaisaran yang kuat, namun sayangnya ia terlambat untuk mencatatkan diri sebagai permaisuri dan berakhir menjadi selir agung. Dulu, wanita itu sangat tidak masalah asalkan ia tetap berada di sisi kaisar, tapi sekarang, dia semakin tahu mengapa takdir harus membuatnya merebut tahta itu. Dibandingkan dengan Yang Jia Li, yang hanya putri seorang pemberontak rendahan, dia jauh lebih pantas untuk bertahta. Wu Li Mei mulai memikirkan hal lain saat kakinya menatap untuk pertama kali di negeri ini, jika dia memang seorang putri tersayang, tentu ada kekuasaan yang ia miliki di negeri ini. Atau ia bisa meminta dukungan dari kaisar yang notabene kakaknya sendiri. Wu Li Mei harus memanfaatkannya, dia harus menghimpun kekuatan dan melengserkan Yang Jia Li.


“Salam, Yang Mulia Kaisar Zhou Xiu Huan dari Negeri Ming di selatan. Semoga kaisar hidup seribu tahun!” ujar seorang berpakaian mirip Panglima Hao, di dekatnya ada beberapa orang lagi yang berpakaian seperti kasim. Mereka membungkuk dan memberi hormat.


“Bangkitlah!”

__ADS_1


“Salam, Yang Mulia Putri Wu Li Mei!”


“Bangkitlah!” ujar Wu Li Mei.


“Selamat datang di Negeri Hang, Yang Mulia. Kami akan menunjukkan kediaman anda untuk beberapa hari ini selama penobatan kaisar baru dilaksanakan.” Ujar sang panglima.


Tanpa banyak bicara lagi, rombongan Kaisar Zhou dan Wu Li Mei mengikuti mereka pergi ke istana melewati pusat kota. Sepanjang perjalanan, Wu Li Mei tidak berhenti berdecak kagum melihat kota itu yang sangat indah dan tertata dengan baik. Ada banyak taman kota, pusat perdagangan, toko-toko, kedai makanan, dan toko kain yang sangat indah. Banyak orang berlalu-lalang dan ada pertunjukkan kesenian hingga bela diri seperti yang pernah dilakukan Zhou Ming Hao di pasar dulu. Perjalanan mereka diteruskan tanpa mengganggu kegiatan perdagangan. Menuju sebuah istana megah di pegunungan, sama seperti istananya, dari sini dia bisa melihat seluruh kota dan pelabuhan sejauh mata memandang. Setelah memakan waktu yang lama, rombongan akhirnya sampai di bagian lain istana itu, sebuah paviliun yang sudah disiapkan untuk para tamu undangan dari berbagai dinasti. Termasuk dari dinasti lain yang juga ikut hadir, Kaisar Zhou beberapa bertegur sapa dengan kaisar lain.


Tapi, ada satu yang membuat Wu Li Mei merasa berkecil hati, yaitu saat ia bertegur sapa dengan para selir kekaisaran yang ikut hadir disana. Mereka bukan permaisuri, kebanyakan adalah selir yang masih sangat belia. Ada juga yang seusia dengan Zhou Fang Yin. Berpakaian bagus tapi sangat terbuka, memakai riasan tebal dengan tusuk konde yang terbuat dari emas.


“Ada apa, Mei’er?” tanya Kaisar Zhou saat rombongan kekaisaran yang ia sapa telah berlalu, pria itu menyadari wajah tak bersemangat sang selir. “Apa kau terlalu lelah? Setelah ini kita akan beristirahat, atau kau bisa kembali ke paviliun terlebih dahulu.”


“Lalu apa?”


“Aku hanya merasa para selir itu sangat cantik dan muda, mereka jauh lebih menawan dibandingkan diriku. Bukankah seharusnya kau meminta selir Liu Xie Yan untuk menemanimu.” Ujar Wu Li Mei dengan tatapan tidak enak hati, dia mulai membandingkan dirinya dengan selir termuda Kaisar Zhou yang masih berusia belasan tahun.


Tangan sang kaisar terangkat untuk membelai wajah cantik Wu Li Mei, “Apa aku baru saja mendengar Selir Agung Wu berkecil hati? Ayolah, Mei-mei, kau tidak pernah berkecil hati sebelumnya kau selalu penuh percaya diri dan angkuh. Kemana sifatmu itu? Aku jadi merindukanmu yang menyebalkan itu.”


“Jadi, kau tidak suka aku yang sekarang?”

__ADS_1


“Bukan itu maksudku, istriku sayang!” ujar sang kaisar seraya menarik tubuh Wu Li Mei ke dalam dekapannya, sang kaisar mengecup kening dan bibirnya dalam dan penuh ketulusan. “Kau adalah istriku yang paling cantik dan paling kucintai dari semuanya, Wu Li Mei. Jangan berkecil hati dengan para gadis belia yang bahkan belum waktunya menjadi seorang selir. Para kaisar itu hanya menikahi mereka untuk menyombongkan wanitanya kepada yang lain, tapi aku tidak ingin menjadikanmu demikian. Aku membawamu karena aku sangat mencintaimu, bukan karena untuk menyombongkanmu.”


Selir agung tersenyum dengan semburat merah yang tercetak jelas di kedua pipinya, “Maafkan prasangka burukku, Yang Mulia.”


“Tak apa, istriku, selanjutnya nanti jangan pernah bersikap rendah diri kepada siapapun itu.”


Wu Li Mei mengangguk paham, ia mendekap lengan sang kaisar dan bersama-sama melanjutkan perjalanan mereka kembali ke paviliun. Tapi, sebelum sampai di paviliun, kaisar justru berbelok arah sambil memberikan kode agar dayang dan pengawalnya tidak ikut bersama mereka. Wu Li Mei mengerutkan keningnya, terlebih saat kaisar membawanya ke tepi sungai yang jernih dengan deretan bunga sakura yang memenuhi sepanjang jalan di pinggir sungai itu.


Kaisar berhenti sejenak, ia menghirup udara segar disekitarnya. Suasana pagi ini sama dengan suasana bertahun yang lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Wu Li Mei. Saat itu ia berkunjung ke Negeri Hang bersama Zhou Xing Huan, dan mereka bertemu di tepi sungai itu dengan seorang gadis jelita bernama Wu Li Mei.


“Mengapa kita ada disini?” tanya Wu Li Mei kebingungan.


“Kau lupa?”


“Emm… maaf, aku tak ingat apapun.”


Kaisar menggenggam kedua telapak tangan sang selir dengan erat, menatap maniknya dalam dan penuh cinta. “Ini adalah tempat dimana kita pertama kali bertemu, selir agung.”


“Benarkah? Maaf, karena aku melupakannya.” Wu Li Mei menunduk dalam dengan perasaan bersalah, dia sama sekali tidak mengingat apapun dan tidak tahu bagaimana kisah cintanya dimulai. Yang dia tahu saat ini hatinya begitu bahagia dan berdebar.

__ADS_1


“Sayang sekali karena insiden itu kau melupakan hal yang paling penting dalam pertemuan pertama kita, tapi tak apa, jangan merasa bersalah karena itu bukan salahmu.” Ujar kaisar, “Dulu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik hingga menyilaukan mata, kupikir dia adalah bidadari yang terjatuh dari surga, tapi ternyata dia adalah dirimu.”


__ADS_2