
Entah sejak kapan perasaan janggal ini hadir, tapi tiap kali bertemu dengan Jing Xuan, Zhou Fang Yin menjadi berbunga-bunga bahagia. Sepanjang perjalanan pulang tanpa sadar ia bersenandung diiringi cahaya senja yang hangat tapi menyejukkan, di tangannya ada sebakul kecil bakpao yang ia beli sebelum pulang. Setelah bersantai menatap pemandangan di atas bukit, Jing Xuan mengajaknya ke pasar untuk membeli kudapan, dan bakpao adalah pilihannya. Dia membeli dua bakul kecil, satu lagi untuk dibagikan kepada anak-anak gelandangan yang dulu juga ia belikan bakpao.
“Yang Mulia, anda begitu senang ya.”
Zhou Fang Yin menoleh kepada seorang gadis sebayanya yang selalu setia mendampinginya, sang putri sering memanggilnya Xiao Fen karena dia sering membawakan wewangian yang menenangkan untuk menghiasi kamarnya. Entah dapat darimana, yang pasti Xiao Fen selalu berhasil untuk membuatnya tenang dan damai di dalam setiap sudut paviliun.
“Ah, tidak juga … “ kilahnya.
“Anda tidak perlu berbohong, Yang Mulia, semuanya sudah tergambar jelas dari senyuman lebar anda.”
“Apakah benar itu terlihat jelas?”
“Iya, jujur saja anda jadi lebih cantik kalau tersenyum begini.” Jawab sang dayang.
Zhou Fang Yin menyerahkan bakul bakpao yang semula ia bawa kepada Xiao Fen, dia tersenyum jauh lebih lebar seraya menyentuh tusuk konde berbentuk bunga camelia yang pertama kali ia pakai setelah diberikan seseorang yang sangat istimewa. Xiao Fen tahu, dia selalu melihat dan mengawasi sang nona dari jauh sebagai bentuk menjagaan tanpa sepengetahuan tuan muda Heng. “Yang Mulia, apakah anda sedang jatuh cinta?”
“Hm, jatuh cinta?”
“Iya.”
“Apa itu?” tanya Zhou Fang Yin.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Yang Mulia.” Ucap Xiao Fen mensejajarkan langkah dengan sang putri kekaisaran. “Anda pasti pernah mengetahui tentang perasaan tulus dari dalam hati dari wanita untuk seorang laki-laki yang berhasil membuatnya tertarik, rasa suka nantinya akan berkembang menjadi cinta. Sama seperti kaisar dan selir agung.”
“Aku kenapa Jing Xuan?” tanya Zhou Fang Yin menunjuk dirinya sendiri, “Mana mungkin aku menyukai tuan muda Heng itu, dia pasti sudah memiliki calon istri dari keluarga bangsawan lain.” Ujar sang putri bersedih hati.
“Kata siapa?”
“Saya tidak mendengar bahwa tuan muda Heng telah dijodohkan, dia masih mengikuti pendidikan di bangsal belajar bersama anak bangsawan lain, Yang Mulia.” Tambah Xiao Fen.
__ADS_1
Untuk memastikan bahwa Jing Xuan aman untuk sang junjungan, Xiao Fen sengaja mencari tahu di pasar tentang sang tuan muda sendiri. Seperti apa hidupnya dan bagaimana keluarga Heng bersikap kepada rakyat. Menurut informasi yang dia dapatkan dari orang-orang di pasar, Heng Jing Xuan adalah tuan muda dari keluarga terpandang Heng. Dia masih mengenyam pendidikan sehingga belum mendapatkan jodoh dari keluarganya. Sang kakak, Heng Ji Huan justru tengah mencari wanita baik-baik yang akan diperistri.
Memang ada satu wanita yang terdengar begitu menyukai Heng Jing Xuan, dia adalah nona muda dari keluarga Xu, Xu Ling Mei yang sangat terkenal akan kecantikannya. Tapi, sebaiknya Xiao Fen tidak perlu memberitahukan ini, biar Jing Xuan saja nantinya.
Tak sampai hati ia, sang junjungan baru saja merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang diwarnai aturan di dalam istana.
“Kalau begitu aku tidak perlu khawatir untuk berkeliling kota bersamanya, karena tidak akan ada yang marah bukan.”
“Ya, begitulah Yang Mulia.” Jawab Xiao Fen, “Tapi, anda harus tetap berhati-hati agar identitas anda tidak terbongkar. Barangkali tuan muda Heng tidak sebaik itu, maaf, saya hanya berjaga-jaga saja. Kehidupan di luar istana juga sama berat dan berbahayanya.”
Benar juga, Zhou Fang Yin menghentikan langkahnya saat tiba di gerbang samping istana. “Benar juga, beberapa kali dia hampir berhasil membuatku membuka identitas. Tapi sudahlah, biar dia tetap jadi temanku saja.”
“Baik, Yang Mulia.”
Zhou Fang Yin membuka gerbang rahasia itu perlahan, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.
“Dari mana saja, putri?!”
***
Kuda berwarna hitam itu telah kembali ke dalam kandangnya dengan selamat, sebelum pergi, penunggang kuda itu menyempatkan diri untuk membelai surai halus sang kuda yang gagah. “Kau sudah bekerja keras hari ini, terima kasih, aku akan menyuruh para pelayan untuk memberimu makanan yang banyak!”
Seolah tahu, kuda itu bersuara dan mengangkat kaki depannya sebagai pertanda bahwa dia senang. Sejak lima tahun yang lalu, kuda ini menjadi teman bagi Zhou Ming Hao dalam berburu dan berlatih bertarung. Tidak ada yang boleh menunggangi kuda ini selain dirinya, karena ini adalah kuda dari ras unggulan hadiah dari sang kakek, Kaisar Wu Zhang Hao, kaisar terdahulu Negeri Hang.
“Kau senang rupanya.”
“Aku akan meminta penjaga untuk membawakan rumput terbaik dan buah-buahan segar kali ini. Karena kau sudah berjaga besar untuk hari ini.”
Zhou Ming Hao beranjak pergi, jasa besar yang ia maksud adalah kuda itu telah menjadi saksi dirinya mengizinkan orang lain untuk menunggangi kuda kesayangannya. Membawanya berkeliling sungai dan hutan mencari bunga terbaik untuk diberikan kepadanya, lalu sang nona yang tersipu, hanya bisa tersenyum manis menerima setangkai bunga peony berwarna merah muda. Satu-satunya bunga tersisa di awal musim gugur.
__ADS_1
“Yang mulia, anda sudah kembali.”
“Kau sudah melihatku, itu tandanya aku sudah kembali.” Jawab sang putra mahkota kepada penjaga kuda. “Berikan kudaku rumput terbaik dan buah-buahan segar agar dia senang malam ini, jangan lupa!”
“Baik, Yang Mulia.”
“Oh ya, bersihkan juga kandangnya. Sudah terlalu kotor!”
“Baik, Yang Mulia.”
Zhou Ming Hao mengangguk dan berlalu begitu saja meninggalkan kandang kuda. Dia berjalan dengan hati yang senang menuju paviliunnya, dan senja yang sudah menguning dan menggelapkan langit itu membuatnya kian melebarkan senyuman.
Ada yang aneh dengan putra mahkota, tapi para penjaga kandang kuda hanya bisa terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
“Zhou Ming Hao?”
“ASTAGA!!” pekik sang putra mahkota.
“Apa ibu seperti hantu sampai-sampai kau kaget begitu?” tanya Wu Li Mei, dia datang dengan tangan terlipat dan wajah yang serius. Zhou Ming Hao jadi menebak-nebak apa kali ini yang membuat wajah damai sang ibu berubah jadi sedikit menyeramkan.
“Ti—tidak, bukan begitu maksudku bu.”
“Lalu apa?”
Wu Li Mei menatap sang putra yang semula juga hampir sama dengan Zhou Fang Yin, begitu berbunga dan bahagia. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di luar sana hingga senyuman manis itu tercipta begitu saja. Berlainan dengannya dulu yang butuh waktu lama untuk mendapatkan senyuman tulus. “Darimana saja kau?”
“Aku … berkuda, aku berburu di hutan hari ini ibu.”
“Berburu? Tanpa hasil tangkapan dan anak panah, bagaimana caranya?”
__ADS_1
Zhou Ming Hao menggaruk lehernya yang tidak gatal, “Itu … aku … “
“Sepertinya kita harus bicara, kalian terlalu sering pergi ke luar.”