
“Ahh, malas sekali disini!” Yang Jia Li kembali menguap lebar karena rasa kantuk yang luar biasa di pagi hari, padahal baru beberapa waktu lalu ia terbangun dari tidurnya.
Wanita itu menggeliat dan meregangkan kedua tangannya, tubuhnya semakin hari semakin terasa sakit dan lelah, persendiannya juga mengalami banyak masalah karena terlalu sering duduk dan tidur. Tidak ada yang dia lakukan selain bermalas-malasan dan bersantai selama masa pengasingan di Biara Heng Shui yang berada di puncak bukit. Masa pengasingan seharusnya dilalui dengan penuh pengabdian pada biara dan rasa sesal kepada dewa atas perilaku tercela yang telah dilakukan, tapi itu tidak berlaku bagi Yang Jia Li.
“Dayang Yue!!”
“Dayang Yue!!”
“Dayang Yue!! Kau ini sebenarnya dimana sih!!” teriak Yang Jia Li kesal.
Sang dayang tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar sang junjungan, “Ya, Yang Mulia, maaf tadi saya sedang menyiapkan makanan untuk anda.”
“Suruh dayang lain saja, kau kan tugasnya mendampingiku!” ketusnya.
“Ba-baik, Yang Mulia.”
“Cepat buka semua jendela dan tirai itu, aku ingin udara pagi masuk ke dalam kamar ini. Rasanya begitu melelahkan dan bosan, tidak adakah yang bisa kulakukan selama berada disini. Aku sangat lelah karena tidak melakukan apa-apa.” Keluh Yang Jia Li, wanita yang masih terduduk di tempat tidurnya itu mulai beranjak.
Sang dayang dengan cepat membuka satu demi satu jendela dan menyingkap tirainya, udara pagi memang masuk tapi tidak lagi sejuk karena hari sudah semakin siang.
“Astaga, pukul berapa sekarang?” tanya Yang Jia Li.
“Sekarang pukul sepuluh, Yang Mulia.”
“Aku sudah terlambat untuk minum teh ternyata.” Yang Jia Li menepuk dahinya sendiri, rutinitas pagi yang selalu ia jalani yakni minum teh tidak pernah satu hari pun absen. Sang permaisuri percaya bahwa teh dapat membuatnya awet muda, dia pernah mendengar seorang cendekiawan mengatakan bahwa teh memiliki kandungan yang bisa membuat awet muda.
“Tapi, Yang Mulia, teh yang biasanya sudah habis. Para dayang yang disuruh membeli teh belum datang dari pasar.” Dayang Yue menunduk takut karena sudah pasti Yang Jia Li akan marah.
“Sialan!!”
__ADS_1
Praaanggg …
Dayang Yue berjingkit kaget saar Yang Jia Li membanting semua piring dan cangkir yang tersaji di meja makannya. Semua perabotan yang terbuat dari porselen itu remuk hancur tak berbentuk, padahal harganya sangat mahal.
“Sebenarnya apa yang bisa kalian lakukan dengan baik para dayang?! Hanya membeli teh saja tidak bisa lalu apa yang bisa kalian lakukan?!”
“Ma-maaf, Yang Mulia.”
“Maaf?” Yang Jia Li mengerutkan keningnya dalam, “Apa maaf bisa membuat teh yang kuinginkan ada disini?! Tidakkan, kalau begitu kau Dayang Yue, pergi dan cari teh yang kuinginkan sampai dapat!!”
Telunjuk sang permaisuri mengarah ke luar, napasnya tersengal dan wajahnya merah padam menahan amarah. Pagi-pagi seperti ini dia sudah harus marah hanya karena alasan yang tidak masuk akal dari para dayang, memang perjalanan menuju ke pasar tempat biasa Yang Jia Li membeli teh dibutuhkan dua hari berjalan kaki, dan itu pun sudah paling cepat.
“Ada apa ini, Jia’er?”
Yang Jia Li menoleh ke arah pintu, “Ayah?”
“Kenapa dayangmu bersimpuh di kakimu begitu?”
Yang Zuo menganggukkan kepalanya, dia masuk ke dalam kamar sang putri dan meletakkan sebungkus tanaman herbal. “Aku membawakan teh untukmu, katanya ini bisa membuat awet muda dan cantik.”
“Benarkah?!” kedua mata Yang Jia Li langsung berbinar.
“Tentu, aku datang sejauh ini untuk memberikan teh herbal ini kepadamu, Jia’er. Harganya sangat mahal karena aku membelinya dari seorang saudagar negeri Lun, dia hanya datang ke negeri ini satu tahun sekali.
“Lalu kenapa ayah hanya membeli sedikit sekali?!” kesal Yang Jia Li, dia mengangkat bungkusan sebesar kepala itu dan mencium aromanya. “Tapi kenapa aromanya aneh begini ayah? Apa ini benar teh yang berkhasiat? Aromanya menyengat sekali, hidungku jadi sakit.”
Yang Zuo menggelengkan kepalanya melihat tingkat sang putri, “Ini cukup untuk beberapa bulan ke depan, kau tidak akan setiap detik menyeduh teh bukan. Percayalah ini berkhasiat, aku harus berebut dengan seorang pemuda hanya untuk membeli teh herbal ini.”
“Baiklah kalau ini bisa membuatku cantik, maka aku akan meminumnya setiap hari.”
__ADS_1
***
Seorang pemuda bersimpuh di ruangan yang pencahayaannya hanya temaram saja, dia memberikan sebungkus teh herbal sebesar kepala. “Kau yakin sudah menukarnya?” tanya sang nyonya yang duduk di kursi dengan sangat anggun, dia menerima teh herbal itu dan mencium aromanya.
“Benar, nyonya, saya sudah menukarnya dan bisa saya pastikan itu karena Yang Zuo sendiri yang mengambilnya dari saya.”
“Apa jaminannya?”
“Nyaman saya, nyonya.”
“Baguslah, kalau sampai tidak terjadi apapun pada Yang Jia Li, maka aku akan mencarimu ke seluruh penjuru dunia ini dan aku harus bertanggungjawab.”
Pemuda itu mengangguk dua kali, “Ya bersedia, nyonya.”
Dua tali keping logam berhasil ditangkap dengan baik oleh pemuda tadi, dia segera menyimpannya dan pergi. Karena tugas yang diemban telah usai dan tidak ada urusan lagi, dengan uang ini dia akan pergi ke negeri lain untuk menyambung hidup sampai sang nyonya memanggilnya lagi.
Semoga saja tidak ada panggilan lagi.
“Yang Mulia, tidakkah anda harus memeriksa teh itu dulu, jangan-jangan pemuda tadi berbohong.” Ujar Dayang Yi.
Selalu setia mendampingi Wu Li Mei kemanapun pergi, Dayang Yi hanya merasa was-was barangkali pemuda tadi membodohi sang selir agung saja. Tapi jawaban Wu Li Mei tetap pada pendiriannya, “Tidak perlu Dayang Yi, aku tahu mana teh yang benar dan teh yang seharusnya di terima oleh Yang Jia Li.”
“Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa, baunya saja sudah berbeda. Wangi teh yang asli tidak menyengat sama sekali, dan kali ini dia mengantarkan teh yang benar.”
Wu Li Mei bisa yakin dengan itu, dia percaya diri karena selama berada di negeri antah berantah ini dia sudah terbiasa membau berbagai tanaman herbal. Termasuk tanaman yang mengandung bahan berbahaya, salah satunya adalah teh ini. Bukan sembarang teh, apalagi berkhasiat, jelas Wu Li Mei tidak sebaik itu untuk memberikan kebaikan kepada Yang Jia Li yang sudah begitu kejam kepadanya.
Sang selir agung menatap teh itu, satu lagi bungkusannya pasti saat ini sudah sampai kepada Yang Jia Li. “Perintahkan seorang dayang mata-mata untuk memastikan bahwa Yang Jia Li selalu meminum teh itu, pastikan tidak terlewat satu hari pun.”
__ADS_1
“Baik, Yang Mulia.”
Wu Li Mei tersenyum miring, “Tunggu saja Yang Jia Li, kau pun akan merasakan apa yang putri kecilku rasakan sebelumnya. Bahkan ini akan jauh lebih sakit!”