
Pagi yang mengejutkan di paviliun permaisuri, karena rombongan Panglima Hao datang pagi ini untuk menangkapnya. Siapa yang tidak ketar-ketir, terlebih Yang Jia Li menjadi tersangka utama dalam keracunan Ibu suri. Sial! Padahal ia tidak berniat meracuni wanita tua itu, tapi justru dirinya yang terkena batunya.
Yang Jia Li memang mencampurkan sedikit ramuan yang bisa membuat orang menjadi sakit perut. Tapi, itu pun bukan dalam jumlah yang banyak. Memang dasar wanita tua bangka itu gampang terserang penyakit jadi dia tidak bisa bertahan dengan itu.
Berry beracun itu, apakah benar itu terjadi? Mengapa pula wanita tua itu asal makan saja, dan mengapa para dayangnya tidak mencegah. Semua ini seperti mempermainkan Yang Jia Li, padahal seharusnya dia yang memegang kendali.
Yang Jia Li mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyebalkan sekali, jadi mana yang benar diantara semua ini.
“Aku tidak melakukannya, aku tidak mungkin tega meracuni ibu suri. Untuk apa aku melakukannya, jika tanaman itu memang ada di halaman paviliunku, tapi aku tidak pernah memberikannya untuk ibu suri. Aku tidak gila dengan memberikan racun kepadanya.” Bela Yang Jia Li pada dirinya sendiri.
“Tapi, bukti kuat sudah ada di depan mata Yang Mulia Permaisuri.” Jawab Panglima Hao, ”Silahkan anda jelaskan itu di aula barat, Yang Mulai Kaisar Zhou sudah menunggu anda disana.”
“Aula barat? Memangnya kalian punya bukti apa?” kesal Yang Jia Li, dia sampai meninggikan nada suaranya agar tidak terintimidasi, Dayang Yue dan yang lainnya sama sekali tidak membantu, mereka hanya diam dan kebingungan.
“Tanaman berry beracun itu tumbuh subur di halaman anda, banyak saksi yang telah mengatakan bahwa ibu suri mengonsumsi itu di paviliun ratu.”
“Itu bukan salahku, salahkan para pekerja di paviliunku yang tidak becus bekerja!”
Tatapan nyalang itu tidak pernah hilang dari mata tajam sang permaisuri, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu. “Aku tidak pernah menyuruhnya makan berry atau apalah itu, salah ibu suri sendiri yang tidak berhati-hati.”
“Maaf, Yang Mulai, sesuai dengan perintah dari kaisar, anda harus ditangkap sekarang juga. Anda bisa menjelaskan itu di aula barat nanti sebagai pembelaan, kami harus menjalankan tugas.”
“Tidak!”
“Tidak, aku tidak mau!” tolak Yang Jia Li.
Yang Jia Li begitu angkuh mengangkat dagunya pada Panglima Hao dan beberapa prajurit lain yang ditugaskan untuk menangkapnya. Wanita itu masih setia duduk di singgasananya dan tidak mau menyerahkan diri karena merasa tidak bersalah.
“Maaf, Yang Mulia. Tapi anda harus ikut karena anda sudah terbukti bersalah. Kami akan menggunakan cara yang kasar agar anda mau ikut ke dalam penjara.” Ujar sang panglima.
__ADS_1
Kedua mata Yang Jia Li membulat sempurna, “Beraninya kau! Kau merendahkanku panglima!”
“Maka dari itu anda harus ikut dengan cara baik-baik.”
“Tidak! Tidak sudi!”
Sang panglima terpaksa harus menggunakan cara kasar rupanya, tidak masalah jika itu memang kemauan dari permaisuri. Lagipula ini adalah perintah langsung dari kaisar untuk menyelidiki dan menangkap Yang Jia Li jika terbukti bersalah, dan wanita nomor satu di istana itu telah terbukti bersalah.
Panglima Hao memberi kode kepada para bawahannya untuk menangkap sang permaisuri, mau tidak mau ia harus ikut ke kejaksaan untuk diadili. Meskipun Yang Jia Li meronta dan berteriak bak orang kesetanan, tapi para prajurit itu tetap pada pendirian mereka. Selagi mereka tidak melukai sang permaisuri maka semuanya akan baik-baik saja. Yang Jia Li dibawa menggunakan tandu dengan pengawalan yang ketat, rombongan itu akan menuju aula barat untuk mendapatkan pengadilan.
“Hei, lepas! Lepaskan aku, sial, ini bukan salahku, lepaskan aku!”
“Lepas! Aku bisa jalan sendiri!”
“Sial, kalian tidak punya telinga ya!”
Sumpah serapah dari Yang Jia Li mengalir dengan lancar menyumpahi para prajurit yang membawanya terlalu kasar, harus seperti ini karena jika tidak maka Yang Jia sudah pasti kabur. “Anda akan segera sampai Yang Mulia, tolong jangan menyusahkan kami lebih dari ini. Anda akan kabur seperti tadi kalau kami tidak menggandeng anda.”
“Maaf, Yang Mulia.”
Para prajurit itu bagai tidak punya kesabaran lagi, mereka menyeret paksa sang permaisuri agar tidak memberontak lagi. Tidak ada kelemah-lembutan dalam perlakuan mereka, karena Yang Jia Li selalu menyumpahi mereka, menggigit, mencakar, bahkan meludahi wajah mereka sebagai bentuk rasa kesal. Biarlah gambar tangan mereka membekas pada kulit putih Yang Jia Li, karena yang terpenting adalah mereka bisa membawanya ke dalam aula barat.
Disana sudah ada anggota kekaisaran yang lain, dan para petinggi kekaisaran. Ada wajah puas Wu Li Mei yang membuatnya ingin segera membunuh selir licik itu. Yang Jia Li pias, wajahnya merah padam menahan malu. Kali ini ia sungguh telah berada di titik paling rendah harga dirinya, terasa seperti diinjak-injak.
Kasim Hao datang, ia membacakan keputusan kaisar untuk mengadili Yang Jia Li.
“Permaisuri Yang Jia Li telah bersalah dalam berry liar yang tumbuh di halaman paviliun anda dan menyebabkan ibu suri keracunan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan hukuman, anda akan diasingkan di Gunung Heng Shui selama satu dua tahun dan gelar ratu akan ditangguhkan.”
“Tidak! Aku tidak bersalah!” tolak Yang Jia Li.
__ADS_1
“Tapi berry itu tumbuh di halaman paviliunmu, kau tahukan bahwa buah beracun tidak boleh ditanam di lingkungan istana. Itu akan membahayakan semua orang.” Ujar Wu Li Mei ikut campur.
“Diam kau Wu Li Mei!” marah Yang Jia Li. “Aku tetap tidak mau diasingkan karena itu bukan salahku, siapa yang tahu jika ada berry itu, salahkah para pekerja di paviliunku. Penggal saja kepala mereka untuk menggantikan salahku, mereka yang telah lalai, bukan aku.”
“Jangan berkelit, Yang Mulia, masalah ini sudah jelas adalah kesalahanmu.”
“Diam kau Wu Li Mei, mulut sampahmu itu tidak berguna!”
Para saksi didatangkan, di dalam aula yang luas itu, Yang Jia Li duduk dalam kursi bersalah dengan kedua tangannya diikatkan ke lengan kursi. Para saksi itu adalah dayang dari ibu suri, tukang kebun paviliun ratu dan beberapa dayang ratu. Sial, rupanya mereka telah bersekongkol untuk membuatnya dihukum.
Dengan adanya saksi dan bukti yang kuat, Yang Jia Li dinyatakan bersalah, “Tidak Yang Mulia, aku tidak bersalah, ini bukan kesalahanku!” mohon Yang Jia Li.
“Aku mohon ampuni aku ibu suri.”
“Aku mohon beri aku belas kasihan.”
Yang Jia Li sudah mengeluarkan jurus andalan berupa air mata yang mengalir deras dari kedua matanya, isakan demi isakan terdengar begitu pilu itu sungguh menyayat hati. Tapi tidak bagi anggota kekaisaran yang sudah hafal dengan perangai Yang Jia Li, dia selalu seperti itu dan selalu meminta belas kasihan atas kesalahan yang ia perbuat.
Disaat seperti ini satu orang yang bisa menolong Yang Jia Li hanyalah pamannya yang berkuasa, siapa lagi jika bukan Yang Hong Hui, pria tua dengan perut membuncit itu berdiri dari tempat duduknya setelah mendapatkan tatapan tajam dari Yang Jia Li. Bagaimana tidak karena Hong Hui sendiri adalah salah satu kartu AS sang permaisuri, sebagai petinggi negara sudah jelas bahwa suaranya akan didengar oleh kaisar. “Maaf telah lancang Yang Mulia Kaisar, tapi izinkan saya untuk membela permaisuri. Karena saya tidak melihat kesalahan itu ada padanya.”
“Yang Mulia Permaisuri Yang, bahkan tidak tahu jika ada berry liar dan beracun di halaman paviliunnya. Jika ditarik garis lagi, ini boleh jadi kelalaian dari tukang kebun istana atau dayang ibu suri. Sehingga permaisuri tidak sepenuhnya bersalah, dia hanya tidak tahu apa yang terjadi Yang Mulia.” Ujar Yang Hong Hui.
“Tapi tetap, dia telah meracuni ibu suri.” Jawab Kaisar Zhou. “Sehingga dia harus diberi hukuman.”
“Ya, Yang Mulia, tapi ingatkan kembali jasa-jasa permaisuri dalam kekaisaran sangatlah banyak. Berikanlah dia keringanan hukuman karena kelalaian yang tidak ia lakukan ini.”
“Kami mohon, Yang Mulia.”
Keputusan kaisar telah dibuat, dengan Wu Li Mei yang harap-harap cemas menantikan kelanjutannya. Dengan penuh doa dan keyakinan bahwa Yang Jia Li akan dihukum, Wu Li Mei memberi kode kepada Kasim Hao untuk menyampaikan perintah Kaisar Zhou.
__ADS_1
“Baik, keputusan akhir yang telah dibuat oleh Yang Mulia Kaisar adalah permaisuri akan diasingkan ke biara gunung Heng Shui selama setengah tahun dan gelar ratu akan ditangguhkan sementara.”