Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Herbal dari istana


__ADS_3

Melihat toko yang baru adalah sebuah hal yang membuat Wu Li Mei senang tapi di satu sisi dua juga merasa sedih. Toko pertamanya telah memberikan banyak kenangan dan harapan, tentang mimpinya dan orang-orang yang membantunya meraih mimpi. Pagi ini Wu Li Mei datang ke pasar untuk melihat langsung tempat yang dijanjikan oleh Panglima Hao dan Tabib Zhong. Katanya ada sebuah tempat yang bisa disewa dan dijadikan toko obat, letaknya di pusat pasar dan lebih strategis karena dekat dengan pos jaga prajurit keamanan.


Bagi Wu Li Mei tidak masalah toko itu ada dimana, yang paling penting adalah toko itu bisa menjual obat untuk masyarakat. Begitu melihat kehadiran sang nyonya, orang-orang langsung berkumpul di tempat itu karena merasa penasaran.


“Bagaimana, nyonya?” tanya Panglima Hao yang mulai merubah panggilannya untuk Wu Li Mei, wanita bercadar itu sendiri yang meminta agar orang-orang tidak curiga.


“Tempat ini bagus dan letaknya juga di pusat pasar, bukannya ini tempat yang bagus, nyonya?” tambah Tabib Zhong.


Wu Li Mei mengangguk, “Aku suka tempat ini, jauh lebih luas dan tertata dari bangunan sebelumnya. Kalau begitu aku akan langsung membeli tempat ini, jadi beritahu aku dimana harus mencari pemiliknya.”


“Saya disini, Nyonya Wu Yang Terhormat!”


Seorang pria tua dengan jenggot yang mulai memutih datang bersama istrinya, dari cara mereka berjalan dan berpakaian, sudah bisa menjelaskan kalau mereka adalah orang terpandangan. “Kami pemilik tempat ini, nyonya.”


“Kalau begitu bagaimana caraku membeli tempat ini?” tanya Wu Li Mei langsung.


“Anda benar ingin membeli tempat ini? Tapi kami memasang harga mahal karena tempat ini juga baru saja dibangun untuk toko kain anak kami, tapi dia memilih untuk tetap tinggal di rumah saja. Alhasil bangunan ini tidak terpakai, anda yakin mau membelinya?”


“Sebutkan saja berapa harganya!” titah Wu Li Mei.


Pemilik tempat itu membisikkan pada Wu Li Mei harga yang harus sang selir bayar untuk bisa memiliknya. Memang pria tua itu memasang harga tinggi, tapi setelah berdiskusi dengan Tabib Zhong dan Panglima Hao, jadi Wu Li Mei tetap sepakat untuk membeli tempat ini tanpa menawar harga sama sekali. Tidak perlu rasanya bagi seorang selir yang kaya raya sepertinya menawar untuk sebuah bangunan yang masih sangat baik.


Suo bersaudara yang kebetulan ikut langsung tersenyum cerah saat mendapati tempat baru ini yang jauh lebih nyaman dari tempat mereka sebelumnya. Ada kamar untuk mereka yang bisa disekat agar punya kamar masing-masing. “Wahh, apa kita akan segera pindah kesini nyonya?” tanya Meng Suo kegirangan.


Sang nyonya mengangguk, “Iya, kita akan memulai kembali semuanya dari awal dari tempat ini, semoga tidak ada lagi yang berniat jahat kepada kita jadi toko obat bisa dibuka kembali. Kalian sudah tidak sabar untuk bekerja ya?”

__ADS_1


“Iya nyonya.”


“Ya, nyonya, bertemu dengan banyak orang membuat kami menjadi hidup dan senang. Bisa membantu mereka menemukan obat yang cocok juga merupakan sebuah kebanggaan, tapi bagaimana dengan tanaman herbal kering untuk bahan obat? Apa akan datang dalam waktu dekat?”


“Kalau itu aku juga tidak tahu.” Wu Li Mei menggelengkan kepalanya, “Nanti juga akan datang dengan sendirinya, kalian hanya perlu bersiap karena aku pun akan membeli peralatan lain seperti rak dan meja.”


“Baik, nyonya.”


***


Kedatangan kaisar sore ini ke pusat kesehatan istana membuat Tabib Zhong dan tabib lainnya kelimpungan sendiri, mereka belum siap untuk menghadapi kaisar secara langsung karena masih dalam tahap perbaikan.


Tapi karena sudah kepalang-tanggung, jadilah para tabib itu menyambut kaisar dengan seadanya. “Salam, yang mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun.”


“Bangkitlah!”


“Tidak, maksudku datang bukan untuk itu.”


“Lalu apa?” tanya Wu Li Mei lagi.


“Apa kita punya rempah dan tanaman herbal yang cukup?” tany Kaisar Zhou.


Tabib Zhong mengangguk, “Iya, Yang Mulia. Kita masih punya cukup banyak obat untuk kebutuhan di dalam istana.”


“Kalau begitu kirimkan beberapa kepada Nyonya Wu.”

__ADS_1


Tabib Zhong dan teman-temannya sontak mendongak dan menatap kaisar dengan kening berkerut, apakah benar apa yang dikatakan oleh sang kaisar untuk membagi obat herbal kepada Wu Li Mei. Sejauh ini kaisar tidak begitu peduli dengan wabah dan segalanya yang ada di pasar, kali ini untuk pertama kali dia merasa terkagum pada sosok Nyonya Wu yang bahkan belum pernah ia temui.


Pandangannya kala itu terfokus pada dua remaja dengan cadar, mereka tampak sibuk mencatat semua orang yang akan menemui Nyonya Wu untuk berobat. “A-ap-apa ini benar, Yang Mulia? Kita akan memberikan tanaman herbal yang kita punya untuk Nyonya Wu?”


“Hmm, benar.”


“Tapi kenapa?”


“Karena tanaman herbal kering ini akan jauh lebih berguna di Toko Obat Nyonya Wu, alih-alih ada di istana, lebih baik terpakai disana dan disalurkan secara gratis juga untuk kepentingan rakyat. Aku mendengar bahwa Nyonya Wu Sudah menemukan tempat yang tepat untuk memulai kembali tokonya dari awal.”


“Lain waktu aku juga ingin mengunjunginya.”


Kaisar menyapukan padangannya pada tempat yang penuh dengan tanaman herbal kering itu, fungsinya adalah untuk memberikan obat kepada anggota kekaisaran tak terkecuali pada dayang dan prajurit yang tinggal di istana. Bangunan besar dengan bau obat yang menyengat di setiap sudutnya, dan hidung sang kaisar mulai terasa perih karena membau banyak hal yang menyengat juga.


Sang panglima dari timur datang dengan raut wajah damai karena telah melaksakan tugasnya dengan baik, dia adalah Yang Zhe Yan, satu-satunya yang tidak berkhianat kepada kaisar padahal dia adalah Klan Yang. “Bagaimana, Yang Zhe Yan?”


Selir agung baik-baik saja, dia sangat menikmati perannya mengasuh Pangeran Zhou Jiang Wu. Anak kecil itu juga jadi lebih gemuk dan tertawa nyaring dari pertama kali kita menemukannya. “


“Syukurlah kalau bayi kecil itu jadi lebih gemuk berisi, terakhir kali melihatnya dia masih sangat kurus dan tidak terawat padahal dia adalah pangeran.”


“Kali ini Zhou Jiang Wu jauh lebih bahagia bersama dengan selir agung, Yang Mulia.”


Sang kaisar mengangguk mengerti tapi dia juga tidak akan memaksan diri untuk Wu Li Mei, ada hal yang harus segera mendapatkan keadilan. Ho Xin Xin seharusnya tidak bersalah, tapi sekarang dia dituduh dan dipaksa untuk mengakui apa yang tidak dia lakukan. Tapi apa daya karena Ho Xin Xin tidak punya dukungan yang kuat untuk mengakui namanya. Sekalipun dia telah melahirkan seorang pangeran.


“Ho Xin Xin, apakah dia benar bersalah?” tanya kaisar.

__ADS_1


“Belum terbukti, Yang Mulia, kami masih menunggu penyelidikan.”


__ADS_2