
Merelakan kesenangannya dalam berburu untuk mengantar gadis cantik bernama Xu Ling Xi ini pulang, Zhou Ming Hao membawa serta kudanya dan ia berjalan mengiringi gadis itu untuk kembali ke kediaman keluarga Xu. Sang putra mahkota yang sedang menyembunyikan identitasnya, mendengar banyak hal tentang salah satu keluarga terhormat dan berpengaruh bermarga Xu, banyak tokoh petinggi kekaisaran berasal dari keluarga itu. Dan mereka mengambil alih pemerintahaan dengan baik.
Salah satunya adalah Xu Cheng Mo, dia adalah orang paling berpengaruh karena menjadi pemimpin dari negeri pusat tempat kekaisaran Negeri Ming berdiri. Sebagai gubernur, jelas keluarga Xu menjadi incaran dan banyak juga yang ingin mempersunting mereka.
“Hei, nona?”
Xu Ling Xi menoleh dengan takut-takut, sejak tadi setia menunduk membuatnya sedikit segan untuk menatap mata tajam sang pemuda penolong. “Ya?”
“Bukankah kau bilang kau nona muda Keluarga Xu?”
“Ya, itu benar.”
“Lalu bagaimana kau bisa tersesat di hutan? Bukannya seharusnya kau punya seorang pelayan yang selalu mendampingimu?”
Xu Ling Xi mengangguk dua kali, “Benar tuan, saya tadinya sedang pergi berkeliling bersama kakak dan tanpa seorang pengawal. Hingga saya terpisah dengan dia dan berakhir di kejar para bandit karena mereka berpikir saya tersesat.”
“Lalu bagaimana dengan kakakmu?”
Wajah jelita sang nona berubah muram, dia khawatir sekaligus takut karena dia juga tidak tahu bagaimana nasib sang kakak. Xu Ling Xi menggeleng, “Saya juga tidak tahu, semoga saja dewa selalu melindunginya juga.”
Zhou Ming Hao mengangguk paham, mereka terus berjalan tapi belum juga sampai di kediaman Keluarga Xu yang letaknya di pusat kota. Senja sudah menguning dan seharusnya dia cepat pulang atau sang ibu akan khawatir dan seluruh istana kelimpungan mencarinya. Nona muda ini harus cepat sampai di rumahnya sebelum petang, boleh jadi menambah masalah kalau keluarganya tidak percaya dengan mereka.
Sampai di kediaman Xu, bangunan yang luas dan megah itu memiliki cukup banyak penjaga. Dari gapura depannya, ada sepasang suami istri dan seorang anak perempuan yang sedang gusar. Mereka adalah keluarga dari gadis jelita itu dan langsung menghampiri saat Xu Ling Xi datang.
__ADS_1
“Astaga, apa yang terjadi Ling Xi?! Kenapa kau baru sampai di rumah, dan kenapa pakaianmu begitu kotor nak?”
“Kenapa kau ceroboh sekali hingga pergi tanpa pendamping, dan sekarang lihatlah bahwa kau sendiri juga terluka.”
“Kami khawatir kepadamu, Ling Xi, coba bayangkan kalau sampai kamu tidak kembali juga sebelum petang!”
Xu Ling Xi hanya bisa menunduk takut, dia mengeratkan kedua tangannya sembari berdoa agar orang tuanya tidak marah.
“Bu, sudah ku bilang ini bukan salah Ling Xi, kami terpisah dan tersesat di hutan. Kebetulan aku bisa kembali ke rumah, tapi Ling Xi dikejar oleh bandit hingga lari ke dalam hutan. Ibu tanya saja kepada para bandit itu!”
Seorang gadis yang lebih tua beberapa tahun dari Xu Ling Xi menengahi, sang ibu akan memarahi mereka habis-habisan terutama Ling Xi yang baru kembali. Tapi ini pun juga bukan salah si adik sepenuhnya, Ling Mei masih punya hati untuk tidak melimpahkan kesalahan hanya kepada adiknya.
“Diam, Ling Mei! Ibu sedang berbicara pada Ling Xi.”
Sang ibu mengetatkan rahangnya, dia menatap kedua putrinya dengan napas naik turun menahan marah. Tapi sang ayah, Tuan Xu Cheng Mo yang terhormat segera menengahi. “Kenapa kalian ribut-ribut begitu, hargailah pemuda baik yang sudah menolong Ling Xi ini.”
Akhirnya kehadiran Zhou Ming Hao mendapat perhatian dari para wanita itu, mereka menoleh dan menatapnya dari atas sampai ke bawah dan kembali ke atas. “Siapa dia? Apa kau yakin benar dia yang menolong Ling Xi? Barangkali dia justru bersekongkol dengan para bandit itu untuk melukai putri kita.”
Nyonya Xu begitu galak dan tegas kepada kedua putrinya dan semua yang menyangkut mereka, wanita paruh baya dengan tubuh gemuk itu menatap garang pada Zhou Ming Hao. Tapi, sang putra mahkota sama sekali tidak gentar, tanpa banyak bicara, aura berwibawa yang dia tunjukkan saat berjalan menghampiri keluarga itu membuat Nyonya Xu terdiam.
“Saya tidak seperti yang nyonya pikirkan, saya tidak berlaku licik dengan bersekongkol dengan mereka. Silahkan tanya sendiri kepada mereka, atau kepada Nona Ling Xi.” Jawab Zhou Ming Hao.
“Saya hanya datang untuk mengantar Nona Ling Xi sampai di rumah dengan selamat, tolong perlakukan dia dengan baik karena tidak ada yang ingin hal buruk seperti ini terjadi. Dia pasti sedikit terguncang.”
__ADS_1
“Apa tidak ingin meminum secangkir teh hangat dulu tuan muda?” tanya Xu Cheng Mo.
Putra Mahkota menggeleng, “Terima kasih tuan, mungkin lain waktu saja karena hari sudah senja. Saya harus segera kembali!”
“Terima kasih banyak untuk pertolongannya, dan maaf karena mengganggu waktu berburu anda.”
Xu Cheng Mo melihat ada kuda dan busur panah yang dibawa oleh pemuda berwajah tampan yang sangat familiar itu, seperti tidak asing tapi terlalu sulit untuk menerka apakah benar tebakan yang ada di kepalanya. Wajah itu dan yang paling diingat adalah tatapan tajam itu sepertinya warisan dari seseorang yang berpengaruh.
“Tapi, bolehkan kami tahu siapa nama anda, tuan muda?” tanya Xu Cheng Mo.
Tak hanya sang gubernur, tapi istri dan kedua putrinya juga ikut penasaran dengan siapa nama pemuda tampan itu. Berasal dari marga keluarga mana karena terlihat jelas bahwa dia bukan sembarang orang. Aura bangsawan langsung terpancar dari caranya melihat, berjalan, dan berbicara.
Ling Xi mencuri pandang kepada pemuda itu, seseorang yang mengatakan bahwa Ling Xi adalah miliknya. Ada-ada saja, itu pasti hanya bualan semata sebagai penenang karena tadi dia sangat kalut.
Nama dan marga, sudah jelas mereka akan mencarinya di kemudian hari untuk berterima kasih. Tapi sang putra mahkota sangat enggan, dia menggeleng, “Tidak perlu tuan, saya hanya orang biasa, pemburu yang kebetulan bertemu dengan Nona Ling XI di hutan.”
“Lalu bagaimana kami akan berterima kasih?” tanya Nyonya Xu.
“Pasti ada banyak cara untuk berterima kasih, nyonya, tapi sungguh saya tulus menolong putri anda tanpa mengharap imbalan. Lain waktu saat garis takdir dewa mempertemukan kembali, saya harap kita bertemu dengan baik.”
“Saya pamit!”
Zhou Ming Hao menunduk hormat kepada Xu Cheng Mo dan istrinya, Xu Ling Mei, dan terakhir ia tersenyum sangat tipis pada gadis muda nan jelita bernama Xu Ling Xi. Menaiki kuda dan bersiap untuk kembali berlari pulang, semoga langkah kudanya bisa mendahului senja sehingga Wu Li Mei tidak akan khawatir dengannya. Bisa gawat kalau sampai seluruh istana mencarinya yang belum kembali dari berburu.
__ADS_1