Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Aula penyiksaan


__ADS_3

Yang Li, dayang paviliun putri itu terbangun saat seorang prajurit menyiramkan air ke tubuhnya. Wanita muda itu tidak memiliki sisa tenaga lagi untuk melawan, ia diikat di sebuah kursi setelah semalaman penuh menjalani hukuman cambuk. Hanfunya sudah koyak dan penampilannya acak-acakan.


Yang Li memaksa kedua matanya untuk terbuka, dan rupanya hari sudah siang. Ia mengerjap pelan mengamati satu persatu orang yang berkumpul di aula penyiksaan untuk melihatnya. Dayang itu semakin bergetar saat sadar dirinya berada di tengah pelataran aula.


Satu prajurit di sisi kanannya membawa cambuk, kali ini jauh lebih besar dari cambukan kemarin malam. Luka bekasnya saja masih menganga sangat perih, apalagi cambuk kali ini yang jauh lebih besar. Dua prajurit di sisi kirinya masing-masing membawa sebilah kayu. Satu prajurit yang baru datang membawa sebilah pedang, pedang itu mengkilap dan tajam. Prajurit itu menghunuskan pedangnya tepat di leher Yang Li.


Sang dayang menatap nanar sepasang mata lentik yang ia kenali, Yang Li tersenyum miris saat orang itu bahkan tak melihat ke arahnya. Dia yang telah membuatnya seperti ini, harusnya dialah yang berada disini menggantikan Yang Li.


"Apa ayah sungguh-sungguh telah melakukannya?" bisik Yang Jia Li pada Dayang Yue.


Dayang Yue mengangguk, "Sudah, Yang Mulia." balasnya.


"Dia tidak akan macam-macam, kan?"


Sang dayang melirik ke arah Yang Li sekilas, "Dia tidak akan macam-macam jika tidak ingin keluarganya mati."


Senyum miring terbit di wajah cantik sang permaisuri, ia menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat tinggi. "Dia memang pantas membayar atas apa yang dia lalukan."


"Ya, Yang Mulia." balas Dayang Yue, wanita itu kembali menunduk karena tidak sanggup melihat Yang Li, dari kejauhan dayang muda itu menatap penuh harap pada Yang Jia Li.


Yang Jia Li ikut hadir untuk menyaksikan penyiksaan dayang paviliun putri itu. Sang permaisuri melirik pada kaisar dan ibu suri yang juga hadir, mereka duduk di singgasana dan menghadap langsung ke pelataran aula.


"Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun." sapa Zhou Ming Hao, ia dan adiknya, Zhou Fang Yin ikut hadir. Mereka bergegas datang setelah mendengar kabar bahwa eksekusi akan dilakukan hari ini, jika dayang itu terbukti bersalah.


Semalaman melakukan penyiksaan, Panglima Hao kabarnya tidak mendapatkan hasil, dayang paviliun putri itu bungkam padahal sudah dicambuk puluhan kali.


Kaisar Zhou mengerutkan keningnya, "Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya.


Kedua anak itu saling tatap. "Kami ingin melihat siapa yang telah berani mencelakai Xie Ling, Yang Mulia."


"Tapi, aula penyiksaan bukan tontonan. Kalian tidak seharusnya berada disini." timpal ibu suri.


"Ibu suri benar, anak-anak tidak boleh melihat eksekusi." tambah sang kaisar.


"Kami mohon izinkan kami melihat barang sebentar, Yang Mulia." pinta Zhou Fang Yin. "Apa yang dilakukan dayang itu benar-benar tidak termaafkan."

__ADS_1


"Kami sangat mengasihi adik, kami tidak rela jika ada orang yang mencelakainya apapun alasannya."


"Dan kami hanya ingin mendengar alasan dayang itu mencelakai Xiao Ling." Zhou Ming Hao mencoba meyakinkan sang kaisar. "Dia hanya dayang biasa, tidak mungkin ini murni dari kesalahannya."


Yang Jia Li menatap tajam Zhou Ming Hao, "Apa maksudmu, Putra mahkota?!"


Zhou Ming Hao beralih menatap permaisuri, "Maaf, Ibu permaisuri. Tapi dugaanku mengatakan jika dayang itu tidak bersalah, dia pasti diperintah oleh seseorang."


"Siapa orang itu?" tanya ibu suri.


Sang putra mahkota menggeleng, "Saya tidak bisa mengatakan siapa, yang pasti orang itu tentu mempunyai kekuasaan yang besar."


"Mendapatkan merkuri itu sulit, pasti ada satu hal terselubung, Yang Mulia Kaisar."


"Mungkin dalang dibalik semua ini, ingin mencelakai Zhou Xie Ling untuk maksud tertentu."


"Kau tidak boleh berburuk sangka pada orang lain, putra mahkota. Dugaanmu pasti salah." balas Yang Jia Li, sang permaisuri mulai terpancing.


"Maaf, ibu permaisuri." Zhou Fang Yin menunduk hormat pada sang permaisuri, "Tapi dayang biasa seperti dia, pasti tidak tahu menahu soal merkuri, apalagi cara mendapatkannya."


"Dayang itu tidak bisa baca tulis, Yang Mulia. Bagaimana ia bisa tahu."


"Apa kau perlu membaca cara berjalan untuk bisa berjalan, tidak kan?!"


"Sudahlah permaisuri." lerai Kaisar Zhou, "Baiklah jika kalian memaksa, kalian bisa melihat sebentar saja." putus kaisar.


"Dan, permaisuri, tidak perlu berlebihan jika tidak ingin dicurigai."


...****************...


Isak tangis terdengar semakin pilu dari gadis kecil itu, gadis kecil yang meringkuk dalam dekapan hangat sang ibu. Nyeri di kepalanya kembali kambuh, padahal ia tak lepas dari obat penawar racun, dan satu lagi obat racikan terbaru dari Tabib Zhong.


"Sabar ya sayang." ucap Wu Li Mei, wanita itu memeluk erat sang putri sambil menepuk pelan punggungnya.


"Sakit bu ...... hiks..... sakit sekali."

__ADS_1


"Kepala ku sakit bu."


Racun merkuri itu berdampak parah pada Zhou Xie Ling, mengingat anak itu memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Kesehatan sang putri yang sangat rentan dan daya tahan tubuhnya yang lemah, menjadi penyebab utama racun itu cepat menyebar luas.


Kali ini pun, tidak banyak yang bisa dilakukan selain rutin memberikan obat. Semua ada pada respon sang putri terhadap obat, dan kemampuan tubuhnya melawan racun.


Tapi, dibalik semua itu, selama hampir satu minggu berlalu. Zhou Xie Ling sudah jauh lebih baik, anak itu bisa makan walau hanya sedikit. Sisanya, Wu Li Mei banyak memberikan susu dan buah-buahan.


Dayang Yi mendekat saat Zhou Xie Ling kembali tenang, sang putri pun tampak terlelap sambil memeluk erat Wu Li Mei. Dayang itu membantu memindahkan Xie Ling di ranjang agar tidurnya tidak terganggu.


"Yang Mulia, dayang bernama Yang Li itu sedang dieksekusi di aula barat." ujar sang dayang.


"Benarkah?"


Dayang Yi mengangguk, "Ya, Yang Mulia."


"Lalu, bagaimana hasilnya?"


"Maaf, saya belum mendengar kabar terbaru lagi, sepertinya eksekusi baru saja dimulai."


Wu Li Mei mengangguk-angguk, ia membelai surai halus sang putri. "Sebaiknya dayang itu merasakan apa yang putri kecilku rasakan."


"Apa anda ingin melihat eksekusi?"


"Ku rasa tidak perlu, lagipula disana sudah ada kaisar dan ibu suri, bukan."


"Baiklah, Yang Mulia."


Wu Li Mei ikut mengurung dirinya di paviliun putri, agar ia bisa menjaga Zhou Xie Ling dua puluh empat jam. Para dayang baru yang ditugaskan permaisuri, tidak bisa mengurus putrinya sebaik Dayang Hong. Mau tidak mau, Wu Li Mei harus turun tangan.


Tabib Zhong pun datang setiap hari, belum lagi kedua anak kembarnya yang rajin berkunjung untuk menemaninya. Omong-omong soal anak kembar itu, selama sang ibu sibuk mengurus Xie Ling, toko obat menjadi tanggungjawab mereka secara bergantian. Wu Li Mei harus memberikan hadiah yang pantas untuk kerja keras mereka nanti.


"Dayang Yi?"


"Ya, Yang Mulia."

__ADS_1


"Aku ingin melihat eksekusi." putus Wu Li Mei.


__ADS_2