Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kabar buruk


__ADS_3

“Siang ini cuaca begitu terik ya, padahal beberapa waktu yang lalu hujan.” Ujar kaisar, Wu Li Mei yang berdiri di sampingnya hanya bisa mengangguk. Cuaca memang terik tapi percayalah bahwa cuaca di ratusan tahun setelah jaman ini akan jauh lebih terik.


“Ya, sepertinya pergantian musim benar-benar terjadi dengan ekstrem.”


“Ekstrem? Apa itu?”


Wu Li Mei menggeleng setelah terdiam beberapa saat untuk memikirkan padanan kata yang tepat, “Itu seperti perubahan yang sangat kuat, sangat keras sampai menimbulkan penyakit.” Jelasnya.


“Oh, begitu ya.”


Sang kaisar mengangguk, dia setuju dengan pergantian cuaca yang terjadi dengan sangat kuat, karena memang sedang banyak penyakit menyerang rakyat Dinasti Ming. Bahkan saking teriknya cuaca hari ini teh dingin yang disajikan oleh para dayang sudah berganti tiga teko sejak pagi.


Duduk di pondok teratai menikmati angin semilir yang berhembus lembut memang sangat menyenangkan, terasa damai dan begitu nyaman. Bahkan kaisar baru tahu kalau dari pondok ini mereka bisa melihat banyak sekali orang sedang beraktivitas di pasar, terlalu jauh memang, tapi mereka terlihat sibuk hilir mudik. Ada satu baru yang bersandar di dermaga dari negeri tetangga. “Aku berencana mengundang opera sabun untuk menyenangkan ibu suri yang sedang kurang bersemangat, bagaimana menurutmu, Mei’er?”


“Ya, itu ide yang baik, Yang Mulia. Ibu memang belum bersemangat dan belum mau keluar dari paviliunnya, tapi sejauh ini kesehatannya sudah membaik.”


“Aku senang mendengarnya, kalau begitu aku akan mengundang opera terbaik di negeri ini untuk ibu suri, dia suka dengan opera.” Ujar kaisar.


Wu Li Mei mengangguk, “Semoga dia kembali bersemangat setelah ini.”


Untuk beberapa saat setelahnya, kedua orang itu sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, menikmati semilir angin yang sejuknya sampai menembus jiwa raga. Wu Li Mei kembali menuangkan teh ke dalam cangkirnya, perlahan etika dalam jamuan makan sang selir agung yang hilang ingatan sudah jauh lebih baik.


“Yang Mulia?” panggil Wu Li Mei.


Kaisar Zhou menoleh dengan kening berkerut, tapi Wu Li Mei justru menatap lurus hamparan lembah yang bermuara ke laut, disana kapal hilir mudik sibuk sekali untuk menyeberang selat lautan. “Ya?”


“Seandainya tidak jadi kaisar, kau ingin jadi apa?”


Sang kaisar tersenyum mendengar pertanyaan bodoh dari wanita cantik itu, selir agung bertanya kepadanya akan jadi apa jika tidak jadi kaisar. Sebenarnya ini pernah terbesit dalam kenangan masa kecilnya saat ia masih menjadi pangeran, ingin menjadi manusia biasanya yang tidak berdarah biru.

__ADS_1


“Mungkin aku akan berlayar di lautan saja, menjadi kapten kapal dan membawa barang dagangan. Berpijak di satu demi satu negeri yang berbeda tiap harinya, pasti sangat menyenangkan.”


“Apa kau suka laut, Yang Mulia?”


Kaisar Zhou mengangguk tegas, “Aku sangat suka.”


“Kalau begitu ajaklah aku ke pantai lain waktu, aku juga ingin menikmati pasit putih yang lembut itu.” Wu Li Mei juga suka pantai, sekalipun ia sering menghabiskan waktu dengan memetik tanaman herbal atau bunga peony di hutan, mencari jamur atau kacang-kacangan. Selama berada di negeri ini, wanita itu baru sadar kalau kaki polosnya belum pergi diajak berlari di pasir pantai yang putih bersih itu.


“Tentu Mei’er, suatu hari aku akan mengajakmu kesana, tapi kita tidak pergi dengan rombongan dayang.” Bisik sang kaisar kepada selir agung.


“Lalu?”


“Kita akan menyamar menjadi manusia biasa saja.”


Wu Li Mei tersenyum dan mengangguk paham dengan maksud itu, pasti akan sangat merepotkan saat harus pergi dengan membawa arak-arakn. Selain akan mengundang perhatian, hal itu juga bisa berpotensi mendatangkan bahaya.


“Kalau kau?”


“Kau ingin jadi apa jika tidak jadi selir agung?”


“Dokter.” Jawab wanita itu cepat.


“Dokter itu apa?”


“Seperti tabib, seseorang yang membantu menyembuhkan orang yang sakit lewat obat-obatan.” Jawab Wu Li Mei menerawang jauh pada ingatannya semasa menjadi dirinya sendiri. Marissa Darwanti yang sederhana dan berdedikasi tinggi untuk pekerjaannya di rumah sakit. Hingga kini wanita itu masih belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang hanya mimpi, karena jika yang kali ini adalah mimpi maka ia rela untuk tidak bangun.


“Apakah itu seperti Nyonya Wu?”


Kedua mata Wu Li Mei membola, masih belum terbiasa baginya untuk menutupi ekspresi dirinya tiap kali Kaisar Zhou menyebut tentang toko obat. Sebenarnya sejauh mana dia tahu tentang toko obat dan apakah dia tahu jika Wu Li Mei ada disana.

__ADS_1


Mengangguk kaku dan setelahnya Wu Li Mei terpaksa bersuara dengan lirih. “Kira-kira seperti itu, aku juga tidak tahu apa aku bisa menjadi tabib yang baik. Tapi aku ingin memberikan obat agar rakyat sembuh.”


“Syukurlah ada Nyonya Wu, jika dia tidak ada dan menjual obat, pasti masyarakat bingung dengan cara untuk mendapatkan pengobatan. Aku juga sedang berusaha untuk membagi hasil bumi untuk mereka.”


Panglima Hao datang mendekat pada mereka, sang panglima menunduk hormat. “Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun.”


“Bangkitlah!”


“Saya memberitahukan bahwa toko obat Nyonya Wu terbakar.”


Apakah yang baru saja dikatakan oleh Panglima Hao adalah benar, tapi bagaimana bisa. Wu Li Mei menatap ke pemandangan pemukiman di bawahnya dengan nanar. Seketika jantungnya langsung berdebar luar biasa, asap yang mengepul di udara itu pasti menjadi bukti bahwa ada yang terbakar di lembah dan pemukiman warga. “Apa yang terjadi?! Kenapa toko obat bisa terbakar?”


“Siang tadi ada sekelompok pemuda berpakaian serda hitam, mereka merusak toko dan membakarnya dengan penuh kegilaan. Sekarang para prajurit masih berusaha untuk mengejar mereka, sayangnya mereka berpencar dengan lihai.”


“Lalu Suo bersaudara bagaimana?” tanya Wu Li Mei mulai khawatir.


“Mereka tidak terluka, hanya saja banyak obat herbal yang rusak dan terbakar, Yang Mulia Selir Agung Wu. Kalau begitu kami akan melanjutkan percarian karena ini sangat penting.”


“Ya, panglima!”


Panglima Hao pergi setelah memberi hormat.


Rasanya Wu Li Mei ingin segera pergi untuk melihat kekacauan di tokonya kali ini, tapi bagaimana mau pergi tanpa ketahuan kaisar, sejak pagi mereka selalu bersama. Sudah beberapa malam ini, Wu Li Mei bermalam di paviliun kaisar.


Raut kegelisahan itu ditangkat oleh Kaisar Zhou dengan teliti, dia jadi bingung sendiri kenapa sang istri begitu mengidolakan selir agung. “Ada apa, Mei’er? Kenapa kau begitu gelisah, sudah tidak apa-apa dan prajurit istana akan membantu untuk memadamkan api.”


Kaisar Zhou menepuk bahu sang istri yang tampak meluruh sendu, wajahnya pias dan pucat. “Bagaimana ini, aku tidak bisa diam saja jika begini.”


“Lalu apa? Kau ingin pergi ke pasar untuk menyamar?”

__ADS_1


“Ya.”


__ADS_2