Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Koin emas dan ibu jari


__ADS_3

Semua buku yang ada di dalam paviliun milik Wu Li Mei dibawa menuju Negeri Ming, koleksi buku itu tidak sempat ia pilih satu demi satu jadi sebaiknya dibaca seluruhnya saja. Buku-buku itu disusun rapi di dalam peti besar dan dimasukkan ke dalam kapal satu persatu. Pagi yang cerah ini adalah hari keberangkatan Wu Li Mei dan Kaisar Zhou untuk kembali ke Negeri Ming setelah satu minggu lamanya. Satu-satunya hal yang membuat sang selir merasa berat adalah harus kembali berpisah dengan kedua orang tuanya, sekalipun ia tak punya ingatan tentang mereka, tapi sudut hati raga ini punya. Hatinya terasa begitu sendu dan sesak kala perpisahan itu akhirnya tiba.


Liu Yang Li, sang ibunda tak mampu menahan air matanya untuk tidak menetes. Baru saja bertemu dengan sang putri tersayang setelah sekian lama, kini mereka harus kembali berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Liu Yang Li mendekat untuk memeluk sang putri, ia mencium kening Wu Li Mei dengan sayang. “Hati-hati, Mei-mei, apapun yang terjadi jangan pernah menyerah kepada keadaan. Kau pasti bisa menjalani setiap hari berat dengan senyuman, jangan pernah putus pengharapan anakku. Ibu akan selalu mendukungmu, ibu akan selalu menyayangimu sepanjang waktu.”


“Ibu, aku menyayangimu.” Balas Wu Li Mei dengan senyuman cerah, dia tidak ingin ikut menangis pada perpisahan ini. “Ibu, semoga kau panjang umur dan selalu sehat, aku mungkin tak bisa sering berkunjung tapi aku akan mengirimkan herbal untukmu dan ayah.”


“Kau baik sekali, Mei-mei, ibu sangat menghargainya.”


Liu Yang Li membelai wajah cantik sang putri, “Jaga dirimu baik-baik.”


Wu Li Mei mengangguk, ia beralih kepada sang ayah yang menatapnya dengan teduh. “Ayah, apa kau benar akan meninggalkan istana?”


Setelah sang ayah tak lagi menjabat sebagai kaisar, Wu Zhang Hao, ayah dari sang selir agung akan meninggalkan istana. Wu Li Mei tahu sang ayah menginginkan sebuah kedamaian pada hari tuanya, dan sang ibu juga akan mengikuti. Mereka akan tinggal di sebuah paviliun di puncak gunung yang damai, menghabiskan masa tua dengan bahagia sembari berkebun. Sudah cukup dengan kekuasaan dan kisah kelamnya, kini waktunya untuk lebih mendekatkan diri kepada dewa.


Wu Zhang Hao mengangguk, “Ya, kau bisa mengunjungi kami lain waktu. Paviliun Heng Shui cukup dekat dari negerimu, Mei-mei.”


“Benarkah? Kalau begitu aku akan menyempatkan diri untuk berkunjung lain waktu.” Jawab Wu Li Mei, “Aku harus pergi ayah, semoga kau selalu panjang umur dan sehat, semoga dewa selalu memberkati kalian.”


Wu Li Mei dan kaisar segera masuk ke dalam kapal setelah perpisahan mengharukan itu, mereka harus segera pergi agar bisa tiba di Negeri Ming tepat waktu. Takutnya akan ada badai yang menanti mereka saat malam tiba, dan semoga saja tidak ada kendala dalam perjalanan pulang kali ini. Negeri Hang menyambut kepulangan para tamu terhormatnya dengan penuh suka cita, karena entah kapan lagi mereka bisa bersua, mungkin waktu yang akan menjawabnya.


Wu Li Mei memejamkan matanya, meresapi angin lautan yang berhembus damai menerpa wajahnya. Hatinya merasa tenang menatap hamparan laut dan langit yang bertemu di garis cakrawala, biru yang berbeda itu menjadi pembatas bahwa dunia ini sangat luas. Langit cerah seolah menjadi tanda bahwa hati sang selir pun turut merekah. Ia tidak sabar untuk bertemu orang-orang terkasihnya, dia tidak sabar untuk membuat penawar racun dengan Tabib Zhong, dan sang selir agung tidak sabar untuk memulai pertempurannya dengan Yang Jia Li.


“Tunggulah aku, Yang Jia Li!” ujar Wu Li Mei dengan seringai jahat.

__ADS_1


...****************...


“Arrrrggghhhh! Apa ini, sial, jauhkan dariku!”


“Dayang! Jauhkan itu dariku cepat!”


“Dayang Yue! Sial, kemana dia. Dayang!?”


“Ada apa, Yang Mulia?” Dayang Yue berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Yang Jia Li yang berteriak keras. “Yang Mulia?”


“Itu!” tunjuk Yang Jia Li, wanita istana itu menunjuk sebuah kantung miliknya yang berisi keping koin emas. Tapi setelah ia melihat lagi isinya, isi perut Yang Jia Li sungguh ingin memaksa keluar. Sang permaisuri menutup hidung dan mulutnya dengan lengan hanfu, “Buang itu, Dayang! Cepat buang!”


“Ba-baik, Yang Mulia.”


“Astaga! Apa ini?!” Dayang Yue memekik saat menyentuh benda itu, sepasang ibu jari yang sengaja dipotong, penuh darah dan belatung. Sang dayang menutup mulutnya karena ingin muntah, bau busuk yang menyengat itu semakin membuat mereka pusing. “Apa ini, Yang Mulia?”


“Aku tidak tahu, aku hanya mendapatkannya dan… isinya sungguh mengerikan.” Jawab Yang Jia Li, sang permasuri naik ke ranjangnya seraya bergidik ngeri. “Aku tidak yakin, tapi kantung itu milikku dan kuberikan entah kepada siapa.”


Yang Jia Li masih mencoba mengingat kembali bagaimana ia menemukan benda itu, tapi yang teringat jelas hanyalah saat terbangun dari tidurnya tadi. Dia sudah menemukan kantung itu tergeletak di nakas dekat tempat tidurnya. Siapa yang berani melakukan hal ini kepadanya, lihat saja, Yang Jia Li akan membalasnya sama kejam.


“Ya-yang Mulia, a-ada surat kecil didalamnya.”


“Surat?” Yang Jia Li mengerutkan keningnya, dia dengan cepat melihat kembali dua ibu jari bersimbah darah itu. Benar saja, ada sebuah gulungan kertas yang terikat di antara ibu jari busuk itu. “Cepat ambil surat itu!”

__ADS_1


“Tapi… Yang Mulia…”


“Ambil atau kau kubunuh!”


“Ba-baik!”


Sang dayang segera mengambil gulungan kertas kecil itu setelah bersusah-payah, setelah diambil, gulungan itu diserahkan kepada Yang Jia Li. Tapi sang permaisuri justru melotot dan menjauh, “Kau gila! Aku tidak sudi membaca kertas itu, Dayang Yue, cepat baca!”


“Baik, Yang Mulia.”


Dayang Yue menghela napas dalam sebelum meraih gulungan kertas yang penuh darah itu, bau busuk saat ia membukanya sungguh membuat isi perutnya ingin keluar saat itu juga. Dayang Yue membuka kertas itu, “Uekk!”


“Aku menyuruhmu membaca bukan muntah, dasar dayang tidak berguna! Cepat baca!” sentak Yang Jia Li.


“Iya, Yang Mulia.”


Gulungan kertas itu tertulis beberapa kata saja, sudah buram dan mengabur karena terkena darah dan cairan berbau busuk dari ibu jari terpotong itu. Dayang Yue tidak yakin dengan apa yang ia baca, tapi tetap berusaha dengan baik untuk mengeja satu demi satu huruf. “Cepatlah! Kau bisa membaca kan?!” tanya Yang Jia Li.


Sang dayang menganggukkan kepalanya dengan takut, “Bisa, Yang Mulia.”


“Lalu apa isinya?” desak Yang Jia Li penuh emosi, dia baru saja terbangun dari tidur nyenyak dan mendapati kantung koin emas berisi benda membusuk itu.


“Disini tertulis, emm… Tu... Tunggulah aku, Yang Jia Li.”

__ADS_1


__ADS_2