Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Dialah pelakunya!


__ADS_3

Splesss.......


Suara cambukan menggema di pelataran aula penyiksaan, dan itu sudah terjadi belasan kali. Tidak ada raut iba di wajah orang-orang yang menyaksikan penyiksaan seorang wanita muda itu, mereka justru menatap Yang Li penuh amarah.


Dayang muda bernama Yang Li itu hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kedua tangannya diikat di atas kepala, pada sebatang kayu dengan penyangga, dan kakinya diikat satu sama lain. Nyeri di punggung dan betisnya akibat cambukan kian lama menjadi mati rasa, ditambah dengan suhu dingin yang menusuk kulit. Musim dingin adalah musim yang paling dinantikan oleh Yang Li, dayang muda itu bahkan sudah menyiapkan baju hangat untuk ia kenakan. Setiap musim dingin, tepatnya setelah salju pertama turun, Dinasti Ming akan menyelenggarakan sebuah pesta rakyat tahunan. Akan ada banyak pelancong dan pedagang dari berbagai negeri hadir di perayaan itu. Tapi, sepertinya tahun ini akan berbeda. Yang Li mungkin tak bisa mengikuti perayaan, ia harus mendekam di penjara, berakhir di pengasingan, atau mati karena kesalahan yang harus ia tanggung.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!" tanya prajurit yang bertugas menyiksa Yang Li.


Hening.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!"


Bungkam, Yang Li tetap bungkam.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?!"


Splesss.......


Darah segar kembali mengalir, memperparah luka yang masih basah. Yang Li hanya bisa diam, kedua kakinya seperti tak kuasa lagi menahan berat tubuhnya. Air matanya sudah mengering karena terlalu banyak menangis. Di sisa kesadarannya, Yang Li memohon pada dewa di langit, untuk mencabut nyawanya saja. Itu lebih baik daripada hidup dengan rasa sakit tak berkesudahan.


Di sisi lain, Yang Jia Li duduk dengan anggun di samping Kaisar Zhou. Dilihat dari luar sang permaisuri mungkin tampak tenang, tapi dalam hatinya ia begitu risau. Ia meremas jemarinya di balik lengan hanfu yang panjang, semoga saja dayang itu tidak berkata macam-macam.


Angin musim dingin berhembus semakin dingin, negeri itu seperti berpayung mendung dan kabut. Sebentar lagi pasti salju pertama akan turun. "Oh Dewa, berkahilah aku dengan keberuntungan." doa Yang Jia Li dalam hati.


Yang Jia Li melirik Dayang Yue, wanita itu setia berada di dekatnya. Sang permaisuri menoleh dan berbisik pelan. "Bagaimana ini? Mengapa ayah tidak membunuhnya saja tadi malam?"


"Tenanglah, Yang Mulia." bisik Dayang Yue, "Percayalah pada Tuan Yang."


"Apa kau yakin dia tidak akan bicara macam-macam?"


Dayang Yue mengangguk, "Tentu saja." ujarnya guna menenangkan permaisuri, karena sejak dayang paviliun putri itu tertangkap. Yang Jia Li adalah orang yang paling gelisah.


Sang permaisuri kembali menghadap ke depan. Ada banyak petinggi kekaisaran yang hadir untuk menyaksikan penyiksaan, kebanyakan dari mereka juga penasaran dengan motif kejahatan sang dayang.


Karena sangat mustahil untuk dayang muda seperti Yang Li melakukan kejahatan yang luar biasa, Yang Li bahkan tidak bisa baca tulis, dan darimana ia tahu tentang racun merkuri. Lebih aneh lagi adalah dari mana ia mendapatkan merkuri, padahal kesehariannya selalu berada di istana.

__ADS_1


Tapi apa mau dikata, salah tetaplah salah. Yang Li tidak akan pernah bisa lepas dengan mudah.


"Dayang Yi, apa kau yakin dayang itu pelakunya?" tanya Wu Li Mei, sang selir dan Dayang Yi baru saja tiba di aula penyiksaan. Mereka mengambil langkah tenang agar tidak mencuri banyak perhatian.


Dayang Yi mengamati Yang Li dari kejauhan, sang dayang menyipitkan matanya. "Benar, Yang Mulia. Dia adalah dayang yang bertugas di paviliun putri."


"Cari tahu hasilnya?"


Paham dengan kalimat yang baru saja diucapkan Wu Li Mei, Dayang Yi segera mengangguk dan pergi. Sang dayang menuju salah satu prajurit di sudut aula, prajurit itu adalah juru tulis aula penyiksaan. Dialah yang menulis semua pernyataan yang dilontarkan oleh pelaku.


Sekitar lima menit berlalu, sang dayang kembali dengan tangan kosong. Dayang Yi menggeleng, "Maaf, Yang Mulia. Belum ada hasil, dayang itu tetap tidak mau bicara."


"Aneh."


"Aneh?"


Wu Li Mei mengangguk, ia bersedekap sambil menatap ke depan. "Pasti ada yang dia sembunyikan, pelaku sebenarnya mungkin telah memanipulasi dayang muda itu dengan berbagai cara."


"Mema.... manipula... si?"


"Lupakan, Dayang Yi!" sela Wu Li Mei.


Splesss......


Yang Li menengadah saat cambukan terakhir itu serasa merontokkan tubuhnya. Napas dayang muda itu menjadi putus-putus karena rasa sakit yang luar biasa. Yang Li berusaha membuka matanya walau sangat sulit, ia menatap satu demi satu orang di aula penyiksaan itu.


Netranya menangkap sosok wanita cantik dengan hanfu biru, wanita itu berdiri bersama dayang setianya. "Maaf, Yang Mulia." ujar Yang Li dalam hati.


"Se.... selir....agung."


Para prajurit saling tatap, mereka tidak salah lihat saat bibir pucat dayang paviliun putri itu bergerak. Salah satu dari mereka mendekat, guna mendengar lebih jelas.


"Se...se..selir agung." lirih Yang Li lagi.


"Apa katanya?" tanya prajurit lain.

__ADS_1


"Selir Agung." ujar sang prajurit pelan, ia yakin ia mendengar nama itu sebelum sang dayang muda jatuh tak sadarkan diri.


Semua orang di aula penyiksaan saling bersahutan, ada yang terkejut, ada yang tidak percaya, dan ada yang biasa saja. Mereka mendengar bahwa prajurit itu mengatakan sang selir agung sebagai pelakunya.


Memanfaatkan keadaan dengan baik, Yang Jia Li segera berdiri. "Wu Li Mei pelakunya!"


"Prajurit! Cepat tangkap selir agung." titah Yang Jia Li.


Para prajurit pun maju dengan takut-takut. Siapa yang tidak ingat betapa kejamnya selir itu dulu.


"Hei! Apa yang kalian lakukan!" sentak Wu Li Mei, ia meronta guna melepaskan cekalan tangan para prajurit. "Apa-apaan ini!" teriak Wu Li Mei marah.


"Kau lah pelakunya! Dayang itu mengatakan selir agung pelakunya." ujar sang permaisuri.


"Tidak!!" Wu Li Mei menggeleng tegas, "Bukan aku pelakunya, tidak mungkin aku meracuni anakku sendiri."


Yang Jia Li tersenyum miring, "Tidak ada yang tahu apa yang kau campurkan ke dalam obat itu bukan, mengakulah Wu Li Mei kaulah pelakunya!"


"Prajurit, cepat tangkap dia!" tunjuk sang permaisuri.


"Tidak!!!"


Zhou Ming Hao maju untuk melindungi sang ibu, begitu pula Zhou Fang Yin yang menghalau para prajurit agar tidak menyakiti Wu Li Mei. "Ibuku tidak bersalah, ini adalah tuduhan tidak berdasar. Selir Agung jelas sangat menyayangi Xiao Ling."


"Kau masih tidak percaya betapa busuknya ibumu?! Apa kau tidak dengar dayang tadi mengatakan apa."


Kaisar Zhou bangkit dari singgasananya, pria itu berjalan dengan aura penuh ketegasan yang sangat jelas terasa. Sang kaisar berjalan mendekat pada Wu Li Mei.


"Ibu tidak bersalah, Yang Mulia." ujar Zhou Ming Hao.


"Ku mohon jangan biarkan Ibu ditangkap, Yang Mulia." pinta Zhou Fang Yin.


Kaisar Zhou tetap diam, tatapannya datar tanpa ekspresi. Tangan sang kaisar menarik Wu Li Mei dari cekalan para prajurit.


"Panglima Hao!"

__ADS_1


Panglima Hao segera mendekat, "Ya, Yang Mulia."


"Bawa selir agung menuju aula pemeriksaan." semua orang terkejut dengan pernyataan sang kaisar, begitu pula Wu Li Mei. "Tapi, jika aku melihat setitik saja luka di tubuh selir agung, aku sendiri yang akan memenggal kepala para prajuritmu."


__ADS_2