
Yang Zhen menatap Jing Xuan dan gadis cantik yang setia menundukkan kepalanya itu bergantian, sejak kecil mengenal tuan muda Heng itu, dia belum pernah mendapati Jing Xuan tertarik dengan seorang wanita. Bahkan Xu Ling Mei yang terang-terangan menyukainya saja tidak ia hiraukan. Lalu dia?
Yang Zhen masih dengan kening berkerut dalam menatap bingung, “Siapa dia, Jing Xuan?” tanyanya.
“Dia temanku.”
“Teman?”
“Iya.”
Pemuda dengan kipas di tangannya itu menggeleng, “Tidak mungkin, jangan berbohong denganku. Temanmu adalah temanku juga, Jing Xuan, mana mungkin kau punya teman tanpa sepengetahuanku?”
Jing Xuan mengangguk kepalanya, dia sedikit menggeser tubuhnya untuk menghalangi ketiga orang tak diundang itu melihat Xiao Yin. “Ada, dia orangnya.”
“Tuan muda … “ Long Bao ikut mengerutkan keningnya, “Bukannya dia adalah gadis pembeli bakpao waktu itu?”
“Ck!”
Jing Xuan menghela napas jengah seraya memutar bola matanya, dasar Long Bao tidak bisa diajak bekerja sama tanpa perjanjian sebelumnya. Long Bao terlalu polos dan lugu. Tapi berbeda dengan reaksi Yang Zhen yang langsung tersenyum penuh arti, dia mendekati Jing Xuan dan sedikit berbisik. “Jadi dia gadis cantik yang kau ceritakan minggu lalu? Hmm, aku tahu sekarang, kau pasti menyukainya kan?”
“Tidak.” Desis Jing Xuan, “Aku hanya ingin berteman saja.”
“Hemm, alasan saja kau ini!”
Yang Zhen kembali memberi jarak dengan Jing Xuan yang tetap tenang meskipun ketar-ketir, belum lagi gadis cantik ini yang terus menunduk menjaga pandangannya. Cadar itu berhasil membuatnya sangat penasaran, tapi apa boleh buat karena dia tidak mungkin memaksa si gadis untuk membuka cadarnya. Tapi dari matanya, sikap anggunnya, dan gesturnya yang sangat mencerminkan sifat kebangsawanan, Yang Zhen yakin gadis ini berasal dari keluarga terpandang. “Kau berasal dari keluarga mana, nona?”
Zhou Fang Yin sontak mendongak, dia menatap teman dari Jing Xuan itu. Entah siapa tadi namanya, tapi yang jelas dia tidak mau terlalu banyak berurusan dengan anak para bangsawan ini atau semuanya akan menjadi lebih rumit.
“Ya?”
“Kau, dari keluarga mana kau berasal?”
“Aku … “
“Siapa dia?!”
__ADS_1
Ah, dua lagi datang entah darimana, tapi kali ini dua orang gadis muda yang cantik dan anggun. Mereka terlihat dari kalangan bangsawan yang terpandang dengan hanfu sutra dan semua perhiasan berkilauan yang mereka pakai. Gawat, Zhou Fang Yin harus segera pergi, tapi bagaimana caranya? Sangat tidak sopan jika dia langsung pergi begitu saja.
“Xu Ling Mei, Xu Ling Xi, kalian datang tepat waktu!” ujar Yang Zhen, “Lihatlah, Jing Xuan terpergok bersama seorang gadis.”
“Sial kau!” umpat Jing Xuan kepada Yang Zhen, tapi sama sekali tidak dihiraukan.
“Memangnya siapa dia?” tanya Xu Ling Mei seraya menatap tidak suka pada gadis bercadar itu.
“Entahlah.”
Ling Mei mengeryit saat Yang Zhen justru mengendikkan bahunya acuh, “Entahlah bagaimana?”
“Aku tidak tahu, Ling Mei, Jing Xuan dan gadis itu tidak mau memberitahuku.”
Merasa atau tidak, tapi saat ini gadis muda bernama Xu Ling Mei itu tengah menatap tidak suka kepada Zhou Fang Yin. Dia tak tahu sebabnya apa, yang pasti tatapan mata itu menjadi sangat tajam dan mengintimidasi. Sang putri sedikit berangsur menjauh namun lengannya ditahan oleh Jing Xuan bersembunyi di balik lengan hanfu yang panjang.
“Siapa kau?! Dari keluarga mana kau berasal? Dan kenapa aku tidak pernah melihatmu belajar di bangsal pendidikan. Apa kau dari kalangan yang tidak mampu sehingga kau tidak belajar?”
Zhou Fang Yin mendongak menatap dengan berani, dia baru saja direndahkan oleh gadis itu tanpa mengenal siapa dirinya sebenarnya. “Aku belajar di rumah.” Jawab sang putri.
“Ohh! Yang benar saja, seberapa kaya kau dan keluargamu sampai-sampai menyewa seorang cendekiawan?”
“Lalu, apa margamu?”
“Itu bukan urusanmu.”
Xu Ling Mei membelalak, beraninya gadis bercadar ini melawannya. Ia menjadi semakin kesal saat Jing Xuan dan yang lainnya kompak tertawa, tak terkecuali adiknya sendiri. “Kau! Kau sombong sekali ya!”
“Sudah, Ling Mei, jangan ganggu dia lagi dan jangan penasaran dengan apapun. Sebaiknya kalian pergi karena aku akan mengantarnya kembali pulang.”
Belum sempat mereka menjawab, Jing Xuan sudah menarik lengan gadis bercadar itu untuk pergi mengikuti langkahnya. Mereka tidak menoleh bahkan Jing Xuan sengaja menulikan pendengarannya saat Yang Zhen atau Xu Ling Mei memanggilnya. Biar mereka tidak mengganggu Xiao Yin, dia harus membawanya ke tempat yang aman. Dan, tempat itu adalah taman di tepi danau dengan bunga teratai yang bermekaran indah.
“Maafkan mereka, mereka pasti sangat mengganggumu, Xiao Yin.”
“Tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita duduk di kursi panjang itu?” tawar Jing Xuan.
Sang putri pun mengangguk, mereka tidak terlihat dari jalanan paling dekat dengan tempat itu. Hanya ada hamparan padang teratai dan danau yang luas dengan semilir angin yang sejuk padahal tengah hari yang matahari berada di atas kepala. Zhou Fang Yin duduk di sebuah kursi panjang, tak jauh darinya ada Jing Xuan yang menatapnya penuh kekaguman. Terlebih saat cadar yang menutupi wajah cantiknya sengaja ia lepas.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Tuan Muda Heng?”
“Ahh! Tidak, aku hanya menatap pohon di belakangmu.” Alibinya.
“Apakah itu benar?”
“Iya, disana ada sepasang merpati yang sepertinya sedang tersesat.” Ujar Jing Xuan. Sang putri pun menoleh dan benar ada sepasang merpati yang bertengger di dahan pohon sembari berteduh dari terik matahari, biasanya merpati dipelihara dan dipergunakan untuk mengantar pesan, tapi yang dua ini berbeda.
Zhou Fang Yin kembali menoleh pada pemuda tampan di depannya itu, “Apa mereka tersesat?”
“Mungkin ya, mungkin juga tidak, aku tidak tahu, coba tanyakan saja!”
“Bagaimana bisa bertanya kepada burung merpati?” sang putri mendelik kesal.
“Bisa.”
“Bagaimana?”
Jing Xuan bersiul tapi tidak ada sesuatu terjadi pada merpati itu, mereka justru berpindah dahan menjauh dari keduanya. “Mereka lari, sayang sekali kita tidak bisa melihat mereka lagi.” Ujar Zhou Fang Yin menunjuk sepasang merpati yang telah terbang.
“Mereka pasti akan kembali dan kau bisa melihatnya lagi, sama sepertiku yang bisa melihatmu lagi. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Xiao Yin.”
Si gadis terkesiap mendengar itu, dia tidak bisa mencegah senyuman yang merekah dari wajah manisnya. “Kau menungguku?”
“Setiap hari.”
“Kenapa?”
Jing Xuan tak langsung menjawab, ia menatap hamparan danau yang luas terlebih dahulu sebelum memikirkan jawaban yang tepat. “Karena aku sangat cantik.”
“Ada banyak yang jauh lebih cantik dariku, seperti dua nona muda tadi, Jing Xuan.”
__ADS_1
“Ya, mereka memang cantik.”
Zhou Fang Yin menahan napas tanpa sadar, ada perasaan aneh yang muncul saat Jing Xuan memuji gadis lain, perasaan kaku yang masih belum bisa diterjemahkan oleh sang putri kaisar sendiri. “Tapi bagaimana jika aku hanya menginginkanmu, Xiao Yin?”