
“Buku tentang herba beracun ibu suri, aku mengambilnya dan memberikannya kepada Tabib Zhong untuk mempelajari berbagai herba beracun yang ada di kebun penduduk. Banyak keluhan tentang tanaman yang mereka pikir adalah tanaman herbal tapi sebenarnya beracun.” Ujar Wu Li Mei.
“Benarkah itu?” Ibu suri tampak terkejut, wanita tua itu menghela napas lelah sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tempatnya duduk. “Permasalahan keracunan selalu saja menghantui rakyat dari masa ke masa, sebaiknya kau katakan ini kepada kaisar dan segera mencari solusinya.”
“Kaisar pasti sudah tahu, Yang Mulia. Saya akan mendiskusikan lagi untuk mencari pernyelesaian yang terbaik.” Jawab sang selir agung.
“Omong-omong, darimana kau mendapatkan kabar itu Mei-mei? Bukankah kau tidak pernah keluar istana dan bertemu para penduduk.”
Wu Li Mei mengerjap perlahan, ia melirik ke kanan dan ke kiri mencari jawaban yang tepat. Tidak boleh ada yang tahu jika ia mengabdikan diri sebagai dokter di pasar, bahkan mempunyai apotek sendiri. Karena anggota kekaisaran tidak boleh melakukan hal itu, jika saja kaisar sampai tahu, pasti toko obatnya akan ditutup. Belum lagi jika merembet sampai ke telinga Yang Jia Li, pasti wanita itu akan membuat toko obat sebagai kelemahannya. “Emm… saya hanya kebetulan mendengar keluhan dari Tabib Zhong, saat saya berkunjung ke pusat kesehatan istana Yang Mulia.”
“Bagaimana kalau kita kembali fokus pada rencana, sejujurnya masih sangat ragu untuk meninggalkan istana seperti ini. Takutnya Yang Jia Li memulai pergerakan atau menggulingkan tahta.” Tambah Wu Li Mei.
Ibu suri yang agung menggeleng dengan tegas, “Itu tidak akan terjadi Mei-mei, masih ada aku disini dan dia tidak akan bisa berbuat macam-macam selama kekaisaran sedang kosong. Jika pun sampai terjadi demikian, aku masih punya banyak prajurit untuk melindungi kami.”
Rencana demi rencana yang mereka susun hari ini sama sekali tidak menguatkan keyakinan sang selir untuk percaya sepenuhnya, jika semuanya akan aman dan terkendali selama mereka pergi. Yang Jia Li sangat licik dan tidak bisa ditebak, ia bisa melakukan apapun terlebih saat kaisar ataupun dirinya tidak ada di istana.
Guru Zhang datang kembali setelah ia pamit untuk beberapa saat tadi, pria tua berwibawa itu baru saja mengunjungi perpustakaan istana lagi dan mencari tahu lebih banyak tentang rak buku-buku lama. Dari penuturan penjaga perpustakaan itu, hanya ada satu buku yang hilang, dan buku itu adalah buku yang diambil oleh Wu Li Mei. Guru Zhang menceritakan semua yang diketahui oleh penjaga perpustakaan tanpa menambah atau mengurangi apa yang seharusnya disampaikan. Sehingga kesimpulan pun akhirnya didapatkan, meskipun semuanya masih sangat rancu, tapi ini boleh jadi kesimpulan yang tepat.
__ADS_1
Wu Li Mei mengetukkan jarinya pada meja, semuanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. “Jadi, Yang Jia Li mungkin menginginkan buku itu juga. Tapi, untuk apa?”
“Untuk apa lagi, bu, tentu saja untuk membuat racun.” Jawab Zhou Ming Hao cepat, mempelajari dari kejadian sebelumnya dan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Sang putra mahkota langsung tertuju pada racun saat mendengar catatan tentang herba beracun. “Ibu permaisuri selalu menggunakan racun untuk melancarkan aksi jahatnya, Zhou Xie Ling adalah contoh yang nyata. Pasti ibu permaisuri berencana untuk membuat racun lewat buku catatan itu.”
“Itu tidak salah lagi, bu.” Ujar Zhou Fang Yin membenarkan, “Rencananya sudah jelas, ibu permaisuri menginginkan kematian ibu lebih dari apapun, dia pasti akan melancarkan aksinya ini cepat atau lambat. Belum lagi, aku mendengar Yang Zuo mengatakan tabib, itu pasti tabib untuk meracik racun.”
Tidak disangkal lagi, karena pemikiran mereka pun merujuk pada satu hal yang sama. Yaitu racun, dimana Yang Jia Li memang selalu beraksi dengan racun. Konon kabarnya, bagian negeri tempat tinggal Yang Jia Li dulunya adalah hutan pegunungan kapur dengan banyak tanaman beracun.
“Itu sangat masuk akal.” Ujar ibu suri. “Kalau targetnya adalah dirimu, Mei-mei, maka kau harus berhati-hati.”
“Tidak bu.”
“Itu pasti bukan aku.”
Ibu suri mengerutkan keningnya, ia semakin tidak paham padahal sudah sangat jelas jika Yang Jia Li menginginkan kematian selir agung. Tujuannya agar tidak ada lagi yang merusak semua rencananya untuk menguasai kekaisaran setelah Kaisar Zhou wafat nantinya. Yang Jia Li tentu tidak akan berpikir untuk membunuh kaisar dan mengambil alih tahta untuknya, tidak mungkin, karena wanita itu sangat mencintai kaisar melebihi apapun.
Wu Li Mei menghela napas dalam, ia memejamkan mata untuk mengusir pening. “Dia memang menginginkan kematianku, tapi aku yakin jika targetnya pasti bukan aku.”
__ADS_1
“Lalu siapa jika bukan anda, Yang Mulia?” tanya Guru Zhang tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Wu Li Mei.
“Seperti halnya racun merkuri yang melibatkan Zhou Xie Ling, targetnya kali ini mungkin saja bukan diriku. Yang Jia Li adalah wanita yang licik dan pendendam, dia tidak akan dengan mudah membiarkanku mati, dia pasti ingin melihatku menderita lalu mati dengan segala penderitaan.” Jawab sang selir.
Memiliki musuh abadi adalah suatu hal yang sangat menyakitkan, terlebih jika musuhnya justru menyerang orang-orang tersayang atau orang lain yang tak bersalah. Bagi seseorang yang sudah diliputi kebencian dan amarah, membunuh bukan lagi sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Wu Li Mei memijat pangkal hidungnya, permasalahan antara selir dan permaisuri sudah sangat umum terjadi dalam drama atau opera sabun, dan kali ini pun dia terlibat didalamnya. Cinta dan kekuasaan justru membutakan segalanya, disaat seharusnya orang-orang yang bertahta ini merendahkan hatinya demi kepentingan mereka yang ada dibawahnya. Seperti halnya seorang raja yang harus selalu rendah hati dengan rakyatnya.
“Padahal aku membutuhkan buku itu untuk membantu penduduk dan membuat penawar racun, tapi Yang Jia Li justru membutuhkan buku itu untuk membunuhku. Sungguh malang nasibku harus terdampar di negeri antah berantah ini.” Guman Wu Li Mei dengan dirinya sendiri.
“Bu, apakah buku itu sudah sampai di tangan Tabib Zhong?”
Kedua mata Wu Li Mei sontak membulat sempurna, ia seperti ditarik agar kesadarannya kembali. Benar juga, bagaimana keadaan buku itu, apakah sudah sampai atau belum, atau malah sampai di tangan orang yang salah. “Ah, ibu lupa menanyakannya, bagaimana ini.”
“Memangnya anda mengutus siapa untuk memberikan buku itu Yang Mulia?” tanya Guru Zhang.
“Aku mengutus seorang dayang muda, Dayang Yi yang memintanya untuk mengantar buku itu karena Panglima Hao sedang sibuk.” Jelas Wu Li Mei. “Aku lupa bertanya kepada Dayang Yi, kupikir dayang itu juga tidak melaporkan apapun denganku.”
“Kalau begitu kau harus segera memanggil dayang itu Mei-mei! Para dayang yang menjadi utusan akan selalu memberitahumu bahwa mereka sudah melakukan tugasnya dengan benar, jangan sampai kau salah memilih orang. Istana punya mata dan telinga di setiap dindingnya, jika pun kau sudah memastikan dia adalah orang kepercayaan, tapi bisa saja dia adalah mata-mata.”
__ADS_1
Wu Li Mei menjadi khawatir setelah mendengar apa yang disampaikan oleh ibu suri, semuanya masuk akal karena ia pun tidak mengenal dayang itu dan darimana asalnya. “Aku akan memenggal kepalanya jika dia tidak melakukan tugasnya dengan benar.” Ujarnya tanpa ragu.