Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kau milikku


__ADS_3

“Ibu pasti salah orang karena aku selalu berada di istana, jadi mana mungkin aku pergi ke pasar untuk membuka toko obat?” sanggah Wu Li Mei.


“Bukankah selir dan permaisuri tidak diperbolehkan meninggalkan istana tanpa izin, apalagi sampai mengelola sebuah toko obat. Ibu ini bagaimana, mana mungkin aku bisa melakukannya.”


Ibu suri seperti goyah mendengar itu, memikirkan lagi bagaimana Wu Li Mei bisa keluar dari istana padahal dia merawat bayi kecil yang rewel. Tapi dalam hati kecilnya, sang ibu suri meyakini bahwa pemilik toko obat adalah Wu Li Mei, atau mungkin seseorang yang bermarga sama sepertinya meskipun sangat kecil kemungkinan. Marga Wu hanya dimiliki garis keturunan Kekaisaran Hang, yakni garis keturunan Wu Li Mei saja. Ibu suri memang pernah mendengar beberapa klan kecil yang bermarga sama, tapi mereka tinggal di tempat yang sangat jauh. “Apa benar itu bukan kau, Mei-mei?”


“Bukan bu.”


“Tapi ibu yakin jika itu adalah dirimu, kau pandai sekali meracik obat kan.”


“Kalau hanya meracik obat, Tabib Zhong jauh lebih pandai, aku saja belajar dari dia.” Ujar Wu Li Mei meyakinkan. “Dulu aku sering berkunjung ke pusat kesehatan istana, dan lagi merawat Zhou Fang Yin membuatku belajar banyak tentang cara meracik obat yang benar. Lama-lama aku jadi bisa melakukannya dan tertarik untuk belajar lebih.”


“Apa itu benar? Ibu masih meyakini bahwa Nyonya Wu adalah dirimu Mei---”


“Sedang apa ibu disini?”


Ibu suri dan Wu Li Mei kompak menoleh, mereka mendapati rombongan kaisar telah datang ke paviliun selir agung tanpa ada undangan sebelumnya, bahkan Wu Li Mei saja terkejut.


“Salam, Yang Mulia.”


“Apa yang sedang ibu lakukan di paviliun selir agung?” tanya Kaisar Zhou langsung pada inti dimana ia penasaran dengan kehadiran sang ibu suri. “Apa kesehatan ibu sudah jauh lebih baik? Mengapa ibu pergi tanpa tandu? Biar ku suruh pengawal untuk membawakan tandu ya.”


“Tidak perlu!” tolak ibu suri, “Aku butuh banyak bergerak dan berkeringat agar tetap bugar. Usiaku bahkan belum menyentuh satu abad tapi rasanya tubuhku sudah sangat tua, aku tidak mau cepat mati, aku mau berumur panjang.”


“Ibu ini bilang apa, tentu ibu akan berumur panjang!” ujar Wu Li Mei.


Sang kaisar juga mengangguk untuk kebaikan ibunya, “Iya, ibu akan berumur panjang dan menyaksikan kaisar baru naik tahta. Sampai sejauh mungkin seperti mendiang nenek dulu.”


“Ah, benar juga, ibu sudah lama tidak mengunjungi nenek. Ibu jadi rindu dengannya.” Ujar Ibu suri sembari menghela napas dalam, merindukan sosok ibu yang kini hanya ada dalam ingatan senjanya sangat memilukan. Untuk bertemu lagi jelas tidak mungkin, kecuali mereka berkumpul di taman surga bersama nanti.


Upacara pemakaman di negeri ini biasanya dengan dikuburkan di dalam tanah dan dibuat nisan yang megah seperti gapura, atau dengan kremasi. Semuanya tergantung permintaan dari orang yang bersangkutan, khusus untuk nenek dari kaisar, beliau meminta dikremasi dan abunya di sebar hulu sungai utama, yakni puncak gunung terbesar negeri itu agar airnya bisa mengalir sampai ke muara dan dia bisa terus disana menjaga negeri itu.


Dayang Yi datang setelah mengetahui ada kaisar juga disana, dia mengambil alih Zhou Jiang Wu dari gendongan Wu Li Mei untuk dia tidurkan di dalam kamar saja. “Bagaimana dengan Zhou Jiang Wu? Apa dia menyusahkamu, Mei’er?” tanya kaisar.


Wu Li Mei menggeleng, “Tidak sama sekali, dia tidak menyusahkanku sama sekali Yang Mulia. Justru aku senang karena ada dia paviliunku jadi lebih berwarna, putra mahkota dan Putri Fang Yin sangat membantuku dalam mengurus Jiang Wu.”

__ADS_1


“Mereka juga sering datang?”


“Sangat sering ibu, terlebih Guru Zhang sedang pergi dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu bermain bersama Jiang Wu.” Jelas Wu Li Mei.


“Tapi kemana putra mahkota hari ini? Aku melihatnya pagi-pagi sekali berkuda dan membawa busur panah.”


Wu Li Mei menganggukkan kepalanya, “Iya, dia pergi berburu di hutan bersama pengawalnya karena merasa bosan terus berada di istana tanpa kegiatan berpedang atau berlatihan bertarung.”


***


Berlari dan terus berlari hingga rasanya kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk dibuat berlari, gadis itu berengah-engah sambil bersandar di pohon besar yang rindang, celingukan ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada lagi yang mengejarnya.


Tapi, baru hendak mengambil napas lega, dia dikagetkan dengan derap kaki kuda yang berhenti tepat di depannya. Seorang pemuda yang menungganginnya menatap lurus ke depan sembari memasang anak panah dalam busurnya, sepertinya dia masih tidak menyadari keberadaan Xu Ling Xi disana, karena alis mata menukik itu bagai elang yang sedang mengincar mangsanya.


Dia berkonsentrasi, anak panahnya di arahkan pada rusa yang jaraknya sejauh sepuluh mereka darinya. Dalam satu tarikan sangat sangat cepat, anak panah itu melesat dan menembus leher rusa hingga jatuh tersungkur bersimbah darah. “Kau pikir kau bisa lari dariku.” Gumannya berbangga karena bisa menjatuhkan rusa yang cukup besar.


Pemuda itu turun dari kudanya, “Astaga! Kau siapa?”


“Sttt … “ Xu Ling Xi menempelkan telunjuknya di depan bibir.


Xu Ling Xi pun mendekat kepada pemuda sebaya dengan sang kakak itu, dilihat dari sudut manapun dia bukanlah seorang rakyat biasanya. Belum lagi bahu kokoh tegap yang sepertinya tidak memiliki beban apapun, “Tu-tuan, tolong saya, saya dikejar sekelompok orang yang ingin melukai saya.”


“Melukai? Tapi kau baik-baik saja?”


“Itu karena saya berhasil lari, saya tertinggal dari rombongan kakak saya dan masuk jauh ke hutan lalu bertemu mereka semua.”


“Bagaimana aku bisa percaya kepadamu nona? Siapa yang tahu jika kau adalah penipu kecil yang begitu cantik. Dan sekarang aku sedang masuk ke dalam perangkapmu.”


Xu Ling Xi membulatkan matanya, dia menggeleng tegas. “Saya bukan penipu, lihatlah pakaian saya sama seperti tuan. Tidakkah saya terlihat seperti nona bangsawan? Kalau anda masih tidak percaya, saya bisa tunjukkan dari mana saya berasal.” Jawabnya.


Nona muda itu mengambil sebuah hiasan giok berwarna putih dan terukir namanya dari kalung di lehernya, disana tertulis ‘Xu Ling Xi’ sebagai tanda pengenal akan nona itu.


“Ahha!! Ini dia yang kita cari teman-teman!”


“Hei! Dia disini!”

__ADS_1


“Nona, kau mau lari kemana lagi hm?”


Sekumpulan orang yang terdiri dari lima pria dengan penampilan berandalan datang menghampiri mereka, Xu Ling Xi bergetar ketakutan dan dia langsung bersembunyi dalam tubuh tegap pemuda berkuda tadi. “Mereka siapa?” tanya si pemuda.


“Mereka … mereka ingin mencelakaiku.” Ujar Xu Ling Xi ketakutan, dia mencengkram kuat lengan hanfu pemuda itu tanpa peduli. “Tolong saya, sungguh tolong saya!!”


Mata tajam pemuda itu menyorot ke depan, mengintimidasi dan menegaskan diri bahwa dia bukan orang sembarangan. “Siapa kalian? Dan apa hubungan kalian dengan nona ini?!”


“Dia itu milik kami, dia akan kami jual ke rumah bordil untuk dijadikan pelacur. Nanti kami akan dapat uang dari sana. Tapi sebelum itu kami harus merasakan dia dulu, hahahha.” Tawa licik itu mengudara dari kelima pemuda itu, mereka jelas akan melakukan perbuatan yang tidak pantas kepada Xu Ling Xi.


“Dia milikku, kalian pergilah!” ujar pemuda itu medeklarasikan bahwa Xu Ling Xi adalah miliknya agar mereka tidak mengganggu.


“Tidak bisa semudah itu, kami sudah menemukan dia duluan!” jawab salah satu dari lima pemuda berandalan itu, “Kau harus menyerahkan dia atau kita bertarung saja, satu lawan lima sudah pasti kami menang.”


“Jangan sombong dulu!!” seringai kecil muncul pada wajah tampan itu, ia meraih Xu Ling Xi, mengusap puncak kepala gadis ketakutan itu. “Kau tunggulah disini, aku akan menghabisi mereka dulu.”


Lima lawan satu, terdengar konyol tapi Xu Ling Xi tidak bisa mencegahnya. Dia hanya bisa diam dan terpaku di tempat saat pemuda yang datang dengan kudanya itu dengan cepat menghabisi satu persatu lawannya dengan tangan kosong. Sama sekali tidak sulit baginya untuk menghajar mereka, tidak sampai lima menit lima pemuda itu tumbang dan muntah darah.


Kaki pemuda itu menginjak kuat dada salah satu pemuda yang sejak tadi memimpin kelompok, “Pergi dan jangan pernah ganggu milikku lagi. Kalau aku sampai tahu kalian masih mengganggu wanita, akan kubunuh saat itu juga.”


“Ba-ba-baik … “


Kelima pemuda itu lari tunggang langgang pergi dari sana, mereka tidak menoleh lagi sambil menahan sakit di seluruh tubuhnya yang dihajar habis-habisan oleh pemuda itu. Dengan langkah tegas, dia berjalan menghampiri Xu Ling Xi.


“Terima kasih, tuan, terima kasih sudah menolong saya.”


“Sama-sama.” Jawabnya, “Tapi ini tidak cuma-cuma.”


“Saya harus membayar? Berapapun akan saya bayar untuk anda, mari berkunjung ke rumah keluarga saya.” Ajak Xu Ling Xi, dia yakin ayah dan ibunya bisa memenuhi keinginan pemuda itu.


Si pemuda tersenyum kecil, dia mendekat dan membersihkan debu yang menempel di wajah sang nona. “Aku tidak butuh uang, aku punya banyak di rumah. Lagi pula aku sudah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga dari uang, dan aku baru saja mengatakan itu kepada kelima pemuda tadi, nona.”


“Apa itu?”


“Kau, kau adalah milikku sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2