
Permintaan pembelaan Zhou Ming Hao disetujui oleh para hakim dan ibu suri, jadi mau tak mau Yang Jia Li pun ikut setuju. Dengan kesal, wanita istana itu kembali duduk di singgasananya, kedua tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.
Kemenangan yang sudah di depan mata harus tertunda, padahal ia sudah mati-matian menyusun rencana licik ini agar berhasil. Sialan, Yang Jia Li terus menggerutu dalam hati. Benar dugaannya selama ini, keadaan keluarga kekaisaran yang sepi dan damai hanyalah pengalihan perhatian. Agar Yang Jia Li merasa sudah menang dan rencananya berjalan normal.
Zhou Ming Hao menghadap pada hakim, "Izinkan saya membawa saksi yang pertama."
"Silahkan, Yang Mulia."
Zhou Ming Hao segera memberikan kode kepada salah satu prajurit bawahannya, prajurit itu bergegas meninggalkan pelataran aula penyiksaan. Tak lama ia kembali sambil membawa rombongan yang mengawal seorang pria paruh baya. Pria dengan hanfu lusuh yang terlihat seperti pedagang.
"Dia adalah orang yang menjual merkuri dari Dinasti Su." ujar Zhou Ming Hao.
Sang putra mahkota menarik paksa pria itu untuk berlutut di hadapan para hakim, "Berikan pengakuanmu!" titahnya.
"Ba..ba...baik, Yang Mulia."
Pria itu tercekat sambil bergetar ketakutan, kedua tangannya diikat dan ia diperintah untuk memberikan pengakuan di depan hakim agung. "Sa.. saya adalah petani gandum dari segeri selatan, saya menjual hasil panen ke Dinasti Su menggunakan kapal. Setiap kembali dari Dinasti Su, saya....saya selalu membawa mer.... ku.. ri."
Pria paruh baya itu semakin bergetar ketakutan, tapi ia lebih takut lagi melihat wajah garang sang putra mahkota yang berdiri di sampingnya. "Pada hari itu, seorang pria berpakaian bagus datang kepada saya untuk membeli merkuri, pria itu menawarkan harga yang sangat mahal untuk sekantung merkuri."
"Siapa pria itu?" tanya hakim agung.
Sang penjual merkuri pun menggeleng, "Saya tidak tahu siapa dia, tapi dia mengenakan hanfu dari sutra yang mahal. Saya pikir dia dari kalangan bangsawan."
"Apa kau mengingat wajahnya?" tanya hakim yang lain, "Seperti apa dia?"
Penjual itu menerawang, mencoba mengingat kembali rupa dari orang yang membeli merkurinya tempo hari. "Pria dewasa, berusia sekitar tiga puluhan, dia mengenakan hanfu buru gelap bermotif bambu."
"Bisakah kau sebutkan ciri-ciri fisiknya!" ujar hakim agung.
Sang penjual pun mengangguk, "Di... dia... dia tampan, garis rahang yang tegas dan sorot matanya hangat. Tubuhnya tinggi tegap, tapi dia memiliki bekas luka di dahinya.... iya.... di dahi sebelah kiri."
__ADS_1
Mendengar itu, Ibu Suri mengerutkan keningnya, satu-satunya yang mungkin adalah anak dari orang yang ia benci. Tentu saja ia sangat tahu, karena dialah yang memberikan luka itu dulu.
"Zhou Xing Huan!!" ujar Ibu Suri.
Sang pengeran mengepalkan tangannya saat namanya disebut dengan keras, padahal ia sudah duduk di kursi paling belakang tapi orang-orang tetap melihat ke arahnya.
Ia segera berlalu tapi sang ibu suri tak kalah cepat, ibu suri memerintahkan para prajurit untuk menghadang Zhou Xing Huan. Sempat terjadi kejar-kejaran untuk menangkap sang pangeran, tapi akhirnya pria itu berhasil dibekuk. Zhou Xing Haun dibawa dengan paksa ke hadapan hakim agung. Diiringi cemooh para petinggi kekaisaran yang hadir disana, mereka jelas mengetahui rekam jejak sang pangeran terbuang.
"Apakah dia orangnya?" tanya hakim agung.
Sang penjual merkuri itu menoleh takut-takut, ia menyipitkan matanya saat Zhou Xing Huan terus mengalihkan wajahnya.
"Bukan! Bukan aku." bela sang pangeran, "Mana mungkin aku melakuka----"
"Benar, itu dia!" ujar sang penjual.
Zhou Xing Huan langsung membulatkan matanya, "Beraninya kau menuduhku!"
"Ta... ta.... tapi itu benar, anda yang membeli sekantung merkuriku tempo hari." jawabnya.
"Beraninya kau menuduhku, kau tidak memiliki bukti apapun!"
Zhou Xing Huan memberontak saat kedua tangannya dicekal oleh para prajurit, ia mencoba lepas tapi tidak bisa. Sang pangeran pun menatap Yang Jia Li hendak meminta pertolongan, tapi wanita itu justru acuh, seolah ia tidak terlibat di dalamnya.
Zhou Xing Huan merutuki dirinya yang memilih bergabung dengan permaisuri licik itu. Ia seharusnya menyuruh salah satu orang kepercayaannya alih-alih bertindak sendiri. Sang pangeran memang sangat amatir untuk tindakan-tindakan jahat seperti ini, hingga ia salah langkah. Api cemburu yang membakar karena penolakan Wu Li Mei, semakin dibuat membara oleh tipu muslihat Yang Jia Li.
Pada dasarnya, Zhou Xing Huan bukanlah pria yanh jahat. Ia baik hati, sopan, dan ramah. Pada ibu suri pun ia tidak pernah menaruh dendam, ia hanya enggan bertemu karena sikap ibu suri yang selalu dingin.
Ibu suri selalu menyalahkan ibunda Zhou Xing Huan karena kaisar terdahulu lebih menyayangi selir barunya. Seminggu setelah sang pangeran lahir, ibu suri melakukan tuduhan tak berdasar. Zhou Xing Huan kecil bersama sang ibu terpaksa menjalani kehidupan pengasingan. Tak cukup sampai disitu, ibu suri juga menggoreskan tusuk konde berbalut mutiara pada kening Zhou Xing Huan.
"Ceritakan apa yang terjadi saat itu!" titah para hakim, mereka masih belum mendapatkan cukup bukti untuk menetapkan keputusan.
__ADS_1
Penjual merkuri itu mengangguk cepat, "Hari itu, tepat di hari ke lima penanggalan candra, ada seorang bangsawan berpakaian bagus dan dua pengawal. Masing-masing dari mereka membawa kuda yang gagah dan indah, persis seperti kuda istana."
"Me... mereka lalu bertanya apa saya menjual merkuri, dan saya menjawab iya."
"Saya berikan sekantung bubuk merkuri yang sudah disimpan di wadah khusus, merkuri itu dihargai dengan harga yang sangat tinggi."
"Lalu, apa benar Pangeran Zhou adalah orangnya?"
Sang penjual merkuri mengangguk yakin, ia tidak mungkin salah mengenali orang. Tidak banyak wajah sesempurna itu di Dinasti ini. "Be.. benar, hakin agung."
"Tidak!!!"
"Apa-apaan kau berani menuduhku!"
"Tidak!" sanggah Zhou Xing Huan. "Aku tidak pernah melakukan itu."
"Benar, Yang Mulia, kau lah yang menemuiku hari itu. Aku sangat mengingat wajah dan senyummu, seperti bulan sabit."
"Pembohong!"
"Dia pembohong." Zhou Xing Huan berusaha keras untuk membela diri, tapi otaknya seolah buntu untuk menemukan jalan keluar.
"Dia tidak mengatakan hal itu tanpa bukti, paman." Zhou Ming Hao yang semula diam, sibuk mengamati setiap pergerakan yang datang.
Sang putra mahkota maju, melangkah lebih dekat untuk memberikan sesuatu pada para hakim.
"Ini barang buktinya, hakim agung."
Sebuah benda yang dibungkus dengan potongan kain sutra diletakkan di meja hakim, hakim agung mengulurkan tangan untuk membukanya. Pria paruh baya itu sontak membulatkan matanya. Ia mengangkat batu giok berwarna hijau yang sangat indah, di dalamnya terdapat sebuah ukuran bertulis.
'YANG JIA LI'
__ADS_1
Hal itu pun tak lepas dari pengamatan sang permaisuri, tubuhnya langsung berkeringat dingin. Ia hafal betul dengan hiasan giok itu, wajah Yang Jia Li menjadi pias seketika.
"Disini bertuliskan, Yang Jia Li."