
Alunan kecapi dan gerakan anggun dari para penari menemani acara minum teh tiga pria dari klan yang sama itu, mereka saling beradu cangkir porselen hingga menciptakan bunyi tingg. Tapi teh yang mereka minum kali ini bukan sembarang teh, yakni minuman pahit yang memabukkan dan membuat akal sehat orang yang meminumnya hilang. Ditemani dengan para gadis rumah bordil, mereka berpesta minuman keras malam ini.
Yang Hong Hui kembali mengudarakan cangkir porselennya, “Mari bersulang suaraku.”
“Mari.” Jawab Yang Zuo.
“Tapi, apa pantas kita bersenang-senang di atas penderitaan permaisuri? Bukannya kita harusnya bersedih karena dia diasingkan selama setengah tahun.”
“Tenang saja.” Ujar Yang Zuo, ayah dari permaisuri itu begitu santai menanggapi sang putri yang sedang sibuk bermeditasi di Biara Heng Shui. “Kita tidak perlu mengkhawatirkan Yang Jia Li, karena dia pasti akan segera kembali. Ada atau tidak ada dia itu sama saja, kita tetap akan menguasai negeri ini dari bayang-bayang.”
“Ya, saudaraku, kau selalu tahu cara terbaik untuk menang.”
Pujian dari Hong Hui itu disambut anggukan oleh beberapa orang yang hadir disana, wanita cantik yang sibuk menggoda dan menuangkan minuman keras ke dalam cangkirnya itu diciumnya dengan begitu mesra. Tidak berbeda jauh dengan Yang Zuo.
Semua orang berpesta dan menikmati malam, hanya Yang Jian Zhu yang tidak menikmatinya. Jika bukan karena ajakan dari sang ayah, dia tidak akan mau keluar dari departemennya untuk datang kemari. Rumah bordil dan wanita-wanita di dalamnya tidak menggoda baginya saat hati sudah tertambat pada satu sosok yang tidak mungkin tergapai.
“Yang Jian Zhu?”
“Ya, paman?” sang kepala departemen kejaksaan mendongak saat namanya dipanggil oleh Hong Hui. Pria itu menunggu apa yang ingin pamannya sampaikan, “Ada apa?”
“Kapan kau akan menikah? Apa kau belum menemukan wanita yang cocok denganmu? Atau bagaimana? Sebentar lagi kau akan menjadi perjaka tua jika tidak segera menikah.”
“Ah, untuk itu aku memang tidak begitu ingin menikah.”
“Kenapa?”
Yang Hong Hui mengerutkan keningnya, dulu ia pernah menjodohkan Yang Jian Zhu dengan anaknya yang paling cantik. Tapi pria itu menolak dengan halus, hingga akhirnya putrinya menikah dengan bangsawan lain. Lalu ia juga pernah mengenalkan putra sulung Yang Zuo itu kepada salah satu putri di kekaisaran lain, tapi dia menolak.
Pilihan seperti apa yang dicari oleh Jian Zhu? Atau memang dia tidak berencana untuk menikah karena sudah disibukkan dengan urusan kekaisaran. “Kau mencari yang seperti apa, Jian Zhu? Biar paman carikan.”
__ADS_1
“Aku tidak mencari yang sempurna paman, aku hanya tidak ingin menikah saja.”
“Tidak ingin menikah? Kenapa?”
Yang Zuo meletakkan cangkirnya, ia ikut menatap sang putra dengan wajah penasaran. Kiranya apa yang sedang dipusingkan oleh Jian Zhu, dia tampan dan punya segalanya, tapi memilih untuk tidak menikah. Bukan tidak pernah Yang Zuo dan istrinya menasihati putranya untuk menikah.
“Apa kau tidak suka wanita?” tanya Hong Hui.
“Bukan begitu paman.” Sanggah sang kepala departemen kejaksaan. “Aku suka wanita, hanya saja aku belum menemukan yang terbaik untukku.”
“Lalu bagaimana caramu menyalurkan hasratmu, Jian Zhu? Apa kau perlu gundik? Atau bawalah salah satu dari wanita ini untuk memuaskan nafsumu.” Ujar sang paman.
Para wanita di rumah bordil itu memekik kegirangan, mereka rela menjadi pemuas hasrat seorang pria tampan seperti Yang Jian Zhu. Bahkan tanpa bayaran pun mereka rela asalkan bisa bermalam dengannya. “Ayo pilihlah! Paman yang akan membayar mereka untukmu.”
Yang Jian Zhu menyapukan padangannya kepada para wanita disana, mereka semua berdandan sangat cantik dengan riasan tebal dan hanfu yang mewah. Tapi Yang Jian Zhu tidak tertarik dengan mereka, hingga ia menemukan wajah lain yang tidak terlalu berlebihan, dia cantik tapi pendiam.
Telunjuk Jian Zhu terarah pada pemain kecapi, “Dia, aku mau dia.”
“Iya, kau yang bermain kecapi.”
“Baiklah.” Ujar Yang Hong Hui, “Paman akan memberikan dia untukmu malam ini, Jian Zhu. Nikmatilah hadiah dariku, jika malam lain kau ingin, paman akan membayarnya juga.”
“Tidak perlu, cukup malam ini saja. Terima kasih paman.” Ucapnya, lalu bangkit dan berjalan keluar diikuti wanita itu. Dia masih belum bisa memahami apa yang sedang terjadi, karena tidak pernah ada yang mau dengannya. Jadi tugasnya hanya memainkan kecapi sepanjang malam.
Wanita itu mengikuti Yang Jian Zhu dari belakang, menjaga jarak dari sang tuan yang begitu tampan dan mempesona. Tapi anehnya mereka tidak menuju salah satu kamar disana, sang tuan justru terus berjalan tanpa henti memutari tempat itu menuju pintu keluar.
“Tuan, kita mau kemana?”
“Aku akan pulang.”
__ADS_1
“Lalu … saya?”
“Kau juga kembalilah ke kamarmu, beristirahatlah.”
“Tapi saya diminta untuk melayani tuan malam ini.” Ujar wanita itu dengan berani, dia masih muda, tubuhnya bagus dan wajahnya juga tidak mengecewakan.
“Siapa namamu?” tanya Yang Jian Zhu.
Wanita pemain kecapi itu membulatkan mata, “Saya Qui.”
“Kalau begitu, Qui, sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu dan beristirahat karena aku akan pulang. Aku hanya menggunakanmu agar bisa keluar dari tempat itu, itu saja dan besok kau akan menerima bayaran dari pamanku.”
Wanita rumah bordil bernama Qui itu mengerutkan keningnya bingung, ia menghadang langkah Yang Jian Zhu yang ingin segera pergi. “Tapi tuan, saya tidak melakukan apa-apa bagaimana mungkin mendapatkan upah. Saya harus melayani anda dulu baru mendapat upah, begitu kesepakatannya, kan?”
“Memangnya kau bisa memuaskanku, Qui?” tanya Yang Jian Zhu mulai kesal.
Qui hanya terdiam, melayani para tuan bukan tugasnya, sudah lama sekali dia tidak menjual tubuh kepada pada bangsawan yang datang kesana. Qui juga merasa lega disatu sisi karena tidak perlu menjual dirinya untuk sekeping uang logam, tapi jika nyonya pemilik rumah bordil sampai tahu dia tidak bekerja, maka Qui tidak akan dapat uang.
“Saya mohon tuan, saya memang butuh uang, kalau nyonya tahu saya tidak bekerja untuk melayani anda, saya tidak akan dapat uang.”
“Tenang saja Qui, upahmu tetap akan sampai kepadamu.”
“Tapi, tuan?!”
Qui nekat, wanita itu mendekat dan mencium sang tuan di bawah cahaya bulan yang temaram. Tidak ada seorang pun disana selain mereka karena semuanya berada di dalam rumah, Qui melakukan yang ia bisa untuk menggoda Jian Zhu, mulai dari menggesekkan tubuhnya hingga memaksa tangan kasar milik sang tuan untuk merayap di tubuh indahnya.
Tapi, Yang Jian Zhu bergeming, saat Qui sudah selesai dengan ciumannya karena kehabisan napas, dan saat semua usahanya sia-sia. Yang Jian Zhu tetap bergeming, “Sudah cukup Qui, kau sudah melakukan tugasmu.”
“Tuan … “
__ADS_1
“Aku tidak sembarangan menyentuh wanita Qui, di hatiku tertambat satu nama yang memang tidak akan sanggup untuk ku gapai. Dan mencintainya adalah bagian dari menyalurkan hasrat bagiku, maaf Qui, aku tidak butuh kau layani.” Ujar Yang Jian Zhu sebelum pergi.
Qui hanya menatap punggung tegap itu dengan nanar, Yang Jian Zhu berbeda dengan pria lainnya ternyata. Qui merusak dandanannya, dia mengoyak hanfu sederhana yang ia kenakan agar terlihat seperti baru saja melayani sang tuan. Barulah wanita itu kembali ke rumah bordil dan melapor kepada nyonya.