
"Maaf, Yang Mulia Permaisuri, apa anda bisa menjelaskan ini?" tanya hakim agung, ditangannya sudah ada bukti kuat yakni hiasan dari batu giok bertulis nama sang permaisuri. Hiasan itu hanya ada satu dan tidak mungkin dibuat tiruannya, karena batu itu adalah hadiah dari sang kaisar untuk ulang tahun Yang Jia Li. Hiasan itu dibuat khusus oleh pengrajin terbaik di seluruh negeri. Hiasan itu pun amat dikenal, karena sang permaisuri sering mengenakannya di berbagai acara penting kekaisaran.
"Yang Mulia?"
Yang Jia Li pucat pasi, keringat dingin bercucuran di dahinya. Kebingungan untuk menjawab, apa yang harus ia lakukan? Yang Jia Li memaksa otaknya untuk berpikir, memikirkan sebuah cara untuk selamat dari semua ini.
"Yang Mulia Permaisuri?"
"Yang Mulia?"
"Apa anda tidak mendengarku, Yang Mulia?"
Hakim agung bertanya lebih keras karena sang permaisuri enggan untuk membuka suara, Yang Jia Li masih terpaku, matanya melirik ke kanan dan ke kiri.
"Itu......" Yang Jia Li mengulum bibirnya, ia menatap jajaran para petinggi kekaisaran. Pandangannya bertemu dengan Yang Hong Hui, kepala bagian keamanan dan pertahanan. Pria paruh baya itu adalah paman Yang Jia Li, ia pun mendapatkan posisi sebagai menteri karena peran sang permaisuri. Yang Hong Hui adalah salah satu orang kepercayaan permaisuri, menjadi pelindung, dan sekaligus orang yang juga terlibat dalam insiden Wu Li Mei jatuh di danau.
Yang Hong Hui mengarahkan telunjuknya ke bibir, memberi kode agar sang permaisuri tak bicara. Pria paruh baya itu lalu menunjuk Zhou Xing Huan, kemudian memberikan tanda silang dengan jarinya. Yang Jia Li tentu dengan mudah bisa membaca maksud dari kode itu, wanita cantik itu tersenyum miring. Di saat seperti ini, tidak ada bedanya antara musuh dan teman.
Ia kembali menormalkan ekspresi wajahnya, Yang Jia Li telah menemukan rencananya. Wanita itu masih enggan untuk membuka suara, ia ingin mengamati dan menunggu saatnya untuk bicara.
"Kau lihat bukan, batu giok itu bertuliskan nama permaisuri, bukan aku yang membeli merkuri itu!" ujar sang pangeran.
"Aku tidak bersalah, orang ini lah yang salah mengenali. Pasti ada seseorang yang mirip denganku."
"Dia adalah suruhan sang permaisuri!"
Semua orang terkejut mendengar itu, mereka ramai berbisik-bisik membicarakan ucapan berani dari sang pangeran. Karena tidak ada pilihan bagi Zhou Xing Huan selain berkhianat pada Yang Jia Li, toh, wanita itu juga tidak akan menyelamatkannya.
Nasib yang malang bagi Zhou Xing Huan, ia tak memiliki dukungan atau orang-orang yang akan menjadi pelindungnya.
"Aku tidak bersalah!"
"Orang ini yang salah mengenaliku!" tunjuknya pada sang penjual merkuri. "Aku sudah jelas tidak bersalah bukan?"
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
Zhou Xing Huan memberontak, tapi tidak dilepaskan begitu saja. Para prajurit yang menahannya menunggu keputusan dari hakim agung untuk melepaskan atau tetap menahan sang pangeran.
Hakim agung menatap sang penjual merkuri, "Bisakan kau jelaskan apa ini?"
"It.... itu.... itu adalah benda yang ditukar dengan sekantung merkuri milikku."
"Siapa yang memberikan ini padamu?"
"Sang pangeran." ujar penjual merkuri pelan, ia masih bersimpuh dengan kedua tangan terikat. Ingin kabur pun tidak akan bisa, ia tidak mau mati konyol oleh tebasan pedang para prajurit.
Sudah kepalang-tanggung, jadi penjual itu hanya bisa menunduk dan pasrah.
"Pangeran yang memberikan itu kepadaku, sebagai bayaran." ungkapnya.
"Beraninya kau!!"
"Dia berbohong, dia hanya menuduhku!" sangkal Zhou Xing Huan. "Sudah jelas bahwa permaisuri yang melakukan kejahatan itu."
Hakim agung pun mengangguk, setelah mendapatkan keputusan bersama hakim lainnya ia memerintahkan para prajurit untuk menangkap Yang Jia Li.
"Hei, apa-apaan ini!"
"Lepas!!"
Yang Jia Li memberontak saat dua prajurit datang untuk menangkapnya, para petinggi kekaisaran dari Klan Yang, ataupun Yang Jian Zhu tidak bisa berbuat apapun karena ini menjadi otoritas kehakiman. Semua keputusan ada di tangan permaisuri sendiri.
"Lepas!!"
"Lepaskan aku!!"
Sang permaisuri sampai di hadapan hakim agung, ia berdiri bersebelahan dengan Zhou Xing Huan. "Pengkhianat!" desisnya, namun sang pangeran masih bisa mendengarnya.
Yang Jia Li mengepalkan kedua tangannya, jika Zhou Xing Huan menusuknya dari belakang, ia pun masih memiliki pisau untuk balas menusuknya.
"Dia!" tunjuk Yang Jia Li pada pangeran, "Dia telah mencuri giok berharga ku."
__ADS_1
Ucapan Yang Jia Li membuat orang-orang kembali terkejut dan kebingungan, siapa yang benar karena keduanya saling melempar tuduhan.
"Beberapa hari lalu pangeran datang berkunjung, dan tepat setelahnya, giok pemberian kaisar untukku hilang. Aku telah mencarinya cukup lama, tanyakan saja pada dayangku." ujar Yang Jia Li.
"Semua ini pasti siasat Zhou Xing Huan saja, aku tidak terlibat apapun dalam kejahatan ini."
"Penjual ini dengan jelas mengatakan bahwa Zhou Xing Huan lah yang datang kepadanya."
Yang Jia Li memasang wajah memelas, matanya memerah hendak menangis. "Apa mungkin aku tega meracuni Zhou Xie Ling, aku juga seorang ibu, tidak mungkin tega menyakiti anak itu bukan. Aku tahu rasanya ditinggalkan orang terkasih, aku pun masih bersedih atas kepergian anak-anakku. Mereka bahkan belum sempat melihat indahnya dunia."
"Ku rasa, aku telah dituduh melakukan hal yang tidak aku lakukan oleh Zhou Xing Huan, demi menutupi kesalahannya dia mengkambing-hitamkan aku."
Yang Jia Li menatap penuh terluka pada Zhou Xing Huan, "Padahal, aku sudah bersikap baik padanya. Tapi, inikah balasan atas kebaikkanku padamu?"
Yang Jia Li memang pandai bersilat lidah, ia juga bisa bermain peran dengan baik. Buktinya, orang-orang kembali bersimpati kepadanya.
"Tidak, semua yang dikatakan permaisuri bohong!" sangkal Zhou Xing Huan. "Dialah yang merencanakan semua ini, aku tidak pernah mencuri giok itu."
"Mengapa kau lakukan semua ini padaku, Zhou Xing Huan?" Yang Jia Li meneteskan air matanya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak kuasa menahan isakan tangis.
"Apa aku kurang baik padamu?"
"Aku yang meminta kaisar membebaskanmu dari pengasingan, agar kau bisa kembali merasakan kehidupan istana."
"Inikah balasanmu padaku, Zhou Xing Huan...hiks...."
Sang pangeran dibuat tak bisa berkata-kata, jika ada penghargaan untuk orang yang bermuka dua, maka Yang Jia Li pasti pemenangnya.
Tangisan dan air mata itu adalah palsu, tapi orang-orang justru lebih mempercayainya. Zhou Xing Huan bisa mendengar dengan jelas, bahwa orang-orang mulai kembali menyudutkannya.
Merasa muak dengan drama yang dibuat oleh permaisuri, Zhou Ming Hao kembali mendekat pada sang hakim agung. Jika drama itu diteruskan, maka masalah intinya tidak akan selesai. Zhou Ming Hao harus menyelamatkan sang ibu.
"Hakim agung, aku membawa barang bukti yang kedua!" ujarnya mantap, tidak menghiraukan tatapan menusuk dari pangeran timur dan permaisuri.
"Ini."
__ADS_1
Zhou Ming Hao meletakkan selembar kertas di meja hakim agung, "Apa ini?" tanya sang hakim.
"Tanda bukti pembelian merkuri."