Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Dibalik peristiwa


__ADS_3

Sore yang hangat dengan matahari bersinar begitu terang, tapi angin dingin tetap berhembus dengan nyaman di tempat ini. Di negeri antah berantah yang menjadi rumah bagi si wanita, antara nyata dan tidak nyata, tapi nyatanya ia nyaman dengan semua ini. Tempat ini telah menjadi rumah dan kehidupannya untuk beberapa waktu yang telah berlalu, rasanya seperti baru kemarin ia tersadar dan mendapati dirinya menjadi seorang selir. Melupakan jati diri sebagai dokter dan kehidupan modernnya, semua hal yang di luar nalar ini kian hari kian menjadi nyata, keinginan untuk kembali pada kehidupan aslinya perlahan memudar.


Siapa dia sebenarnya? Apakah dia adalah Wu Li Mei atau Dokter Risa? Lalu kehidupan ini milik siapakah? Benar miliknya atau milik orang lain yang raganya kini menyatu dengannya.


“Aaaaawaaaawaaa … “


Wu Li Mei menoleh saat bayi laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu merengek menunjukkan mainan barunya, sebuah kayu berbentuk kucing yang diukir dengan indah. “Ya, sayang?”


“Aaaa … maaa…. Bububuuuu … “ anak kecil itu meracau tidak jelas, dia memang belum bisa berbicara dan baru sanggup mengucapkan sepatah dua patah kata tanpa arti.


Lucu sekali merawat anak kecil lagi setelah Zhou Xie Ling, kedua anaknya juga sudah beranjak dewasa dan telah mengenal cinta. Wu Li Mei bukan tidak tahu tentang Zhou Ming Hao yang diam-diam selalu memandangi gadis cantik putri bungsu Keluarga Xu, atau Zhou Fang Yin yang hadirnya selalu dinantikan oleh tuan muda Heng yang terhormat. Diam-diam, Wu Li Mei selalu menyuruh orang untuk mengawasi mereka, tujuannya hanya satu, yakni untuk menjaga mereka dari orang-orang yang mungkin berniat jahat.


Bayi kecil ini kini menjadi teman saat Wu Li Mei sendiri di paviliun, dia menjadi kesibukan baru setelah mengurus toko obat dan menjalankan perannya sebagai selir agung.


“Apa tuan muda lapar, Yang Mulia?” tanya Dayang Yi, setia mendampingi Wu Li Mei di taman kecil dekat danau utara.


Wu Li Mei terdiam sejenak, “Tapi beberapa waktu lalu Jiang Wu baru saja minum susu, kalau begitu tolong ambilkan susu untuknya. Tolong ambilkan buah yang lunak dan sendok kecil, aku ingin menyuapinya dengan buah segar.”


“Baik, Yang Mulia.” Dayang Yi hendak beranjak, tapi ia menoleh kembali. “Apa tidak masalah saya meninggalkan anda sendirian Yang Mulia? Disini sangat sepi.”


“Tidak masalah, Dayang Yi, memangnya ada apa? Ini kan masih lingkungan istana, aku akan aman berada disini.” Jawab Wu Li Mei yang sedang sibuk mengajak putra kecilnya bermain.


“Bukan begitu Yang Mulia, aula utara paling dekat dengan hutan dan jarang ada prajurit yang berjaga.”

__ADS_1


“Ohh, pantas saja tempat ini begitu tenang ya, aku senang berada disini.”


“Yang Mulia … “


“Sudahlah, Dayang Yi, aku baik-baik saja, kau pergilah.”


“Ba-baik.”


***


“Hari yang begitu baik, akhirnya kita bisa bertemu disini Wu Li Mei.”


Wu Li Mei menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara, ia mendekap erat Zhou Jiang Wu yang sedang tertidur di pangkuannya. Dayang Yi terlalu lama pergi karena memang jarak Aula Utara dengan paviliunnya jauh, lalu sekarang apa? Siapa yang bersuara?


“Yang Jia Li?” desisnya.


“Ya, ini aku.”


“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam istana?”


“Kau menanyakan pertanyaan bodoh Wu Li Mei!!” sentaknya, dia masih enggan mendekat karena takut jika keberadaannya diketahui oleh orang lain selain Wu Li Mei dan bayi kecil yang sedang tidur itu. “Aku keluar dari istana karenamu, dan aku kembali ke istana ini tentu saja untukmu!!”


“Sialan kau Wu Li Mei, jangan harap kau bisa hidup tenang padahal aku menderita hidup di pengasingan! Kau akan menerima balasan dari perbuatanmu, akan kubuat kau benar-benar mati dan tidak akan bisa menghalangi rencanaku lagi!!”

__ADS_1


Wu Li Mei menatap tajam kepada wanita di depannya itu, masih saja sama seperti Yang Jia Li dulu, masih angkuh dan tidak menyesali dosanya. “Kau seharusnya sadar dengan siapa kau berbicara, Yang Jia Li. Aku masih sabar denganmu sehingga aku tidak langsung mengusirmu dari negeri ini. Apa yang telah kau lakukan kepada Zhou Xie Ling dan aku tidak akan termaafkan, sehingga bukan aku tapi ini adalah balasanmu. Kau seharusnya menyesali perbuatanmu dan kembali ke istana dengan hati yang bersih!”


“Sialan kau!!”


“Pergi Yang Jia Li, jangan pernah kembali ke istana lagi, istana ini bukan milikmu lagi!”


Kedua tangan Yang Jia Li terkepal kuat, seandainya ia menggenggam tanah pasti jadi butir halus karena diremas dengan kuat. Napasnya tersengal naik turun, melihat Wu Li Mei sungguh membuat matanya sakit dan emosinya memuncak bagai tersulut api amarah. Ingin sekali dia membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri. “Wanita ular!!! Kau memang licik, Wu Li Mei!!!”


“Katakan itu pada dirimu sendiri.” Wu Li Mei mengangkat dagunya tinggi agar tidak terintimidasi dengan Yang Jia Li yang menatapnya penuh kebencian.


Yang Jia Li ingin melangkah, tapi tiba-tiba saja dadanya kembali sesak. Sekuat mungkin ia mencoba menahan rasa sakit yang kerap muncul belakangan ini, napasnya pendek dan ia bertumpu pada batang pohon di dekatnya. “Sial, kenapa lagi aku ini.” Keluhnya pelan.


“Pergi atau aku panggilkan prajurit untuk mengusirmu!” sentak Wu Li Mei, “Kalau kaisar sampai tahu, maka hukumanmu akan ditambah lagi.”


“Kau akan selamanya mendekam di kuil itu, Yang Jia Li!”


“Tidak akan pernah kembali, dan istana ini akan membuangmu!”


Suara tangisan Zhou Jiang Wu mengalihkan perhatian Wu Li Mei dari musuhnya, dia menoleh kepada bayi mungil yang sengaja ia tinggalkan tertidur di aula utara. Langkah yang masih belum terlalu kuat itu membawa si anak laki-laki untuk berjalan menghampiri Wu Li Mei dengan tangisan berderai karena tak mendapati Wu Li Mei disampingnya.


Baru saja hendak menunduk untuk menyambut Zhou Jiang Wu yang sebentar lagi sampai di depannya, Wu Li Mei merasakan ada sesuatu yang menusuk tengkuk lehernya dan detik selanjutnya dia limbung dengan pandangan berkunang. Hal terakhir yang bisa ia lihat sebelum matanya terpejam dengan rasa pening yang luar biasa adalah Jiang Wu terduduk seraya memeluknya.


“Tidurlah selamanya, Wu Li Mei.”

__ADS_1


__ADS_2