
Matahari sudah condong untuk kembali ke peraduan, dan paviliun yang disiapkan untuk rombongan Kekaisaran Ming mendapatkan tamu tak terduga. Para dayang dan pengawal menjadi heboh seketika, belum lagi kedua junjungan mereka belum terbangun dari tidurnya. Mereka sibuk mempersiapkan penyambutan sederhana. Sudah menjadi tradisi bahwa tuan rumah akan menyambut tamunya satu persatu dan saling bertukar hadiah. Pertukaran hadiah telah disepakati tidak dilakukan di depan umum untuk menghindari adanya perbedaan yang berakhir dengan ketidak-harmonisan, penobatan kaisar kali ini akan digelar dengan sangat megah dan pesta rakyat yang meriah. Sehingga para tamu undangan dari berbagai kekaisaran ikut hadir dan menyambut kaisar baru itu. Sore ini, kaisar, permaisuri dan putra mahkota kekaisaran tuan rumah datang berkunjung. Mereka semua sudah tidak sabar untuk bertemu putri bungsu tersayang yang cantik jelita itu. Dahulu Wu Li Mei sangat terkenal akan kecantikkannya, keanggunan dan kecerdasannya. Mereka tentu penasaran bagaimana wajah putri mereka setelah belasan tahun tidak bertemu.
Dayang Yi tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan, di ranjang itu Wu Li Mei tengah terlelap karena kelelahan selama di perjalanan. Sang dayang mengetuk pintu kamar Wu Li Mei, letaknya sedikit jauh dengan kamar Kaisar Zhou, paviliun itu cukup luas dan punya banyak kamar. “Yang Mulia? Apa anda sudah bangun?” tanya Dayang Yi setengah berteriak.
“Yang Mulia? Anda mendengar saya.”
“Yang Mulia? Apa anda sudah bangun? Ada tamu penting yang datang berkunjung.”
Dayang Yi menempelkan telinganya pada pintu, dan samar ia mendengar Wu Li Mei memanggilnya. Tanpa menunggu lagi wanita itu segera masuk dan menghadap sang junjungan. “Salam, Yang Mulia. Mohon persiapkan diri anda, karena Kekaisaran Hang telah datang untuk menyapa. Ada ayah dan ibu anda yang tidak sabar ingin bertemu dengan anda.”
“Apa?!”
“Iya, Yang Mulia. Mereka sudah menunggu aula paviliun.”
Kedua mata Wu Li Mei membulat sempurna, secepat ini kah? Padahal dia baru saja terbangun dari tidur dan sudah harus bertemu dengan mereka. Sang selir berdebar, ia gugup menghadapi apa yang akan terjadi setelah ini. Bertemu dengan orang tua sang pemilik raga yang sama sekali tidak ia ingat bagaimana rupa dan sifatnya, dia sungguh tidak tahu apapun tentang tempat ini. Wu Li Mei hanya menurut saat beberapa dayang datang untuk mempersiapkannya, mengganti hanfu dan memberikan riasan sederhana. Jika mereka sudah datang, itu artinya tidak boleh membuat mereka menunggu lebih lama lagi.
“Dayang Yi?” panggil Wu Li Mei.
“Ya, Yang Mulia?”
__ADS_1
“Apa mereka tahu aku terjatuh ke danau dan kehilangan ingatanku?”
Dayang Yi tampak berpikir sejenak lalu mengangguk, “Sepertinya ayah dan ibu anda tahu tentang hal itu, Yang Mulia. Istana selalu mengirimkan surat tentang keadaan anda kepada Dinasti Hang setiap bulannya. Sudah pasti semua yang terjadi kepada anda telah dituliskan dengan benar disana. Ada apa, Yang Mulia? Apa ada sesuatu yang salah?”
Sang selir menggeleng, “Tidak ada, aku hanya merasa bersalah karena melupakan mereka. Bahkan setelah sampai disini, aku tidak mengingat satu pun kenangan bersama mereka, Dayang Yi.”
“Mohon jangan bersedih, Yang Mulia. Saya yakin mereka akan memaklumi keadaan anda, anda adalah putri tersayang mereka biar bagaimana pun keadaannya.”
Helaan napas dalam dari Wu Li Mei terdengar, ia menatap pantulan dirinya di cermin yang sengaja dibawa. “Sejak kemarin kau dan kaisar selalu mengatakan bahwa aku anak tersayang, putri tersayang, apakah benar aku sedemikian disayang?”
“Tentu, Yang Mulia. Anda sangat disayangi oleh Kekaisaran Hang.” Balas Dayang Yi membenarkan.
“Maafkan saya jika ada yang salah, Yang Mulia. Keterbatasan pengetahuan saya tidak bisa mengingat banyak hal, tapi seingat saya, ayah anda adalah Kaisar Wu Zhang Hao dan ibu anda adalah Permaisuri Liu Yang Li. Untuk saudara anda, saya hanya mengetahui nama putra mahkota saja, Wu Zhen.”
Wu Li Mei hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bangkit dan segera berjalan dengan anggun keluar dari kamarnya. Nama mereka tadi, jelas sang selir tidak ingat, tapi yang pasti mereka akan mengerti keadaannya. Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan terjadi, dan semoga semua berjalan dengan baik. Langkah demi langkah itu terasa berat dan mendebarkan, beberapa kali ia mencuri pandang jika saja kaisar datang untuk menyelamatkannya. Wu Li Mei mengambil napas dalam saat pintu aula paviliun itu terbuka, ada beberapa orang dengan pakaian bagus dan mahkota kaisar duduk disana seraya berbincang. Mereka langsung menyadari kehadiran Wu Li Mei lalu tersenyum cerah menatapnya.
“Itu…” Wu Li Mei membeku di tempat, ada perasaan yang muncul tanpa sebab setelah melihat mereka. Kedua matanya memanas dan sang selir hanya mematung di tempat.
Wanita cantik itu menyentuh dadanya, debaran jantung yang menggila itu berhenti digantikan rasa rindu yang membuncah. Wu Li Mei tidak pernah berpikir akan melihat wajah-wajah itu lagi, semua pertanyaan memenuhi benaknya. Tentang apakah dunia paralel itu benar adanya? Jika iya, apakah yang dilihatnya kini adalah ayah dan ibu dari Marissa Darwanti, atau apakah mereka reinkarnasi, atau mereka orang yang berbeda dengan wajah sama?
__ADS_1
Semua ini terasa sangat membingungkan, Wu Li Mei enggan mendekat dan memilih tetap diam di tempatnya. Pandangannya kosong menatap ketiga orang itu, wajah mereka sama persis dengan wajah orang-orang yang dikenali Risa dulu. Wajah Kaisar Wu sama dengan wajah sang ayah, wajah permaisuri juga sama, hanya saja wajah putra mahkota sama dengan wajah kakak sepupunya. “Bagaimana mereka ada disini juga?” guman Wu Li Mei.
“Ada apa, selir agung. Kemarilah dan sambut mereka!” ujar Kaisar Zhou yang sudah lebih dulu menyapa tuan rumah itu.
“Apa Mei-mei sedang sakit? Atau dia masih kelelahan?” tanya Permaisuri Liu Yang Li, wanita tua sebaya ibu suri dengan wajah damai berseri.
“Maaf, Yang Mulia. Sepertinya Mei’er sedang berusaha mengingat kembali tentang keluarganya. Mohon untuk maklum karena kesehatan Wu Li Mei jadi terganggu setelah tenggelam di danau.” Ujar Kaisar Zhou penuh rasa bersalah, awalnya tentu kedua orang tua Wu Li Mei sangat marah mendengar hal itu. Tapi melihat keadaan sang putri, benar-benar terlihat menyedihkan.
Liu Yang Li bangkit dan melangkah mendekat, wanita itu tidak mampu menahan air matanya melihat Wu Li Mei, sang putri tersayang yang tampak sendu. “Putriku?” panggilnya.
“Oh putriku, apa yang terjadi padamu.” Permaisuri Liu Yang Li menyentuh wajah kaku sang putri, Wu Li Mei masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu, dan itu sudah belasan tahun yang lalu. Secara fisik, Wu Li Mei memang masih sama dan terlihat baik-baik saja, tapi jiwanya… kosong. “Mei-mei, apa kamu mengingat ibu?”
“Ibu?”
“Kau mengingatku?”
“Aku tidak yakin, tapi aku mengingat wajah ibu.” Jawab Wu Li Mei.
Air mata Wu Li Mei menetes bersamaan dengan pelukan hangat sang ibu untuknya, ia menenggelamkan wajahnya dalam hangat pelukan itu dan menangis sejadi-jadinya. Rindu? Tentu saja ia merindukan mereka, terlepas dari mereka adalah orang tuanya atau hanya berwajah sama, tapi mereka sanggup menjadi penawar rasa rindu itu.
__ADS_1