
"Saya sudah menulis resep obatnya, berikan ini kepada penjaga toko di depan dan kau akan mendapatkan obat." ujar Wu Li Mei, ia memberikan selembar kertas kecil kepada pasiennya.
Seorang wanita tua dengan anak remajanya mengangguk, "Baik, nyonya, terima kasih."
"Terima kasih kembali."
Praktek pertama sebagai dokter telah dimulai, rasanya sedikit gugup dan kaku hari ini. Mungkin karena ia sudah lama tidak bertemu dengan pasien dan mendiagnosis penyakit.
Tapi sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja, prakteknya berjalan lancar sekalipun belum banyak pasien yang ia dapat. Banyak dari masyarakat masih ragu untuk berobat kepadanya, sebagian lagi takut karena tidak punya cukup uang. Padahal Wu Li Mei sendiri sudah memberikan pengumuman dengan jelas, isi pengumuman itu pun ditulis dengan rapi oleh sang putra mahkota dan ditempel di depan toko. Wu Li Mei tak bisa berharap banyak karena rata-rata masyarakat miskin memang tidak bisa membaca.
Sang selir agung menulis nama pasien, penyakit, obat, dan tanggal ia berobat. Sebagai rekapitulasi dan barang bukti yang terstruktur.
Wu Li Mei mendongak, ia mengerutkan keningnya mendapati wanita tua dan anaknya masih duduk di hadapannya. "Apa yang kalian tunggu?"
"Emm, maaf nyonya."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Apakah kami harus membayar?"
"Untuk apa?"
"Untuk pengobatan yang anda lakukan." jawab wanita itu. "Biasanya tabib akan meminta bayaran untuk itu."
Wu Li Mei tersenyum dibalik cadarnya, wanita itu selalu mengenakan cadar agar tidak ada yang mengenalinya, juga sebagai pengganti masker medis.
Tangan wanita itu terulur, untuk membelai pasien kecil yang baru saja selesai ia periksa. "Tidak perlu, aku sudah menegaskan bahwa pemeriksaan yang kulakukan ini gratis, kalian hanya harus membayar untuk obat saja."
"Ya, tentu saja."
Wanita miskin yang datang bersama cucunya itu tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya, ia bangkit sambil menggendong cucunya. "Terima kasih banyak, nyonya."
"Sama-sama."
Mereka pun pamit untuk menebus obat di apotek yang bersebelahan dengan ruang praktek Wu Li Mei, rasanya semua sangat mudah disini, apotek itu menerima pembayaran dalam bentuk uang logam maupun barang dagangan. Harga obat disana pun sangat terjangkau, dan yang pasti manjur.
__ADS_1
Toko Obat Nyonya Wu, dalam sebulan ini telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat umum Dinasti Ming. Toko obat itu kian ramai dan kehidupan rakyatnya pun menjadi lebih sehat. Tak hanya dari kalangan bangsawan, tapi juga rakyat biasa tak segan untuk melakukan pengobatan. Satu-satunya yang sangat disayangkan adalah sang nyonya hanya membuka praktek pada penghujung minggu, padahal pasien datang setiap hari. Hal itu pun membuat Wu Li Mei sangat sibuk di hari kerjanya.
Tapi percayalah, bahwa semua ini sungguh membuatnya jauh lebih hidup. Tidak ada lagi bosan dan bingung harus melakukan apa, tidak ada lagi berkeliling istana tanpa tujuan yang jelas, tidak ada lagi berkebun setiap hari di berbagai taman istana.
Wu Li Mei melakukan peregangan karena otot-ototnya terasa kaku, ini juga akibat terlalu banyak duduk. Wu Li Mei hanya melakukan pemeriksaan singkat, dan pasien sendiri yang menyebutkan keluhannya.
Ya, kini masyarakat Dinasti Ming sudah jauh lebih maju.
"Apa kau ingin secangkir teh, bu?" tanya Zhou Fang Yin, ia dan sang putra mahkota bagaikan sayap Wu Li Mei yang tak pernah mau ketinggalan.
Wu Li Mei tampak menimbang sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah, mungkin secangkir teh akan bagus sebelum pulang." ujarnya sambil bergabung bersama yang lainnya.
Meng Suo cekatan, sebelum Zhou Fang Yin turun tangan ia lebih dulu menawarkan diri untuk membuatkan teh.
"Terima kasih, Xiao Meng!"
"Sama-sama, nyonya."
__ADS_1