Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Bertemu langsung


__ADS_3

Kelimpungan, satu kata itu yang mampu menggambarkan betapa bingungnya kedua anak Wu Li Mei setelah mereka masuk ke dalam toko obat. Lembaran daftar pasien sang ibu selanjutnya justru diserahkan kepada orang-orang suruhan Tabib Zhong.


Mereka bersembunyi sambil melihat sang kaisar lewat celah kecil di pintu, "Astaga! Bagaimana ini, bagaimana kalau ayah sampai tahu?" bingung Zhou Fang Yin yang melihat kaisar masih setia menunggu di salah satu kedai makan bersama dengan Panglima Hao yang sedang menyamar.


"Bagaimana kak? Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" desak gadis itu.


"Aku juga tidak tahu." jawab sang putra mahkota, "Bagaimana kalau kita mencegah kaisar agar tidak bertemu ibu saja?"


"Iya, tapi caranya bagaimana? Ayah menunggu di luar dan tidak mungkin akan pergi sebelum dapat bertemu dengan ibu. Aku yakin itu!"


"Aku juga yakin itu."


Zhou Fang Yin mencubit kecil lengan sang kakak, "Kau ini bercanda saja!"


"Yaa biar kita sedikit santai sedikit, kau terlalu takut."


"Memangnya kau tidak takut? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau sampai kita ketahuan maka toko obat ini kemungkinan akan dilarang oleh ayah."


"Sesuai peraturan istana ini memang benar, dan lagi ibu berpesan untuk jangan sampai ada yang tahu terutama ayah." jawab putra mahkota, dia juga celingukan menatap kesana kemari untuk memastikan kaisar tidak akan tiba-tiba datang dan menepuk bahunya lagi, padahal mereka ada di dalam ruangan.


Mereka tidak bisa berlama-lama di dalam karena antrean di luar harus mereka kendalikan, para suruhan Tabib Zhong mungkin kesulitan memanggil satu persatu orang atau menghadapi mereka yang ingin menyerobot barisan. Sebentar lagi waktu makan siang karena matahari sudah berada di puncak kepala, dan mungkin kaisar akan berkunjung pada waktu itu.


"Bagaimana kalau kita menyamar saja?" tanya Zhou Ming Hao.


Sang adik mengerutkan keningnya, "Menyamar bagaimana?"


"Aku saja yang menjadi ibu saat makan siang nanti, kau panggil ayah agar bertemu denganku lalu kau bisa membawa ibu pergi ke tempat lain. Atau kita bilang saja pada ibu kalau ayah akan berkunjung, lalu ibu pergi dan aku menjadi ibu."


"Ahha! Itu ide yang cemerlang!" puji sang adik membuat Zhou Ming Hao berbangga hati dengan otaknya yang dipuji cemerlang. "Tapi semua orang tahu Nyonya Wu itu perempuan, bagaimana nanti kau akan menyamar sebagai seorang perempuan hem?"


"Ah, benar juga."


"Ayolah kakak, berikan ide yang baik."

__ADS_1


"Aku sedang berusaha memutar otak! Coba sekarang kau sampaikan pendapa---"


"Kenapa kalian disini?"


Mendengar suara itu membuat dua remaja itu tersentak kecil, mereka menoleh kaku ke arah Wu Li Mei yang sedang berjalan menghampiri mereka dengan Dayang Yi dan Lu Yan.


Si sulung menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari memamerkan deretan gigi yang tersusun rapi, "Ah, tidak ada bu, kami hanya sedang berdiskusi singkat saja."


"Mengenai apa?" tanya Wu Li Mei penasaran.


"Makan siang!" celetuk Zhou Fang Yin, "Mau makan siang apa hari ini bu? Aku dan kakak berpikir sesuatu yang enak untuk makan siang hari ini. Tapi omong-omong, kenapa ibu disini?"


Wu Li Mei mengendikkan bahunya, "Sedang beristirahat, sudah pertengahan hari rupanya dan kita sangat sibuk hari ini, ibu khawatir kita tidak punya cukup waktu untuk makan siang. Jadi ibu akan mengutus Lan Suo saja untuk membeli makanan! Kalian ingin makan apa, katakan saja pada Lan Suo biar dia belikan untuk kita nanti ya." ujar sang selir agung.


"Nyonya Wu?"


Lan Suo datang padahal belum dipanggil oleh Wu Li Mei, pemuda itu bergopoh-gopoh datang menemui sang nyonya. Sampai di depan Wu Li Mei, dia justru bingung dengan orang-orang yang tengah berkumpul itu, tapi ia abaikan karena tujuannya menemui sang nyonya adalah untuk mengabarkan sesuatu.


"Ada apa Xiao Lan?" tanya Wu Li Mei.


Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin langsung membeku di tempat, mereka menunduk tidak berani menatap Wu Li Mei yang tertangkap dari sudut mata tengah menatap mereka. Sang ibu pasti peka dengan siapa yang dimaksud oleh Lan Suo. "Ya, suruh dia datang di ruang praktekku."


"Anda yakin nyonya?" tanya Dayang Yi cepat.


"Nyonya, tapi anda pasti tahu siapa yang dimaksud Lan Suo bukan?" Lu Yan menggelengkan kepalanya tegas, "Bukankah dia adalah seseorang yang kita semua kenali?"


"Biar aku menemuinya sendiri, kalian tunggulah disini saja!" tegas Wu Li Mei, sang nyonya berjalan kembali ke ruang prakteknya.


"Baik nyonya!"


"Baik bu!"


***

__ADS_1


Sesuai dengan arahan pemuda bernama Lan Suo yang menjaga toko obat, Kaisar Zhou dan Panglima Hao menunggu di dalam ruang praktek Nyonya Wu dengan penuh harap. Sebenarnya tujuan mereka untuk datang kesana, hanya kaisar saja yang tahu. Panglima Hao mengikuti sebagai pengamanan pribadi. Beberapa kali sang panglima mencoba meyakinkan kaisar agar tidak perlu bertemu dengan Nyonya Wu karena alasan sangat sibuk dengan pasien dan takut mengganggu.


Tapi kaisar tetaplah kaisar yang teguh pada pendiriannya, ini tidak akan lama karena dia hanya akan menyampaikan beberapa kalimat yang mungkin dapat membantu toko ini ke depannya.


Lama menunggu sang nyonya, akhirnya Kaisar Zhou melihat seorang wanita dengan hanfu sederhana dan cadar menutup wajah datang dari arah pintu. Sang kaisar pun bangkit dari duduknya, "Selamat siang, Nyonya Wu, maaf mengganggu waktu istirahat anda."


"Tidak masalah tuan, tapi memang saya tidak bisa berlama-lama karena harus kembali membuka praktek." ujar Wu Li Mei dengan nada suara yang sengaja ia buat berbeda. Satu hal yang pasti adalah, dia menghindari kontak mata dengan kaisar.


"Silahkan duduk!"


"Terima kasih."


"Ada perlu apa tuan mencari saya?" tanya Wu Li Mei langsung pada tempatnya, dia melirik Panglima Hao singkat sebelum kembali menunduk. Sang panglima juga tidak bisa berkata apa-apa saat ini selain diam.


Kaisar Zhou lama menatap wanita bercadar di hadapannya karena merasa sangat familiar dengan wajah itu, mirip sekali dengan mata tajam Wu Li Mei. Tapi apakah mungkin? Rasanya tidak karena sang selir sedang sibuk di istana bukan. Cadar yang menutup sebagian wajahnya itu adalah kuncinya, seandainya ia membuka cadarnya sudah pasti kaisar bisa melihat wajahnya.


Kaisar Zhou mengambil napas dalam, "Kedatangan saya sebagai utusan dari kekaisaran untuk menyampaikan kepada anda bahwa kekaisaran siap untuk membantu jika terjadi masalah seperti tempo hari. Peran anda bagi rakyat sangat besar, dan luar biasa membantu meredakan wabah dengan toko obat ini. Jadi kalau anda membutuhkan obat herbal yang sulit didapatkan, anda bisa mengatakannya dan kekaisaran akan membantu."


"Kekaisaran?"


"Iya, nyonya?"


Wu Li Mei mendongak dan menatap Panglima Hao, sang panglima memberi isyarat dengan mengangguk.


"Apakah ini benar?"


"Saya bisa menjaminnya, Nyonya Wu." ujar kaisar penuh ketegasan, "Kekaisaran akan membantu dengan bersungguh-sungguh jika anda membutuhkan. Kedatangan saya kemari adalah untuk menyampaikan dukungan secara langsung kepada anda."


"Dan kalau anda tidak keberatan, kekaisaran juga mengundang anda untuk makan malam di istana!" ujar sang kaisar.


Wu Li Mei membulatkan matanya, makan malam di istana tentu bukan ide yang bagus dan menolak juga bagaimana. "Makan malam? Saya merasa sangat terhormat, tapi ... saya ... saya tidak bisa menerimanya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Saya mohon maaf atas kelancangan saya menolak undangan dari kaisar, tapi saya benar-benar tidak bisa ... saya harus pergi ke suatu tempat minggu ini untuk mencari herbal." alibi Wu Li Mei.


Kaisar Zhou mengangguk paham, "Saya mengerti, tapi undangan itu akan berlaku sampai anda memiliki waktu luang nyonya. Kami akan sangat menunggu kehadiran anda di jamuan makan istana."


__ADS_2