Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Akhirnya pulang


__ADS_3

Kapal besar itu akhirnya bersandar di pelabuhan setelah beberapa waktu mengarungi lautan yang ganas, cuaca di laut sangat tidak bisa ditebak, kadang cerah dan kadang ada badai. Awak kapal sempat kesulitan mengendalikan kapal agar tidak terbalik saat ada badai, beberapa kali juga benda besar terbuat dari kayu itu hampir tenggelam di telan ganasnya ombak. Jika saja tidak dikendalikan dengan baik, rombongan Kaisar Zhou dan Wu Li Mei pasti tidak akan kembali dengan selamat. Tapi, di siang hari yang terik ini, akhirnya mereka semua bisa kembali dengan selamat.


Wu Li Mei melakukan peregangan ototnya yang terasa kaku karena terus berdiam di kapal, belum lagi ia harus menahan mual dan muntah saat kapal tergoncang hebat oleh ombak, syukurlah ia tidak mabuk laut seperti Dayang Yi hampir pingsan. “Xiao Yan, cepat bawa Dayang Yi ke pelabuhan, bawa dia untuk berbaring di tempat yang teduh dan carikan teh herbal!”


“Baik, Yang Mulia.”


“Apa Dayang Yi tidak bisa berjalan sendiri? Haruskah ku perintahkan pengawal untuk membantu?” tawar Wu Li Mei, sekilas ia melihat keadaan kacau sang dayang yang mabuk laut.


Lu Yan menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, Yang Mulia, kami masih bisa membawanya turun dari kapal dan mencari tempat berteduh. Anda tidak perlu khawatir, Dayang Yi pasti akan segera membaik. Dia pasti akan segera membaik setelah minum herbal dari toko obat Nyonya Wu.”


“Ah, benar, Yang Mulia. Kemarin saya juga membeli beberapa obat disana dan sembuh dalam waktu dekat.” Tambah dayang yang lain.


Wu Li Mei mengerjap kelopak matanya berulang kali, toko obat sudah lama sekali tidak ia kunjungi karena ada banyak hal yang harus diurus, terlebih sekarang Yang Jia Li lagi-lagi membuat masalah dengannya. Tapi, jika toko obat itu bisa sampai di telinga para dayang yang notabene selalu berada di istana, apakah toko obat memang sudah terkenal. Lalu apa kabar Suo bersaudara? Mungkin Wu Li Mei harus memberi mereka banyak bonus keping logam sebagai balasan untuk kerja keras mereka, dan untuk Tabib Zhong yang selalu setia bertanggungjawab pada toko obat, beberapa jenis herbal langka yang ia bawa dari Negeri Hang pasti akan membuatnya senang.


Tapi, rasa penasaran Wu Li Mei akan seberapa jauh para dayang mengetahui toko obatnya sangat luar biasa. Sang selir menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa apakah ada Kaisar Zhou atau siapapun yang bisa mendengar percakapan mereka. “Toko obat Nyonya Wu?” tanya Wu Li Mei.

__ADS_1


Lu Yan mengangguk, “Iya, Yang Mulia. Toko untuk membeli obat herbal yang sudah diracik, kita hanya tinggal menyeduhnya dengan air hangat atau dimasak ditungku arang lalu diminun. Kata orang-orang di pasar, banyak dari mereka yang langsung sembuh setelah meminum ramuan herbal dari Nyonya Wu.”


“Begitu ya…” Wu Li Mei mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau begitu siapa Nyonya Wu ini? Kalau dia bisa membuat ramuan herbal sudah pasti dia orang yang terdidik bukan? Apakah dia seorang tabib atau bangsawan?” tanyanya berpura-pura ingin tahu.


Para dayang yang sedang memapah Dayang Yi itu hanya menggeleng sebagai jawaban, “Sayangnya saya juga tidak tahu, Yang Mulia. Kata orang-orang, Nyonya Wu membuka konsultasi kesehatan di penghujung minggu, tapi hanya beberapa kali saja, dan saya juga belum pernah bertemu dengannya.”


“Dari kabar yang beredar, Nyonya Wu memakai cadar dan hanfu sederhana yang elegan, wajahnya seputih susu dan sangat cantik sekalipun tertutup cadar. Dia sangat sopan dan ramah, dia tidak membedakan kaum bangsawan dan rakyat biasa. Toko obat juga tidak punya prioritas untuk bangsawan dan selalu memperlakukan semuanya sama. Ah, saya sangat ingin bertemu dengan Nyonya Wu, Yang Mulia.”


Wu Li Mei tersenyum tipis lalu segera menormalkan ekspresi wajahnya, “Ya sudah, cepat bawa turun Dayang Yi dan carikan dia obat!” titahnya.


“Baik, Yang Mulia.”


Wu Li Mei turun dari kapal bersama Kaisar Zhou dan Yang Zhe Yan, kedatangan mereka telah disambut oleh senyuman hangat kedua anak kembarnya dan Panglima Hao. Di sudut yang berbeda, sang permaisuri juga turut hadir, dia membawa banyak dayang yang memayunginya dari terik matahari. Yang Jia Li tampak diam dan sedang memikirkan sesuatu, bisa ditebak itu adalah ibu jari dayang pengkhianat yang segaja dikirim untuknya sehari sebelum Wu Li Mei pergi meninggalkan Negeri Hang. Wu Li Mei tersenyum miring, tidak sia-sia ia bersusah payah mengirim elang pembawa pesan untuk kejutannya pada Yang Jia Li. Dan sepertinya, permaisuri itu sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Jika dihitung-hitung, ibu jari itu pasti sudah membusuk dengan banyak belatung di dalamnya.


Kedua anak tersayang Wu Li Mei segera melangkah mendekat dan memberi salam kepada Kaisar Zhou dan sang selir agung. Wajah mereka tampak sangat bahagia menyambut kembali kepulangan mereka ke Negeri Ming dengan selamat, “Syukurlah perjalanan berjalan dengan baik, Yang Mulia Kaisar.” Ujar Zhou Ming Hao.

__ADS_1


“Terima kasih, putra mahkota.”


“Bu, aku sangat merindukan ibu.” Zhou Fang Yin segera memeluk sang ibu erat-erat, gadis muda itu begitu senang karena rasa rindunya akhirnya terbayarkan. Saat Wu Li Mei pergi, dia merasa takut tiap kali harus bertemu dengan Yang Jia Li, siapa yang tahu jika sang permaisuri akan kembali mencekiknya atau mendorongnya ke danau. Maka dari ibu, Zhou Fang Yin menghindari segala pertemuan dengan permaisuri. “Apakah ibu baik-baik saja disana? Disini tidak terlalu baik.” Bisik sang putri.


“Benarkah? Apa yang terjadi?”


“Nanti saja kita bercerita setelah sampai di istana, bu.”


Wu Li Mei mengangguk, dari yang ia lihat kedua anaknya tampak baik-baik saja saat ini, tapi bisa saja hari kemarin tidak demikian. Awas saja jika Yang Jia Li berani menyentuh mereka saat dirinya pergi ke Negeri Hang, dia akan membuat perhitungan dan pembalasan yang setimpal.


Zhou Ming Hao mendekat dan memeluk sang ibu, “Aku senang ibu kembali dengan selamat, aku sangat khawatir saat para nelayan bilang di teluk sedang ada badai. Dua hari kemarin hujan lebat dan berangin sangat sering terjadi, jadi kupikir ibu akan menunda perjalanan pulang.”


“Tidak, Xiao Ming, aku tidak bisa meninggalkan istana terlalu lama.”


“Ada banyak hal terjadi bu, salah satunya, ibu suri tiba-tiba sakit setelah menyantap hidangan di paviliun permaisuri.” Bisik Zhou Ming Hao tepat di telinga sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2