
Hafis dan Aldo akhirnya berbaikan dan kembali ke kelas mereka. Sampai dikelas ternyata sang dosen telah memberi materi. Aldo, Bastian dan Hafis kembali ke bangku mereka. Namun, Hafis menjadi agak canggung saat akan duduk dibangkunya, ia sempat melihat Sasha untuk mengetahui bagaimana ekspresinya saat ini, ia yakin Sasha pasti mendengar dengan sangat jelas perkataan Aldo tentang dirinya. Namun Hafis sedikit lega karena Sasha masih tersenyum seperti biasa kepadanya.
Padahal aslinya Sasha berusaha mengatur espresinya agar terlihat seperti biasanya. Tidak ada orang yang tidak akan kepikiran jika mengetahui sahabat baik yang selalu dekat dengannya memiliki sebuah perasaan khusus, walau entah hal tersebut benar atau tidak, otomatis akan mengganjal dihati.
Mereka akhirnya fokus dengan materi, hingga jam pertama berakhir, lalu berlanjut jam berikutnya. Tiba tiba Aldo memberikan ponselnya kepada Sasha.
^^^Mas Aldo dan teman teman saya tunggu ya, semoga tidak ada halangan. (pak kades)^^^
Begitulah isi pesan yang diberikan Pak Kades kepada Aldo.
"Do! Gimana? Ini baru jam 10, jadi ga konsen lagi nih." ucap Sasha lirih ketika ia mengembalikan ponsel Aldo.
"Bolos aja yuk, gimana Bas." ucap Aldo
"Kayaknya kita harus segera cus nih, pasti ini penting banget." Bastianpun akhirnya setuju dengan ide Aldo.
"Kita izin aja, ga enak sama dosen. Fis.... Kamu... Mau ikut kan? Kita mau ke magelang." ucap Sasha
"Aku ga ikut, kalian aja yang pergi nanti aku yang ngurus izin kalian sama nyatetin materi." Hafis menolak untuk pergi, ia yakin pasti Faisalpun akan membersamai mereka, dan ia belum nyaman bertemu dengan Faishal.
"Wah pas banget tuh Fis kita bagi tugas yah, makasih banget bro, yuk izin sekarang aja. Eh iya Sha, Kak Faisal dihubungi sekarang biar nyiapin Cilla." ucap Bastian
"Oke, dah ya Fis kita cabut dulu, makasih yah." Sasha berbicara kepada Hafis namun matanya tak mampu melihat Hafis, semakin lama ia tak mampu menahan kecanggungannya.
Mereka akhirnya keluar kelas, ternyata dua orang dikelas sebelah telah berlari kearah mereka sambil terengah engah.
"Lho kalian dah keluar aja." ucap Sasha ke Fitha dan Dennis, mereka berdua sudah diberi pesan oleh Aldo dan langsung keluar kelas.
"hah hah hah, duh Fitha cepet banget larinya, dia takut ditinggal katanya. Minum dulu yah bentar." Ucap Dennis yang kemudian duduk dibangku sekitar mereka.
"Hafis ga ikut?" Tanya Fitha
"Engga, kita bagi tugas, nanti dia yang ngizinin sampe jam ke empat." Ucap Sasha
__ADS_1
"Yaudah ayok kerumah gue dulu jemput Kakak ma Cilla." Aldo bergegas kearah parkiran, dan mereka semua menuju kerumah Aldo.
Faisalpun dengan sigap menyiapkan segala keperluan Cilla, lalu setelah Sasha datang ia mengeluarkan mobilnya.
" Fitha kamu semobil ma aku aja." jawab Sasha.
"Ma gue aja Fith, ntar gue ngantuk kalo lo ga nemenin gue, biasanya elo duduk samping gue." rengek Aldo
"Ya dah sana Fith, urusin tuh bayi gedemu." Ucap Sasha sambil tersenyum senyum.
"ck, manja banget!" Fitha kesal karena harus berpisah dari Sasha namun walau ia mengomel seperti itu tetap saja ia lakukan yaitu menuruti keinginan Aldo.
Bastian dan Dennis awalnya ingin menaiki motor milik Bastian berdua saja, namun dicegah oleh Fitha, ia tak mau berdua saja dengan Aldo dimobil.
Kedua mobil melaju ke arah Magelang tepatnya kerumah milik Pak Kades. Sepanjang perjalanan Cilla sibuk dengan mainan barunya, dan selalu merengek saat mainannya jatuh.
"uuu, huk huk, uuuuu huk."regek Cilla
"uhh sayang, jatuh ya mainannya, bunda ambilin nih." ucap Sasha lembut lalu ia menciumi lengan Cilla yang sangat menggemaskan baginya.
"kan sekarang kita dah punya Cilla mas, nanti kalo Tuhan sudah ngizinin kita punya bayi sendiri pasti dikasih." ucap Sasha membuat Faishal sumringah lalu menggenggam tangan Sasha dengan tangan kirinya.
" aamiin, tapi kamu bisa ngurus dua bayi sekaligus? Kamu dah siap jadi ibu? Kamu pastinya masih sibuk dengan kuliah kamu, bahkan sebentar lagi kamu KKN kan? Apa kamu bener bener yakin? Aku juga kepingin banget punya anak, tapi aku ga mau maksa kamu kalo kamu belum siap." ucap Faishal
"aku siap koq, aku ga mau nunda nunda, aku takut seperti bibiku di Lampung, inget kan? bibi bungsunya ibu? Dulu dia menikah muda dan belum mau punya anak dulu, tapi malah belum punya anak sampe sekarang, aku ga mau kayak gitu mas, toh Cilla belum tentu jadi milik kita selamanya." Ucap Sasha, ia jadi kepikiran bagaimana jika hari ini jejak orang tua Cilla ditemukan.
"Semoga kita segera diberi amanah ya, aku lega sekarang kalo dah dapet lampu hijau dari kamu, kita harus berjuang tiap hari nih yah yah." Ucap Faishal menggoda Sasha ia tahu wajah istrinya mulai sendu.
"ih mas...! untung anak anak ga ikut mobil kita, kalo ikut malu tauk." Sasha masih geli jika dibercandai seperti itu oleh Faishal, benar benar diluar dugaannya, ia kira sang suami itu adalah orang yang kaku dan tak pandai bercanda, ternyata ia orang yang hangat.
Rumah Pak Kades semakin dekat, Sasha semakin berdebar, ada hal penting apakah yang mengharuskan mereka datang kesana hari ini. Apa orang tua Cilla ditemukan? Sasha menjadi galau hatinya, ia menjadi tak rela berpisah dari Cilla.
"Mas, kalo tiba tiba Cilla diminta hari ini gimana yah." tiba tiba suaranya bergetar
__ADS_1
"sayang, jangan khawatir dulu, belum tentu kan kita akan langsung berpisah hari ini." ucap Faishal yang tangannya mengusap air mata Sasha yang mulai menetes.
"Aku sayang banget sama Cilla mas, aku ga tau gimana kalo Cilla pergi.hiks." Sasha akhirnya tak kuasa lagi, ia langsung menangis dan memeluk Cilla dengan erat, diciuminya puncak kepala Cilla berkali kali membuat sang bayi ikut menangis.
"uaaaa, huk huk, huaaaaa." tangisan Cilla terdengar sendu, seolah faham jika sang bunda amat sedih
"Sayang maafin bunda sayang, cup cup sayang, jangan nangis nak, Bunda sayang Cilla." ucap Sasha yang meminta Cilla untuk tidak menangis namun dirinya sendiri tak mampu menyudahi tangisnya.
Akhirnya Faishal memberhentikan mobilnya dipiggir jalan, ia ingin memeluk sang istri agar lebih tenang. Aldo yang melihat mobil sang kakak berhenti akhirnya ikut kepinggir dan berhenti juga. Lalu ia keluar dari mobil khawatir jika terjadi sesuatu dengan mobil sang kakak. Karena tak biasanya sang kakak tiba tiba memberhentikan mobil dipinggir jalan.
"Kak kenapa?" Aldo bertanya setelah mengetuk jendela kaca mobil sang kakak.
"Lho Sha lo kenapa? Koq sampe kayak gitu nangisnya." Aldo terkejut melihat Sasha yang sudah sesenggukan di pelukan sang kakak ditambah Cilla yang juga mulai rewel.
"fitha suruh kesini aja deh dek, biar nemenin Sasha dibangku belakang, nanti kita ditilang nih kelaman berhenti." ucap Faishal, Aldopun mengangguk lalu meminta Fitha menaiki mobil sang kakak.
Fitha akhirya duduk dibelakang menenangkan Sasha yang juga sudah pindah kebelakang bersama Cilla. Mobil mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Kades yang hanya berjarak beberapa ratus meter lagi.
"Dah tenang kan? Kita memang sedih Sha kalo tiba tiba Cilla diambil orang tuanya, tapi kita ga boleh egois kan? Karena Cilla bukan milik kita. Tapi kita masih bisa ketemu dan saling silaturahmi nanti, belum tentu juga hari ini Cilla akan pergi dari kita. Kamu jangan gelisah lagi, tuh lihat Cilla ikutan gelisah lho, kasian kan? Bentar lagi sampe lho, kamu tenangin diri yah, tuh lihat matanya udah sembab gitu, mana tas Cilla? tuh muka di basuh dulu ma tisu basah sana" ucap Fitha yang membuat Sasha lumayan tenang
"iyah, nih Cilla ma onty Fitha dulu ya sayang, Bunda mau bersihin muka dulu." ucap Sasha lalu menyerahkan Cilla ke Fitha. Faishal menoleh kebelakang lalu tersenyum, ia lega sang istri sudah mulai tenang.
Akhirnya mereka sampai dipelataran rumah bernuansa jawa dimana halamannya sangat luas sehingga Aldo dan Bastian tak perlu bingung memarkirkan mobilnya. Lalu merekapun keluar dari mobil, ternyata disana sudah disambut oleh pak Kades beserta istri dan beberapa orang warga yang wajahnya belum mereka kenali. Kecuali Sasha, ia masih mengkondisikan dirinya didalam mobil sambil ditemani sang suami.
"Bentar mas, aku minum dulu biar ga tegang." ucap Sasha lalu meminum air mineral yang selalu disediakan Faishal dimobilnya.
"ready?" ucap Faishal menanyakan kesiapan sang istri
"iyah." ucap Sasha mencoba lebih tenang, walau hatinya banyak tanda tanya.
**********
Readers......! Pak Kades mau bilang apa ya? Koq ada orang lain juga.
__ADS_1
Nantikan next part yah....
Makasih sudah mendukung karya iniππ»