Bayi Kita

Bayi Kita
32


__ADS_3

Mobil Faishal sampai di basement tepatnya area parkir. Faishal tidak malu malu membawa tas bayi yang bergantung sebuah boneka. Sasha yang jadi kepikiran.


"Mas tas nya biar aku yang bawa."


"Gapapa aku aja nanti kamu berat. Kamu kalo capek gendong Cilla nanti gantian yah."


"mas ga malu bawa tas boneka?"


"engga lah kan tas bayi." ucap Faishal yang tak peduli, begitulah ia jika sudah sayang apapun akan dia lakukan. Terlebih hari ini adalah hari spesial pertamanya, mungkin akan jadi yang terakhir. Ia sudah bertekad akan mengukir kenangan indah hari ini bersama Sasha.


Mereka berjalan berdua terlihat amat serasi, mulai melihat lihat toko yang ada disana. Faishal mengajak Sasha ke toko asesoris, disana banyak sekali asesoris yang ditawarkan mulai dari asesoris bayi hingga dewasa khusus perempuan. Sasha bahagia melihatnya dipegangnya setiap barang yang ia suka lalu dilihatnya dulu harganya jika sesuai dengan uang yang ada didompetnya maka akan ia beli. Dicobanya beberapa bando bayi yang lembut dikepala Cilla, sekiranya jika dipakai Cilla sangat cocok makan Sasha akan menaruhnya dikeranjang kecil yang sudah ia ambil.


"wah dedeknya lucu umur berapa mba?" ucap SPG toko tersebut.


"Mau dua bulan mba."


"uhh cantik banget, lagi cari cari asesoris yah?"


"iya mba, masih ada lagi ga yang murah meriah buat bayi?" Tanya Sasha yang masih ingin membeli, karema menurutnya tidak terlalu mahal.


"Ya ampun sayang banget ya sama anaknya, itu lho mba suaminya dah beli banyak juga." pegawai toko menunjukkan jarinya kearah Faishal yang sedang asik sendiri sambil berbinar binar manatnya memilih berbagai asesoris.


"oh itu bukan suami saya mba." ucap sasha sambil tersenyum aneh


"ohhh kirain suaminya mba, kakaknya ya? soalnya ga mirip hihi maaf ya mba." ucap pegawai toko ramah.


Sasha lalu mendekati Faishal.


"mas kamu beli apa ini? jangan boros boros soalnya aq juga dah beliin." Ucap Sasha yang terpana melihat barang barang yang dipilih faishal, ada mainan yang lembut lembut, bando, spons buat mandi, kipas angin tangan yang lucu, berbagai macam keperluan bayi dan ada satu barang yang ia lihat sepertinya bukan untuk bayi. Sasha berfikir mungkin untuk diberikan ke bunda atau ke Vivi yang sepupunya. Tapiii jika untuk bunda mestinya terlalu muda untuk memakainya.


Faishal tahu sasha sedang mengamati apa yang ia beli lalu diambilnya keranjang Sasha lalu digabungkannya dengan barang barangnya.


"mas! jangan digabung biar yang aku bayar sendiri."

__ADS_1


"sekalian aja kan aku yang ngajakin"


"tapi...."


"Mba tolong dinotain yah. Sha kamu tunggu aja disana kalo capek nanti aku susul." ucap Faishal yang sudah mendekati pegawai toko.


Sasha jadi tidak enak, ia janji akan membelikan makanan untuk Faishal nanti walau ia sendiri cemas berapakah biaya makan di Mall ini.


"Mba yang ini bisa dibungkuskan jadi kado?? buatin yang cantik yah. Kira kira pantes buat yang disamping saya tadi" ucap Faishal saat menunggu nota.


"wah masnya sayang anak istri banget, saya jadi kepingin punya suami kayak jenengan mas hihi. Ada kembaran ga mas? kenalin saya yah." Faishal hanya bisa tersenyum senyum mendengar penuturan pegawai toko yang sedang membuatkan nota. Istri??? kenapa rasanya bahagia saat ada seseorang menyebut Sasha istrinya. Hari ini ia akan sedikit egois, karena esok hari mungkin takkan bisa seperti ini lagi. Mengingat kembali jika Sasha sudah ditunangkan wajahnya menjadi murung. Dipandangnya Sasha yang sudah duduk disalah satu kursi tempat menunggu,


"andai aku datang lebih cepat dari tunanganmu, apakah kamu akan memilihku?" ucapnya dalam hati, ia yakin dirinya tlah benar benar jatuh hati kepada Sasha. Setelah beberapa hari ini menyibukkan dirinya di Rumah sakit menggantikan Alman bertugas siang malam agar hari minggunya bebas berpergian dengan sasha dan untungnya Alman bisa diajak kerjasama, dengan syarat Faishal harus menjelaskan kepada Alman alasannya. Akhirnya berceritalah ia tentang kegundahan hatinya kepada Sasha diceritakannya lengkap tak seperti ketika ditanya bunda dan kesimpulannya sama.... ia tlah jatuh cinta kepada Sasha. Itulah yang Alman sampaikan hingga muncullah keyakinan bahwa ia benar benar tlah jatuh cinta. Tapi apa daya, tak mungkin kan merebut orang yang sudah terikat? bahkan ia belum tahu tentang perasaan Sasha padanya.


Faishal mendekati Sasha setelah membayar. Lalu meminta tolong agar barangnya diantar ketempat dimana Sasha duduk. Sasha menyambutnya dengan senyuman. Faishal meminta Cilla untuk digendongnya, dan mulailah ia berinteraksi dengan Cilla membuat bayi mungil tersebut mulai tertawa. Sasha yang melihatnya menjadi menghangat hatinya.


Pegawai toko datang menyerahkan barang, Faisal hendak mengambilnya namjn sudah keduluan Sasha,


"kalo berat bilang ya."


"hm" Sasha mengangguk dan tersenyum kecil


"haduh mas mba saya jadi pingin nikah, hihiihi. oiya ini ada voucer Photobook mas mba, karena oembelian sebanyak 200rb bisa mendapatkan 1 tiket Photobox disana ya monggo." Ucap sang pegawai yang senyam senyum saja melihat interaksi pasangan muda didepannya.


Faishal mengajak Sasha kesana. Ia amat bahagia, photobox ini benar benar kejutan, tak terfikirkan selama ini olehnya. Akhirnya ia akan mempunyai foto bersama Sasha dan Cilla bak keluarga kecil, walau hanya sementara akan ia jadikan kenang kenangan yang berharga.


"tapi cilla jangan kelamaan kena lampu blitz ya mas."


"ruangannya dah terang koq ga pakek blitz."


"oh maaf he aku belum pernah soalnya mas." Sasha jadi malu dikiranya seperti studio foto pada umumnya.


"makanya ini dicoba. yuk masuk."

__ADS_1


Faishal masuk ke ruang photobox, namun Sasha ragu karena ruangannya terlalu kecil, bayangan Sasha masih seperti salon foto seperti biasanya. Ia jadi bingung bagaimana cara Fotonya jika ruangannya sesempit ini mana mungkin muat, bahkan jika ia dan Faishal masuk bersamaan akan sangat mepet.


"mba nanti dicetak masing masing dua ya saya nambah gapapa." ucap Faishal pada penjaga photobox yang bertugas mengelola print.


Faishal melihat Sasha ragu, ia tersenyum.


"ayok.... kita foto sendiri nanti." ucap Faishal lalu ia masuk menggendong Cilla sedang barang barang mereka ditaruh ditempat penitipan. Sasha akhirnya melangkah dengan ragu ragu, ini adalah pengalaman pertamanya untuk Photobox.


Faisal mulai menjelaskan, ia cukup faham karena sering diajak bunda ke Photobox, bunda adalah ibu yang sangat gaul. Sasha bingung harus bergaya seperti apa.


"aku bingung mas fotonya gimana?"


" apa adanya aja, apapun gaya kamu pasti tetep bagus." ucap Faishal sambil tersenyum.


"Cillanya aku aja yang gendong mas biar ga mati gaya."


"oke tapi gantian ya ini ada 6 kesempatan foto boxnya."


akhirnya mereka memulainya, yang pertama gaya masih kaku walau sama sama senyum namun Faishal saat pemotretan arah pandangnya menuju ke Sasha. Gaya kedua Sasha menaikan 2 jarinya, peace, dengan senyumnya yang sungguh manis alami. Sedang Faishal mencium Cilla penuh sayang. Gaya ketiga Faishal meminta mereka berdua sama sama melihat cilla dengan cilla ditengah dan digendongan Faishal, Sasha menurut karena ia sudah kehabisan gaya. Sasha memegang tangan Cilla sambil tersenyum lalu Faishal yang katanya juga akan berpose melihat Cilla pada kenyataanya melihat Sasha penuh arti dan senyuman. Pose keempat giliran Sasha yang menggendong cilla dan berpose dengan manis, sedang Faisal mendekat ke Sasha benar benar seperti pose keluarga. Pose kelima Sasha menggendong Cilla dengan posisi menyendawakan, kepalanya ada dipundak Sasha, Sasha membelakangi Faisal namun Fisal ternyata mencium kening Cilla. Tibalah pose terakhir, hal ini tidak akan disia siakan oleh Faishal, ia merengkuh pundak Sasha agar mendekat kebadannya, Sasha terkejut namun ia mengkondisikan lagi dirinya lalu mereka sama sama tersenyum.


"makasih" ucap Faishal saat melepas tangannya, ia langsung keluar mendahului Sasha karena saat ini iapun sudah amat berdebar. Benar benar membahagiakannya.


Sasha hanya diam tak menjawab iapun masih dalam keadaan terpaku.


Faishal mengambil hasil foto yang tak lama kemudian telah siap dan sudah dibagi menjadi 2 kantong. yang satu ia berikan ke Sasha yang satu lagi ia simpan.


"nih, tapi ...... dilihat dirumah aja ya." Faishal malu jika Sasha melihatnya saat ini karena banyak kecurangan yang ia lakukan yaitu melihat Sasha intens.


"kenapa?" tanya Sasha polos tapi kemudian teringat tak mungkin kan melihat pose mereka terutama yang terakhir bersama?


"ok ok dirumah aja, he" ralat Sasha sambil tersenyum


"yuk cari stroler trus kita makan siang." Ajak Faishal kemudia mereka keluar dari toko asesoris

__ADS_1


__ADS_2