
Aldo mendengar para orang tua dan kerabat dekat Sasha mulai membicarakan Faishal, ada yang memuji, ada yang memaki, Aldo menjadi semakin bingung dibuatnya, mengapa sang kakakpun ikut menjadi pembicaraan.
"ganteng anak ini dari insan, dokter pula." ucap seorang ibu paruh baya kepada seseorang disebelahnya lalu diangguki beberapa orang yang sepertinya sepemikiran oleh beliau.
"tapi kak namanya brengs*k tetap brengs*k! mana bisa kita diam saja, anak perempuan kita jauh jauh belajar dirusak juga. Kasian sutia dan Jamhari kak." ucap seorang laki laki yang lebih tua dari ayah Sasha penuh emosi.
Aldo mengernyitkan dahi, semakin bingung, siapa yang brengsek?! apakah kakaknya yang sedang dibicarakan? Aldo semakin tak bisa meninggalkan ruangan tersebut. Aldo menelfon Fitha agar bertahan dulu disana sambil menjaga Cilla.
.
.
.
Faishal mengkondisikan ibunya Sasha agar dapat dirawat dirumah dengan baik malam ini, jika esok hari mengalami perburukan maka Faishal berniat mengantarkan sang ibu kerumah sakit terdekat setelah ia berbincang dengan ayah Sasha. Infus tlah dipasang dengan baik, Faishal menawarkan dirinya agar bisa menjaga ibu Sasha malam ini supaya lebih cepat penanganannya jika terjadi sesuatu dan diizinkan oleh ayahnya.
"Terimakasih nak, tapi masih ada yang harus kita bahas. Silahkan ikut keruang depan nak, Sasha ayo ikut, kamu harus memberi penjelasan sama datuk datuk." ucap ayah Sasha kepada Sasha dan Faishal
"baik ayah, ayo mas kita kedepan, ibu nanti biar dijaga sama bibi ima." ucap Sasha lirih, masih terlihat kecemasan diwajah dan nada suaranya, matanya masih bengkak dan sesekali masih meneteskan airmatanya. Sashapun terlihat sangat letih.
"Tunggu Sha! pipimu dikompres dulu pakek ini, punggungmu sakit kan? nanti segera dikompres yah." Ucap Faishal sambil memberikan kompres penghilang bengkak, Ia sedari tadi telah mengkhawatirkan bekas tamparan dan pukulan yang diterima Sasha.
"hm. ... makasih." ucap Sasha, hanya itu yang mampu ia katakan saat ini karena masih ada hal yang mengganjal dihatinya. Dadanya masih terasa sesak dan hatinya masih terasa perih, bahkan bekas tamparan dan pukulan tak terasa lagi.
Sasha keluar dari kamar setelah Faishal dan sang ayah, ia melirik kekanan dan kekiri namun tak mendapati Fitha dan Cilla. Ia jadi khawatir, karena kalut dengan situasi ia sempat melupakan bayi mungilnya. Ia melihat Aldo, sambil mengisyaratkan dengan bibirnya nama Fitha dan Cilla tanpa bersuara.
__ADS_1
Aldo mendekati Sasha lalu ia mengatakan jika Fitha dan Cilla tlah berada ditempat yang aman. Sasha menjadi lega, setidaknya ia harus menghadapi rintangan berikutnya lalu baru mencari putri kecilnya.
"Sasha duduk dekat nenek." ucap sang nenek, Sasha dirangkulnya, tangannya dipegangi dengan erat oleh sang nenek.
Faishal pun diminta duduk disebelah ayah Sasha. Ia menurut, dan ingin mengikuti perihal apakah yang juga harus melibatkan dirinya. Aldo memberanikan dirinya masuk lalu meminta izin kepada orang disebelah Faishal selain ayahnya agar dapat bergantian duduk disana, ia mengaku bahwa ia adik dokter muda tersebut, lalu Aldo dipersilahkan duduk.
"anakku Sasha, disini datuk datuk sama kerabat kita kumpul untuk menyelesaikan masalah, pertunangan kamu dengan insan sudah dibatalkan, sekarang datuk ingin Sasha jujur! sejauh apa hubungan Sasha dengan anak muda ini nak (sambil menunjuk Faishal) karena sudah membuat satu kampung kita ramai, coba sekarang Sasha jujur, sudah berapa bulan anak itu lahir!" ucap tetua yang disebut datuk disana.
Deg!
Faishal dan Sasha sangat terkejut, merekapun antara yakin atau tidak, jangan jangan penyebab utamanya adalah pemberitaan Viral media sosial. Sasha dan Faishal saling berpandangan dengan wajah yang sulit diartikan, lalu Sasha memandang Aldo dan Aldo memberikan isyarat anggukan kepala agar Sasha berkata jujur apa adanya. Aldopun akhirnya bisa faham ternyata berita tersebut adalah biangnya. Ternyata efeknya lebih parah jika dikonsumsi oleh masyarakat awam yang mudah tersulut pemberitaan palsu.
"Datuk, darimana datuk dan semuanya dapat berita? itu ga benar, Sasha tak ada hubungan apa apa." Ucap Sasha dengan dada bergemuruh dengan mata yang berkaca kaca dan suara yang bergetar.
"sutia istirahat dulu sutia, jangan kau pingsan lagi." ucap semua keluarga yang juga terkejut melihat ibu sasha keluar dari kamar.
"Sasha, kamu sudah menyakiti ibu, menyakiti ayah dan semua keluarga kita, kenapa kamu ga jujur saja sama ibu? dan kamu anak muda! tega sekali kamu menodai anak perempuan kami! sejauh mana hubungan kalian disana! kami jauh dari putri kami, tapi bukan berati kamu punya hak merusak anak gadis kami!" ucap sang ibu tetap dengan emosinya, beberapa keluarga yang lain mengelus elus pundaknya agar tak jatuh pingsan kembali, Faishal menjadi terdiam dituding seperti itu, padahal sebelumnya ia sudah menyiapkan sebuah jawaban ketika tetua yang bertanya.
"ibu! hik hik hik, itu ga benar bu, Sasha ga dirusak siapapun." aku Sasha sambil menangis
"buktinya sudah jelas kamu masih mengelak!" ibu Sasha menangis mendengar pengakuan Sasha, ia merasa kecewa karena sasha tak jujur baginya.
"sutia sudah biar kami yang menanyakannya, kamu duduk disini bersabar." ucap tetua yang ada disana, akhirnya ibu Sasha mau menurut dan duduk.
"Sasha... jujur saja nak, biar masalah cepat selesai, kami semua berharap masalah ini cepat selesai, kasian ayah ibumu Sasha, mereka sudah jadi buah bibir sampai ibu kamu kena serangan jantung kemarin nak, jujur lah nak, kasian anak kamu itu nak" ucap sang tetua iba melihat Sasha.
__ADS_1
"datuk!! Sasha sudah jujur, Sasha tidak berbuat yang jauh datuk." ucap Sasha menunduk sambil menangis.
"bapak ibu boleh saya ikut menjelaskan?" ucap Faishal sopan.
"diam kamu!!! saya ingin anak saya yang mengaku!" ibu Sasha dengan cepat membalas, ia amat geram dengan Faishal, sudah merusak sang anak masih berani muncul dirumahnya tanpa merasa bersalah. Begitulah yang dirasakan sang ibu.
"Sasha jujur, Sasha tak punya hubungan apapun dengan Mas Faisal ini, dan bayi itu bukan bayi Sasha"
"mana ada seperti itu Sasha, kamu didepan banyak saudara masih buat buat cerita! ibu ga percaya sama kamu! , lihat!!! keluarga insan sudah membenci kamu! kamu pikir kami tidak tahu cerita kamu disana! ibu telpon beberapa kali, kamu tidak pernah cerita apapun, ini kan alasan Sasha ga pernah mengeluh kalau ga bisa pulang?! selama dua tahun sasha!!! kamu disana menyembunyikan ini kan?! kamu sudah melewati batas sama laki laki! JAWAB IBU!" bentak sang ibu
"bukan bu! itu ga benar! hik hik hik!" Sasha makin terisak.
"ya Allah Sasha, apa salah ibuuuuuu hik.hik hik kamu masih ga mau mengaku! apa salah ibu naakkkk, aa aaa aaa?" ibunya menangis sambil memegangi dadanya kembali, ia amat sangat pilu.
Sasha mencoba menjelaskan agar masalah lebih jelas, namun dadanya amat sesak dan tangisnya belum bs ia hentikan. Sashapun kecewa mengapa keluarga begitu cepat menyimpulkan, Sasha yakin jika mereka tersulut hanya melihat berita viral tersebut. Sasha juga kecewa ternyata keluarganya tak percaya sepenuhnya kepada Sasha.
"bu tolong percaya Sasha, Sasha bisa jelaskan bu." pinta Sasha sambil meraih tangan sang ibu memohon agar sang ibu memberinya kesempatan. Namun ibunya berkeras hati, amarahnya masih memuncak.
"ayah...ayah percaya kan sama Sasha? Sasha tak begitu ayah." Sasha berpindah keayahnya ia bersimpuh dan memengangi tangan sang ayah.
"Ayah cuma mau kamu jujur nak, Sasha ga akan berbohong sama ayah kan? ayah juga harus membayar denda yang banyak nak, ayah mungkin tak bisa menyelesaikan kuliah kamu lagi." ucap Sang ayah yang ikut hanyut menangis
Tiba tiba Aldo berdiri...
"Bapak ibu......
__ADS_1