Bayi Kita

Bayi Kita
81


__ADS_3

"ibu dan ayah, Faishal besok jumat akan membawa Sasha pulang ke jogja, karena Sasha sudah jadi istri saya, jadi ibu dan ayah tidak usah mengirimi bulanan Sasha lagi dan biaya kuliah biar jadi tanggung jawab Faishal, jadi tidal usah dijual rumahnya." ucap Faisal serius kepada kedua orang tua Sasha, Sasha terharu mendengarnya, ia juga tahu kalo orang tuanya sangat kesulitan saat ini, mereka yang tak oernah berhutang dan hidup seadanya terpaksa harus berhutang karena denda pembatalan pertuanangan.


"kami tidak enak sama kamu dan keluarga nak jika biaya kuliah juga ditanggung, kami tidak apa apa, kami akan berusaha sekuat tenaga." ayah Sasha tak enak mendapat banyak kebaikan.


"bapak ibu, tidak usah sungkan, kami sekeluarga yang sudah sepakat akan meneruskan kuliah Sasha, jadi tidak usah khawatir." ucap bunda mencoba membujuk ayah


"iya pak Jamhari, percayakanlah pada kami, Faishal cukup mampu untuk membiayai kuliah istrinya, rumahpun sudah ada, walau tak terlalu besar namun cukup untuk keluarga kecil Faishal dan Sasha nanti. Dirumah kamipun Sasha bisa tinggal. Rumah itu Faishal sendiri yang membelinya pak bu. Jadi anda berdua bisa tenang, tidak akan memberatkan, justru sebaliknya, Sasha adalah anugrah buat keluarga kami." lanjut Ayah Agung, ayah Jamhari dan ibu sutia (ibu Sasha) pandang pandangan mereka sungguh sungkan.


"terima ya ayah ibu? Sasha kamu jangan nolak yah? kamu sudah jadi tanggung jawabku mulai saat ini." ucap Faihsal, Sasha mengangguk sambil menitikkan air mata.


"koq nangis?" tanya Faishal lalu ia mengusap air mata Sasha sambil tersenyum.


"makasih ya mas" ucap Sasha


"makasih bak Faishal, bapak ibu. Kami cuma bisa pasrah saja ini." ibu Sasha menarik tangan bunda lalu menggenggamnya, membuat bunda iba, bunda tau masalah mereka sangat berat.


"Bapak ibu fokus saja mengurus adik adiknya Sasha, nanti soal hutang denda biar Faishal bantu setiap bulannya pak." Ayah ikut menimpali


"jangan pak! kalo ini kami tidak bisa menerima, jangan terlalu banyak memberi kami, kemarin uang hantaran saja sudah sangat membantu kami bahkan lebih, jangan lagi kami mohon." ucap ayah semakin tak enak hati.


Ayah dan bunda saling berpandangan, lalu bunda mnegeluarkan amplop coklat. Lalu bunda menyerahkan ketangan ibunya Sasha.


"apa ini bu!" ibu Sasha berusaha menolak namun ditahan oleh bunda


"bu pak, kami sudah megambil putri bapak yang seperti cahaya buat keluarga kami, ini ga seberapa cuma 20 juta, tolong dipakai untuk membantu pembayaran denda pembatalan pertunangan, biar kami lega, jujur saja kami tak enak hati, masalah pertunangan sasha yang batal juga karena ada hubungannya dengan putra kami sehingga disalah fahami, sampai fatal seperti itu, biarlah kami ikut menanggungnya. Biar kami lebih tenang bu. Karena kita sekarang keluarga pak bu" ucap bunda, ibunya Sasha sampai menangis.


"terima ya bu pak. Biar kami tidak kepikiran, dan Sasha juga tidak gusar hatinya disana, kalo bisa rumahnya tidak usah dijual. Buat tabungan bapak ibu." Ayah ikut membujuk, lalu dengan berat hati akhirnya ayah dan ibu Sasha menerimanya, semua yang ada disana menjadi terharu. Ayah dan bunda sudah diceritakan semuanya oleh Faishal, tapi berapa jumlah denda itu ia tak mengetahui dengan jelas.


"terimakasih banyak bapak ibu, tapi 20 juta ini terlalu banyak karena dendanya hanya 15 juta, yang 5 juta biar kami kembalikan saja pak bu." Ucap ayah Sasha.

__ADS_1


"Tidak usah bapak ibu, itu dipakai saja buat tambah tambah isi warung, dipakai saja pak, kami malah bersyukur berarti bisa langsung lunas dendanya." ucap bunda, mereka lega ternyata orang tua Sasha bisa terlepas dari cicilan, mereka tahu betul pekerjaan orang tua sasha bagaimana, sulit untuk mereka mencicil denda 15 juta tersebut, ditambah warung sang ibu yang sepi karena kasus sebelumnya.


Kedua orang tua Sasha menangis, sungguh tak pernah terbayangkan oleh mereka ada orang yang akan membantu mereka seperti ini, mereka bertekad dalam hati akan selalu meghargai keluarga faishal. Dan mereka memberi nasihat kepada Sasha agar menjadi istri yang baik serta penurut jika sudah kembali ke jogja.


"termakasih ya ayah bunda, sasha takut tak bisa membalasnya " ucap Sasha penuh keharuan, matanya masih berkaca kaca dan suaranya bergetar.


"sayang kamu sudah jadi menantu kami saat ini adalah anugrah terindah, bahkan uang ini bukan apa apa jika dibanding bisa menikahkan faishal dengan orang yang dicintainya." ucap bunda


"Sasha janji akan jadi istri yang baik dan menantu yang baik bun yah." balas Sasha


Semua terharu, dalam suasana ini. Fitha dan Faisal berada disisi kanan dan kiri Sasha masing masing mengenggam satu tangan Sasha memberinya ketenangan.


"nah nak Faishal, besok buatin nenek cicit yang banyak yah, besok kalo Sasha melahirkan nenek mau kesana." nenek ikut nimbrung membuat semuanya berubah auranya dari terharu menjadi bahagia.


"iya nek besok kita kabari ya." ucap Faishal sambil tersenyum lalu ia menepuk menepuk tangan Sasha pelan, Sasha jadi amat merah wajahnya, ia malu membayangkan bagaimana ia akan memiliki bayi sesungguhnya.


"sha buatin aku cewek ya sha" celetuk Fitha


"bunda juga sha sama kayak fitha buatin cewek yah." bunda ikut menimpali


"tos kita bun!" ucap Fitha


"ga bisa! cowok aja kembar jadi langsung dua!" Aldo tak mau kalah.


"ga! bunda maunya cewek, kalo cowok nanti jadi pasukannya Aldo ga mau bunda!" ucap bunda


"iya bener bun kalo cowok nanti jd pengikut Aldo ihh ga mau ah!" ucap Fitha


"pokoknya cowok, lo gimana bas! cowok kan? kak Alman juga kan? Ayah! cowok juga kan?!" jawab Aldo tak mau dibantah ia meminta yang lain medukung, sedang yang lainngnya hanya terkekeh.

__ADS_1


"memangnya buat nasi goreng, langsung jadi." ucap Faishal geleng geleng kepala melihat kelakuan bunda, aldo dan Fitha.


"ga usah ribut deh, malem penganten aja belom udah bilangin bayi, nih yang mau bikin bayi suruh kekamar aja sekarang." Celetuk Alman membuat Faishal dan Sasha menjadi salah tingkah.


Itulah keramaian yang terjadi disana, semuanya berbahagia. Hari tak terasa, sudah hampir magrib, Faishal sudah sedari sore hari berusaha mencarikan tiket pesawat untuk bunda dan ayah yang harus kembali ke jogja esok hari.


"Kak! dapet ga?" tanya bunda


"dapet bun tapi ga ada yang pagi, jam 10 ya?" jawab Faishal


"yaudah gapapa kak, tapi tolong Cilla biar sama bunda aja pulangnya kasian kalo naik mobil, bastian sama Alman sekalian, bastian mau ngedit katanya besok." ucal bunda


"oke bun, kakak pesenin dulu ya."


"besok om dan tante berangkat habis subuh katanya." Ayah ikut menimpali.


"iya tadi dah ngasih tau, kata nenek disuruh makan dulu sebelum berangkat, mau dimasakin nenek."


"ga ngrepotin kak?"


"engga, nanti nenek malah kecewa kalo ga oada sarapan, tadi beliau semangat banget mau masak."


"yaudah deh kak. Ayo kita magriban dulu di masjid, itu Ayahnya Sasha dan jemput." ucap Ayah yang sedari tadi sudah siap dengan sarung dan kopiahnya


"ok yah, yaudah ya bun ini udah faishal cariin tinggal masukin data diri. Habis dari sini Faishal ngabari nenek dulu ya, kalo Cilla dibawa besok biar baju bajunya yang dirumah nenek bisa Faishal beresin." Jawab Faishal


"ga usah kak! tadi bunda dah minta tolong Fitha , kamu temenin Sasha aja tuh, kan hantarannya belum di buka, sekalian bantu beresin, dah sana berangkat ke masjid." ucap bunda.


"iya bun assalamualaikum." Faishal berangkat kemasjid bersama laki laki lainnya

__ADS_1


"waalaikumussalam." jawab bunda


__ADS_2