
Adzan magrib telah berkumandang, sudah setengah jam mereka mencari cari keberadaan anak yang sekiranya sedang menggendong Cilla. Mereka berduapun tak tahu pasti sebesar apa anak yang bernama Ina ini. Sasha makin tak tenang, terlebih lagi saat bertemu Fitha dari arah berlawanan dan tidak ada Cilla digendongannya sama sepertinya, tak menemukan Cilla sama sekali.
"Fith! Kamu ga nemu?!" seru Sasha di seberang jalan, mereka saat ini sudah diluar pagar rumah menelusuri jalan yang mereka yakini ada kemungkinan anak tersebut lewati. Fitha hanya menggeleng, raut wajahnya juga amat sedih dan merasa bersalah.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttt....!!!!!
Brakkkkk...!!!
Dari tikungan terdengar suara motor yang mengerem mendadak lalu terjatuh.
"aaaaaaggghhh, huuaaaaagh, huaaaaagh!" Tiba tiba terdengar suara tangisan bayi, Sasha dan Fitha segera menoleh kesumbersuara yang amat mereka kenal.
"Ya Allah!!!" Sasha menjerit, ia kenal betul itu adalah suara bayi mungilnya yang menangis tanda terkejut dan kesakitan. Sasha dan Fitha berlari sekencang kencangnya. Ditikungan tersebut terlihat ada seorang wanita yang terjatuh dari motornya dan tak seberapa jauh ada dua anak terjatuh, ya itulah Cilla berada dimana sudah bersimbah darah dikepalanya. Sedang anak yang sedang memeluknya dan tak bergerak sama sekali sudah dipastikan adalah anak yang bernama Ina.
"Cillaaaaa!!! Inaaa!" Sasha dan Fitha berteriak dan segera menggapai dua anak tersebut.
"Sayang hiks hiks, ya Allah darahnya banyak banget. Fith kita harus gimana ini Fith?" Ucap Sasha, suaranya bergetar ditambah air matanya mengalir deras ia terus memeluk sang bayi dan mengusap usap darah yang keluar dari kepalanya, sedangkan Cilla masih menangis menderu deru, antara kesakitan dan juga terkejut.
"Kita harus segera kerumah sakit Sha, itu yang nabrak juga ketindihan motor, ini si Ina juga pingsan, duh ga bawa HP lagi Sha gimana?" Fitha pun tak bisa membendung air matanya ia benar benar merasa bersalah, ia menggoyang goyangkan badan Ina namun taj kunjung sadar.
"kamu bantuin mbaknya dulu ngangkat motornya, si Ina biar sama aku." ucap Sasha, Fithapun langsung menuju seorang wanita diseberang jalan yang belum bisa bergerak karena tertindih motor, dan terlihat mencoba keluar dari bawah motornya.
"Mbak, sini saya bantu mbak." Ucap Fitha sambi menciba mendirikan motornya sang wanita
__ADS_1
"makasih mba, inih...hhh...ka-kaki sa..ya, ughh, sa..kit banget." ucap sang wanita terbata bata menahan sakit dikaki kanannya yang tertindih motor.
"sabar ya mba kita cari bantuan dulu, ini pas sepi jalan orang pada sholat magrib, sabar ya mba."
Fitha menoleh kekanan dan kekiri mencoba meminta bantuan karena merekapun sudah terlalu jauh dari rumah.
Tiba tiba sorot terang datang dari arah berlawanan dan dipastikan bahwa itu adalah mobil yang akan melintas. Fitha lalu melambai lambaikan tangannya meminta bantuan. Fitha sungguh bersyukur karena yang melintas adalah Ayah dan Bunda.
"Bundaaa!! Tolongin kita bun. Hiks hiks!" ucap Fitha dengan raut wajahnya yang sudah tak terdefinisi lagi, air matanya mengalir deras.
"Fith!!! Ada apa?!" Bunda langsung cemas melihat Fitha yang tiba tiba memberhentikan mobil mereka di jalan, pastinya ada kejadian yang sangat darurat.
"Bun, Cilla bun, hiks hiks, disana bun." Fitha mengajak bunda ke lokasi kejadian, Bunda yang melihay situasnya langsung terkejut dan berlari menuju Sasha berada.
"Ayo ayo kita masuk mobil, ya Allah ini si Ina kan anaknya mba Menik? Biar bunda yang bawa Ina." Ucap Bunda, hatinyahancur melihat Cilla keponakannya dalam keadaan seperti itu.
Ayahpun membantu Fitha membopong wanita diseberang jalan dan menghubungi rekannya ke lokasi kejadian agar dapat membantu membawa motor yang terjatuh.
Mereka bergegas ke UGD terdekat, para perawat langsung menangani dengan cepat. Sasha, Ayah Bunda dan Fitha bergantian ke mushola untuk menunikan sholat magrib.
Wanita yang tertindih motor tadi ternyata masih gadis belia, ia mengaku saat ini masih menjadi siswa SMA kelas XII. Untungnya kakinya hanya bengkak dan memar, setelah menjalani pemeriksaan, tak ada yang patah ataupun retak, hanya bagian anklenya yang terjadi trauma. Namun iapun masih kesulitan menggerakkan kakinya.
Sedangkan Ina, setelah diperiksa, tidak ada luka luka atau bekas benturan, ia hanya shock lalu terjatuh dan pingsan, sehingga diperbolehka pulang setelah keadaannya tenang. Para keluarga pun sudah diberi kabar dan akan segera datang kerumah sakit. Namun sebelum itu bunda mendekati Ina yang sudah siuman dan mencoba bertanya dengan lembut apa yang sudah terjadi. Ternyata mereka tidak tertabrak membuat bunda sedikit lega, namun ina jatuh karena terkejut saat akan menyebrang ada motor yag tak terduga, karena pas ditikungan, lalu pingsan. Sedangkan Cilla bagian keningnya terhantuk batu kerikil kecil sehingga melukai keningnya, maka dari itu darahnya keliar bercucuran namun tidak sampai harus dijahit. Jika terjadi luka diarea tengkorak kepala memang darahnya akan bercucuran seperti itu. Namun sayangnya badannya menjadi panas, karena kekurangan cairan. Setelah diperiksan HBnya sangat rendah, akhirnya harus transfusi darah oleh sang dokter. Sasha dan Fitha kangsung meminta agar bisa mendonorkan darahnya, saat ini mereka berdua tidak fokus dengan gadis yang terjatuh tadi karena mereka sangat cemas dengan keadaan Cilla yang mulai demam dan mengigau. Serta menemani Ina yang masih shock.
__ADS_1
Lalu bunda menyambangi bilik gadis belia yang tak jauh dari tempat Ina dan Cilla. Bunda menanyakan dengan bahasa yang baik bagaimana kronologi kejadiannya. Sang gadis sambil menangis menceritakan kejadiannya ternyata saat ia ditikungan ia terkejut melihat anak kecil yang akan menyebrang namun terlihat ragu ragu, serta sambil menggendong bayi. Saat Ina mulai lari ternyata hampir saja tertabrak olehnya dan ia langsung membanting stir kekanan agar tak menabrak dua anak kecil yang ia lihat, alhasil ia terjatuh dan kaki kirinya tertindih motor.
"Maaf ya tante, saya ga ada maksud mau mencelakai adi adik kecil itu, saya juga ga nyangka ada anak yang mau menyebrang namun ragu ragu akhirnya berlari, saya jadi shock tante, maaf kan tante maafkan." Ucapnya sambil menangis penuh penyesalan.
"gapapa mba, itu keteledoran kami yang membiarkan anak anak keluar kejalan besar, kami juga sangat menyesal." ucap bunda menenangkan gadis didepannya.
"Bu, maaf menyela, begini tadi kami sudah memeriksa golongan darah sikecil, tapi tidak ada yang cocok, tadi bundanya darahnya ga cocok, tantenya juga, bapak yang mengantar tadi juga ga cocol bu, dibank darah kami golongan darah A resus negatif juga kosong. Bisa kah dibantu menghubungi keluarga lainnya." ucap perawat yang menghampiri Bunda, saat itu mereka masih dalam satu ruangan besar yaitu ruang UGD dimana banyak ranjang pasien gawat darurat yang diberikan penanganan pertama.
"A resus negatif ya? Duh siapa ya, dua anak saya juga mau datang ini tapi mereka juga beda." ucap bunda berfikir, sambil mengingat ingat adakah temannya yang memiliki golongan darah yang sama.
"Em, tante, saya golongan darah A juga ,tapi ga tau resusnya, bisa kah saya diperiksa?" ucap sang gadis.
"jangan mba, kan mba nya masih sakit?" ucap bunda tak enak hati.
"Gapapa bu kasian adeknya kalo kelamaan. Suster bisa kan? Saya kan ga luka parah." ucap Sang gadis.
"tapi..." ucap sang perawat ragu
"saya bisa jamin mba saya bisa donor tolong pekriksa saya dulu." ucap sang gadis yang teryata vernama Wulansari ini.
"baiklah mba wulan, saya ambilkan kursi roda dulu." ucap perawat
"mba, makasih banyak ya mba." ucap bunda terharu, tak mampu berkata kata lagi
__ADS_1