
Sementara disebuah mini market dekat dengan kampus....
Hafiz sedang duduk membeli kopi panas kesukaannya, lalu membaca beberapa jurnal yang sedang ia geluti. Ketika penat dengan aktivitasnya, hafiz lebih memilih menyendiri, membeli segelas kopi esspreso kesukaannya, duduk bersantai disebuah mini market yang memang sudah disediakan tempat duduk bagi pelanggannya. Ia merasa jenuh dengan kegiatan kampus karena tak ada Sasha disana, ia ingin kerumah menemani Sasha namun selalu dicegah oleh Bastian,
"jangan berdua duaan sama gadis yang kamu sukai dan yang jelas jelas tak bisa kamu miliki. Nanti kalo ada setan lewat kamu bisa khilaf." Itu lah kata kata bastian yang selalu diingatnya, dan memang benar, jika itu sampai terjadi ia benar benar akan menyakiti Sasha, biarlah ia tak mampu menjadikan Sasha pendampingnya namun ia akan tetap menjaga Sasha sebagai sahabatnya. Justru akan baik baginya jika berkedok sahabat, mereka akan selalu nyaman bersama. Bisa jadi kan Sasha akan menjauhinya jika Hafiz mengungkapkan perasaannya, karena ia tahu tekad Sasha yang tidak akan menyerah dengan pertunangannya.
Tiba tiba........
Ada seorang gadis duduk didepanya dengan cuek. Ia membawa mie bowl instan bertuliskan "samyang extra hot", lalu tak lupa softdrink berkarbonasi rasa jeruk dan beberapa camilan yang bisa dilihat semuanya pedas.
Hafiz sedikit melirik ke gadis didepannya yang terlihat tak begitu peduli dengan sekitarnya, ia aslinya terganggu namun mau bagaimana lagi disana adalah tempat umum jadi hafiz harus berbagi.
Tiba tiba mata hafiz membulat ia menelan ludahnya melihat adegan didepannya. Ternyata gadis tersebut sedang menaburkan B*nCabe level 30 ke mangkuk mienya. Tak bisa hafiz bayangkan bagaimana rasanya, mie pedas yang masih ditambahi bubuk cabe level tinggi belum lagi minumnya softdrink rasa jeruk yang berkarbonasi. Hafiz yang hanya melihatnya saja sudah merasa mual, ia heran bagaimana gadis yang didepannya ini begitu menikmati hidangan tersebut. Camilan yang dibeli pun tak sedikit. Namun ia tak peduli jika hafiz melihatnya dengan heran. Justru ia merasa lucu melihat ekspresi hafiz yang melihatnya dengan raut wajah tak bisa didefunisikan.
"mau??" tawarnya kehafiz sambil menyodorkan bungkus snack
"makasih" tolak hafiz sopan memaksakan senyuman sambil mendorong bungkus camilan yang sudah ada didepannya.
"Dingin banget sih ga ada senyum senyumnya." ucap sang gadis menatap instens hafiz sambil mengunyah ngunyah makanannya.
Hafiz jadi tak senang, diperhatikan sedemikian, ia rasanya ingin segera pergi namun kopinya baru saja satu kali seruputan, ia tak biasa memubazirkan makanan. Hafizpun mengabaikan gadis didepannya lalu fokus kembali ke jurnal yang ada di HPnya.
"kayaknya pernah lihat masnya deh." Ucap sang gadis sambil menopang dagungan dengan kedua tangan.
Hafiz mengernyit, ia juga mengingat ngingat sepertinya gadis didepannya tak begitu asing.
"ohhh iya, kamu temennya Aldo kan??" Ucap sang gadis sumringah membuat hafiz jadi terkejut pasalnya tadi sang gadis terlihat amat jutek tiba tiba berubah menjadi anak manis membuat hafiz bergidik ngeri, hafiz hanya mampu mengangguk lalu mengalihkan padangannya kembali ke jurnal yang sedang serius ia dalami.
"aduhh.. sssh.... huh...." tiba tiba sang gadis merintih dan memegangi perutnya ia terlihat amat kesakitan, iapun langsung berlari menuju wastafel yang tak jauh dari sana.
"huek...huek....huek..." gadis tersebut memuntahkan semua makanannya
Hafiz tak tega melihatnya walau sebenarnya ia kesal karena sang gadis seperti mendapatkan ganjaran atas apa yang ia makan. Namun sebagai sesama manusia ia tak mungkin membiarkan orang lain menderita. Hafiz langsung menyusul sang gadis ke wastafel membantu memijat tengkuknya. Dilihatnya sang gadis amat sangat menderita terus menerus muntah hingga hanya cairan kuning yang keluar dari mulutnya. Wajahnya pucat, tak lama tubuhnya sempoyongan akan jatuh namun segera ditopang oleh hafiz. Pegawai minimarketpun jadi ikut khawatir.
"masnya, pacarnya kenapa?" ucap salah satu pegawai minimarket yang mendekatinya. Hafiz terkejut mendengar kata pacar, pegawai minimarket telah salah menilainya. Namun anehnya ia tak mampu menjawab justru ia malah bertanya
"Adakah yang bisa bantu saya mengantar nona ini kerumah sakit dekat sini?" Ucap Hafis masih memegangi lengah sang gadis yang masih berusaha untuk memuntahkan isi perutnya.
" mas mas ini sudah saya pesenkan taxi dah dateng ayo kita bawa mbanya." ternyata pegawai yang lain tanpa diberi aba aba segera memesankan taxi.
"iya mas ayo" Hafis langsung menggendong sang gadis menuju taxi sedang pegawai lainnya membereskan tas hafiz serta tas sang gadis karena agar bisa diketahui alamatnya.
__ADS_1
Mereka mengantarkan sang gadis ke RS GSM yang paling dekat dari sana. Merka lansung membawanya ke UGD sehingga langsung ditangani oleh pihak rumah sakit, Hafiz menemani sang gadis sedangkan pegai minimarket mencoba menelusuri tas dan mendapatkan kartu identitasnya untuk mendaftarkan sang gadis sebagai pasien.
"mas, ini kartu pasiennya, saya pamit ya mas masih jaga. Ini tas mbanya." ucap pegawai minimarket lalu iapun segera kembali ke lokasi kerjanya.
Hafiz menerima tas tersebut, ia menunggu sang gadis hingga selesai dipasangi infus dan mendapat bangsal perawatan. Hafiz sampai belum sempat mencoba mencari kontak keluarganya karena fokus dengan arahan dokter mengenai keadaan sang gadis.
Hafiz akhirnya sedikit lega karena sang gadis telah tenang dan tertidur serta tidak muntah muntah kembali, sekarang ia sedang berada dibangsal rumah sakit. Ia merogoh tas mencari indentitasnya, akhirnya ia tahu alamat sang gadis namun ia tak mendapat kontaknya karena di KTP tak ada keterangan kontak. Hafiz mencoba membuka HP sang gadis namun HP tersebut sudah tak bisa dinyalakan karena baterainya habis. Hafiz baru ingat jika ia tadi menyebutkan nama Aldo, akhirnya ia menelpon Aldo dengan vidio call.
" do! kamu tau ga sama ni cewek!" [hafiz]
" cewek?? lo lagi ma cewek? chieee" [Aldo]
" ck, apaan sih do, nih lihat kenal ga?"[hafiz mengarahkan kamera ke sang gadis]
"hah! bentar bentar fiz lebih deket coba! [Aldo]
" niihhh kenal ga?"[hafiz]
" Alhamdulillah!" [Aldo]
" koq alhamdulillah sih do ini ada orang kena musibah!"[Hafiz]
" lo dimana sekarang cepetan kabari, itu sepupu gue yang kabur dari tadi dicariin ga nemu nemu, akhirnyaaaaaa.... makasih banget ya fiz, share lock gue kesana!"[Aldo]
Hafizpun mensharelock keberadaanya kepada Aldo, ternyata gadis tersebut adalah Vivi.
"Sepupu? Tapi koq inget aku ya? kapan kita pernah ketemu?" Hafiz lupa kapan mereka bertemu sehingga Vivi bisa mengenalinya, padahal saat ulang tahun Vivi sempat memperhatikan hafiz karena satu satunya sahabat Aldo yang tidak berisik saat ditaman belakang.
Beberapa saat kemudian...
" Fiz!" Aldo datang terburu buru dan ditemani Fita tentunya seperti biasa dengan pemaksaan dan Fita tetap menurut walau mulutnya mengomeli Aldo.
"eh do dah sampe?" ucap Hafiz
" koq bisa sama lo?" ucap Aldo yang masih terengah engah
" duduk gih ah!" ucap Fitha yang risih melihat Aldo yang terengah engah berbicara dengan hafiz.
"iya iya nyonya cerewet!" Aldopun menurut dan duduk dikursi bangsal tersebut.
"ntar deh aku ceritain ni barang barangnya ya. Aku kayaknya langsung cabut, motor ketinggalan di minimarket pojokan kampus., oiya kayaknya aku lihat kunci mobil deh ditasnya, coba nanti diurus mobilnya, aku ga tau yang mana mobilnya" ucap Hafiz
__ADS_1
"ok ok. makasih ya fiz berkat lo nih anak ketemu, dan makasih dah nyelametin sepupu gue."
"it's ok dah ya cabut duluan. Fit jagain ya ga usah berantem!" ucap hafiz melambaikan sambil tersenyum lalu berlalu keluar rumah sakit
"tergantung dia nurut apa enggak" ucap fitha sambil menonyor jidat Aldo dengan tiga jarinya.
"hufffh lega gue fit, nih anak ketemu, tapi jadi masuk rumah sakit semua dua duanya. Heran deh sama nih anak, pemaksa banget, sukanya bikin susah!"
" Ssst! orangnya lagi tidur ga usah dimarahin, sekarang hubungi bunda aja, katanya tadi eyang kamu juga dibawa kesini?"
" iya fit,, gue telpon bunda deh, soalnya kalo telpon tante Nia pasti shock dia."
Aldo memberi tahu bunda keberadaan Vivi. Tak lama Faishal datang bersama om Regan, karena bunda harus fokus menemai eyang yang harus masuk ke ICU. Faishalpun sejak ditelfin bunda sang eyang terkena serangan jantung langsung menuju rumah sakit.
"eyang gimana kak?" Tanya Aldo
" di ICU." ucap Faishal lemas, ia terlihat sangat gelisah, Aldo yakin kakaknya saat ini sedang merasa sangat dilema atas kejadian hari ini.
"Sabar kak, nanti ada jalan koq!" ucap Aldo
" Ia kak, kita selalu dipihak kakak." ucap Fita yang ikut mendampingi Faishal dan Aldo setelah mereka keluar dari bangsal Vivi. Fita sudah tahu apa yang terjadi setelah Aldo yang diberi tahu bunda bercerita kepadanya. Tak ada rahasia diantara mereka.
" Kakak dah pasrah!" ucap faihal frustasi, ia menyenderkan bahunya dikursi tunggu tersebut lalu memejamkan matanya.
" Aldo ga usah emosi dulu." Fitha langsung mengatakan hal ini melihat Aldo yang tak tahan melihat kakaknya gelisah.
"Kesel gue Fit, kalo kayak gini pasti dijadikan alasan kuat kakak harus menerima perjodohan sama Vivi, pasti tante Nia bakal mempermasalahkannya."
" Dah do.... kakak bakal hadapin semua ini, yang penting semuanya jadi baik kembali." ucap Faishal pelan dengan raut wajah yang lesu.
" jangan bilang kakak mau berkorban, trus nerima Vivi gitu!" Ucap Aldo agak kencang dan kebetulan tante Nia alias mama dari vivi baru saja sampai
" emang Faishal harus tanggung jawab! Nerima Vivi atau hal makin buruk bisa terjadi! kamu jangan egosi sal!" ucap mama Vivi yang masih diliputi emosi lalu berlalu dari hadapan mereka dan masuk ke bangsal Vivi.
Aldo geram, namun Fitha menenangkannya. Faisal menggelengkan kepalanya ke Aldo memberi kode agar tak melakukan hal hal yang ceroboh.
"Sal! bisa ikut masuk sebentar? Vivi dah sadar mau ketemu kamu." ucap om regan yang berbicara dari pintu bangsal
" iya om." Ucap Faishal lalu beranjak dari duduknya akan menuju kamar Vivi
"kak! jangan lakukan hal yang akan menyakiti hati kakak!" ucap Aldo sendu.
__ADS_1
"Tenang aja, kakak dah tau resiko apa yang harus kakak tanggung." ucap Faishal sambil menepuk bahu sang adik, Aldo yang diperlakukan demikian hanya bisa menunduk, ia amat menyesal mendengar sang kakak berbicara demikian. Ia merasa usahanya membela sang kakak gagal.