Bayi Kita

Bayi Kita
30


__ADS_3

Sasha tidak bisa memejamkan mata, setelah kepulangannya dari rumah Aldo. Masih jelas terukir dipikiranya apa saja perlakuan Faishal terhadapnya, bagaimana cara Faishal menatapnya saat baru datang, mengatakan hal hal yang benar benar ambigu buat Sasha, dengan wajah yang sulit diartikan tapi terkesan lucu bagi Sasha. Tapi yang paling membekas, saat Sasha tersiram air, bagaimana paniknya Faishal bak suami siaga. Sasha tersenyum memikirkannya, disentuhnya lengan kirinya, masih terasa hangat dekapan Faisal, ia heran kenapa tadi ikut terhayut saat dipeluk dan dibawa kekamarnya, harusnya aku melepaskannya... itulah yag difikirkan Sasha.


"Ya Tuhan, buruk sekali fikiranku, bisa bisanya aku memikirkan orang lain"


Kling!!!!


Bunyi notifikasi dari whatshapnya.


"Mas Faishal?"


^^^"Sha, bisakah aku melanjutkan kata kataku yang tadi?" (Fishal)^^^


^^^"yang mana?" (Sasha)^^^


Faishal tersenyum, ternyata Sasha langsung membalasnya, iapun sama seperti sasha tak bisa tidur. Sungguh berat hari ini untuknya. Padahal sudah tengah malam. Dilihatnya status whatshap Sasha online, sehingga langsung ia mengirim pesan.


^^^" Beli stroler" (faishal)^^^


^^^"kapan kamu ada waktu?"(Faishal)^^^


^^^"Aku tanya Fitha dulu ya mas."(Sasha)^^^


drrrrt drrrrt drrt....


"duh koq malah nelfon, gimana nih." Sasha bingung, ia menggigit jarinya. Ia ragu menjawab telfonnya. Karena Faishal pantang menyerah mendial nomor Sasha akhirnya diangkat juga.


"iya mas." [Sasha]


" Koq lama angkatnya." [Faishal]


"Ummm...... aku mau kekamar Fitha." [Sasha]


" Sha bisa kan kita pergi berdua aja?sama..... Cilla maksudnya" [Faishal]


"Tapi...." [Sasha]


" please..... untuk satu kali ini aja, setelahnya aku janji ga akan minta apapun lagi." [Faishal]


"....." [Sasha]


" Bisa kan?" [Faishal]


"hari minggu jam 10 pagi." [Sashal]

__ADS_1


Tut!!!


Sasha langsung mematikan telfonnyan ia berdebar, tak sanggup lama lama mengobrol dengan Faishal. Benarkah ia boleh menjawabnya? entah kenapa ia langsung memberitahukan jamnya. Boleh kan egois sekali ini saja, cuma sekali, begitulah Sasha berbicara dengan hatinya. Ia ingin mengukir kenangan indah yang mungkin hanya sekali saja bisa ia lakukan bersama seseorang yang mengisi ruang hatinya saat ini. Untuk kenang kenangan. Sasha akhirnya memeluk gulingnya disebelah Cilla yang tertidur. Sasha memejamkan mata akhirnya ia tertidur dengan senyuman yang bahagia.


Sementara diseberang sana, ada seseorang yang bolak balik dikasur kegirangan. Seperti seseorang yang habis mendapatkan hadiah yang paling ia inginkan. Dipeluknya beberapa kali HPnya. Hari ini adalah hari kamis, tiga hari lagi akan ia nobatkan menjadi hari spesial. Hari minggu jam 10..... ia akan selalu mengingat ini. Ya Faishal yang sedari tadi sulit untuk tidur akhirnya dapat memejamkan mata sambil tersenyum. Sambil menyebut nama seseorang.


*****************


Tibalah hari dimana Sasha mengganti hari mengajar privat dirumah bu Endang. Dea sangat antusias menyambut Sasha yang sudah dua hari tak bertemu.


"ibu kemana dek Dea?" Tanya Sasha


"ibu lagi nemenin simbah dirumah sakit mba. Tadi malem simbah dibawa ke rumah sakit." jelas Dea sambil asik mengerjakan soal yang diberi Sasha.


"emang simbahnya sakit apa?"


"Simbah ga bisa gerak tangannya, juga ga bisa ngomong mba."


" ohhh itu struk namanya Dea, soalnya simbahnua sudah sepuh " ucap Sasha


"Doain ya mba simbah cepet sehat biar ibuk cepet pulang."


"semoga cepet sehat ya simbahnya, jauhnya rumah sakitnya?"


"ohhh iya iya. Nanti salamin ibuk ya?" ucap Sasha


"iya,.... oiya mba. Kata ibuk kalo mba Sasha dateng suruh telfon ibuk. Tak ambil HP dulu ya." Deea berlari kekamarnya mengambil HP.


"Hallo buk ini mba Sasha dah dateng." [Dea)


"Kasih telfonnya nduk" [Bu Endang]


"nih mba ibuk mau ngomong". Dea menyerahkan HPnya


"Halo bu Endang gimana kabarnya?"[Sasha]


"baik mba Sasha, oiya mba maaf ga dirumah saya."[bu Endang]


"iya bu ga papa" [Sasha]


" mba Sasha... sebenarnya ada yang mau saya tanyakan, bagi saya ini penting, tapi belum bisa ini, besok kalo saya sudah pulang tak telfon lagi ya mba, kalo saya telfon mba Sasha bisa kan kerumah?" [Bu Endang]


"tentang apa ya bu?" [sasha]

__ADS_1


"Besok saja mba, kalo ditelfon ga marem, bisa ya mba Sasha ya?" [bu Endang]


"iya bu Saya Usahakan" [Sasha!]


"makasih mba Sasha.... segini dulu ya." [ Bu Endang]


" iya bu Endang, semoga ibunya lekas membaik" [Sasha]


" trimakasih, assalamualakum" [bu Endang]


" waalaikumsalam" [Sasha]


"Nih dek Dea, makasih" Sasha menyerahkan HP ke Dea, ia sungguh penasaran apakah yang akan dibicarakan bu Endang kepadanya?sesuatu yang penting?apakah mungkin tentang anaknya Dea? atau ada hal lainnya?ohh berhubungan dengan belajar Privatnya mungkin. Sasha berfikir demikian karena dirasa urusannya kepada bu Endang adalah sebatas antara guru privat dan orang tua siswa bimbingannya.


Bu Endang sangat menyayangkan, ketika dirinya meniatkan untuk bertanya langsung kepada Sasha justru ia sendiri yang berhalangan. Selama dirumah sakit, bu Endang mencoba mencari informasi tentang dokter Faishal, ia tahu jika Faishal bertugas disini karena pernah beberapa kali berbincang bincang. Ditanyanya beberapa perawat yang merawat ibunya tentang dokter Faishal. Ternyata Faishal cukup terkenal karena ketampanannya serta beberapa kasus stalker yang ia hadapi di Rumah Sakit sehingga harus pindah ke poli anak yang dirasa nyaman. Karena Faishal masih berstatus dokter muda jadi ia bisa dipindahkan ke poli anak membantu dokter spesialis anak yang ada disana sehingga memutuskan untuk mengambil spesialisasi kedokteran pediatri.


"Wah ternyata dokter Faishal terkenal ya mba." Ucap bu Endang setelah mendapat penuturan gamblang dari perawat muda yang ada diruangannya.


"ga mungkin ga terkenal lho bu, orangnya gampang dikenali hehee" ucap perawat sambil tertawa ramah


"lha jenengan saudara apa pripun bu?" perawat tersebut lanjut menanyakan


"Dokter Faisal itu beli rumah deket rumah saya mba." ucap bu Endang


"oalah dah beli rumah to bu, berati beliau tinggal disana ya bu?"


"belum mba" jawab Bu endang


" kirain dah tinggal disana, mungkin disiapin buat istrinya bu kalo sudah menikah."


"memangnya dokter Faishal sudah menikah ya mba?" Tanya bu Endang inilah inti yang ingin dia ketahui setelah berbasa basi dengan perawat tersebut


"lho ibu belum tau toh? kirain kalo tetangga tau bu. Dokter Faishal itu masih singgle bu. Makanya banyak sekali dokter muda perempuan dan para perawat disini yang ngefans sama beliau, pokoknya trending topik bu." ucap perawat bersemangat


"kan Dokter Faishal ga tinggal disana mba jadi ga tau statusnya apa." ucap bu endang ia menjaga agar jangan sampe keceplosan tentang Sasha


" Singgle bu, kalo sudah nikah mestinya pihak rumah sakit diundang bu Endang, saya itu temennya mba Tika asistennya dokter Faishal, kata mba Tika belum nikah."


"oalah iya juga ya mba kirain dah nikah kalo sudah kaa mestine dah tinggal dirumah barunya."


"iya bu mestinya."


Begitukah akhirnya bu Endang mendapatkan informasi tentabg status dokter Faishal. Ia semakin kepikiran apa sebenarnya hubungan Faishal dan Sasha, tak mungkin hubungan biasa kan? apa mungkin mereka menikah diam diam? Tapi Pak RT sama sekali tidak komplain tentang keberadaan Sasha dikomplek. Bu Endang makin gelisah ia takut sekali jika Sasha disentuh ibu ibu komplek. Ia berharap segera pulang dan mendapat penjelasan langsung dari Sasha.

__ADS_1


__ADS_2