
Merekapun sampai dilokasi KKN tepatnya di Balai desa Windusari. Mereka disambut olej perangkat desa dan ebberapa warga yang diundang. Mereka dikenalkan satu persatu serta disambut dengan hangat.
Acara pun berlangsung dengan baik, masyarakat menerima pengajuan rangkaian kegiatan dari para mahasiswa selama 3 bulan disana. Masyarakat juga sudah menunjuk beberapa rumah warga yang bisa dihuni sementara oleh mahasiswa KKN, para laki laki berjumlah 7 orang, akan menginap disebelah balai desa yang mana disana ada rumah yang ditinggali hanya oleh dua orang warga, ayah dan satu anak laki lakinya saja yang masih bersekolah di SMA tahun terakhir. Sehingga beliau mengixinkan ketika pak Kades mengajukan permohonan. Itulah rumah Pak Kasman.
Sedangkan para wanita karena hanya ber 4 maka diminta menginap dirumah pak kades yang memiliki banyak kamar, dan lokasinya tepat disebelah rumah yang ditunjuk untuk para laki laki. Rumah pak Kades memang sering digunakan untuk para mahasiswa yang sedang KKN sehingga punya dapur dan ruang terpisah dari keluarga, sehingga para mahasiswa akan lebih leluasa membuat kegiatan.
Saat itu Sasha tertarik melihat anak dari pak Kasman. Ia melihat betapa solehnya anak tersebut, masih belia namun pebampilannya sangat berkharisma, dan terlihat sedang membaca Al Qur'an disudut belakang rumahnya saat Sasha dan para rekannya berkeliling.
"Sholih banget ya anaknya?" Ucap Intan salah satu rekan KKn Sasha. Sashapun mengangguk sambil tersenyum, ia benar benar takjub, ternyata didesa terpencil seperti inilah banyak melahirkan generasi yang sholih. Seperti yang diceritakan oleh bu Kades jika para warganya termasuk warga yang sangat taat beribadah.
"Katanya dia baru lho disini, pindah pas kelas 3 kmrn." ucap Siska
"Beneran?" tanya Sasha
"ibunya meninggal katanya waktu mereka di Jakarta, akhirnya diajak pindah sama ayahnya kesini, karena pak Kasman itu asli sini, keluarganya disini semua." lanjut Siska
"kasian juga ya, pasti ibunya sangat bahagia disana, karena punya anak sholih banget kayak gitu." sambung Lidya, Lidya inilah satu satunya mahasiswa yang mengenakan hijab besar dan tak mau jika berboncengan dengan lelaki. Sehingga setiap survey selalu meminta Intan yang memboncengnya.
"Sha, kayaknya masnya yang tadi itu lihatin kamu terus deh." ucap intan mulai menggosip
"yang mana?" tanya Sasha
"itu lho yang sekdes, kan masih muda. Sapa tau jodoh Sha." lanjut intan
__ADS_1
"ga ah, jodoh apaan, aku udah merid." ucap Sasha namun rekan rekannya tak ada yang percaya. Karena semua rekannya berasal dari Fakultas lain sehingga mereka baru berkenalan saat kumpul KKN pertama.
"Boong dosa lho, bilang aja kalo kamu dah pacaran ma Hafis kan? Gausah bilang udah merid gitu kali sha, ya khan?" Siska mulai menggoda Sasha.
"enggak yah, Aku ma Hafus cuma temenan aja koq, kita sekelas emang, dan aku dah sibatan sama dia dari awal kuliah." Sasha mencoba menjelaskan
"masa sih sa kalian ga ada apa apa, cerita aja ma kita gapapa sha." Intan mengakrabkan dirinya kepada Sasha, ia ingin menjadinlebih dekat dengan teman barunya tersebut.
"ga ada beneran, cuma temen koq." Sasha mencoba menjelaskan kembali
"udah donk temen temen, jangan dipaksa Sashanya." suara lembut Lidya yang paling bijaksana akhirya membuat rekan lainnya menutup mulutnya sambil tersenyum senyum, memang setiap kata yanh diucapkan Lidya sangat lembut dan bijak membuat orang lain terkesima.
"Duh lidya, kamu tuh lembuuut banget, bijak juga, jadi pingin jodohin kamu sama temen aku, dia juga dewasa banget dan bijaksana, kapan kapan aku kenalin yah." ucap Sasha yang kagum dengan Lidya, ia merasa Lidya sangat cocok dengan Bastian, sama sama dewasa, Lidya hanya tersenyum.
"Kalo Lidya ga mau pacaran gitu, tapi harus langsung melamar! Betul kan Lidya?" ucap Siska dan diangguki oleh Lidya sambil tersenyum.
"Jangan lupa sabtu depan kita rapat cari barang barang trus kita anter kesini." Ucap ketua kelompoknya bernama Satria.
"Sat aku izin ya, pokoknya aku ngikut aja dituhasin bawa apa aja. Karena ada acara keluarga sabtu minggu." ucap Sasha, ia tak mungkin mengatakan jika ia akan mengadakan resepsi pernikahan karena ia tak enak bila tidak mengundang para rekannya. Jika menambahi undangan, ia juga sungkan kepada keluarha Faishal karena takut membebani.
Akhirnya mereka kembali ke Jogjakarta setelah hujan mereda, karena selama mereka diwindusari, hujan deras mengguyur diwilayah tersebut. Merekapun sangat sore baru sampai di Jogkarta.
Hafis mengantar Sasha sampai depan pagar rumah lalu ia langsung pamit. Namun sekali lagi mereka lupa kebiasaan yang harus mereka tinggalkan. Hafis reflek mengambil Helm dari kepala Sasha lalu membawanya pulang setelah berpamitan. Sashapun lupa, padahal sudah ia niatkan akan membawa helmnya pulang dan tidak merepotkan Hafis lagi. Sasha menjadi gamang hatinya. Ia khawatir Faishal melihatnya dan cemburu padanya, dan ia juga khawatir Hafis juga akan berfikiran lain.
__ADS_1
Sasha menghela nafas panjang, lalu ia keluarkan perlahan lahan dan melangkah masuk kegerbang rumah. Ternyata rumah mereka terlihat ramai. Para saudara dari bunda berdatangan membawa suvenir dan beberapa perlengkapan lainnya. Ada yang membantu Fitha menulis nama nama di undangan, ada juga yang memasang ucapam terimakasih disuvenir suvenir. Sashapun masuk mengucapkan salam dan menyapa semua keluarga yang datang dengan Ramah.
"Fitha, Cilla sama mas Faishal mana?" Tanya Sasha kepada Fitha, karena ia tak melihat sang suami disana.
"kakak lagi pergi sama Aldo, ngambil apa gitu katanya, motoran. Kalo Cilla tadinya sama aku, tapi ada tante siapa gitu pingin gendong katanya, ga tau nih diajak kemana, Dah kamu bersih bersih dulu deh. Nanti balik kesini." ucap Fitha
Sasha masuk kekamarnya, membersihkan dirinya lalu keluar bergabung dengan yang lainnya menulis nama nama diundangan.
"Fith, mana Cilla?"tanya Sasha kembali, karena ia sama sekali belum melihat keberadaan putri kecilnya.
"yok ikut kebelakang yuk sapa tau diajak kesana." Fitha mengajak Sasha keteras belakang tempat dimana keluarga lainnya sedang menempel ucapan terimakasih disuvenir.
"Tuh Cilla ma tante yang itu Sha tapi koq udah ga digendong ya?" Fitha terkejut saat melihat seseorang yang tadi menggendong Cilla sudah mengobrol dan membantu disana, sedangkan Cilla tak ada didekatnya.
"Tante maaf, Cillanya kemana ya tante?" Tanya Sasha sopan.
"oalah, tadi dijak main sama anakku, si Ina, diluar paling mba cubo ditiliki dewe mba ra reti aku, iki lagi repot (coba dilihat sendiri mba ga ngerti saya, ini lagi repot)". Jawab sang tante terlihat meyepelekan dan terkesan kedatangan Sasha dan Fitha amat mengganggu.
Fitha langsung tak senang mendengar jawaban seseorang yang harusnya bertanggung jawab kepada Cilla. Sasha yang sudah melihat raut wajah Fitha, mulai tak enak hatinya, ia takut Fitha akan meledak ledak disana. Sasha pun menggenggam tangan Fitha lalu memberikan kode kepada Fitha agar segera meninggalkan tempat ini.
"ibunya gitu banget sih, trus anaknya itu yang mana juga ga tau kan kita." ucap Fitha dengan nada kesal sambil berjalan menuju halaman depan.
"kita cari Fith, aku jadi khawatir!" ucap Sasha lalu mereka berdua mempercepat jalannya.
__ADS_1
"kita mencar aja Sha!" Ucap Fitha dan akhirnya mereka berpencar.
"duh kemana sih mereka." Sasha semakin cemas, karena belum menemukan keberadaan anak yanh bernama Ina tersebut yang pastinya sedang menggendong Cilla.