
Tiba tiba..... seseorang mengambil minuman Vivi
"lho! koq diambil?" Vivi kesal, tiba tiba minuman jus jeruk berkarbonasnya diambil.
"kamu!...." Vivi terkejut, ternyata orang yang mengambil minuman adalah laki laki yang pernah membawanya kerumah sakit.
Ya, itulah Hafiz yang juga merupakan langganan swalayan tersebut, ia sering nongkrong disana, terutama saat saat hatinya resah. Seperti saat ini, sejak pernikahan Sasha hidupnya tak tenang, selalu gelisah, ia masih memikirkan bagaimana caranya ia harus bersikap saat bertemu Sasha, rasa kecewanya amat dalam, ia takut tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sedang tak enak dipandang mata, didepan wanita pujaannya, patah hatinya sungguh berat, mencintai dalam diam ternyata lebih menyakitkan baginya.
"kamu yang kemaren kan?" lanjut Vivi memastikan.
"iya! aku ga mau ngangkut orang muntah muntah lagi." hafiz menjawab dengan nada kesal, padahal ia bukan orang yang banyak bicara, namun entah kenapa wanita yang didepannya ini membuatnya banyak bicara, dan merasa kesal, mungkin karena kesan pertamanya bertemu Vivi dalam keadaan yang kurang baik. Raut wajah Vivi menjadi tak enak hati setelah Hafiz berkata demikian.
"koq diminum sih! hey! kembaliin ga!" Vivi kesal karena minumannya yang belum sempat ia nikmati diminum orang yang sama sekali tidak ia kenal. Entah apa yang membuat Hafiz bertindak sejauh itu, mungkin ia tak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali.
"aku ganti!" Hafiz berdiri lalu masuk keswalayan, ia mencari beberapa minuman untuk mengganti minuman Vivi yang ia minum, aslinya ia tak suka minuman berkarbonasi, namun ia seperti terdorong untuk melakukannya. Hafiz mengambil susu vanila, susu strawbery dan air mineral.
" Nih aku ganti 3!" ucap hafiz menyodorkan minuman yang ia beli.
" koq ini sih, kalo ganti ya minumannya sama donk!" ucap Vivi jutek, ia kesal minuman yang paling ia inginkan justru diganti minuman anak anak.
"ini lebih aman diperut, tuh lihat makananmu pedes semua."
"ga usah sok care, aku ga butuh perhatian kamu, ga kenal juga!" vivi masih kesal namun ia minum juga susu strawbery tersebut membuat Hafiz tersenyum heran lalu menggelengkan kepalanya.
Vivi meminum susu strawbery yang jarang sekali ia beli karena baginya susu dengan rasa buah tersebut seperti minuman anak TK. Namun saat ini justru terasa nikmat sekali, sampai sampai ia berfikir kenapa saat ia stres tidak mencoba minum jenis ini. Ia lalu tersenyum.
"kenapa senyum senyum! nanti dikira orang gila lho."
"eh masnya! kalo risih lihat aku, pindah sana, atau pulang sana, ga usah resek deh."
"hahh! mbaknya.... maaf, tadi yang duluan saya! jadi silahkan mbaknya yang cari kursi lain." jawab hafis mulai malas menatap Vivi, ia llau sibuk kembali dengan HPnya.
Vivi melihat sekitarnya teryata kursi kurai sudah dipenuhi oleh mahasiswa yang lain, dan laki laki semua, membuat dia agak risih, namun jika dengan hafiz entah kenapa ia merasa lebih nyaman walau membuatnya kesal.
"iya iya maaf, join bentar!" vivi melanjutkan menyantap camilannya.
"masnya!"
"apaan!" jawab Hafiz ketus
"tempat healing dimana yah?"
"anak perempuan jam segini pulang kerumah lebih bagus." ucap Hafis yang menjawab tanpa melihat Vivi, masih sibuk dengan HPnya.
"aku lagi stress nih, tapi temen ga punya disini." vivi meletakkan kepalanya dimeja, lalu meracau sendiri dan Hafiz tak mempedulikannya.
"masnya! kalo aku ketiduran bangunin ya, males pulang"
"mbak! pulang deh, aku ga bisa jagain sampe pagi, aku punya rumah!"
"hiks, hiks!" Vivi menangis, kepalanya masih diatas meja.
"mbaknya! jangan nangis disini deh! nanti dikira aku ngapa ngapain lagi, hey! malu tauk!"
"pergi aja kalo malu." jawab Vivi
Hafiz kesal, lalu ia mengirimi Aldo pesan.
__ADS_1
Hafis
do, saudaramu yang dulu aku anter ke rumah sakit di depanku nih, diswalayan deket kampus.
Aldo
Iya Fiz, nitip yak, jagain.
"ck apaan sih Aldo malah dititipin ke aku, hahhh!" Ucap Hafiz dalam hati, ia amat Frustasi
"mbaknya!"
"apa.... hiks." ucap Vivi masih menangis
"berhenti donk! lihat tuh dilihatin orang"
"biarin, aku lagi stres!"
"ck, yaudah ikut" Hafis akhirnya mengajak Vivi pergi, ia menarik tangan Vivi lalu memintanya membonceng.
"mau kemana sih? mau nyulik yah?" ucap Vivi sambil meronta minta tangannya dilepaskan.
" katanya mau healing! ayok ikut, disini dilihatin orang tauk, ga malu apa." Hafiz bersiap dengan motornya.
" aku kan ga bawa helm! trus kamu beneran mau ngajak healing, ga bakal macem macem kan." Ucap Vivi curiga, ia lalu menyilangkan tangannya.
" ya udah kalo ga mau, aku juga ga selera sama kamu, kerempeng!"
"pakek mobil aku aja, nanti kena tilang lagi."
"dah malem mana ada polisi jaga, yaudah mana mobilnya."
"iya, cepetan."
Mereka berdua masuk kemobil, Vivi masih bingung mengapa cowok yang ada didepannya ini tiba tiba mengajaknya healing. Teryata Hafis mengajaknya ke bukit bintang, dimana disana banyak pemuda pemudi duduk dipinggiran dan menikmati suasana malam bak bintang bertaburan.
"waahhhh, keren banget, dimana inih?" Vivi melihat sekitarnya
"bukit bintang, kita kesana aja sambil beli jagung bakar, disana kalo kamu mau nangis ga bakal ada yang lihat." Hafiz mengikuti langkah Vivi menuju tempat yang ia tunjukkan.
"nih jagung" Hafis membawakan jagung bakar pedas,
"wahhhh enak banget."
"dah ga nangis?" Hafis heran, baru saja beberapa saat yang lalu perempuan cantik didepannya ini menangis, sekarang sudah terlihat kegirangan menyantap jagung bakar.
" emang ga boleh?" jawab vivi jutek
" perempuan itu memang aneh, ribet" ucap Hafiz
" ihh sok sok ga butuh cewek, perempuan itu halus perasaanya makanya gampang nangis, ish ga ngerti, makanya pacaran mase!"
" emang kamu punya? aku yakin ga bakal ada yang suka sama kamu, aneh!"
" aku dah tunangan tauk, tapi......" Raut wajah Vivi tiba tiba berubah, sekarang terlihat amat sedih, tiba tiba air matanya menetes lagi.
" aku ga tau, hiks, kenapa dia sebegitu ga sukanya sama aku, padahal aku cinta banget sama dia, aku yakin banget dia bakal mencintau aku suatu hari nanti, hiks, tapi... tapi... perempuan itu ngerebut dia, sekarang mereka dah nikah, hu uuuuuu uuu, aku ga nyangka dia jahat banget." Vivi menangis sambil menceritakan kisah pilunya, Hafiz jadi tersentuh, ia merasa iba mendengarnya. Ternyata masalahnya sangat berat, wajar jika ia tak ingin pulanh dan ingin menghibur diri.
__ADS_1
"kenapa kalian bisa tunangan?" Hafiz tiba tiba ingin tahu, karena menurut cerita yang ia dengar tunangan Vivi seperti tak mencintainya, namun mengapa bisa bertunangan, itulah yang menjadi pertanyaan hafiz.
"...... eyang , maksudnya eyang yang minta." ucap Vivi, ia tak mau mengatakan jika ia yang meminta agar Faishal bertunangan, ia juga sadar jika Faishal terpaksa, namun vivi berkeyakinan jika mereka sudah terikat lambat laun Faishal akan mencintainya.
"berati kalian ga saling cinta?" tanya hafis lagi
"tepatnya cuma aku yang jatuh cinta, dia sama sekali ga mencintaiku." ucap Vivi sambi sesenggukan.
"harusnya dia ga memberi kamu harapan dengan setuju sama pertunangan kalian, aku ga respek sama laki laki seperti itu." ucap Hafiz
"jangan bilang begitu, aku yang sudah memaksakan kehendak, jangan berfikir buruk tentang dia." Vivi membela tunangannya, ia tak rela Hafis berprasangka buruk kepada tunangannya.
"Makanya kamu disakitin, buktinya dia dah salah masih kamu belain." jawab hafis
"aku ga benci sama dia, aku benar benar marah sama perempuan itu, dia sudah merebutnya, padahal dia tau kalo kami bertunangan, tapi mereka tiba tiba menikah, hancur banget aku."
" dah tinggalin, move on."
"kamu gampang bilang gitu, kamu ga diposisi aku."
"memang ga gampang, tapi kita harus berusaha."
"kita?? emang kamu juga lagi patah hati?" tanya vivi curiga
"aku males sih cerita, tapi aku juga lagi proses move on." jawab
"ditinggalin? diselingkuhin?" tanya Vivi makin penasaran
"lebih parah sih, soalnya belum sempet nyatain cinta dah jadi milik orang." ucap Hafiz sambil melihat keatas langit.
" ya ampun, cinta dalam diam? trus tiba tiba orangnya dah sama cowok lain?"
"kurang lebihnya lah." jawab Hafis
"yaudah kita senasib donk! pantesan ngajak kesini ternyata cari temen healing kan?" jawab vivi, ia senang ada teman yang juga patah hati sepertinya.
"anggep aja gitu." ucap hafiz tanpa ekspresi
"nih, scan nomor aku. Aku vivi!" Vivi menyodorkan HPnya
"Hafis!" Hafiz memindai barcode dari HP Vivi.
" aneh ya kita, baru kenalan sekarang" ucap Vivi, baru sekali ini ia merasa nyaman berbincang dnega seseorang, begitupun hafis, baru sekali ini ia merasa nyaman bahkan banyak bicara dan sampai mengatakan masalah pribadinya, mungkin karena nasib mereka yang sama sehingga mereka myaman satu sama lainnya.
Mereka duduk diemperan rumah makan dibukit bintang, mereka bahkan ingin disana sampai pagi mengobrol melepaskan penat, bahkan disana banyak para pengemudi yang singgah duduk menikmati udara dan suasana hingga fajar, sampai Vivu tertidur ditikar dengan posisi memeluk kakinya, Hafis tertawa kecil melihatnya. Entah mengapa ia mau menuruti gadis disampingnya ini untuk bergadang sampai pagi disana, padahal mereka belum lama berkenalan. Paling tidak Hafis selalu mengabari posisi mereka kepada Aldo, sehingga saat mama papa Vivi menghubungi tak begitu khawatir kembali karena Vivi sudah ada yang menjaga dan dala keadaan baik baik saja.
Hafis pun tertidur sambil duduk, ia tak mau jika sampai tidur bersama ditikar sungguh tak etis baginya.
Andai mereka berdua tahu, jika pasangan yang mereka bicarakan adalah orang yang sama, mungkin kisahnya akan berbeda.
************
akhirnya bs up 🥺
lagi banyak pesenan distudio nih 😄
kabar kalian baik kan my belove reader?
__ADS_1
gimana Vivi ma Hafis? kira kira mereka kaget ga kalo tahu Faishal dan Sasha???
ikuti lanjutannya yah 😘😘😘😘😘😘