
Sang gadis memeriksakan darahnya ternyata golongan darahnya sama, karena kondisinya baik sehingga dokter mengizinkannya untuk mendonorkan darahnya. Pemeriksaanyapun sudah selesai sehingga saat keluarganya datang oleh dokter langsung diperbolehkan pulang. Saat itu tinggal ayah dan bunda yang masih berada di UGD menungggu kedatangan orang tua dari gadis tersebut dan orang tua dari Ina. Sedangkan Sasha dan Fitha mengantar Cilla ke bangsal karena harus mendapatkan perawaran dokter beberapa hari sampai keadaannya membaik.
"Oalah putrinya mas Harun to, maaf yo mas ga ngeh." ucap Bunda, setelah bertemu orang tua dari gadis tersebut, ternyata adalah tetangganya waktu masih kecil. Rumahnya berada didepan rumah eyang alias rumah kelahiran Bunda yang saat ini ditempati oleh om Regan.
"iya dek Ratna, anakku ini baru pindah dari jakarta jadi belum faham betul jalan disini, katanya tadi nyasar cari jalan pulang makanya sampe dijalan tadi. Ngapunten njih dek Ratna, mas Agung." ucap Pak Harun
"Gapapa mas Harun, ternyata kita dipertemukan disini, oiya sekalian, bun undngannya masih kan ditas?" ucap Ayah, lalu bunda mengangguk dan mengeluarkan undangan.
"ini mas, datang ya saya mau ngunduh mantu, Jangan lupa sak keluarga dibawa, nanti mba Wulan juga dateng ya?" ucap Bunda sambil mberikan undangan.
"njih njih kita pasti datang, maturnuwun sanget ini sudah nolong anak saya, besok motornya saya ampiri mawon kerumah jenengan, sekalian sowan (main)" ucap Pak Harun
"kita mas yang maturnuwun sama mba Wulan ini sudah bersedia mendonorkan darah, semoga kakinya segera sehat dan bisa main kerumah." ucap Ayah
"iya mba wulan makasih ya, kali lojat mba wulan ini mirip sekali sama cucu saya, ya kan yah? Pasti mirip ibune ini?" ucap bunda yag sedari tadi sudah membatin jika gadis tersebut sangat mirip dengan Cilla, bedanya kulit Cilla lebih putih.
"iya ya, kayak kembar." ucap ayah yang baru saja menyadari kemiripannya, sejak tadi ayah berusaha mengingat ingat kira kira gadis tersebut mirip dengan siapa karena terkesan familiar.
"om tante, salam sama mbaknya tadi, maaf belum bisa nemuin, besok kalo kaki saya sudah sembuh pasti ikut Bapak kesana." ucap Wulam sopan.
"pasti ditunggu." ucap bunda
__ADS_1
Akhirnya pak harun dan anak gadisnya berpamitan dan pulang. Didepan pintu UGD saat Wulan yang duduk di kursi roda sedang menunggu sang ayah mengambil mobilnya, tiba tiba mata wulan menangkap sesosok pria yang beberapa waktu lalu menolongnya dan ia tlah jatuh hati pada pandangan pertama, tak ia sangka sangka akan bertemu lagi. Itulah Faishal ia berjalan dengan tergesa gesa bersama Aldo. Saat akan masuk ke UGD Faishalpun akhirnya berpandangan dengan sang gadis yang ia sangat ingat wajahnya karena mirip dengan putri kecilnya. Namun ia hanya menganggukkan kepala lalu berlalu masuk ke UGD, saat Wulan tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"Siapa kak? Tumben ramah ma cewek lain?" Tanya Aldo heran sang kakak mau membalas sapaan dari wanita yang belum ia kenali.
"itu yang kemaren kakak tolongin, mukanya mirip banget sama Cilla, kakak sampe berfikir kalo apa itu ibunya." ucap Faishal
"Yakin mirip? Aldo lihat kesana ya kak?" ucap Aldo
"ga ada kerjaan banget sih, nanti dikira kamu stalker dia gimana? Kita harus segers ketemu mereka ini, pasti Sasha dah nungguin kakak" ucap Faishal.
"iya iya, paling juga orang mirip, kan didunia orang mirip banyak." ucap Aldo dan mereka akhirnya bertemu bunda yang sedang mejaga Ina.
"lho ina juga? Gimana ceritanya?" tanya Aldo
"Sasha mana bun?" tanya Faishal setelah ia tak menemukan keberadaan sang istri.
"Cilla mondok kak, jadi mereka nganter Cilla ke bangsal. Tuh Fitha." Ucap Bunda yang melihat Fitha menghampiri mereka.
"Fith! Cilla dibangsal mana?" tanya Faishal
"Melati nmr A03 kak, tadi sama bunda suruh VIP." ucap Fitha
__ADS_1
"Yaudah kakak kesana, kamu disini aja sekalian cari maem sama Aldo." ucap Faishal akhirnya ia berpamitan dan menuju bangsal tempat Cilla dirawat.
"Bun, maafin Fitha ya bun, hiks, coba kalo seandainya pas ibunya tadi minta Cilla ke Fitha ga Fitha kasih, ga bakalan kayak gini bun maafin bun." Fitha menangis lalu dipeluk oleh bunda.
"Sudah sudah sayang, bunda juga salah harusnua tadi bunda ajak aja Cilla nganter undangan." ucap bunda sambil menepuk nepuk punggung Fitha.
"Ceritanya gimana?" tanya Aldo
"Gini do, tadi kan aku lagi bantuin dirumah, Cilla aku bawa, aku pangku, trus ada ibunya Ina minta cilla katanya dia pingin gendong gitu, aku ya ga curiga gimana gimana trus aku kasih aja, trus aku lanjut bantuin kan, akhirnya Sasha pulang, nanyain Cilla kan, aku bilang kalo sama ibunya ina ini. Kita samperin kedapur ternyata Cilla dah ga sama ibunya, kita tanya kemana, ibunya bilang main sama anaknya ina. Dan beliau ga tau dimana, dah mau magrib itu, akhirnya aku ma Sasha cari kemana mana ga ketemu ketemu, sampe kepengkolan kita denger suara motor jatuh trus denger suara bayi nangis, kita berdua langsung panik ternyata bener, Cilla dah berdarah darah itu, si Inanya pingsan trus mbanya yang bawa motor jatuh disebrang jalan, dia banting stir kekanan buat ngehindarin Ina, soalnya ina mau nyebrang tapi ragu ragu trus lari, Ina akhirnya jatuh pingsan, untung ketemu bunda dijalan jadinya kita langsung kesini. Kamu kemana aja si Do, tadi ditelponin bunda ga diangkat, kakak juga ga angkat telpon Kita ga bawa HP." ucap Fitha sambil terisak.
"iya iya maaf gue tadi sama kakak lagi ngangkatin baju yang buat resepsi besok, tuh sampe belum pulang kita, baju masih dimobil, jadi ga tau nih keadaan rumah gimana." ucap Aldo, ia menjadi sedih juga melihat Fitha menangis
"jangan marah ma aku ya do, aku salah banget nih. Hik hik." Fitha melanjutkan tangisnya.
"lo ga salah koq, yang salah ya bulik menik donk, tau anak kecil koq boleh disuruh gendong mana ga diawasin lagi kemana, kalo sampe pengkolan kan jauh itu.Ina coba bilang kak Aldo tadi ngapain sampe jauh jauh?" tanya Aldo agak tinggi nada suaranya.
"mau jajan kak. Ke swalayan yang jual makanan bayi." Ucap ina memelas
"ya ampun swalayan? Jauh banget kan dek, emang disuruh sama ibuk kesana?" sambung Fitha dengan nada meyayangkan
"engga, aku cuma pingin ngasih adek snack." ucap Ina, walau bagaimanapun ia hanyalah anak berusia 8 tahun yang meyayangi Cilla dengan caranya. Fitha jadi terharu mendengarnya.
__ADS_1
"Ya ampun dek, lain kali kalo jauh jauh bilang sama ibunya atau orang dewasa yang ada dirumah yah, kakak tau Ina baik, sayang sama adek, tapi kalo gini lagi bisa bahaya kan? Besok besok harus sama orang dewasa yah." ucap Fitha lalu ia mengelus kepala Ina dengan sayang.
"Inaaaa!!!!" Sang ibu datang sambil berteriak memanggil snag anak