Bayi Kita

Bayi Kita
08


__ADS_3

"mas.... boleh ga... em... aku pingin gendong dedeknya. tapi.... baju aku masih kotor." ucap Sasha yang memberanikan diri membuka obrolan walau masih canggung.


Faishal menatap Sasha dan tersenyum sekilas, ia bisa merasakan bahwa Sasha sangat ingin menggendong sang bayi, yang sudah berubah jadi bayi mungil yang cantik, karena sudah dimandikan dan wangi. Sejak selesai dibedong Sasha tidak berani menggendong karena bajunya yang masih kotor.


"ituh disebelah kiri ada lemari kecil warna putih. Buka aja, ada beberapa kaos saya disana. kamu pakai aja dulu, kayaknya mereka lama sampainya. Apa mau mandi?" tanya faishal memberanikan diri.


"pinginnya he" ucap Sasha canggung namun jujur. Ia ingin membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum menggendong sang bayi.


"mandi aja, dilemari sama juga ada sikat gigi baru pakek aja." ucap faishal yang juga masih sangat canggung.


"iya makasih" ucap Sasha canggung namun ia usahakan tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya lalu ia membuka lemari yang dimaksud dan mengambil kaos serta sikat gigi baru dan berlalu kekamar mandi.


tok..tok....!


Sasha terkejut karena pintu kamar mandinya diketuk, dan ia yakin sekali bahwa yang mengetuk adalah sang dokter.


"ya?? gimana?" seru sasha dari dalam kamar mandi.


"maaf handuknya saya taruh digagang pintu." sambil menggendong sang bayi yang jika diturunkan menangis, Faishal memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi, karena ia yakin Sasha pasti sangat membutuhkannya.


"makasih" ucap sasha


"hufhhh kirain ngapain....(sambil mengelus dada) ternyata handuk, haduh pikiranmu shaaa." gumam sasha yang sudah berfikir yang tidak tidak tentang faishal.


"ternyata baik juga orangnya, kirain sedingin es." batin sasha sambil tersenyum dikamar mandi.


"duh koq jadi ngelamun sih kelamaan mandinya." gumam sasha menyadari dirinya yang terhanyut akan perlakuan sederhana dari Faishal namun menurutnya adalah bentuk perhatian yang sangat manis dari orang yang sedingin Faishal.


krek...


sasha membuka sedikit pintu kamar mandi lalu hanya mengeluarkan tangannya untuk mengambil handuk. Namun sayang yang mau digapai justru tersenggol dan jatuh, sasha tetep konsentrasi untuk meraba 'tempat sekitarnya dengan tangannya.

__ADS_1


Ternyata Fasihal melihatnya, Fasihal memberanikan diri mengambil handuk tersebut lalu didekatkan ketangan Sasha.


Sasha terkejut, dan merasa sangat malu saat tahu bahwa faishal lah yang membantunya mengambil handuk. Sesegera mungkin tanganya menarik handuk tersebut dan langsung menutup pintu kamar mandi.


Faishal merasa lucu dengan tingkah sasha yang membuatnya tersenyum geli. Namun beberda dengan sasha yang jantungnya hampir copot, dia merasa telah berbuat malu didepan faishal untuk yang kedua kalinya.


"bego banget sih (sambil memukul pelan kepala kirinya) ngapain pakek jatuhin handuk, hiks". gumam Sasha menyesali kejadian yang baru berlangsung, lama ia dikamar mandi setelah menyelesaikan acara mandinya, ia begitu malu ingin keluar, namun ia tersadar kembali bahwa ia harus segera menggendong sang bayi selain karena ia sangat ingin menggendongnya, Sashapun tidak tega jika membiarkan Faishal yang harus menggendong semalaman, mengingat bayi tersebut akan terus terusan menangis jika diletakkan, seakan sangat haus akan dekapan orang tuanya.


Pintu kamar mandipun dibuka dengan perlahan, lalu Sasha keluar mencari keberadaan tasnya, mengambil kantong plastik untuk tempat baju kotornya, untungnya selalu ia bawa kemana mana. Lalu iamendekati Faishal dan meminta sang bayi.


"sini mas! aku gendongnya." ucap Sasha dengan wajah berbinar melihat sang bayi.


"nih pelan pelan, bisa kan gendongnya?" tanya Faishal sesaat sebelum memberikan sang bayi.


"bisa koq mas, saya sering gendong ponakan saya." ucap Sasha tanpa berani melihat wajah Faishal yg sedari tadi melihatnya dengan lekat, Sasha hanya berani menatap sang bayi saja. Justru dengan sikap Sasha yang malu menatap Faishal membuat Faisal amat leluasa melihat wajah Sasha dengan lekat sampai sampai terbersit dalam hatinya kata kata "cantik....." lalu diiringi dengan senyuman simpul.


Sasha meraih bayi dengan hati hati, namun jantungnya amat berdebar karena posisi mereka amat sangat dekat saat detik detik Sasha meraih sang bayi. Terlihat seperti keluarga kecik yang sangat bahagia. Sumringah terlihat wajah keduanya.


"ginikah rasanya melahirkan? Ya Allah andaikan ini bayiku, aku pasti amat bahagia, mengapa begitu tega ibunya meninggalkannya." tanpa terasa air mata Sasha menetes.


" kamu nangis?" Tanya faishal khawatit mengapa Sasha tiba tiba terlihat sangat sedih.


"oh eh engga mas ga koq " ucap sasha mengkondisikan dirinya kembali.


Faisal menjadi bertanya tanya apa yang membuatnya terlihat begitu sedih.


"Sasha..." ucap Faishal


deg!......


Sasha tertegun mendengar suara yang sangat hangat memanggilnya, jantungnya terasa berdebar saat mendengar suara panggilan tersebut. Karena inilah untuk pertama kalinya Faishal memanggil nama *Sasha*. Seorang dokter yang menurut cerita dari Aldo amat sangat dingin dan sangat menghindari para wanita, sehingga itupun yang menjadi alasan Sasha bersikap amat hati hati agar tidak menyinggung perasaan kakak dari sohibnya tersebut.

__ADS_1


"iya gimana mas?"


"bayinya.... harus diazani"


"oh iya bener, trus gimana ya mas? apakah harus ayah asli yang mengazani?"


" ga harus koq, apalagi keadaannya seperti ini, kalo boleh... em..apa saya boleh?" tanya Faishal ragu


"iya mas gapapa, lebih cepat lebih baik." ucap Sasha


"ok, tetep kamu gendong yah"


"ya" ucap Sasha sambil mengangguk kecil


Faishalpun mendekati Sasha, karena Sasha menggendong sang bayi diseblah kiri sehingga telinga kanannya mengarah kebadan Sasha. Sasha menaikan sang bayi dengan tangannya agar Faishal lebih mudah mengazani, tanpa aba aba Faisal tiba tiba mendekai Sasha dari belakang dan langsung membungkuk menempatkan bibirnya didekat telingan sang bayi.


Sasha jadi berdebar, pasalnya posisi faishal sangat dekat, bahkan terkesan hampir memeluknya. Hawa panas tubuh faishalpun dapat dirasakan sampai ke Sasha. Membuat Sasha hanya bisa terdiam terpaku, lalu iapin segera fokus memegang sang bayi.


Dengan khidmad Faisal mengazani sang bayi mulai dar telinga kanan lalu kekirinya. Adegan tersebut persis seperti seorang ayah yang sedang mengazani bayinya yang berada digenggaman bundanya. Ternyata ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi dari celah pintu sambil tersenyum senyum bahagia. Ya.... Fitha dan Aldo sudah kembali dari petualangannya berbelanja.. namun mereka tidak langsung mengetuk pintu. Saat mereka sampai dan mau masuk, merreka melihat Faishal yang sedang mengazani telingan kanan sang bayi. Aldopun menarik Fitha agar tidak mengganggu moment manis tersebut dan bersembunyi sambil mengintip dibalik celah pintu.


"berasa lihat keluarga kecil bahagia nih gue , khik khik khik." Aldo tertawa lirih, ia bahagia melihat sang kakak bisa bersikap hangat kepada wanita bahkan terlihat seperti sangat melindungi.


"iya do. Aku koq bahagia ya lihatnya, berasa kyk lihat Sasha yang habis melahirkan trus ditemenin suami." bisik Fitha


"masuk sekarang ga???" ucap Aldo


"ssstt bentar lg biar momen azannya selesai dulu." tahan Fitha yang memang saat itu Faisal.masih mengazani telingan kiri sang bayi, dan Sasha yang begitu khidmad mendengarnya, bukan hanya mendengar, tapi Sasha juga semoat curi curi oandang kearah Faishal dan terpana karena suara azannya.


" gini kali ya kalo melahirkan beneran trus dutemenin suami (tersenyum sambil meggigit bibirr dalamnya) ihh apaan sih sha khayalanmu ga bener deh." ucap Sasha dalam hati.


Tok...tok....

__ADS_1


__ADS_2