
Tiba tiba Faishal keluar dari kamar menuju kedapur, para gadis gadis semakin penasaran dibuatnya.
"Katanya mau belanja mba mba semua? mari saya antar ke warung." ucap Aldo membuat Fitha makin illfill.
"Oh iya iya kak, sampe lupa." mereka akhirnya mengikuti Aldo walau matanya masih jelalatan kearah dalam rumah, berharap Faishal keluar dan ikut berkenalan.
"eh kak, kakak yang satu lagi dokter ya benar kah?" tanya salah seorang gadis kepada Aldo.
"iya betul, saya kepingin jalan jalan nih, bisa bantuin muter muter ga?" ucap Aldo, ia sengaja ingin membuat Fitha makin cemberut dengan berjalan jalan mengajak para gadis dan diikuti Sari.
"wah boleh boleh kak, kita ke pekan saja kak, cari camilan khas sini."
"wah boleh tuh, jauh ga?" ucap Aldo antusias
"naik angkutan aja nanti kak sama sama kita. Kakak yang satu diajak lah kak. eh eh itu Kakak yang satu keluar, kesini dia." Terlihat Faishal keluar rumah lalu menuju kewarung, membuat para gadis terkesima.
Saat melewati mereka Faishal hanya menunduk ramah lalu berlalu ke arah warung.
"Pak! saya mau minta izin mengajak Sasha keluar, ada yang mau saya bicarakan." Pinta Faishal sopan, namun tetap menjadi perhatian para gadis diwarung tersebut.
"iya iya silahkan nak, sana Sha ikut calon suamimu dulu." Ucap ayah Sasha membuat para gadis terkejut. Sasha akhirnya mengikuti Faishal.
"calon suami??" mereka saling berpandangan
"iya, itu calon suami Sasha yang sebenernya, kalo saya adeknya, mirip kan?" jawab Aldo dengan pedenya
" iya pantes agak mirip ternyata kakak adek yah, kak maaf tanya lagi, bukannya Sasha sama kak insan? koq bisa berubah?" tanya mereka kepo sambil berbisik.
"yah gitu deh, tanya aja keluarga Sasha lainnya." Ucal Aldo enggan menjelaskan lebih lanjut.
" kapan kita jalannya?" lanjut Aldo
" besok pagi aja kak, nanti ada angkutan lewat sini. trus kita berangkat, jam 6.30 ya? bareng anak anak sekolahan, hari ini libur kan jadi angkutan banyak yang ga lewat."
"baiklah. saya tunggu besok."
..
.
.
Sasha mengendarai mobilnya, mengajak Sasha pergi berjalan jalan.
"Warung bakso ada ga disini? kita sambil maan bakso ya?"
__ADS_1
"ada mas, tapi aku ga tau masih jualan atau engga."
" Sabuk pengamannya dipakai." ucap Faishal, ia sebenarnya ingin langsung memakaikannya, namun ia urungkan, khawatir jika nanti Sasha akan lebih canggung lagi karena pasti mereka akan berdekatan.
"oh i iya." jawab Sasha canggung kembali.
Mereka akhirnya menemukan warung bakso ditepian tebing, suasannya cukup asri dan tak begitu ramai. Merekapun memesan bakso dan es jeruk serta mengambil posisi duduk dipaling ujung yang menghadap hamparan kebun yang luas nan hijau.
"Wah mie putih ga pakek kecap" ucap Sasha sambil tersenyum, ia ingat saat mereka makan di mall dengan menu yang sama. Faishal pun ikut tersenyum, ia masih tak percaya jika mereka bisa bertemu lagi, makan bersama lagi, bahkan akan menempuh hidup bersama selamanya. Sasha menatap perkebunan didepannya, hembusan angin meniup rambutnya. Faishal memberanikan diri menggenggam tangan Sasha membuat Sasha terkejut dan berdebar.
"Sha...... sejak tadi malam kita belum bicara, sepertinya aku terlalu egois tanpa bicara dulu langsung meminang kamu didepan seluruh keluarga, apa kamu bisa memaafkan aku?"
"iya." ucap Sasha menunduk ia benar benar canggung, dan belum menyangka jika akan menikah dengan faishal.
"apa kamu bersedia menikah denganku? maaf... lamaran ini mungkin tak seindah yang kamu inginkan, tapi aku benar benar ingin kamu ada disisi aku selamanya Sha, aku masih dengan perasaan yang sama Sha, mungkin bertambah dalam, apa kamu bisa menerima aku?"
Sasha menjadi terharu, ini adalah ketiga kalinya Faishal mengungkapkan perasaannya. Ia bukannya tersenyum tapi malah menangis, membuat Faishal cemas, apakah ia salah telah meminang Sasha tanpa persetujuan Sasha terlebih dahulu.
"sha?? apa kamu terbebani?"
"tidak mas, maafkan aku, andai aku tahu akan seperti ini, aku ga akan menyia nyiakan perasaanmj sejak saat di Villa. Aku benar benar merasa bersalah sama kamu, sampai kamu ikut difitnah berkali kali karena keputusan aku merawat Cilla, aku yang mau minta maaf mas, aku dah banyak membenani kamu, sampai kamu juga disakiti oleh kak insan, hik hik hik. maaf mas maaf". Sasha menangis penuh penyesalan, Faishal menenangkannya, ditepuk tepuknya tangan Sasha, ia belum berani memeluknya khawatir akan membuat nama baik keluarga Sasha buruk kembali karena keberaniannya.
" kamu ga salah sha, aku malah bersyukur, aku yang awalnya sudah hampir menyerah mengharapkan keajaiban dapat bersama kamu, namun ternyata harus seperti dulu jalannya. Kedepannya kita akan sama sama yah, dalam suka dalam duka, aku ingin terus sama kamu, kamu mau kan?". Ucap Faishal, lalu Sasha mengangguk membuat Faishal bahagia.
"kamu tahu... bunda bahagia banget denger kabar ini, bunda sampai ingin berangkat hari ini juga kesini menemui orang tua kamu, tapi ibu dan ayahmu ingin berbicara serius dulu sama aku. Jadi ayah dan bunda menunggu orang tua kamu. Rencana sore ini orang tuamu ngajak akh ngobrol. Kalo Vivi, kamu ga usah khawatir, aku Aldo dan ayah bunda sudah ada solusinya. Yang paling penting buat aku saat ini adalah kenyamanan kamu, mulai saat ini apapun itu tolong beritahu aku, kita pikirin sama sama, termasuk urusan Cilla, aku berniat mengurus adopsi Cilla ketika kita sudah menikah nanti. Kamu setuju kan?"
" iya mas aku setuju." ucap Sasha walau masih mengganjal dihatinya bagaimana menghadapi Vivi nanti.
" berati kita bakal ga ketemu dulu, aku disuruh berhenti dari kampus." ucap Sasha murung
"Tenang aja, aku sama Aldo akan membicarakan ini sama orang tua kamu, karena kamu dah hampir KKN, sayang kan? nanti kita bicarakan yah."
"iya mas."
"aku mencintaimu Sha." ucap Faishal lembut membuat Sasha bersemu merah diwajahnya.
" apa aku belum dapat balasan cinta?" goda Faishal yang berharap Sasha juga akan mengucapkan hal yang sama.
"Hm?? emmm belum sekarang!" ucap Sasha malu dan ingin membuat Faishal penasaran, ia merasa lucu kepada Faishal, haruskah ia juga mengatakan bahwa ia juga jatuh cinta? padahal jelas jelas Sasha sudah menerima lamarannya, haruskan diyakinkan lagi dengan sebuah kata cinta? jika iya... maka Sasha akan menjadikannya sebuah hadiah dihari pernikahan mereka nanti.
Faisalnpun hanya bisa tersenyum dan bersabar menunggu kata cinta yang sama, satu hal yang ia yakini saat ini adalah Sasha sudah menerima lamarannya dan restu keluarga telah dikantonginya, ia yakin lama kelamaan Sasha akan jatuh cinta kepadanya, ia akan berusaha membuat Sasha mencintainya, andai Faishal tahu.... Sasha tlah jatuh cinta kepadanya sejak lama mungkin disaat yang sama ketika Faishalpun jatuh cinta, mungkin Faishal akan loncat kegirangan karena terlalu bahagia.
Mereka meneruskan makan bakso sampai selesai ditambahi beberapa obrolan kecil, lalu mereka beranjak dari warung bakso menuju kerumah. Sepanjang perjalanan Faisal tak melepas genggaman tangan kepada Sasha, senyum selalu terpancar diwajah mereka, benar benar saling jatuh cinta.
"Sha bisa tolong ambilin HPku jatuh." ucap Faishal saat memarkirkan mobilnya didepan rumah Sasha.
__ADS_1
"iya aku ambilin." Sasha pun menunduk lalu..
Cup...
Sasha terdiam, dipipinya tlah mendarat sebuah kecupan singkat, lalu ia melanjutkan mengambil HP sesegera mungkin . HP ia serahkan kepada Faishal tanpa menatapnya, lalu ia segera keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat masuk kerumah. Pipinya panas merah merona, ia tak siap mendapat kecupan tiba tiba seperti itu. Faishal tertawa kecil melihat tingkah Saaha yang sangat imut menurutnya, ia ingat kembali perkataan sang nenek yang memintanya memberikan cicit yang banyak.
"sepertinya harus bersabar, hufhhh," ucapnya didalam mobil sambil tersenyum lalu bersandar dikursi kemudi dan menatap keluar dimana Sasha saat ini sedang terburu buru berjalan kedalam rumah.
.
.
.
.
"Sha koq buru buru jalannya?" tanya Fitha yang melihat Sasha tergesa gesa keluar dari mobil sedangkan Faishal masih tertinggal didalamnya, Fitha khawatir jika Sasha dan Faisal bersitegang.
"Oh a aku kebelet sory." ucap Sasha lalu buru buru kekamar mandi untuk menyempurnakan aktingnya
"oohh kirain berantem sama kakak." ucap Fitha lega.
Sedangkan Faisal keluar dari mobil dengan wajah sumringah. Membuat Fitha curiga.
"Hayoooo ngapain senyum senyum? habis ngapain?" goda Fitha
"apaan sih Fitha, masa kakak bahagia ga boleh" Ucal Faishal
"mencurigakan." ucap Fitha penuh selidik diwajahnya
" makanya punya pacar!" ledek Faishal Fitha lalu mengerucutkan bibirnya
" Aldo aja sana kalo ga dapet dapet." lanjut Faishal sambil terkekeh
"ish amit amit, kakak ga tau kan sekarang dia lapi TP TP sama gadis gadis sini, sok populer." ucap Fitha kesal
"trus??" tanya Faishal heran karena Fitha seperti orang cemburu
"ya ga terus terus lah, cuma sebel aja lihatnya."
"cemburuuuu." goda Faishal
"ihh ga banget deh kak, dah ah, BT tauk."
"Hehehe." Faishal terkekeh lalu berlalu karena akan ke masjid menunaikan sholat dzuhur bersama Ayah Sasha.
__ADS_1