Bayi Kita

Bayi Kita
84


__ADS_3

Drrrt drrrrt drrrrrt!


"halo...." Faishal menjawab felfon


"*kak!Bangun! jam 3.30 sekarang" Bunda


"sebentar lagi bun, subuhnya masih lama" Faishal dengan suara seraknya, terdengar sangat letih.


"segera mandi sana kak! nanti keburu yang lain bangun! manut bunda toh le"


Tut*!


Tiba tiba mata Faishal terbelalak lalu terduduk dari tidurnya. Ia baru ingat ia harus mandi wajib lebih pagi karena kegiatanya semalam.


"Bunda bunda, tau aja" gumamnya sambil tersenyum mengingat bahwa sang bunda sangat peka, apakah bunda punya firasat?


Ia melihat sekeliling, mencari keberadaan pakaiannya yang semalam telah terlepas entah kemana, lalu ia menoleh ke Sasha yang tubuh polosnya masih tertutup selimut dan terlihat masih sangat pulas, hingga tak merasa terganggu ketika Faishal mengecup keningnya.


Faishal mengenakan pakaiannya, lalu membereskan pakaian Sasha dan diletakkan disamping tempat tidurnya. Ia keluar kamar dengan menutup pintu perlahan langsung menuji kamat mandi, tapi.....


"Nak Faishal?"


Deg!


Faisal terkejut, ia sudah berusaha mandi lebih awal agar tak terlihat keluarga lainnya, ternyata ada yang lebih pagi telah berada didapur ...... Dapur rumah Sasha memang berada didekat kamar mandi satu satunya dirumah tersebut.


"i-iya nek." jawab Faishal kikuk, ia serasa kepergok akan menunaikan mandi wajibnya karena saat ini masih terlalu awal untuk seseorang mandi, biasanya para laki laki yang akan subuhan dimasjid mandi sekitar 30 menit sebelum azan subuh, sedangkan saat ini masih 1jam 30 menit, hah sudahlah, malu itulah yang Faishal rasakan saat ini.


" Mau mandi nak?" ucap nenek yang terlihat biasa saja namun tetap membuat Faishal salah tingkah.


"iya nek."


"pakek air panas saja nak, masih dingin, itu sudah ada rebusan air." kata nenek


"ga usah nek, seger koq pakek air dingin, saya kekamar mandi ya nek." jawab Faishal sopan ia ingin segera menyelesaikan mandinya agar tak kelihatan yang lainnya, cukup nenek saja.


"iya iya nak mandilah." Jawab nenek, lalu melanjutkan kegiatannya memasak agar om dan tante Faishal yang akan berangkat setelah subuh dapat mengisi perutnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"siapa mak?" tanya bu sutia ibu sasha yang baru masuk dari pintu belakang membawa bahan masakannya.


"Faisal, mandi."


"Sutia bangunin Sasha dulu mak, nanti tak dapat subuh." ucap ibu yang seakan telah mengerti bahwa sang putri telah menunaikan kewajibannya sebagai istri.


"jangan sutia! nanti dia malu, biar suaminya yang membangunkan, ingat! kita tak boleh sembarangan masuk kamar anak gadis kita kalo sudah menikah." Nenek mencegah ibu sutia kekamar Sasha.


" iya ya mak, sutia lupa. Ya sudah sutia buat bumbu dulu." Akhirnya ibu melanjutkan acara masak memasak mereka, disana sudah sangat biasa jika para wanita memasak sedari pagi buta bahkan kadang dikerjakan sendirian.


Faisal menuntaskan mandinya, ia menjadi termenung pasalnya saat membersihkan juniornya, ada darah yang telah mengering disana, ia jadi merasa bersalah kepada Sasha.


"Pasti Sasha sakit banget sampai berdarah." gumamnya lalu setelah selesai ia keluar kamar mandi.


"sudah nak?" sapa nenek lagi


"sudah nek, oh! ada ibu? pagi bu?" Faishal terkejut ternyata ada sang ibu mertua juga disana. Apalah yang akan dibatin ibu mertuanya ini, pastilah sangat faham jika ia tlah menja*mah sang putri. Faishal jadi risau, harusnya setelah sampai dijogja saja ia melakukanya, Faishal merutuki dirinya.


"tadi malam bunda kamu kesini bawa koper katanya baju baju salin kamu yang masih disana, itu ditaruh didepan. Ini nanti air panas ibu taruh ditermos kalo Sasha mau mandi." jawab ibu sutia penuh perhatian.


"iya bu makasih, nanti Faisal bangunin Sasha dulu." Faishal akhirnya kembali kekamar, ia merasa bersyukur nenek dan ibu mertuanya terlihat memakluminya, membuat Faishal nyaman. Beda sekali jika dikeluarganya, pastilah Faisal sudah dikerjain habis habisan oleh keluarganya jika kepergok mandi wajib seperti pagi ini.


"ugh." Sasha mulai menggeliat akan bangun namun terlihat enggan, ia masih betah memejamkan matanya. Faisal membiarkannya karena masih terlalu pagi ia lalu membereskan pakaiannya.


"sssh" terdengar rintihan Sasha namun matanya masih terpejam, Faisal langsung cemas. Sasha terlihat kesulitan bangun.


" Sha? dah bangun?" ucap Faisal lirih, saat ini ia sudah ada disamping Sasha.


" hm." jawab Sasha sangat pelan , suaranya seperti orang lelah.


"tidur dulu aja gapapa nanti azan subuh aku bangunin lagi yah." ucap Faishal sambil membelai kepala Sasha.


Sasha akhirnya sadar sepenuhnya, ia membuka matannya, ia baru ingat jika yang membangunkannya adalah Faishal. Sebelumnya Sasha belum sadar sepenuhnya. Lalu ia langsung duduk, namun merasakan sesuatu yang terasa pedih dibagaian bawah. Wajahnya terlihat meringis. Faishal langsung tambah cemas.


"sakit kah?" tanyanya cemas.


"akh!" Sasha sadar, tak ada sehelaipun benang dibadannya, apalagi saat duduj selimutnya terurai kebawah. Ia langsung menaikkan selimut sampai menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya jadi memerah, Faisal jadi tersenyum melihat kelucuan sang istri dimatanya.

__ADS_1


"nih bajunya dah aku taruh disini." ucap Faishal yang mengangkat pakaian Sasha yang berada tak jauh dari tangannya.


"a aku mau berpakaian.... " ucap Sasha gugup, namun ia tak enak melanjutkan perkataanya, masa iya dirinya akan mengusir Faishal dari kamarnya, tapi bagaimana caranya ia memakai pakaian disana.


" oke aku madep sana deh," Faishal akhirnya berbaring membelakangi Sasha. Ia mengulum senyumnya, ternyata istrinya masih malu padahal sudah sama sama mengetahui bagian keduanya.


Cepat cepat Sasha memakai pakaian, ia sangat malu saat ini.


"mas, udah" ucap Sasha lirih, Faishal akhirnya menatapnya kembali lalu duduk mensejajarkan dirinya dengan Sasha.


"mas sudah mandi?"


"sudah, kamu mau mandi sekarang kah? tadi sudah ada air panas ditermos, aku bantu tuang di ember ya?"


"ga usah mas, aku bisa sendiri, mas yanga udah rebusin air pagi pagi?"


"nenek tadi yang nyiapin."


Deg! Sasha terkejut, ternyata sudah ada sang nenek didapur, ia jadi risau, takut ditanyakan macam macam jika tahu dirinya akan mandi.


"Ya udah mas aku mandi dulu, auh" Sasha reflek, saat ia beranjak dari kasur, ternyata bukan hanya terasa perih namun pinggannya pin terasa sangat pegal.


"Sha, aku bantu kekamar mandi ya." Fasihal langsung membantu Sasha berdiri, ia jadi merasa bersalah, jelas ialah yang menorehkan rasa sakit tersebut, ia merasa tak adil, karena dirinya baik baik saja, bahkan terasa lebih segar.


"ga papa mas, bisa aku tahan koq." Sasha menggelen lalu mencoba berjalan seperti biasa walau sambil menahan rasa sakitnya. Ia mengambil perlengkapan mandinya lalu berlalu kekamar mandi.


Dag! Dig! Dug! Sasha amat takut dan malu jika bertemu siapapun saat ini, namun apa yang ja risaukan tidak terjadi, ibu dan neneknya sangat sibuk memasak. Sasha langsung menutup pintu kamar mandi, didapatinya termos untuk ia mandi, lalu segera menuntaskan ritual mandinya dan kembali kekamar.


"Sha gimana? masih sakit?"


"udah engga koq mas" sambutnya sambil tersenyum.


"maafin aku yah, besok aku akan lebih lembut lagi." Sasha jadi merona mendengar penuturan Faishal ia hanya sanggup mengangguk, lalu melanjutkan mebgeringkan rambutnya dengan handuk.


Subuhpun datang, faishal pergi bersama para laki laki lainnya ke surau, namun seperti yang ia duga, Aldo dan Alman mulai menggodanya dengan mengacap acak rambut basahnya.


"ekhmm, bakal dapet bayi nih kita., ga sia sia gue mendidik lo bro" goda Alman

__ADS_1


"kalian berkembang dengan pesat yah!" Ledek Aldo membuat Faisal tersenyum senyum


"sssttt fokus, jalan" ucap Faishal sambil mengulum senyumnya.


__ADS_2