
Sampailah mereka dikontrakan baru, disana Dennis dan bastian sudah melanjutkan merapikan rumah. Sungguh beruntung mendapatkan teman teman yang baik seperti mereka, semoga ketika mereka semuanya sudah bekerja dan menikah, persahabatan ini tetap terjaga, Sasha berharap dalam hati.
"Gimana Cilla? katanya panas?" Tanya Dennis
"iya tadi habis dibawa ke klinik dan dikasih obat sudah ga sepanas tadi." ucap Sasha sambil merangkul bayi mungilnya yang tertidur setlah diberi penurun panas.
"Yaudah kamu jagain Cilla aja biar kita yang nyelesaiin beres berresnya." ucap Bastian
"laper nih belum sempet sarapan." rengek Fitha
"yauda yuk cari kedepan, banyak warung ramesan, bisa kenalan ma cah UII lho, kemon! ucap Dennis semangat jika berhubungan deegan makanan.
Hari itu terlewatkan dengan baik, akhirya beres berespun selesai, Cilla badanya masih panas namun tidak begitu rewel.
Sore haripun tiba, ayah bunda yang sedari tadi sempat tersesat mencari alamat kontrakan akhirnya dijemput Aldo ditempat yang paling mudah ditemukan. Setelah bunda dan ayah datang mereka diajak ke warung steak yang ada didekat sana. Hafiz yang baru bisa bergabung langsung menuju ke restoran steak tersebut. Mimpi apa mahasiswa pas pasan bisa makan di warung steak jika tidak mengumpulkan uang dulu baru bisa jajan disana. Mereka dengan suka cita menyambut kebaikan hati bunda dan ayah mentraktir mereka disana.
Malampun berlalu semuanya telah kembali kerumah masing masing, tinggallah Sasha yang masih terjaga karena suhu badan Cilla semakin panas. Berkat termometer yang diberika Faishal ia jadi tahu berapa suhu Cilla saat ini. Panasnya 38.7°, sehingga Cilla amat rewel dan tak mau ditidurkan. Fitha yang sangat lelah tak kuat menahan rasa kantuknya akhirnya tertidur.
"Fith! bangun! Cilla tambah panas."
"hmm? hoaaahhh..... paracetamolnya....udah belum?" ucap Fitha yang masih ngantuk berat
"udah tapi koq ga turun yah." ucap Sasha mulai panik, ini pertama kalinya ia menghadapi Cila yang panas agak lama, biasanya panas hanya karena imuninasi dan setelah minum penurun panas langsung turun suhunya, dan itupun dibantu Faisal. Ia jadi teringat Faishal lagi.
"oekkk...oekkkkk...oekkk!"
"Sayang cup cup."
"Coba ukur lagi panasnya sha, koq nangisnya kejer gitu."
"Ya ampun 39.5 Fith gimana?" sasha tambah panik
"bentar aku telpon kakak." Fitha pun menelpon faishal
Faisal memberi tahukan agar melihat telapak kakinya, jika telapak kakinya dingin maka harus segera dihangatkan sedangkan pakainya dilepas diganti yang tidak begitu tebal serta dikompres dikedua ketiaknya dengan air hangat.
Fitha langsung mengikuti instruksi Faisal, namun panasnya tak turun juga. Akhirnya ia menelfon Aldo dan meminta Aldo segera datang untuk mengantar mereka ke UGD karena dikhawatirkan terjadi kejang.
Aldo secepat kilat telah sampai di kontrakan karena malam hari jalanan lengang hingga ia lebih cepat mengendarai mobilnya. Lalu bergegas membawa Cilla ke UGD tempat Faisal praktek.
"kamu ga papa kan sha kita bawa kesini, kakak di solo koq jadi ga bakal ketemu." ucap Fitha yang masih sempat memperhatikan perasaan Sasha. padahal sasha sendiri sudah pasrah jika pun bertemu, ia mungkin akan hanya bisa membisu, yang terpenting baginya adalah kesehatan Cilla.
"Ga usah mikirin aku Fit yang penting Cilla bisa tertangani." ucap Sasha sedang Aldo fokus menyetir.
__ADS_1
Sampailah mereka di UGD, dan Cilla langsung ditangani. Ternyata disana ada Alman yang menjadi dokter jaga. Cilla diminta untuk dirawat diRS untuk sementara agar mudah mengobservasinya.
"Besok hasil labnya keluar koq jadi ga usah khawatir, sementara Cilla diinfus dulu ya." ucap Alman
"makasih ya dokter." ucap Sasha
"kakak aja panggilnya biar sama kayak yang lain."
"oh iya kak " ucap Sasha malu
Mereka malam itu langsung mendapatkan bangsal khusus di bagian perawatan anak. Sasha mulai mengatur agenda menjaga Cilla karena mereka mulai aktif kuliah dan menunggu pembagian kelompok KKN. Dua bulan lagi tepatnya bulan Juni mereka sudah harus menempuh KKN dipedesaan.
"harus menghubungi pak Kades nih kita, Cilla sakit jadi minggu besok belum bisa kesana. Bawa Cilla." ucap Sasha
"Ga bisa diundur, karena pak kades minta kita segera kesana, kamu sama Cilla disini aja, kita kita aja yang berangkat semua khususnya yang menemukan Cilla." ucap Fitha
" tapi kan yang pertama kali tahu aku Fith, nanti kurang infonya."
"kita dah ada dokumentasi lokasi pas malem, kan gue sempet vidioin pas kita nemu Cilla. Jadi lo ga usah ikut kasian Cilla, masa Hafiz yang jagain. Kan dia satu satunya yang ga faham banget jalan cerita kita nemuin Cilla. Kalo bastian ga bisa, dia wajib ikut tuh, yang paling pinter ngomong, hehe." ucap Aldo
Tok Tok Tok.....
"masuk....." ucap Sasha
Deg!..
Jantung keduanya berdegup kencang saat pandangan mata mereka bertemu. Lalu Faisal mengalihkan pandangannya ke Cilla.
"Looh kak katanya di Solo? tiba tiba dah sampe jangan bilang ngebut lho ya. Sinii masuk." Ucap Fitha
Sasha salah tingkah harus berbuat apa, ia cuma bisa diam.
"temen temen aku kekantin yah cari anget anget." Ucap Sasha ia tak enak berada diruangan yang sama dengan Faishal.
"Aku temenin yah." ucap Fitha khawatir dengan sahabatnya tersebut
" ga usah aku cuma sebentar, kantinnya buka kan do?"
"buka koq kalo malem, tapi ya paling cuma ada minuman, sama mie." Ucap Aldo
"yaudah ya aku keluar." Sasha langsung melengos keluar tanpa melihat atau berbicara dengan faishal, ia benar benar berusaha seperti tidak mengenali faishal dan mengabaikannya.
Faishalpun diam saja tak menanggapi ia fokus melihat Cilla walau dihatinya meremang. Yah beginilah rasanya jika mereka mengambil jalan untuk saling diam, berharap sama sama bisa melupakan, dan kembali kejalannya masing masing. Dianggap seperti tak pernah bertemu. Tak pernah mengenal.
__ADS_1
Atmosfer dikamar itu menjadi dingin. Fitha dan Aldo tak bisa berbuat apapun, mereka cuma bisa mendukung jalan yang diambil keduanya. Walau mereka masih penasaran apa yang terjadi saat di Villa. Siapa yang tak curiga dari mereka yang awalnya tampak canggung tiba tiba seperti orang bermusuhan dan tak mau saling menyapa.
"Kak! kalian kenapa sih?" tanya Aldo yang tak tahan lagi ingin tahu mengapa bisa seperti itu
"ga usah kepo!" ucap Faishal
"kalo ga diceritain nanti Aldo nebak nebak lho."
"ck! sukanya ikut campur aja. Dah deh jangan desak kakak gitu. Sasha punya alasan sendiri dan kakak juga tolong kalian hormati deh yah, Fith! tolong nih temenmu yang kepo ini dijagain" Ucap Faishal risih ditanyain sang adik
"siyaaap! nanti aku iket aja kak biar kapok" ucap Fitha
"kak! makin kakak sembunyiin dari kita makin penasaran tauk, kan Aldo ngirain kakak nyium Sasha trus Sasha ga terima trus kakak kabur." ucap Aldo asal
Deg!!
Faisal menelan ludahnya dengan susah payah, kenapa sang adik bisa tepat menebaknya, mukanya jadi memerah, untungnya ia sedang melihat Cilla jadi wajahnya tak terlihat.
"Hush! ngarang kamu! untung Sasha ga ada, ga mungkin lah kakak begitu, mereka belum sedekat itu tauk! tenang kak Fitha belain." Fitha jadi kesal karena Aldo bicara sembarangan.
"kan nebak nebak aja, soalnya mereka aneh gt bikin kita jadi keki juga kan. Coba kak seperti biasanya aja. kan enak tuh."
"Dah dong gangguin kakak aja, setiap.orang itu punya keputusan masing masing atas sikapnya dan itu dah dipertimbangkan baik buruknya. Jadi tugas kita mendukung dan mendoakan yang terbaik. gitu donk." ucap Fitha menasehati Aldo
"iyes iyes bu presiden," Aldo mengakui kekalahannya
"nahh gitu donk pinter. hehhee" ucap Fitha sambil terkekeh
"kalian berdua itu cocok, kalo kalian pacaran kakak setuju lho."
"ihhh ogah banget kak!" ucap Fitha
"Cih siapa yang mau juga." balas Aldo
Sementara dikantin Sasha melihat lihat sosmednya lalu memesan minuman hangat. Ia bingung setelah ini harus bagaimana, sedangkan ia ingin berada disamping Sasha.
Faisal akhirnya keluar dari bangsal ketika Cilla sudah tenang dan tertidur. Ia menyempatkan melewati taman dimana dari taman tersebut bisa melihat keadaan kantin. Ia melihat Sasha yang sedang melihat lihat HPnya. Ada rasa rindu didadanyan tapi ia tak punya keberanian mendekati Sasha. Biarlah seperti ini seterusnha bantinnya. Ia memotret Sasha dari kejauhan.
"maaf yah aku mencuri kedua kalinya.... oh tiga kali." gumamnya dalam hati setelah memotret Sasha diam diam yang dianggapnya mencuri yang ketiga.
Kenapa ketiga? pertama ia mencuri kecupan dikening Sasha saat mengungkapkan perasaannya pertama kali, kedua mencuri ciuman pertama dibibir sasha lalu pergi, ketiga memotret sasha diam diam. Memang orang jatuh cinta itu kadang tak bisa berfikir jernih dan melakukan hal hal reflek.
Faishal menghembuskan nafas beratnya lalu meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya untuk istitahat karena esok hari masih harus ke Solo kembali.
__ADS_1