
Bastian dan Faishal mencoba menggunakan aplikasi untuk melacak keberadaan Pak Harun lewat nomor ponselnya, namun sayang, pak Harun tidak mengaktifkan lokasinya. Jadi merekapun kesulitan untuk mengetahui posisi Pak Harun.
"wah kak, ga kelacak nih." ucap Bastian
" ga diaktifin lokasinya." jawab Faishal yang masih mencoba menelusuri kembali.
"kak aku kekelas dulu ya, kayaknya dosen dah masuk, nanti kita coba nelfon pak Kades lagi harus bagaimana selanjutnya, kakak nungguin apa pulang?" tanya Bastian
"mau pulang aja, nanti nitip sasha ya pulangnya, soalnya bunda jaga siang jadi ga ada yang jaga Cilla, oiya Bastian, tolong kamu rekap bareng Sasha ma Aldo siapa aja yang mau diundang pas resepsi nanti, hari minggu nanti ada rapat kecil dirumah, kamu dateng yah, kakak jadiin panitia." ucap Faishal
"ok kak, emang kapan acaranya?" tanya Bastian
"mungkin awal bulan depan nunggu para tetua selesai rembugkan, soalnya kaliankan mau KKN bentar lagi." ucap Faishal
" oiya ya kak, KKN akhir bulan depan, dan bentar lagi kita survey tempat, sama sering rapat koordinasi." ucap Bastian
"yaudah kamu balik kekelas aja, kakak pulang yah, bilangin ma Sasha dan yang lain." Faishal pun berpamitan dan segera menuju parkiran.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Sabtu pun tiba, Bunda mengajak Faishal dan Sasha kerumah Vivi untuk bersilaturahmi dan memperbaiki hubungan. Namun, sampai disana hanya om Regan yang menyambut mereka, terlihat orang yang sangat baik dan ramah, Sasha merasa sedikit lega, tak seperti bayangannya. Ia mengira akan tidak diterima oleh semua keluarga ini. Walau tante Nia tidak menyambut mereka sama sekali, bahkan tidak menemui sama sekali.
Sedangkan Vivi, menurut keterangan sang ayah ia tak begitu terpuruk dengan keadaan ini, justru saat ini ia sedang dekat dengan seseorang yang mampu mengalihkan perhatiannya. Hampir setiap hari vivi keluar dengan izin bertemu sang teman baru.
Ayah dan Bunda serta Faishal mengutarakan maksud mereka, yaitu memohon maaf atas semua yang terlah terjadi, serta memutuskan pertunangan secara resmi. Ayah dan Bunda berharap hubungan kedua keluarga kedepannya akan langgeng. Tak lupa Bunda mengajak om Regan untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara unduh mantu dan datang kekediaman mereka hari minggu nantu, dimana semua keluarga telah diminta hadir untuk menentukan tanggal serta mempersiapkan berbagai keperluannya.
Setelah tersampaikan semuanya, Bunda, Ayah, Faishal dan Sashapun berpamitan dengan om Regan. Tak lupa om Regan meminta maaf sedal dalamnya atas perlakuan sang istri dan anaknya selama ini kepada Faishal. Ia faham betul, keponakan tersayangnya ini telah tersakiti hatinya karena dipaksa untuk bertunangan dengan sang putru. Namun saat itu, ia bukanlah orang yang mampu mencegahnya.
Bunda terharu, ia sangat bersyukur karena sang adik tetapkan adiknya yang baik hati dan penurut, walau sang istri sangat berkebalikan dengan sifatnya. Bunda berharap adiknya akan hidup dengan bahagia.
"Mba, maaf, biar saya bantu...." Suara bariton Faishal yang penuh kharisma membuat sang pemilik motor terpana, dan makin terpesosa saat ia menoleh ke sumber suara, ternyata ada sesosok pria yang sangan menawan sedang menawarkan bantuan. Ia pun tak mampu berkata kata, hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menyembunyikan senyumnya.
"sumpah! Demi apa! Ini orang ganteng banget!" gumamnya dalam hati.
"mba sampe sini saja ya? Mobil saya mau lewat." ucap Faishal Ramah, saat melihat wajah gadis belia didepannya, Faishal agak terkejut, ia merasa tak asing dengan wajah wanita yang ada didepannya ini, seperti sangat mengenalnya. Tapi... Entah dimana ia pernah bertemu. Yang jelas Faishal mampu menebak bahwa perempuan yang ada didepannya masih sangat belia, mungkin masih belasan tahun, walau postur tubuhnya gemuk, tak seperti anak belasan tahun yang ramping, namun wajahnya menunjukkan ia masihlah anak sekolah.
"oh, i iya mas, makasih mas." Ucap wanita tersebut, Faishal lalu mengangguk dan menuju mobilnya.
"mas mas! Emm boleh minta nomernya? Saya harus membalas kebaikannya mas." Ucapnya tanpa ragu.
__ADS_1
"oh ga usah mba, saya cuma bantu dikit biar mobil saya bisa lewat. Mari..." Faishal langsung menolak secara halus dan bergegas kemobil. Tak semudah itu ia mampu memberikan nomor ponselnya keorang lain.
"Ok mas makasih banyak yah." ucap sang gadis, ia terus menatap Faishal hingga masuk kemobil dan memperhatikannya sampai mobil hilang dari pandangannya.
"Ya ampun, hati aku berbunga bunga lagi, ya Tuhan, kayaknya keluar dari rumah om Regan deh, berarti masih kenalannya om Regan nih, coba deh aku tanyain nanti. Duh... Jantungku, kita pasti ketemu lagi." Ucapnya dengan senyuman yang sangat manis, lalu gadis tersebut kembali mendorong scutter maticnya masuk kedalam rumah, karena lupa mengisi bensin sehingga ia harus mendorong kendaraannya saat hampir sampai dirumahnya.
Sementara dimobil....
"Sayang, kamu tadi sempet lihat ga, anak perempuan yang aku tolong tadi." tanya Faishal yang masih kepikiran siapa kah yang ia temui tadi.
"engga mas tadi aku lagi vidio call ma Fitha, Cilla nangis. Emang siapa? Mas kenal?" tanya Sasha
"engga, aku ga kenal, tapi kayak kenal." Jawab Faishal sambil mengingat ngingat kembali.
"Kalo Bunda sama Ayah sempet lihat ga?" Faishal bertanya kekedua orang tuanya berharal jika merekaoun memperhatikan
"engga lah kak, Bunda sama Ayah tadi lagi omong omongan besok mau kita masakin apa beli aja." Jawab bunda
"oh ya sudah, mungkin tetangganya om Regan." Faishal akhirnya tak meneruskan rasa penasarannya, mungkin hanya wajah yabg sedikit mirip...
"ya Tuhan baru sadar aku kenapa mirip ya mukanya, tapi... Ah sudahlah" gumam faishal dalam hati, Faishal menyadari jika gadis yang ia temui tadi ternyata mirip dengan seseorang yang amat dikenal, namun ia belum begitu yakin dan tak ingin berspekulasi. Iapun berkonsentrasi dengan kemudinya lalu melaju kekediaman mereka. Sampai dihalaman ternyata sudah disambut dengan anak sesenggukan sedang digendong sang tante yang berusaha menenangkannya.
"Tuh... Dah pulang ayah bundanya, cup cup sayang, jangan nangis lagi yah." ucao Fitha menimang niman Cilla yang sudah tak betah didalam rumah kemudia dia ajak keluar rumaj agar lebih tenang.
__ADS_1
" kacian banget anak bunda, sini sini." Sasha yanh baru saja keluar dari mobil langsung menyambut bayi mungilnya yang telah melambaikan tangannya minta segera digendong sang bunda.