Bayi Kita

Bayi Kita
58


__ADS_3

Sasha tiba tiba menghentikan tangisnya, ia mencoba mengendalikan dirinya agar tidak terlalu kalut. Ia beranjam dari pelukan Fitha menyeka air matanya lalu mencoba setegar mungkin berkomunimasi dengan para sohibnya. Ditariknya nafas dalam dalam lalu dihembuskankan perlahan.


"Lalu?? jelaskan semuanya ke aku jangan ada yang ditutupi." Ucap Sasha


"Beritanya sudah sampai ditelinga rektor, saat ini pak dekan meminta agar kamu bisa klarifikasi Sha terutama soal Cilla dan kak Faishal. Besok bu Lila minta kita semua menghadap, untum persiapan sudang lusa.


"iya sha kita hadapi bareng bareng."


"aku bingung banget, trus ibuku gimana?" Sasha menatap kedepan dengan pandangan kosong, Fitha lalu memegang pipi Sasha dengan kedua tangannya agar sahabatnya tidak kalut.


"Sha tenang... kita lakuin sama sama, okey?." Fitha menenangkan Sasha


"tapi aku yang ada diberita itu, aku juga yang kekeh akan mengurus Cilla, tapi kalian kena imbasnya......, mas faisal juga pasti kena imbasnya kan? Aldo.... kamu pasti tahu kan keadaan beliau?" Tanya Sasha yang sudah menolehkan wajahnya kearah Aldo. Aldo Hanya bisa mengangguk.


"bagaimanapun aku harus bertanggung jawab, aku ga mau menyulitkan banyak orang, terutama Cilla nanti ketika ia dewasa jika ia tau kejadian ini pasti Cilla akan sedih. Bagaimana caranya aku bertanggung jawab, aku....."


"Sha, pokoknya kita hadapi bersama, kalo aku pinginnya kita klarifikasi sore ini juga ke kampus, kita butuh orang orang pendukung, agar masalah ini kelar. Kalo hari ini kelar, walau sampe malem kita hadapi sama sama, besok pagi Sasha bisa pulang ke Lampung setelah masalah disini selesai." Ucap bastian yang diangguki semuanya


" berati Sha mau ga mau lo harus bersedia menghadirkan Kakak gue, dia adalah tokoh utama juga kan setidaknya jika bisa klarifikasi bersama, kakak juga bisa diringankan peringatannya dari rumah sakit. Kakak..... diskrors satu bulan."


"beneran Do?? ya ampun....! kenapa sih mereka ga tanyakan dulu kebenarannya? main vonis aja!" ucap Fitha emosi.


"kita ga tau kan gimana kondisi kakak saat dijatuhi vonis seperti itu, bahkan kak Almanpun taunya setelah keputusan skors keluar. Makanya dia telpon gue beberapa kali tadi cerita kejadiannya." Aldo tak menceritakan detilnya jika sang kakak sempat dalam keadaan tak biasanya, bahkan sampai berbuat hal kasar ke Vivi serta mengurung dirinya, Aldo juga tak ingin bercerita sang kakak berkali kali meminta alamat Sasha. Ia khawatir jika sasha makin bersalah dan ingin menanggung semuanya sendiri, dan jika alamat Sasha diketahui sang kakak, ia juga khawatir Faishal akan berbuat yang tidak rasional sesuai emosionalnya saat ini.


"Ya sudah.................. kita segera konfirmasi. Aku ikut segala keputusan kalian." ucap Sasha pasrah membuat Teman temannya tersenyum.


"oke! sekarang yang harus kita hubungi adalah bu Lila, pak kris, kakak, pak RT, salah satu ibu komplek sebagai saksi, kayaknya harus menghub direktur RS juga deh biar kak Alman aja yg ngurus ini. Trus siapa lagi yah...." Ucap Aldo


" enaknya ada pak kades nih, tapi jauh ga keburu." ucap Dennis

__ADS_1


" tapi sebentar, kita kan bisa vicall kan sama pak kades? gimana bas!" lanjut dennis


"nah lho encer banget kan otak dennis kl lg kyk gini." Ucap Bastian membuat yang lain ikut geleng geleng kepala serta menurunkan ketegangan diantara mereka.


" eit tunggu, kita ngumpulin orang banyak trus mau dimana nih janjiannya?" ucap Aldo mengingatkan


"kalo bisa tempat yang paling gampang aja." Ucap Fitha lalu mereka semuapun berfikir


" dah gini aja, mending dirumahnya kakak deh kan pas tuh bisa reka adegan kalo dilokasi langsung." ucap dennis


" emang kejadian pembu**han apa pakek reka adegan , plis deh dennnn" ucap Aldo


"tapi bener koq kata denis, setidaknya kita bisa memastikan lokasi dan kejadian sesungguhnya ya kan?" ucap Bastian


"setuju! sha kamu setuju kan?" ucap Fitha namun Sasha hanya diam.


"Fith, kamu taukan saat terakhir kita akan pindah, aku ga enak kalo disana, terutama dengan mas Faisal dan Vivi, ada baiknya kita minta izin keduanya." ucap Sasha tak enak hati, mengingat apa yang diucapkan Vivi saat itu ditambah harus melihat foto pertunangan mereka. Sasha sungguh tak mau lagi berurusan dengan hal hal tersebut, bebannya sudah penuh dihati.


"tenang aja sha, kakak kalo tahu ini pasti nyuruh kita kerumahnya, naaaah...bunda sama ayah nanti kita ajak juga, buat menguatkan ya kan? toh yang minta Sasha tinggal disana bunda, trus yang menyelesaikan kejadian juga ayah kan? palagi ayah kenal ma pak RTnya. Jos kan gue." ucap aldo sambil melebarkan telunjuk dan jempolnya dibawah dagu.


"belagu!" sambung Fitha, Aldo memutar bola matanya membuat Fitha kesal.


"dah ga usah ribut dulu kalian berdua, skrg kita gercep menghubungi semuanya, tapi kalo pak kades ga bisa ikut gapapa kan? aku coba hubungi dulu yah." jelas bastian lalu diangguki semuanya.


Tiba tiba Cilla bangun, dan menangis, Aldo dan Fitha berlari kekamar berebut untuk menggendong Cilla, membuat semuanya tersenyum, biasanya mereka akan tertawa terbahak bahak namun situasi saat ini membuat semangat mereka sedikit menurun.


"dasar Fitha pelit banget sih, guekan pingjn gendong juga!" ucap aldo kesal saat keluar


"Do telpon ayah bunda gih, enaknya telpon ayah bunda dulu siapa tau kakak dirumah kan?" Ucap dennis

__ADS_1


"bener bener!" Aldo langsung menelfon bunda


.


" temen temen, bunda bilang oke ,soal kakak biar bunda yang karena kakak dirumah, nanti sekalian bunda pesenin makanan buat suguhan, kita segera cuss kesana aja, kita ngeluarin kursi kursinya kan ruang tamunya sempit tuh, kalo kursi keluar kita lesehan aja bisa muat" ucap aldo setelah menutup telpon


"oke yuk nanti keduluan bunda kesana, ayok Sha perlengkapan Cilla dah aku siapin." ucap Fitha yang keluar kamar menggendong Cilla sambil membawa tas bayi.


"Makasih ya Fith" ucap Sasha terharu lalu ia memasuki kamar untuk berganti pakaian.


Bastian mulai menghubungi pak Kades,bu Lila dan pak Kris, sedang Aldo menghubungi Ayah yang masih dikantor dan meminta tolong beliau menghubungi pak RT. Kemudian Aldo menghubungi Alman agar bisa menghubungi Direktur Rumah sakit. Sedangkan ibu ibu yang akan menjadi saksi akan mereka hubungi langsung kerumahnya karena mereka tak memiliki kontaknya. Alhasil hanya pak Kades yang belum bisa memberikan jawaban. Lalu setelah Sasha siap mereka semua meninggalkan kontrakan menuju Rumah Faisal sambil mampir kerumah bu Wiwid sebagai saksi.


Sasha sangat gugup, jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar sehingga sekali kali ia remas remas menghilangkan rasa gelisahnya. Sasha berharap masalah ini akan selesai dan ia bisa pulang ke Lampung besok pagi. Sasha sangat sedih karena akan meninggalkan bayi kesayangannya yang sudah menjadi priortiasnya beberapa bulan ini karena tak mungkin ia bawa ke kampung halamannya. Sasha juga sangat berat bertemu faishal lagi walau dapat dipastikan tak akan mungkin mereka akan saling berbincang, namun melihag wajahnya saja sudah membuat Sasha tak nyaman.


Setelah mendapat persetujuan bu wiwid sebagai saksi mereka akhirnya sampai dirumah faisal lagi setelah sekian lama.


"Rumah sudah terbuka????" ucap Aldo


.


.


#################################


>>>>>> Lanjuttttt next chapter 🥰🥰🥰🥰


Terimakasih kepada semua pembaca setia yang sudah sampai episode ini


Mohon maaf karena masih banyak kesalahan penulisan, semoga terhibur yaahhhh

__ADS_1


__ADS_2