Bayi Kita

Bayi Kita
112


__ADS_3

"inaaa!! Mbak Ratna kepiye anakku mbak?" Ibu dari Ina datang bersama beberapa keluarga lainnya yang sejak siang hari berada dirumah bunda membantu persiapan pernikahan. Ia langsung memeluk sang anak.


"Ina ndak papa, tuh, cuma pingsan sebentar tadi." ucap Bunda mencoba setenang mungkin, sebenarnya dalam hati bunda amat kecewa atas keteledoran saudara sepupunya tersebut, karena menyebabkan Cilla terbaring dirumah sakit saat ini.


"nak nganti pingsan kui tandane yo kenopo kenopo to mbak? (Kalo sampe pingsan itu tandanya ya terjadi apa apa kan mbak?)Lah iki mbak e sing goleki to? (lah ini mbaknya yang nyariin kan?) Mbak!!!! Tak tanya!!! Koq bisa anakku nganti mlebu UGD!!! Kenapa ga langsung diajak pulang! wes magrib to!!" Menik alias ibu dari Ina tiba tiba langsung berteriak menuding tudingkan telunjuknya ke arah Fitha yang ada didepannya.


"bisa bisanya nih orang langsung nuduh aku!" Fitha membatin dalam hatinya, ia rak habis fikir, mengapa justru dia yang disalahkan. Fithapun emosi lalu ingin membalas tudingan kepadanya


"Ta.." Lengan Fitha ditahan oleh Aldo.


"Biar gue yang ngomong!" ucap Aldo yang juga geram, Bunda yang melihat sang putra mulai tersulut emosi langsung memberi kode gelengan kepala, namun tak berhasil meredakan keinginan sang putra.


"Bulik!! Harusnya disini itu kami yang marah sama bulik, kenapa mbolehin Cilla digendong Ina, trus ga diawasin lagi, sudah tahu magrib, tapi anak dibiarin aja! Tau ga!! Fitha sama Sasha nemuin mereka sudah tergeletak, untung ga ketabrak! Bulik beruntung Ina cuma pingsan, tapi Cilla kami harus rawat Inap sampe transfusi darah!! Harusnya bulik tanggung jawab!" ucap Aldo, namun sang tante belum bisa mencerna kejadian apa sebenarnya yang menimpa snag anak, ia hanya tahu harusnya sang anak sudah ditemukan dan segera dibawa pulang oleh Sasha dan Fitha.


"Sudah!! Ini rumah sakit lho, kita ga boleh buat keributan, Nik, kamu sekarang pulang dulu, Ina biar istirahat, tadi sudah diperiksa semuanya tidak ada masalah apa apa." ucap Bunda setenang mungkin.


"Tapi mbak, aku ndak mau kalo mereka ga tanggung jawab!" masih menunjuk Fitha untuk bertanggung jawab.


"wes toh nik!! Mba wes sabar lho iki ket mau! Saiki mulih sik! (sudah dong nik!! Mba sudah sabar lho ini dari tadi! Sekarang kamu pulang dulu!) putuku to luih loro tbang anakmu! (cucuku juga lebih sakit dari anakmu!)" Bunda akhirnya emosi juga, padahal rencana ia mau menjelaskan kejadian sebenarnya, namun sepupunya ini masih saja mau menyalahkan orang lain tanpa tau duduk perkaranya.

__ADS_1


"Koq mba malah nesu ro aku!!! (koq mba malah marah saa saya!!!) awake dewe ki sing keluarga tenanan lho! Mba malah mbelani wong lio, kui ki gur bayine sopo ra reti! Suk emben ra bakal balas budi nak wes ngerti dudu darah daginge, deleng wae sesuk!! Permisi!! ( kita ini lho yang keluarga beneran! Mba malah membela orang lain, itu kan cuma bayinya siapa ga ada yang tau! Esok hari ga bakaln membalas budi jika sudah tahu bukan darah dagingr, lihat saja besok!! Permisi!!)" Menik langsung membawa putrinya keluar dari UGD meninggalkan yang lainnya dengan perasaan emosi, sedangkan keluarga lainnya yang masih disana menjadi bertanya tanya kejadiannya seperti apa yang sebenarnya. Aldo, Fitha dan Bunda amat sakit hati mendengar perkataan buruk dari Menik tentang bagaimana Cilla dimasa yang akan datang. Hingga seorang perawat datang, dan mengingatkan mereka agar menjaga ketenangan Akhirnya merekapun keluar dari ruangan UGD tersebut dan menuju kekantin, karena ayah sudah memesankan minuman dan makanan disana.


Bunda mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya, dan akhirnya para kerabat kadi faham duduk perkaranya, pemikiran merekapun sama, harusnya yang perlu bertanggung jawab adalah menik yang sudah lengah membiarkan sang anak pergi jauh. Namun yang mereka tak habis fikir mengapa justru menik yang merasa menjadi korban paling dirugikan.


"Wes mbak Ratna, nanti aku wae sing bantu jelasin sama menik, paling tadi lagi syok to mba, ngerti anake pingsan masuk UGD." ucap sepupu lainnya ke Bunda.


"Iya Nur, tolong ya, aku ga kepenak dah marah marah tadi, soalnya jujur aja ya, aku yo lagi pusing mikirin putuku, kata katanya menik tadi kayak sumpah serapah, nauzubillah." Ucap Bunda.


Mereka berbincang sampai jam 8 malam, lalu pamit kerumah masing masing. Ayah dan Bunda mengikuti Fitha dan Aldo menuju ke bangsal tempat Cilla dirawat. Disana terlihat Cilla yang sedang tidur tenang walau perawat sedang memasangkan kantong darah hasil donor dari Wulan tadi.


" Besok pagi kita cek darah lagi ya bu? Semoga HBnya sudah bagus." ucap sang perawat kepada Sasha


"Kira kira butuh berapa kantong ya darahnya mas?" tanya Sasha ke Faishal


"Kita lihat sampe besok pagi ya, semoga ga nambah lagi." ucap Faishal menenangkan Sasha


"kak! Bunda mau pulang sama Ayah, mobilmu biar ayah bawa, kamu pakek mobil ayah. Trus istrimu kan baru pulang dari magelang langsung kesini belum makan apa apa, jangan jangan minum aja belum, sana ajak kekantin dulu. Biar Fitha sama Aldo yang jagain. Bunda sama ayah pamit yaa?" ucap Bunda, diangguki semuanya.


Faishalpun mengajak Sasha kekantin, mencari minuman hangat dan makanan, ia melihat sang istri sangat lelah.

__ADS_1


"kamu pulang aja ya?? Istirahat dirumah, kan ada Aldo ma Fitha, nanti mas juga jaga disini, yah?" Bujuk Faishal ke sang istri.


"aku malah ga tenang nanti mas, aku ikut jaga ya? Emang boleh jaga berbanyak?" ucap Sasha


"engga, nanti Fitha ma Aldo pulang." ucap Faishal.


"mas tadi, mbak yang nabrak, baik banget lho, masih sekolah kayaknya, dia tadi mau donorin darah buat Cilla, kalo ga ada mbaknya mungkin sampai jam segini kita belum dapet darah." Sasha bercerita


"emang darahnya apa?" tanya Faishal, ia penasaran.


"A, tapi resusnya negatif apa positif aku lupa, tadi awale aku kira mbaknya ga cocok, pas cilla dapet kamar tadi bunda yang ngurusin, eh ternyata perawat dateng bilang kalo yang donor yang jatuh dari motor bareng anak anak. Berati bener mbaknya tadi. Baik banget dia." ucap Sasha


"Besok kita cari alamatnya, kita bawain bingkisan sambil ngucapin terimakasih. Kamu tadi sempet tanya ga? Namanya siapa?" ucap Faishal


"engga mas, Bunda semua yang ngurusin, aku aja ga ngeh wajahnya dah fokus ma Cilla, dah ga karuan hatiku mas, tadi pas semobil ma dia posisinya dia masih pakek helm, sangking cemasnya kita yah, sa.pe mbaknya diangkut kemobil tapi helmnya ga dicopot, buru buru harus segera sampe UGD, besok kita cari alamatnya mas, aku setuju banget kita bawain bingkisan nanti" balas Sasha


Mereka bersyukur saat keadaan genting ada orang lain yang mau berbaik hati mendonorkan darahnya untuk Cilla.


Faishalpun sebenarnya ingin bercerita tentang apa yang ia lihat dan sudah kali keduanya ia bertemu dengan gadis yang mirip sekali dengan Cilla. Namin diurungkannya, ia takut Sasha berspekulasi yang tidak tidak dan kepikiran. Mereka berdua tak mampu memprediksi kejadian apa yang akan terjadi dihari haru kedepan.

__ADS_1


__ADS_2