
Sasha kembali ke kamar dengan baju tidur yang ia miliki, kaos oblong over size bergambar kartun beserta celana kaos setelannya. Terlihat sangat imut sesuai usianya yang masih muda. Faishal melihatnya sambil tersenyum, istrinya begitu menggemaskan dimatanya.
"yah dia memang masih sangat belia." gumamnya dalam hati, ia merasa menikahi anak anak, berbeda sekali dengan tampilan sasha yang anggun dalam balutan baju pengantin.
"mas..., jangan lihatin terus, mas tidur aja duluan." Entah dari mana keberaniannya itu muncul sehingga keluarlah kata kata tersebut, ya memang Sasha sekarang sangat gugup, terlebih sorot mata Faishal selalu mengikutinya kemanapun ia berjalan, dari masuk kamar hingga memasukkan hand body creamnya kedalam lemari. Ditambah faishal selalu tersenyum lembut kepadanya membuatnya salah tingkah.
"sinih!" ucap Faishal sambil menepuk nepuk bantal disebelahnya, duh Sasha makin gugup, ia ragu ragu mau berjalan ke arah kasurnya, digigitnya bibir bawahnya lalu mulai berjalan pelan pelan ke kasur. Faisal tetap menatapnya dengan intens.
Krieeet....
Sasha mulai mendudukkan dirinya di kasur, masurnya yang lebarnya hanya berukuran 160cm, bukan springbed layaknya dikota kota besar. Namun sebuah ranjang kayu akasia yang sudah tua, dialasi kasur kapuk yang lumayan tebal dan empuk karena sang ibu sangat rajin menjemur kasurnya saat hari panas. Kasur kapuk akan terasa sangat nyaman apabila sering dijemur dipanas matahari.
"sinih" Ucap Faishal kembali menepuk nepuk bantal disebelahnya karena melihat Sasha hanya duduk dipinggir kasur.
Sasha memberanikan dirinya lebih dekat ke Faishal, namun ia masih enggan merebahkan dirinya, lalu duduk menyamakan Faishal.
"maaf ya mas kasurnya ga seempuk kasurnya mas disana." ucap Sasha lirih sambi sesekali mengulas senyum tipisnya, canggung? jelas! ini pertama kalinya ia tidur dengan seorang laki laki seumur hidupnya.
"gapapa seru koq, baru sekali ini nyoba kasur gini, he. ummm apa kamu risih kalo aku tidur disini juga? kalo risih..... aku tidur dibawah aja." ucap Faishal seraya mengambil sebuah bantal lalu ingin beranjak dari kasur.
Tep!
Lengan Faishal ditahan Sasha.
"jangan mas!........ e ... dibawah dingin.....disini aja." ucapnya lirih namun wajahnya sudah merah merona, apa jadinya kalo sang ibu tahu suaminya tidur dilantai yang dingin.
"makasih ya." Faishal tersenyum, ia lega Sasha tak masalah jika mereka tidur ditempat yang sama.
"Tapi maaf kasurnya cuma kecil." ucap Sasha lagi lalu cepat cepat ia membaringkan tubuhnya membelakangi Faishal, lalu ia duduk lagi mengambil selimut dan kembali berbaring dengan memakai selimut hingga ke lehernya, membuat Faishal terawa lirih.
Faishal Harus bersabar karena ia ingin sang istri merasa nyaman bersamanya. Lalu Faishalpun berbaring disebelah Sasha. Ia menghadap kearah Sasha sambil mengganjal kepalanya dengan tangan. Ia memberanikan diri memainkan ujung rambut Sasha.
Sasha jadi berdebar debar, dikepalanya penuh pertanyaan apakah malam ini ia harus memberikan dirinya seutuhnya? matanya sungguh tak bisa terpejam, ditambah saat ini rambutnya menjadi mainan seseorang yang berbaring dibelakangnya. Tiba tiba...
__ADS_1
Cup!
Sasha semakin kaku, matanya mengerjap beberapa kali, dipipinya telah mendarat sebuah kec*upan.
"selamat malam." ucap Faishal lembut tepat ditelinganya, namun Sasha begitu tegang, ia hanya menjawabnya dengan anggukan.
Faishal hanya bisa tersenyum. Ia terus berusaha mendekati Sasha perlahan. Ia berbaring menghadap Sasha yang memunggunginya, dilipatnya satu tangannya menggajal kepalanya. Diletakkan satu tangannya lagi dipinggang Sasha, lalu ia mencoba memejamkan mata. Faishal tahu, istri mungilnya sedang tegang, ia tersenyum sambil mencoba lebih dekat lagi hingga kepala Sasha tepat dihidungnya.
"rambut kamu wangi, bikin nyaman." ucap Faishal lirih, sebenarnya ia ingin sekali memeluk Sasha, wangi tubuhnya sangat enak dihidung, Faishal berfikir mungkin ini efek mandi tanges yang diceritakan ibunya kemarin. Sasha tetap diam membisu, matanya masih tak dapat terpejam juga.
"kemaren mandi tanges yah kata ibu?" Faishal masih melanjutkan obrolannya agar Sasha tak canggung
"i iya mas." hanya itu yang sanggup Sasha keluarkan dari bibirnya
"buat apa sih?" faishal pura pura bertanya, padahal ia sudah tahu kegunaan mandi tanges tersebut.
"biar badannya wangi." jawab Sasha masih dengan nada lirihnya
" Mas....."
"hm?"
"kalo.....mas mau malam ini ..... ga gapapa." Ucap Sasha gugup, ia tak mau jika Faishal akhirnya mengurungkan niatnya melakukan kewajiban suami istri karena sungkan terhadapnya. Tapi Sasha pun dilema, ia sangat tidak siap, tapi kata kata sang ibu selalu membayanginya jika ia akan dosa mengabaikan hak hak suaminya atas dirinya apalagi menolaknya.
"mau apa?" Tanya Faishal yang pura pura tidak tahu maksud Sasha, padahal dirinya sempat sulit menelan salivanya saat Sasha mengatakan sesuatu yang seperti memberi lampu hijau untuknya. Ia tak ingin Sasha tak nyaman sedangkan mereka baru saling kenal, jika Faishal egois ia pasti sudah akan menuntaskan hasratnya malam ini. Namun ia coba bertahan, toh waktu serta tempatnya tak memungkinkan, ditambah spill dari Fitha yang membuatnya makin ragu untuk melakukannya malam ini. Apa jadinya jika seisi rumah mendengar perilaku mereka yang tak mungkin tak bersuara. Faishal bukanlah laki laki yang tidak normal apalagi telah halal sang istri baginya.
"em... ituh!" lirih sekali Sasha menjawab.
"apa?" ucap Faihsal lembut iya semakin mengeratkan pelukannya bahkan satu tangannya sudah diselipkannya dibawah tubuh Sasha. Bahkan wajahnya telah ada tepat dikepala Sasha.
Sasha makin berdebar, ia sungguh tak mampu berkata kata lagi, ia takut debaran jantungnya terdengar oleh Faishal, namun rasa gugupnya lebih terasa membuat tangan dan kakinya menjadi dingin.
"koq diem? coba sini lihat aku." Sasha berbalik, ia tak mampu berkata kata wajah Faishal amat dekat dengan wajahnya, hangat nafas faishal menyapu kulit wajahnya. Faisal tersenyum.
__ADS_1
" kamu yakin kamu dah siap?" Tanya Faishal lirih
"iya... nanti aku dosa kalo nolak." ucap Sasha lirih ia menunduk malu.
"kan aku ga ngajakin." Faishal mengulum senyumnya
"hah, maaf!" Sasha baru sadar sedari tadi Faisal tidak mengajaknya nelakukan ituh. Ia menjadi malu membuat Faishal terkekeh ,Sasha lalu menutup wajahnya dengan telapak tangannya, betapa bodohnya dirinya gerutunya dalam hati. Kenapa tiba tiba mengatakan hal tersebut.
Faisal membuka tangan Sasha, didapatinya mata Sasha yang terpejam malu. Lalu diraihlah dagu Sasha yang masih terpejam, ia memajukan wajahnya lalu... dikecupnya bibir merah alami yang sedari tadi telah menarik hatinya. Lama lama semakin intens ia melakukannya, Sasha hanya diam saja diperlakukan seperti itu, ia pasrah saat ini.
"beneran kamu gapapa malam ini?" bisik Faishal yang akhirnya pertahanannya pun runtuh, nafasnya sudah memburu menandakan hasratnya mulai muncul. Sasha mengangguk, matanya sambil terpejam.
"dah ga bisa mundur lagi ya, kamu yang sudah kasih aku lampu hijau." bisik Faishal ditelinga Sasha, membuat Sasha seolah tersihir oleh hangat deru nafas suaminya.
"mas... aku ga tau caranya...." ucap Sasha lirih ia meremas kaos faishal dibagian dada bidangnya.
"ikuti aku dan balas aku ya." ucap Faishal yang nafasnya sudah semakin panas, Sashapun mengangguk pasrah.
Faishal mulai melakukan aksinya dengan perlahan, ia lalukan pemanasan selembut mungkin agar Sasha terbiasa dan menerima perlakuannya. Lambat laun Sasha terasa terbuai oleh sentuhan sentuhan yang baru pertama kali ia dapatnya. Dilihatnya mata Sasha yang mulai diselimuti kabut gairah, Faishal tersenyum lalu meminta izin pada Sasha untuk melakukannya lebih, Sasha hanya bisa berkata 'iya', karena dirinyapun merasa ingin menuntut lebih dan mengikuti semua perlakuan dan arahan Faishal. Hingga tak terasa, tak ada sehelai benangpun yang menempel ditubuh keduanya.
Krieeettt...
Suara ranjang berbunyi, membuat Faishalpun gugup dan detak jantung sashapun semakin kencang, Sasha khawatir orang rumahnya mendengarnya ditambah dirinya sesekali mendes**ah dan langsung ia coba menahan suaranya.
"kita pindah kebawah." ucap Faishal membopong tubuh Sasha, tak lupa ia mengambil beberapa bantal sebagai alasnya.
Akhirnya malam itupun penyatuan keduanya berjalan lancar, walau Faishal bersusah payah mengkondisikan Sasha agar ikut berg***irah dan rileks melakukanya, karena ini kali pertama bagi keduanya. Faishalpun hanya sebatas mendengar cerita rekan rekannya atau sekilas menonton bersama Alman yang saat itu terlihat mudah baginya, pada kenyataanya saat ia harus menafkahi sang istri justru tak semudah yang ia bayangkan. Terlebih melihat Sasha meringis kesakitan saat pertama kali penyatuannya, membuat ia tak tega namun akhirnya ia berusaha agar malam ini terlewatkan dengan kenangan indah, dan tuntaslah pelepasannya.
Akhirnya sekali pelepasan mereka kembali keatas kasur, ternyata tak seperti cerita cerita dinovel yang bisa berkali kali, pengalaman pertamanya ini sudah menguras tenaga terlebih ia tak tega melihat Sasha yang sudah terkulai lemah dan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Faishal berjanji dalam hati akan menghadiahkan malam malam yang lebih menyenangkan kedepannya.
"sepertinya aku harus banyak belajar lagi tentang ini agar kami sama sama rileks." gumamnya dalam hati setelah usai lalu ikut bergabung tidur bersama Sasha dan memeluknya.
"terimakasih istriku." dikecupnya puncak kepala Sasha lalu mereka berdua berlayar kealam mimpi.
__ADS_1