Bayi Kita

Bayi Kita
36


__ADS_3

Waktu terasa sangat cepat bagi Faishal. Ia merasa tiba tiba saja sudah pk.08.00.


"Kak bunda ke RS dulu ya cari pengganti, bunda bener bener ga tau kalo eyang mau dateng pagi ini. Ayah juga apel pagi dulu nanti pulang bareng bunda. Nanti bunda pesen nasi dus dusan aja ya, dah ga keburu." Ucap bunda sambil mengambil sepatu kerjanya buru buru berangkat karena jam apel paginya sudah dimulai.


"kakak anter aja bun." ucap Faishal


"ga usah, kamu dirumah aja bunda ga lama, apel trus pulang nanti biar bidan eka yang nyariin pengganti, takutnya mereka dah dateng tapi rumah kosong. Sekalian ya kak buatin teh dijumbo bunda yang kecil aja. Bunda berangkat ya nak, ojeknya dah dateng." Bunda akhirnya berangkat dengan tergesa gesa.


Biasanya bunda selalu berangkat bersama ayah jam 7 pagi, namun karena hari ini eyang akan datang jadi bunda menyempatkan membuat sedikit camilan kesukaan eyang buat suguhan dan sisanya akan membeli nasi box dilangganannya, sehingga bunda terlambat berangkat ke rumah sakit. Bunda hari ini mendapat jadwal praktek pagi, sebagai bidan senior bunda tak pernah terlambat untuk memberi contoh kepada juniornya, karena pasien yang akan melahirkan bisa datang kapan saja. Hari ini adalah hari pertama bunda terlambat. Sedangkan ayah tak bisa menunggu karena harus apel pagi di kantor Batan tepat waktu dan ayah akan izin setelah absen pagi, menjemput bunda lalu pulang menemani Faishal memberi keputusan.


Tak berselang beberapa lama, tampaklah mobil mobil berdatangan, yang pertama mobil om Edi yang membawa eyang didalamnya, lalu dibelakangnya mobil om Regan yang terlihat dikemudikan oleh Vivi, lalu terakhir mobil ayah yang sudah menjemput bunda.


Faishal menyambut kedatangan mereka, menyalimi mereka satu persatu, sungguh santun, bunda dan ayah selalu mengajarkan sikap santun kepada orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Namun saat Vivi yang masuk paling terakhir Faishal cepat cepat masuk kedalam berdalih ingin menyajikan suguhan.


"ini eyang, om, tante diminum dan dicobain ya buatannya bunda." ucap Faishal sambil menyuguhkan camilan


" memang putuku yang satu ini hebat tenan, wes pinter, sregep (rajin), santun, makasih ya le." ucap eyang yang sumringah disuguhi makan kesukaannya yaitu kue kukus gula jawa buatan bunda.


"lho Ed istri sama anak anakmu ga ikut?" ucap ayah yang mulai ikut bergabung diruang tamu setelah mengganti pakaian dinasnya menjadi pakaian rumahan" sapa ayah kepada adik iparnya yaitu om Edi.


"mboten (engga) mas, hari ini PTS. Jadi ga bisa izin dulu. Anak anak juga PTS, Kalo saya mau ga mau izin iki mas, nanti bapak ga ada yang nganter. Tadi bapak minta pagi pagi kesini tapi saya absen dulu kesekolah." Ucap om Edi dengan logat khas jogjanya, om Edi seorang guru SMK di gunungkidul, istrinya pun seorang guru SD disana.


"absennya sekarang figger print koq ya Ed, sama kantorku juga sekarang Figger print." Ucap ayah


"iya mas nak instansi negri semua begitu, wajib absen ditempat". jawab om Edi.


"yah aku wes pesen banyak iki, nanti bawa pulang ya Ed." ucap bunda yang juga baru saja berganti pakaian.


"bunda sehat kan bun?" ucap Vivi yang sangat ceria hari itu, ia berjalan mendekati bunda lalu duduk disampingnya dan bersandar dibahu bunda dengan manjanya, seperti itulah yang selalu dilakukan Vivi kepada bunda.


" Sehat donk, kamu juga kan sayang?" ucap bunda yang diangguki oleh Vivi sambil tersenyum

__ADS_1


"Faishal mana mba?" Tanya Regan ayah Vivi


"iya bintangnya malah didapur aja ini, tuh Vivi sana bantu." ucap Mama dari Vivi


"Dah ga usah repot tak paggilin ya.


Kakak! sini kak duduk samping ayah." seru bunda memnaggil Faishal yang sedari tadi enggan bergabung dan pura pura sibuk dibelakang, semua pekerjaan bunda menyiapkan makan dari nasi box yang dibeli diambil alih Faishal, bunda membiarkannya, setidaknya mengurangi kegundahan sang putra.Faishalpun menuju ruang tamu dan duduk disebelah sang ayah.


"nah sini le, kita mulai saja, eyang harus ikut om Edi pulang ga boleh kesorean nanti katanya ga bisa absen." ucap eyang setelah menyeruput tehnya.


"iya Sal, om kudu pulang cepet, bates absennya jam 4sore soalnya." sambung om Edi


"gimana sal? kamu bersedia kan bertunangan dengan Vivi? Dia dah mencintai kamu sejak dulu." ucap mama dari Vivi sambil melihat ke arah putrinya yang sudaj malu malu disebelah bunda.


"piye le?" sambung eyang


Sekarang semua mata tertuju ke Faishal, Faisal masih diam, tiba tiba ayah menepuk bahunya dan mengangguk memberi kekuatan kepada putra sulungnya, seolah berkata agar jangan ragu mengatakan apapun sesuai keinginan hatinya. Faishal akhirnya memberanikan diri.


" eyang, tante, om dan Vivi, saya sudah meyakinkan diri sebulan ini......... Saya belum bisa menerima perjodohan ini. Saya hanya bisa menganggap Vivi adik, tidak bisa lebih dari itu." Ucap Faisal dengan penuh keyakinan


"maaf Vi kakak ga bisa, nanti kalo ini dipaksakan yang akan menderita adalah kamu sendiri." ucap Faishal sambil menatap Vivi yang mulai berkaca kaca


"bunda, Vivi maunya sama kakak bund" rengek Vivi ke bunda


"Sayang bunda ga bisa memaksakan kehendak ke kakak, maafin ya?" ucap bunda sambil mengelus elus kepalanya, namun airmata Vivi akhirnya menetes juga


Mama dari Vivi tak tega melihat sang putri lalu mengambil tisu dan ikut bergabung disofa mereka sambil menyeka airmata Vivi.


"Sal! kurang opo Vivi? wes ayu, pinter, lulusan luar negri, bibit bobot bebet apik. Kenapa kamu ga nerima!" ucap eyang yang mulai tersulut emosi karena tak tahan melihat cucu kesayangannya menangis.


"maafin eyang....." hanya itu yang mampu diucapkan Faishal

__ADS_1


Vivi tak sanggup lagi berada diruangan itu, dadanya sungguh sesak menerima penolakan Faishal. Ia beranjak dari duduknya mengambil kunci mobil dimeja dengan kasar. Tanpa pamit Vivi berjalan setengah berlari keluar rumah lalu mengendarai mobilnya.


"Vivi! sayang tunggu!" ucap bunda, mama vivi dan Papanya sambil menyusul keluar rumah namun ternyata vivi sudah menjalankan mobilnya keluar.


Brakkkk!!!!


Terdengar suara pot bunda tertabrak oleh mobil vivi saat putar balik menuju jalan keluar.


"opo kui!!!" eyang menjadi terkejut ia tambah khawatir terjadi sesuatu dengan Vivi.


"Vi!!! jangan pergi sayang" ucap mamanya yang mulai terisak.


"Mba Ratna! gimana kalo ada apa apa sama Vivi mba! kalo sampe kejadian, aku ga bisa maafin Faishal bahkan mba sekeluarga, apa salahnya sih menerima Vivi! Apa kurangnya anakku !!!!" mama vivi menuding nudingkan tangannya penuh emosi ke arah bunda, bunda hanya bisa menghela nafas beratnya diperlakukan sedemikian rupa oleh adik iparnya.


"ma sabar ma, biarkan dulu vivi tenang." ucap regan yang mulai tak enak melihat kakak perempuannya yang ia sayangi diperlakukan dengan seperti itu.


"ga bisa gitu pah! kalo dijalan kenapa kenapa gimana? dia pasti kecewa banget, ayo susul pah pinjam mobil edi dulu." mama Vivi sungguh kalut khawatir kepada sang putri


"ma sabar ma, ayo masuk.dulu ga enak sama tetangga, ayo mba kita masuk aja." ucap Regan ia membawa snag istri masuk diikuti bunda dibelakangnya


"Maafin Faishal dek, mba ga bisa maksa karena mereka yang akan menjalaninya." ucap bunda sungguh tak enak, tangan bunda menyentuh bahu mama Vivi namun langsung ditepisnya. Faishal menjadi geram melihat bunda tersayangnya diperlakukan kasar.


"Halah mba! bilang aja mba juga ga setuju! aku tau mba, aku dah pernah ngrepotin mba Ratna, kelamaan nitip Vivi dulu, tapi mba tau kan aku berjuang demi Toko batik bapak biar ga bangkrut mba! demi bapak lho mba! apa salahnya to mba nerima anakku!" ucap mama vivi masih penuh emosi


"Sal coba disusul le." Ucap eyang sambil tanganya memberi kode kepafa Faishal


"iya kak coba susul Vivi mumpung belum jauh." ucap ayah diangguki Faishal lalu ia beranjak mengambil kunci mobilnya


"eyang, Faishal nyusul Vivi dulu." Pamitnya


"iyo iyo le selak adoh, telpon ya kalo ketemu." ucap eyang diangguki Faishal

__ADS_1


"Baru sekarang punya inisiatif?? percuma anak saya sudah jauh." ucap mama Vivi masih penuh emosi namun tak terdengar oleh Faishal, semua orang yang ada disana menjadi canggung.


**************next yaahhh


__ADS_2