
Hari minggu tiba, Bunda memutuskan memasak sendiri untuk menjamu para keluarga yang datang. Sasha pun ambil bagian, ia sudah sibuk sedari subuh membantu, bahkan diberikan tugas untuk membuat beberapa makanan.
"Mas, sini Cilla aku mandiin." Sasha menyusul Faishal yang sedang membawa Cilla ke halaman rumah menghirup udara pagi.
"emang udah masaknya?" Tanya Faishal
"belum sih, tapi Cilla aku mandiin dulu, tuh dan siap airnya. Sini sama bunda." Sasha meminta Cilla lalu memandikannya, sedang Faishal mulai membantu Aldo dan Ayah mebersihkan ruang tamu.
"Assalamualaikum." Bastian datang bersama Dennis.
"waalaikumussalam, wah pagi juga lo pada bisa dateng, Hafis mana?" Ucap Aldo menyambut kedatangan sohib sohibnya
"Biasa, jadi pawang dulu." Ucap Dennis memberi istilah pawang kepada Hafis karena saat ini Hafis sedang Joging bersama Vivi.
"yakin? Lama lama jadian tuh anak berdua." Ucap Aldo yang terheran heran karena Hafis terlihat semakin dekat dengan Vivi, hanya Fitha dan Sasha yang tak mengetahui hal ini
Aldo sengaja tak memberitahu Fitha karena khawatir Fitha akan berspekulasi yang tidak tidak, ia tahu Fitha sangat tidak menyukai Vivi.
"Joging katanya, dari habis subuh tadi dah jemput si eneng, dah biarin aja, jarang jarang Hafis bisa nyama berteman dengan orang lain" Sambung Bastian, padahal bastian faham betul saat ini Hafis sedang tak baik baik saja, terlebih jika harus datang menjadi panitia resepsi pernikahan Sasha, ia lebih memilih menemani Vivi yanh nasibnya sama dengan dirinya. Walau sampai saat ini Hafis bel mengetahui siapa tunangan Vivi yang begitu tega menikahi orang lain sedangkan masih bertunangan dengannya.
"Yaudah, kalian masuk gih kedapur langsung, bunda ma Sasha dah buat pacitan, paling Fitha dah buat minuman didapur." Ucap Faishal
"ok kak, tau aja kita belum sarapan." Ucap Dennis
"kebiasaan lo Den, kesempatan dalam kesempitan." Ucap Aldo
__ADS_1
"Aldo sayang tau aja deeehh" Jawab Dennis dengan mode genitnya.
"Kumat! Sana Bas, cariin makanan, biar kenyang dia, kalo kenyang waras nanti." Ucap Aldo sambil mendorong kedua rekannya agar segera menuju kedapur.
Satu perasatu keluarga mulai berdatangan, Sasha dan Faishalpun telah wangi dan berganti pakaian menyambut para keluarga. Sasha diperkenalkan oleh setiap keluarga yang datang. Eyangpun telah tiba bersama Om Edi sekeluarga, bahkan om Regan pun telah hadir namun hanya seorang diri saja.
Saat eyanh datang, Sasha mencoba untuk menyambut kedatangan eyang dan menyaliminya namun sayangnya sang eyang masij enggan untuk didekati Sasha. Faishal yang sudah bisa menebak hal ini selalu menemani Sasha disebelahnya.
"Sabar dulu ya sayang, tunggu sebentar lagi, Eyang pasti akan baik sama kamu. Maafin yah." Ucap Faishal menguatkan Sasha.
"Iya mas, aki aka berusaha lagi agar eyang ga marah lagi sama kita." Sasha tersenyum, ia lega Faishal selalu menenangkannya.
Hal itu menuai bisik bisik dari pihak keluarga, tentang pro dan kontra mereka menanggapi pernikahan Faishal, ada yang memihak keluarga Vivi ada juga yang memihak keluarga Faishal.
"Ponakane mba Sasha paling mba." ucap keluarga yang lain
"opo hooh? Keluargane Sasha kui isih nang lampung to?" balasnya lagi penuh selidik
"mungkin ada keluargane yang disini mbak. Tanya langsung wae mba sama mba Sasha." Ucap ibu satunya lagi, kemudian mereka mulai menikmati suguhan disana.
Eyangpun mulai membuka rapat keluarga. Kemudian menceritakan siapa Cilla dihadapan seluruh keluarga. Eyang amat sangat tak nyaman melihat keluarganya berbisik bisik, dan sorot matanya selalu kearah Cilla. Eyang ingin semua keluarga tahu jika Faishal dan Sasha bukan orang yanh salah jalan. Eyang tak mau nama baik keluarganya jatuh jika hal ini tidak diceritakam secara gamblang. Karena eyang sempat mendengar ada keluarga yang mengira Faishal menikahi janda beranak satu. Ada juga yag berbisik bisik jika Faishal terburu buru menikahi Sasha karena ingin bertanggung jawab atas perbuatan tak bermoral mereka sampai sampai memiliki bayi. Dan masih banyak spekulasi yang terucap. Sehingga bagi Eyang hal ini adalah langkah yang tepat untuk mengungkapkan identitas Cilla yang sebenarnya.
"walah mba, bulno bayi temon ( walah mba ternyata bayi temuan)" Bisik salah satu keluarga, mereka mengguk angguk tanda faham ketika eyang menceritakan kisah sebenarnya.
Eyang juga meminta doanya agar orang tua kandung Cilla segera ditemukan. Dari sikap eyang tersebut, Sasha jadi faham, jika sang eyang tidaklah sejahat itu, Sasha yakin suatu saat ia mampu berkomunikasi dengan baik kepada sang Eyang.
__ADS_1
Pembicaraan berlanjut, hingga menemukan keputusan akhit bahwa resepsi akan dilaksanakan di awal bulan berikutnya dan diambil hari Minggu agar para tamu undangan lebih banyak waktu dan tidak terbentur jam kerja. Mereka sepakat hanya akan menerima tamu digedung saja.
Mereka dipersilahkan makan bersama, Bundapun tak lupa memamerkan keahlian sang menantu dalam memasak dan diakui oleh keluarga jika hasil masakannya sangat enak. Fitha dan rekan rekannya pun saling membantu, mereka lah yang super sibuk menyiapkan dan mengantarkan hidangan untuk menjamu para keluarga, tak kalah sibuknya putra putra om edi yang ikut membantu Fitha.
Pertemuan keluargapun usai, tinggalah bunda dan eyang yang sedang mencatat siapa saja tamu eyang yang akan diundang, kemudian Faishal menambahkan nama nama dari rekan kerjanya dirumah sakit, Aldo dan Sashapun menyerahkan daftar undangan mereka.
"Ternyata banyak juga lho undangannya. Hampir 1000." Ucap Fitha melihat daftar para tamu undangan, karena ialah yanh diberi mandat untuk menulis.
"Eyang, ini calon mantune eyang juga." Ucap Rangga sambil cengengesan menunjuk Fitha, dan Fitha yang ditunjuk jadi kebingungan.
"Karo sopo?" Tanya eyang.
" ini lho eyang, Pawange mas Aldo ini eyang, kalo sama mba Fitha ini mas Aldo manut (nurut) " jawab Rido adik bungsu Rangga sambil mendorong dorong bahu Fitha, membuat yang lain tersenyum senyum.
"Engga eyang, bukan koq, itu anak anak cuma godain aja." Fitha buru buru meralat sambil mencoba tersenyum, ia takut sang eyang marah, apalagi ia tahu betul riwayat pernikahan bunda dan adik adiknya, karena mereka kesulitan mendapat restu jika bukan orang yang eyang inginkan. Lalu ia melototin Rangga dan Rido lalu menggeleng gelengkan kepalanya tanda meminta mereka semua berhenti menjodohkannya didepan eyang.
" Tenane? Aldo manut nak karo mba sopo?" tanya eyang
."Fitha eyang" Jawab Rido lagi
"nak iso marakke Aldo manut, yo setuju!" Jawab eyang penuh kepastian, karena cucunya yang paling suka membangkang adalah Aldo, sehingga bagi sang eyang Aldo haruslah menikah dengan perempuan yang mampu meluluhkan hatinya dan membuatnya menjadi penurut.
"aduh eyang, kita cuma temen aja eyang, beneran." Ucap Fitha ketar ketir, eyang justru tersenyum melihat keluguan Fitha.
"ternyata eyang itu hangat orangnya, semoga eyang juga bisa tersenyum sama aku suatu hari nanti." Batin Sasha, ia amat senang melihat kehangatan eyang kepada cucu cucunya. Selama ini Sasha hanya tahu cerita jika sang eyang orang yang sangat keras hatinya. Ternyata ada juga sisi hangat dari sang eyang.
__ADS_1