Bayi Kita

Bayi Kita
64


__ADS_3

Tepat pukul 19.00 mereka mendarat dipelabuhan bakauheni, kali ini Aldo yang memegang kemudi. Faishal merebahkan dirinya dengan menidurkan kursinya sedikit, namun kepalanya dapat langsung dilihat oleh Sasha karena kursinya tepat didepan Sasha. Sasha jadi tak tenang, masih ada debaran tak beraturan padahal hanya melihat kepalanya saja, ah lebih dari itu, walau takkan pernah bertemupun jika hanya mendengar namanya saja tetap akan menggetarkan hatinya. Bahkan ketika ada orang yang namanya samapun tetap menusuk nusuk hatinya. Apa iya yakin dimasa depan nama Faishal akan sirna dari hatinya? mendengar sebutan itu saja pahatan dihatinya serasa tersiram air garam yang terasa pedih.


" Sha, rumah lo masih jauh?" tanya Aldo


"ga koq, paling lama dua jam, tapi jalannya ga begitu bagus do belum halus." ucap Sasha tak enak hati, takut jika merusak ban mobil, seingat Sasha dua tahun yang lalu saat ia pulang, jalan menuju rumahnya belum diaspal halus.


"Tenang aja Sha, mobil ayah ini super koq, desa apa namanya biar gue tandain mapnya, mumpung sinyal penuh." Tanya Aldo yang saat ini memarkirkan mobilnya didepan sebuah minimarket.


"tanjung bintang." jawab Sasha


Aldo membukan map lalu mengaktifkannya, Sasha lalu pamit ke minimarket karena ia ingin buang air kecil dan mencari beberapa camilan. Selang beberapa saat, Sasha kembali, lalu ia membawakan banyak camilan dan roti, ia juga membeli beberapa sofdrink, dan jahe hangat dalam cup untuk faishal karena ia tahu selain Faishal, Fitha dan Aldo tidak menyukai minuman berempah.


"mas ini jahe hangatnya diminum." ucap Sasha menawarkan ke faishal yang masih rebahan, ia mencoba untuk tersenyum. Ia sudah bertekad akan memperlakukan Faishal dengan baik kedepannya dan sebagai teman, ya Sasha akan berusaha menempatkan Faishal sebagai teman atau mungkin kenalan. Intinya ia ingin berbuat baik.


"iya makasih." Faishal menyambut cup berisi jahe hangat lalu tersenyum pias dan kembali kebangkunya, masih sulit baginya membangun obrolan dengan Sasha.


Fitha dan Aldo menjadi senang melihat Sasha berinisiatif membangun komunikasi kembali.


"kita berhenti makan malam dulu ya do, takut kemalaman sampe dirumah, dan tolong biarkan aku yang nraktir yah?" Tanya Sasha, ia tak enak hati membiarkan orang orang yang mengantarnya tak makan malam.


"ini roti banyak banget lho, kita makan ini aja deh sambil jalan biar cepet sampe rumah lo sha." ucap Aldo yang mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


"masa kamu nyetir sambil makan kan susah." ucap Sasha


"sendok otomatis ada dibelakang nih, Fitha suapin gue donk!." ucap Aldo tanpa beban padah Fitha dibelakangnya mulai bersungut sungut ria, namun tetap saja ia melakukan apa yang diminta Aldo.


"ck dasar nyusahin aja! nih sha Cilla ma kamu dulu." Ucap Fitha


"sama kakak aja sini!" Ucap Faishal sambil memajukan tanganya ke arah Cilla, namun bertabrakan dengan tangan Sasha karena Sashapun sudah bersiap untuk mengambil Cilla. Cepat cepat Sasha menurunkan tangannya. Yah bergetar lagi hatinya, hati keduanya.


Perjalanan akhirnya hampir sampai ke tujuan, ternyata banyak yang berubah, terutama suasan desa Sasha tak sesepi dulu lagi, sudah ada warung yang berjualan hingga malam hari, walau dikatakan belum seramai kota namin tak sesepi dulu lagi. Jalananpun sudah banyak lampu penerangan didepan rumah warga. Yang masih hampit tak berubah adalah kondisi jalan yang masih banuak geronjalan karena belum seluruhnya di aspal.


"bentar lagi koq lurus aja tinggal sepuluh rumah lagi." ucap Sasha yang mulai merasa lega serta rasa rindunya mulai perlahan hilang tinggal bertemu orang orang terkasih saja. Ia sungguh tak sabar masuk kedalam rumahnya dan memeluk ayah ibu dan saudaranya.


Rumah Sasha terletak dipinggir jalan, masih dengan halaman yang luas, ada Warung jlontong milik dan ibu disamping rumah. Ditanami berbagai macam jenis sayuran dan tanaman obat sebagai hiburan sang ayah, mereka juga memelihara ayam dan bebek sehingga banyak kandang ayam disekitar rumah Sasha. Suasana kental khas Lampung Selatan sangat terasa disana. Berbeda dengan Jogja, pada jam jam ini tepatnya pk. 21.00 suasana desa telah sepi, semua penduduk beristirahat sebelum dini harinya kembali beraktifitas dikebun dan ladang mereka.


Mendekati rumah Sasha suasane sedikit terang, banyak orang tepatnya para tetangganya menuju kearah rumah Sasha. Namun Sasha masih memastikan, benarkan mereka semua menuju kearah rumahnya. Sasha menjadi bersebar, ada gerangan apakah sehingga tak biasanya masyarakat sekitar berkumpul saat saat jam seperti ini. Biasanya jika ada kenduri atau acara hajatan akan dilaksanankan selepas isya, namun saat ini sudah jam 9 malam.


"Sha! rumah lo yang mana?" Tanya Aldo


"itu do yang ramai orang dateng." ucap Sasha yang masih penuh pertanyaan dalam hatinya.


"Ada acara?" tanya Fitha

__ADS_1


"ga tau aku fith, ada apa ya?" Sasha terlihat kebingungan


"yaudah kita masuk halaman yah." Ucap Aldo dan diangguki oleh Sasha


Saat mobil expander cross tersebut masuk halaman rumah Sasha yang penuh dengan tetangganya cukup menyita perhatian semuanya. Karena didesa tersebut orang yang paling terpandangpun tidak memiliki mobil mewah seperti itu. Bukan hanya para bapak bapak yang berdatangan, namun ibu ibunya pun hadir. Hal ini lah yang membuat Sasha bingung, ada rasa khawatir juga menyelimutinya.


Sasha turun dari mobil diikuti oleh Fitha, Aldo dan Faisal sambil menggendong Cilla. Kehadiran mereka membuat semua orang ya g disana memperhatikan mereka. Sasha menjadi canggung, tak pernah ia pulang didepan banyak orang seperti ini. Sasha, Faishal, Aldo dan Fitha menyapa setiap orang yang mereka lewati sambil menundukkan kepalanya sopan. Dan disambut pula oleh tetangganya yang ada disana.


"pulang kau sha?" sapa salah satu ibu yag menyambut dan merangkulnya, ibu itu adalah salah satu kerabatnya dari ibunya Sasha.


"iya wak, kenapa ramai wak? ada apa?" Tanya Sasha bingung


"masuk lah dulu nak, uwak temani kau. Ajak teman temanmu ikut."


"ayo kita kedalem." ucap Sasha lalu diangguki ke tiganya, mereka diantar sampai masuk kerumah oleh saudara saudara dari sang ibu. Membuat Sasha menjadi sedikit cemas.


Faishal, Aldo dan Fitha mencoba seramah dan sesopan mungkin kepada siapapun yang dilewatinya, disalaminya satu persatu masyarakat yang ada disana. Dan disambut dengan hangat oleh warga.


Sampailah dipintu rumah, Sashapun diminta masuk dilihatnya sang ayah hanya tertunduk dan ibu yang berada dipelukan neneknya yang ia pastikan sedang menangis. Sedang adik adiknya tak terlihat entah dimana. Disana ada pula ibu dan keluarga dari insan yang hanya menatap Sasha dengan dingin, bahkan menatap Faishal yang tepat dibelakang Sasha dan sedang menggendong Cilla dengan tatapan penuh kebencian, seperti orang yang sedang memendam amarah. Ada apa ini??? Sasha tak kuasa bertanya ia takut salah.


Ibunya menatap ke arah Sasha setelah dibisikkan bahwa Sasha telah sampai oleh neneknya. Sasha bisa melihat sang ibu yang sedang menangis dan menatapnya dengan amarah. Sasha gugup, apakah kesalahannya? apa semua orang ini ada dirumahnya karena kesalahannya?

__ADS_1


"Ada apa ini?"


__ADS_2