
Hari hari mereka lalui tanpa hambatan, satu bulan ini Faishal pun bolak balik rumahnya yang dihuni Sasha untuk membantu menjaga Cilla dalilnya, padahal maksud terselubung lainnya selain menemui Cilla yang sudah ia sayangi adalah membuat quality time bersama Sasha sebelum 3 bulan.
Kabar tentang keberadaan orang tua Cilla belum menemukan titik terang. Bastian selama satu bulan ini setiap akhir pekan selalu menyempatkan diri bersama Aldo dan Dennis menemui pak Kades, mereka menceritakan semuanya. Pak kades yang awalnya terkejut karena sama sekali tidak mengetahui ada kejadian tersebut namun saat ini bertekad mencari keberadaan keluarga Cilla. Pak kades jelas tidak tenang, kejadian tersebut ada persis dikebun yang bersebelahan dengan kebunnya, tepatnya milik pak Hanafi. Pak kades mencoba mencari tahu dengan diam diam bahkan pak Hanafi yang menjadi targetnya pun tida curiga atas pertanyaan pertanyaan dari pak kades. Beliau benar benar menyesal, karena saat kejadian dirinya tak berada dirumah masih membantu hajatan dirumah sang mertua. Setelah itupun tak ada kabar kabar aneh didesanya. Jadi beliau sama sekali tidak tahu.
"nak bastian. Bapak janji akan mencari tahu berdasarkan bukti bukti yang kalian berikan. Bapak benar benar jengkel kenapa ada yang setega itu."
" pak maaf. sepertinya hal ini sudah diatur dengan matang pak. karena saat pagi sudah bersih pak kebunnya seolah tidak ada terjadi apapun. Tidak mungkin pak Hanafi tak tahu apa apa pak, jikalau beliau yang membersihkan kebunnya."
"nah itu nak Dennis. Bapak tanya beliau bilang sedang kejakarta karena putrinya sekolah disana. Misalkan itu putrinya yang melahirkan, tapi posisinya masih sekolah SMA dijakarta dan jarang pulang. Nanti saya sama istri coba mengorek ngorek informasi sapa tau kita dapat kabar. Sekarang bagaimana bayinya?"
"Alhadulillah sehat pak, sekarang diurus Sasha sama kakak saya." Ucap Aldo
" Syukurlah nak, tapi Sasha bukannya rekan kalian juga? gimana kuliahnya?"
"kita gantian pak, kadang kakak saya kalo tidak ngepas shift pagi bisa gantian jaga pak."
"Bapak berterimakasih sekali ya anak anak sekalian, kalian jadi berkorban buat bayinya. Bapak masih berharap kalian menerima tawaran bapak minggu lalu masih sama tawarannya." Pak kades menawarkan kembali keinginannya untuk merawat sang bayi agar lebih mudah ditemukan orang tuanya
"Maafkan ya pak, kami sudah mencoba membujuk Sasha, tapi sepertinya lengket sekali pak, dia bilang kalo bukan sang ibu kandung yang mau mengambil dia akan terus menjaganya. Dah kayak bayinya aja pak, manggilnya bunda. Trus kakak saya juga dipanggil ayah karena ga mau sama sapa sapa pak waktu baru lahir, maunya cuma sama Sasha dan Kakak saya. Jadi mereka sementara ini akan jadi orang tuanya. Kami semua juga bantu pak, minta doanya saja." Ucap Aldo sangat sopan.
"Ya sudah kalo begitu, besok kalo ada kabar lagi bapak telpon ke nak bastian aja ya?"
" iya pak makasih banyak ya pak, kami mohon undur diri dulu." Bastian pun pamit mengajak Dennis dan Aldo.
"pakne, koq yo mesakke yo pak. sopo sing tegel guang bayine dewe, padahal akeh sing kepingin duwe bayi malah angel tenan le entuk." ucap istri pak kades yang matanya menerawang menyesalkan kejadian yang terjadi, mengapa ada orang setega itu membuang bayi yang baru lahir dengan keadaan masih berlumuran darah tanpa sehelai kainpun.
" iya bune, kita harus berterima kasih sama anak anak itu bu. Dah mau bantu merawat. Asline bapak kepingin ikut bantu tapi nak Sasha mboten purun, pun lengket kadose bune." ucap pak kades yang ikut duduk didipan berdampingan dengan sang istri.
__ADS_1
Mereka berdua akan berusaha mencari tahu siapa orangnya. Rencana tersebut dilaksanakan secara diam diam, tujuannya agar kampungnya tidak heboh dan justru menghakimi secara berlebihan, karena dikhawatirkan orang yang dicari ini akan semakin tertekan dan benar benar tidak mau mengaku.
**********
"Happy satu bulan sayangnya onty." Ucap Fitha yang pulang dari kampus sudah membawa banyak balon.
" banyak banget balonnya? emang Cilla dah ngerti, ga usah boros boros." Ucap Sasha yang sedang memberi sufor ke Cilla yang mulai montok badannya
"iya iya iya bundaaaa. Masa ontynya ga boleh ngerayain 1 bulan Cilla." Fitha mengerucutkan mulutnya dan melipat kedua tangannya protes.
"hahahha, dah kayak gitu aja terus, aku ambil kuncir dulu ya."
"buat apaan sih Sha."
" buat nguncir mulutnya kamu lah, hahahha." Celetukan Sasha membuat Fitha gemas lalu mencubit cubit perutnya sambil sesekali menggelitik Sasha hingga ia merasa geli.
"hahahaha geli ih, udah ah nanti Cilla jatoh"
" Jangan onty nanti pipiku bengkak lho."
" cuma cubit dikit, gemes banget sih."
"lucu ya dia mulai bisa bercanda, dia dah bisa lihat kalo kita bawain apa gitu. Kalo ma ayahnya bisa sampe ngobrol au au gitu trus ketawa ketawa, lucu banget. cama bunda koq ga ketawa renyah gitu sih sayang kan yang bobok ma cilla bunda" Ucap Sasha sambil melihat Cilla dan mengajak berbicara dengannya.
"ehhheeem, cillaaaa bunda kangen ayah kayaknya." Ucap Fitha menggoda Sasha, ia melihat Sasha matanya berbinar saat menyinggung soal ayah yang nota bene adalah dokter faishal
"apaan si Fit." Sasha mengelak namun wajahnya terlihat merona.
__ADS_1
"jujur deh kamu jatuh cinta kan ma kakak?"
"engga koq. Ada kak insan yang harus aku jaga dihati " Ucap Sasha yang tak mau menatap Fitha
" jaga dihati? kenapa ga pernah nelpon kamu barang sebentar. Trus kayaknya kamu juga cuek gitu ga pernah telpon"
" Fitha.... aku bisa aja nelpon dia sesuka hati, tapi aku takut ganggu kalo dia lagi kerja atau berlayar." Jelas Sasha, pernah dia beberapa kali menelpon namun Insan selalu dalam keadaan sibuk, saat itu ia bisa mendengar suara riuh ditempat insan berada jadi tak banyak yang bisa ia obrolkan dengan Sasha karena sedang bekerja. Namun sesekali Insan menyempatkan menelfon walau sebentar saat dirinya sudah berlabuh atau pulang kampung.
"Kirain dah pada melupakan."
" Doain dong Fitha biar lancar sampe tujuan pernikahan kami." Sasha tersenyum lalu menggenggam tangan Fitha
"ibu sama bapak ga kamu ceritain soal cilla?"
" aku masih nunggu kabar orang tua cilla ketemu Fitha. Untuk sekarang aku belum berani bilang takut mereka kepikiran. Pasti mereka ngirain aku kesulitan membiayai karena mereka cuma bisa mengirimi aku sedikit biaya kuliah, kalo orang tuanya ketemu dalam waktu dekat kan aku ga perlu cerita sama ibu bapak."
"iya juga sih."
"Fith tapi aku ga bisa kayak gini terus. Cuma aku yang ga ngeluarin uang. Kalian selalu iuran tiap minggu. Mulai minggu depan rencananya sore aku mau jadi guru privat deket deket sini Fit."
" iya kah?"
" iya lumayan kan bisa buat tambahan uang bulananku juga dan kalian ga usah terlalu sering iuran."
"aku gapapa ya iuran, memang sih aku juga ga punya bayak uang bulanan tapi masih lebih banyak dari kamu. Paling engga kita sekarang bebas uang kontrakan kan?"
" iya, tapi kalo dah 3 bulan kan kita harus pindah Fit. misal Cilla masih bersama kita, aku harus cari tambahan."
__ADS_1
" iya sayang kalo keputusannya begitu, aku dukung koq, aku juga pingin parttime tapi aku bingung. Aku jagain cilla aja deh kalo pas kamu lagi ngelesin, sekarang kan ga rewel lagi kayak dulu." ucap Fitha
"kamu emang yang terbaik makasih ya sayangkuh." mereka berdua berpelukan saling memberi kekuatan.